Melanjutkan cerita sebelumnyaPada akhirnya gue bisa menerima keadaan. Gue bawa cuek aja, toh karena bukan cuman gue sendirian yang rambutnya kena potong. Jam pelajaran sosiologi pun usai. Dan akan segera berganti jam pelajaran. Sekarang waktunya masuk jam pelajaran geografi.

Seperti yang sudah gue ceritakan sebelumnya. Gue udah belajar demi merubah nilai. Gue ingin agar nilai geografi gue lebih dari cukup.

Karena bapaknya belum masuk, gue memanfaatkan waktu yang ada dengan membaca buku catatan geografi. Ada satu yang jadi masalah saat ini. TULISAN GUE JELEK AMAT! SUSAH UNTUK DI BACA! Meski jelek dan sedikit susah untuk di baca, gue masih bisa merasakan (mengetahui) apa yang gue tulis melalui sebuah perasaan. Mungkin ini yang disebut ikatan batin antara gue dan tulisan gue sendiri.

Membaca dan terus membaca. Situasi semakin tegang. Di tambah lagi rambut gue yang modelnya kayak habis di gigit tikus got. Karena kondisi semakin tidak membaik, gue memutar musik untuk mencairkan suasana. Ya, suasana benar-benar cair. Gue jadi gak tegang menghafal yang ada di buku. Gue semakin enjoy dan rileks dengan belajar sambil diiringi sebuah lagu yang sedikit melow.

Mendengarkan lagu

Teman-teman kelas gue bergerumbul masuk ke dalam kelas. Seperti domba dan penggembala. Sang domba di giring oleh si penggembala masuk ke dalam kandang. Itu yang gue lihat saat itu. Mereka baru mau masuk bila sudah ada guru yang mendatangi mereka.

Gue cuek aja, sambil meneruskan belajar.

“Langsung keluar kan kertas selembarnya karena kita akan remedial.”

Iya, gue belajar karena ingin nilai gue tuntas. Sebelumnya ujian ini dalam bentuk hafalan. Nah, berhubung pada males sama yang namanya hafalan, jadi guru geografi membuatnya dalam model ujian tertulis. Khusus bagi mereka yang gak ikutan hafalan. Bagi yang sudah hafalan, boleh nyantai di luar.

Gue pribadi lebih milih ujian tertulis karena kalau nanti tiba-tiba lupa, gue bisa lanjut ke nomor lain ada gue masih ada waktu untuk memikirkan kalimat yang gue lupa. Berbeda dengan hafalan. Kalau hafalan gue kadang suka blank sendiri waktu maju ke depan. Di bangku sih, udah hafal. Tapi waktu maju eh lupa.

Gue yakin sebagian dari kalian yang membaca postingan ini pasti pernah mengalami hal yang sama seperti gue alami.

Ujian tertulis pertama, gue gak lulus. Karena gue pribadi belum siap waktu itu. Di ujian pertama ada empat orang yang lulus. Syarat untuk bisa lulus ujian tertulis ini minimal benar sebelas. Soal? Soalnya sama seperti hafalan. Jadi ujian ini sama-sama menghafal cuman kami membuatnya dalam bentuk tulisan, bukan lisan.

Gue hanya mengisi enam jawaban waktu itu, dan sudah di pastikan tidak lulus. Bagi yang tidak lulus harus ikut remedialnya selasa depan. Malam sebelum selasa tiba gue udah bertekad akan memperbaiki nilai gue!

Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Karena ada empat orang yang lulus ujian tertulis dan enam orang yang lulus ujian lisan, gue disuruh pindah ke sebelah mengisi meja yang kosong. Sehingga satu siswa satu meja demi mencegah terjadinya aksi saling contek.

Sungguh sungguh
Mengingat

Duduk paling depan. Deket guru. Jauh dari jangkauan kipas. Gimana gak panas coba suasananya?! Gue melirik ke kanan dan kiri, melihat kondisi saat itu. “Nampaknya mereka sudah mulai menulis. Yosh, waktunya gue nulis juga!” batin gue.

Baca juga: Hari yang absurd 1

Awal-awal lancar kayak rantai yang baru di kasih oli. Namun pas nyampai nomor sembilan, gue mulai lupa. Mulai lupa urutannya dan jawabannya. Untung aja tertulis. Coba kalau lisan, gak tau bakal kayak gimana jadinya. Mungkin gue bakal pipis di celana di hadapan kawan sekelas.

Oya, soal remedialnya sama kok dengan yang hafalan. Jadi mau remedial sekali lagi pun tetep itu soalnya. Benar-benar guru yang baik dan mengerti muridnya.

Gue melakukan hal yang biasa dilakukan saat lagi lupa sama sesuatu: Coret-coret.

Karena gak ada media yang bisa gue coret saat itu dan gak mungkin juga kalau gue coret lembar jawaban ujian lisan, gue mencoret-coreti meja yang dipake saat itu. Seketika gue melihat cahaya harapan. Ada sebuah kode rahasia yang tertulis di meja itu.

“Itu dia!” kata gue.

Gue jadi ingat sama urutan soalnya berkat kode yang ada di atas meja itu. Gue kembali menulis jawaban yang ada. Kode itu benar-benar sangat membantu gue dalam mengingat kembali urutan pertanyaannya.

“Ya waktu tinggal 10 menit lagi.”

Di waktu yang sangat mepet ini, gue langsung ingat sama jawaban dari nomor 9 dan 10. Gue masih terus menulis jawaban nomor 9 dan 10. Bermodalkan sedikit ingatan, waktu yang sangat mepet dan sedikit imajinasi, akhirnya gue selesai.

Keringat mengalir sangat deras waktu itu. Gue mengecek kembali seluruh jawaban yang ada. WOW! Gue mengisi 15 jawaban dari 16 soal yang ada. Gue benar-benar terkejut sama diri gue sendiri. Gue merasa kembali seperti dulu lagi, waktu masih rajin-rajinnya. Mulai hari itu gue bertekad akan terus rajin belajar. Menyempatkan waktu untuk belajar meski hanya sedikit.

Untung banget waktu itu gak ada yang manggil-manggil minta jawaban. Jadi gue bisa fokus ngisi lembar jawaban.

Hari itu benar-benar absurd. Karena begitu banyak peristiwa yang gue alami dalam satu hari. Mulai dari rambut yang di potong guru, tegang sebelum ujian, dan mendadak cerdas saat ujian. Kejadian seperti ini sangat jarang gue alami. Meski jarang, gue sangat ingin kejadian ini terus terulang setiap harinya. Kecuali rambut yang dipotong sama guru.

Tidak hanya geografi saja, akutansi pun juga begitu. Gue mendadak cerdas waktu ujian akutansi. Biasanya gue lirik sana dan sini setiap ujian akuntansi tapi pada hari itu gue gak ngelirik sama sekali. Gue benar-benar fokus ngisi sendiri. Ini lah yang dinamakan kesungguhan.

7 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.