IPA vs IPS: Ditantang Sparing

IPA vs IPS: Ditantang Sparing – Belakangan ini kelas gue lagi heboh-hebohnya sama sebuah game online kelas internasional, yang pemainnya sudah tidak diragukan lagi. Cukup banyak. Kehebohan ini bermula dari gue yang ingin meminta data permainan itu supaya bisa di copy ke laptop gue.

“Bang, minta Dota dong,” kata gue.

“Mana flashdisknya?” tanya Ibang.

“Bi, kasih.” gue menyuruh Abbi memberikan flashdisk miliknya.

Disini terjadi sebuah tranksaksi gelap antara Abbi dan Ibang. Abbi dan Ibang saling bertukar game yang mereka miliki. Abbi punya Empire 3, dan Ibang punya Dota 2. Setelah Abbi mengcopy Empire 3-nya itu ke dalam sebuah flashdisk, flashdisk itu pun dicolokin ke USB port di laptopnya Ibang.

Empire 3 sukses di pindahkan. Tibalah saatnya Ibang meng-copy data Dota 2-nya itu ke dalam flashdisk milik Abbi.

“Loh, kok gak bisa?” gumam Abbi. Kemudian ia melihat besarnya file dota 2 itu. Dan benar aja. Datanya 40 GB lebih! Sementara flashdisk Abbi hanya berukuran 16 GB. Itu artinya kurang 24 GB lagi untuk bisa mengcopy Dota 2.

“Yaudah, besok aku bawa Harddisk.” kata Abbi, menatap ke arah gue.

Gue menganggukan kepala.

Keesokan harinya, Abbi lupa membawa Harddisknya. Kampret. Gue batal menikmati game Dota.

“Nanti aku minta sama Rama,” ucap Abbi setelah gue tanya kenapa dia lupa membawa HDD-nya.

Keesokan harinya…

“Za, aku udah punya Dota 2.”

“Mana? Minta!”

“Nanti aku ke rumahmu aja,” Abbi beralasan.

“Tapi nanti siang gue mau tidur. Gue capek,” gue ngeles. Tidak mau Abbi datang ke rumah karena Abbi kalau di rumah orang suka buka-buka kulkas. Gue takut makanan dan minuman di dalam kulkas habis sama Abbi seorang. Mengingat badannya besar seperti badak.

“Mau Dota gak?” ancam Abbi.

“Mau, sih…”

“Yaudah, nanti aku datang ke rumahmu.” kata Abbi.

“Oke…”

Sepulang dari sekolah, gue duduk nungguin Abbi. Makanan dan minuman sudah gue siapkan supaya dia tidak membuka kulkas di rumah gue. Alhasil, sampai jam 6 sore pun, dia tak kunjung datang. Kampret. Udah capek-capek nunggu taunya dia tidak datang. Ketika esoknya gue tanya, dia bilang kemarin ketiduran. Tau gitu mending gue tidur siang! Kampret lo Bi!

Tapi gue seneng karena hari itu (kemarin), dia membawa flashdisknya.

“Di dalam flashdisk itu udah ada backup-an dota.”

“Mantap! Makasih Bi!”

Setelah terjadinya tranksaksi gelap antara Abbi dan gue *halah*, tiba-tiba…

“Bro… bro…” ucap temen gue, datang menghampiri kami yang tengah menikmati jajanan dari kantin sekolah.

“Ada apa, Bert?” tanya Abbi. Dengan muka setengah penasaran.

Gilbert mengambil kursi dan mengatur posisi duduk senyaman mungkin.

“Begini…”

Semuanya menatap Gilbert dengan muka serius. Penuh tanya.

“Kita di ajak sparing Dota sama anak IPA!!!” ucap Gilbert, sambil menepuk meja.

Baca Juga: IPA vs IPS: Capeknya Diginiin

“APPPAAAAA?!!!” *jeger* *suara petir* *abaikan*

“KOK BISA?” tanya Ibang, seperti di dalam serial drama.

“Tau tuh, tiba-tiba mereka ngajakin buat sparing.”

Mata kami saling bertemu. Seperti di film-film dimana sang tokoh menemukan ide dan tahu apa yang harus dilakukan.

Ibang, yang kebetulan menjadi ketua kelas dan juga Dota player, mengeluarkan selembar kertas dan mengadakan rapat dadakan yang bersifat cukup rahasia. Pintu kelas langsung di tutup demi mencegah terjadinya kebocoran informasi rapat.

Kami berpindah ke posisi tengah. Mengecilkan volume suara.

Meski dinamakan rapat, tapi rapat yang kami adakan tidak seperti rapat sungguhan. Bagaimana tidak, ada yang makan. Ada yang sambil ngupil. Ada yang tidur-tiduran di atas meja. Dan ada yang kayang sambil makan beling (?)

“Aku sudah mengumpulkan data-data kalian semua.” kata Gilbert. Ditengah rapat. “Dan awak tau, kamu orang ahli di bidangnyo masing-masing!” Gilbert melanjutkan.

“Data apo Bert?” tanya gue penasaran.

“Pertanyaan bagus!” kata Gilbert. “Kau Reza, awak tau kau veteran PB. Yo idak?” tanya Gilbert.

“Ngg… iyo. Tapi kau tau darimano!?” tanya gue.

“Tau dari Facebook.” jawab Gilbert.

“Sejak kapan kau tau Facebook awak?!” tanya gue kembali.

“Barusan bae,” balas Gilbert. “Nih.” sambil nunjukin Screenshoot lama gue waktu main masih main PB dulu.

Dan… kok tiba-tiba percakapannya berubah menjadi bahasa daerah gini ya? Bego nih TSnya. Kacau. Ngawur. Masa tiba-tiba diubah jadi bahasa daerah! *lalu balikin meja* *ngelempar bata ke TS*

IPA-vs-IPS-Ditantang-Sparing-2

 

—————-

Setibanya di rumah gue langsung nyalain laptop dan merestore backup-an dari flashdisknya Abbi.

IPA-vs-IPS-Ditantang-Sparing-3
Proses restore backup

Gue paling males kalau harus ngedownload Dota yang ukurannya gede banget. Mangkanya, gue cari yang gampangan, yaitu minta punya orang! Hahaha *tawa jahat* *keselek lalat* *TSnya tewas* *postingan berakhir karena tidak ada yang ngelanjutin*

IPA-vs-IPS-Ditantang-Sparing-2

 

————————

Seusai merestore backup-an dari flashdisknya Abbi, gue langsung nyobain Dota.

Tahap Akhir!
Tahap Akhir!

Jujur, gue masih newbie (pemula) dalam permainan Dota ini. Sebelumnya gue belum pernah memainkan game seperti Dota ini. Sebelumnya gue lebih senang main game-game berjenis FPS seperti Point Blank dan Counter Strike.

Setelahnya, gue langsung nyobain Dota ini. Karena gue belum ngerti-ngerti banget sama permainan Dota, maka gue main dalam mode offline. Sambil belajar dan beradaptasi sama permainan ini.

Udah lama banget gue tidak main game online. Gue mulai berhenti main game online sejak kelas 8 SMP kemarin. Sudah empat tahun lamanya gue berhenti bermain game online dan sekarang gue malah main lagi.

Baca juga: Gue di Kelas Delapan

Yang paling gue takutkan adalah ketagihan sama Dota. Waktu pertama kali nyoba, gue langsung jatuh cinta sama game yang diam-diam akan membunuh secara perlahan. Main empat jam serasa kurang puas. Mungkin ini adalah tanda-tanda bahwa gue ketagihan. Kalau udah ketagihan, gue bisa lupa belajar. Apalagi gue udah kelas tiga SMA, bisa kacau deh nilai ujian nasional gue nanti. Lupa sama blog. Dan yang akan ada di pikiran gue hanya Dota-Dota dan Dota.

Baca Juga: Perjuangan Mendapatkan Nilai

Mungkin gue masih newbie. Tapi cepat atau lambat, sparing Dota antara anak IPA dan IPS pasti akan terjadi. Cepat atau lambat, gue pasti bisa mengimbangi skill mereka yang sudah lama bermain Dota ini. Dan semoga gue tidak nagih secara berlebihan sama permainan yang satu ini.

Anak IPA, tunggulah kami! Kami anak IPS tidak akan kalah sama kalian! Lihat saja!

Apakah kalian penggila game juga? Yuk, share di kolom komentar!



8 COMMENTS

  1. Anjirr, jadi inget jaman SMA dulu *serasa udah sepuh banget gue wkwk*
    Kalo dulu, kelas gue sering banget bersaing sama anak kelas IPA 1 sih, bukan sama anak IPS. Tapi apa aja dijadiin bahan tandingan(?), ampe-ampe salahsatu guru demen banget ‘ngeledekin’ persaingan antara IPA 1 dan IPA 2, haha XD

    • Lu mah memang sepuh Yan m(_ _)m
      Tanding yang kayak gimana tuh Yan? Kayaknya asik tuh IPA vs IPA. Jadi ntar ada yang satu bikin bom berbahan sabun cuci piring, lalu ada yang bikin roket berbahan sosis(?)
      Guru di sekolah gue juga demen tuh ngeledekin persaingan antar kelas XD

  2. saya tidak terlalu suka sama games, tapi kalau ada salah satu permainan yang tertarik banget, pasti langsung di mainin terus deh games nya :)

  3. Gue kaga ngerti itu mainan dota apa empire itu. Gue sukanya kalo games pc itu main masak-masakan. Yoi. Cooking Academy. :/

    Semoga bisa ngalahin anak IPA ya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.