Dikeroyok Anak Lampung

Dilihat dari judulnya kalian mungkin akan kaget. Bagaimana mungkin lelaki berbadan kerdil seperti gue ini mampu bertahan saat dikeroyok anak Lampung dan menjadikannya postingan blog?

Hal yang mungkin ada dipikiran kalian saat ini adalah: MUSTAHAL!!!

Yip, benar sekali. Namun ada baiknya kalau kalian membacanya sampai habis. Tulisan ini sebenarnya sudah mengendap di draft sekitar satu bulan yang lalu. Dikarenakan sulitnya akses internet di kos, jadilah baru hari ini gue sempat untuk mengupdate kembali blog ini.

Beteweh, selamat membaca \o/

Beberapa minggu yang lalu gue sempat melakukan panggilan video dengan seorang teman dari Lampung. Namanya Makael.

“Sekarang lu percaya, kan?” kata dia dengan senyum kemenangan.

“Iya, sekarang gue percaya,” balas gue berbicara sekenannya.

“Waktu dan tempatnya lu yang tentuin.” Katanya mencoba untuk serius. Namun senyum kemenangan itu tetap masih menghiasi wajahnya. “Kopinya satu ya, pak.” Pesan dia kepada pria setengah baya yang sedang menjajakan dagangannya di atas kapal.

Dia mengkhari panggilan video tersebut. Meninggalkan gue dengan tanda tanya yang terus berputar-putar di kepala: Mau ketemuan di mana?

Baca Juga: Meetup Nggak Tau Malu

***

“Jadi nggak?” tanya gue.

“Jadi, sini geh, gue tunggu.” Jawab Makael.

“Oke, gue mandi dulu.”

Setelah siap, gue pergi menuju Binus Anggrek tempat yang telah kami sepakati sebelumnya.

“Gue udah di depan nih,” pesan gue. Send.

Selang beberapa menit kemudian Makael keluar bersama dengan seorang temannya yang waktu itu sempat masuk dalam panggilan video kemarin.

Dia menyodorkan tangan layaknya orang yang ingin berkenalan. Kemudian berganti dengan orang satunya lagi, “Mulyadi.” Kata salah seorang temannya, dengan percaya diri.

“Reza.” Bales gue.

“Lumayan Mul, hari ini kita dapet tour gratis! Langsung dengan Education Counselor-nya Binus.” Kata Makael sewaktu menyebrang ke kampus Anggrek. Gue mengikuti dari belakang, “Taik banget, Kel!” seru gue. Disusul dengan tawaannya dia.

“Habis ini lu ada jadwal nggak?” tanya dia selanjutnya.

“Nggak ada sih,” jawab gue seadanya.

“Yo dah, berarti kosong, kan?”

“Iya.”

“Lu ikut kita aja.”

Gue mencium adanya bau petualangan dari ajakannya, “Aman.” Balas gue mantap.

Selesai mengurus semua persyaratan, kami bertiga bertualang mencari tempat makan enak tapi murah di sekitar kampus Binus. Yang ingin kami coba waktu itu adalah ayam goreng. Konon katanya, ayam goreng di sana berbanding lurus dengan cita rasa ayam di ke ep si.

Selesai makan, kami bertiga kembali berpetualang menyusuri jalanan Jakarta. Tujuan kami selanjutnya adalah kampus Syahdan yang terletak di Jl. K.H Syahdan. Ide ini datang dari Makael lagi, karena dia pengin lihat cici-cici cantik di Binus. Tapi dia enggan mengakuinya. Kerap kali ketika di tanya dia beralasan, “Mau lihat temannya main Basket.”

Baca Juga: Liburan Singkat

Memasuki gerbang Kampus Syahdan, kami melihat anak-anak dari gelombang kedua sedang mengikuti rangkaian terakhir dari kegiatan FEP, yaitu Expo, di mana seluruh UKM, atau lebih di kenal ekstrakurikuler saat di sekolah menengah atas, berlomba-lomba untuk menarik para maba untuk mendaftar di UKM.

Anak-anak yang sedang mengikuti rangkaian terakhir dari kegiatan FEP. sumber: doc. pribadi
Anak-anak yang sedang mengikuti rangkaian terakhir dari kegiatan FEP.
sumber: doc. pribadi

***

Setelah puas unboxing sekaligus ujicoba setting router barunya (meski belum betul-betul full setting), gue, Makael, Mul dan Ronald bergegas keluar menunggu jemputan. “Itu dia, tuh.” Mobil itu berhenti tepat di depan Binus Anggrek. Karena mobil yang kami tumpangin sedikit kecil, memaksa kami bertiga: gue, Mul dan Ronald harus saling mengerti dalam berbagi porsi untuk duduk. Untungnya kami bertiga nggak begitu banyak makan tempat.

 “Udah di mana, Jak?” tanya Sheren.

“Udah di dalam CP nih, lu di mana?”

“Ah, lu langsung ke Sogo aja, ya?”

“Sogo di mana?” tanya gue, makin bingung karena belum hafal seluk-beluk Mall Central Park.

“Yaudah, gue yang ke sana, ya?” kata Sheren.

“Oke.”

Tak lama kemudian, terdengar suara dari sisi sebelah kiri gue. “HAAI~” sapa seseorang. Gue langsung menoleh karena cukup mengenal suara itu.

“Oh, hai, Ren.”

“Mana yang lain?” tanya dia.

“Makael dan yang lainnya lagi di luar.”

“Ngapain?”

“Ada urusan katanya.” Jawab gue agak gugup. “Gue nyusul mereka dulu ya?”

“Oke.”

***

Bagai di sambar petir di siang bolong, gue kaget sewaktu melihat harga makanan yang tertera di dalam buku menu tersebut. “Anjir, ayam penyet 28rb?”

“Kalau pakai nasi tambah 8rb,” bisik Sheren.

“HAAA? Jadi 28 ribu belum pakai nasi, gitu?”

Entah bagaimana gue menggambarkannya, tapi gue betul-betul kaget waktu itu.

“Yap,”

Karena cacing-cacing di perut udah nggak bisa di ajak kompromi lagi, mau nggak mau gue terpaksa harus ikut makan. Walaupun harganya mahal.

Pemandangan yang ditawarkan sangat bagus. Sumber: doc. pribadi
Pemandangan yang ditawarkan sangat bagus. Sumber: doc. pribadi
Walaupun harga makanannya mahal, sayang banget kalau nggak di pake buat eksis. sumber: doc. pribadi
Walaupun harga makanannya mahal, sayang banget kalau nggak di pake buat eksis.
sumber: doc. pribadi

Selesai makan, kami semua mampir ke tempatnya Sheren. Ada yang berbeda dari kunjungan kali ini. Bukan jumlah orangnya yang bertambah, melainkan seisi rumah dipenuhi dengan anak Lampung. Ada empat orang Lampung yang datang, sisanya (gue dan Sheren selaku tuan rumah tentunya), yang bukan berasal dari Lampung.

Baca Juga: Perjalanan Tak Terduga

Bisa dibilang kami di keroyok sama anak Lampung.

dikeroyok-anak-lampung-5
Keempatnya adalah orang Lampung sumber: doc. pribadi
Jurus anak Lampung.
Jurus anak Lampung.

Namun begitulah, perbedaan membuat semuanya menjadi tampak indah. Kami saling bertukar bahasa. Belajar logat daerah orang. Hal yang sama sekali nggak akan gue temukan kalau bukan karena memberanikan diri untuk melanjutkan pendidikan di daerah orang.

Perbedaan akan terlihat indah jika kita melihat dengan kacamata yang pas.



12 COMMENTS

  1. Azekkkk… Akhirnya posting lagi :p
    Kamu ambil Education Counselor-Binus? Waaah bisa dong nanti “curhat dooooong” hahaha
    Itu Sheren emang dari kota mana? Lampung juga?
    Emang Za makanan di Jakarta pada mahal-mahal. Aku juga ikut ngerasa sedih-untuk-entah-keberapa-kali liat harga segitu :’)
    Lebih semangat kuliahnya ya Za!

    • Yohoho, iya dong~
      Bisa bisa… tapi gue udah gak di Education Counselor lagi Ris.. gue udah keluar :’)
      Sheren dari Jambi Ris, enggak, yang dari Jambi keempat orang itu.
      Um, bener, bakso biasa aja bisa sampai 15ribu. Di kota gue, 10rb udah pake telor/urat :’)
      Yosh! Lu juga Ris!

    • Iya nih sama! kirain digebuk atau diapain gitu, eh ternyata “dikerubutin” orang Lampung, hehe..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.