Melawan Banjir

Tik tik tik bunyi hujan di atas genting.
Airnya turun tidak terkira.
Cobalah tengok dahan dan ranting.
Pohon dan kebun basah semua.

Lagu barusan sangat tepat untuk menggambarkan cuaca yang ada di kota gue. Sekarang ini, Kota Bengkulu sedang memasuki musim penghujan. Terbukti dari tingginya curah hujan dan juga kelembaban udara yang ada di sini. Setiap hari hujan dan setiap hari itu pula gue jadi galau karena teringat akan suatu kejadian dimana saat itu, saat sedang hujan, gue putus sama pacar gue.

Gue sangat menyayanginnya. Gue nggak ingat bagaimana detilnya gue bisa putus sama dia tapi yang pasti hingga sekarang, perasaan gue terhadap dia tetap sama. Gue masih sayang sama dia. Entah bagaimana dengan dengannya. Gue hanya bisa berharap meski sudah tidak berhubungan lagi semoga dia tidak melupakan masa-masa indah yang pernah kita lewati.
Meski ada masa-masa kelamnya, semoga itu bisa jadi sebuah pembelajaran bagi dia dan tentunya gue sendiri untuk memperbaiki diri dan was-was agar hal itu tidak terjadi lagi di masa yang akan mendatang.

Baca Juga: Ceritanya Ditikung Teman Sendiri

Tuh kan… masih aja ingat mantan. Sadar Za! Lo tuh udah ada yang punya!

Kalo yang namanya hujan, pasti tidak jauh dari kata banjir. Yapps. Banjir selalu menjadi momok paling menakutkan ketika sedang hujan. Biasanya sih kekhawatiran akan terjadinya banjir paling sering dirasakan oleh masyarakat Ibukota saja. Tapi sekarang bukan cuman masyarakat di Ibukota saja yang mulai khawatir akan terjadinya banjir ketika lagi hujan.

Baru-baru ini komplek tempat tinggal gue kedatangan mimpi buruk yang hanya terjadi saat hujan deras tiba. Ya siapalagi kalo bukan banjir. Masyarakat di Kota gue juga mulai khawatir dan was-was kalo-kalo terjadinya banjir sebab dari hari ke hari sering terjadi hujan dengan intensitas yang cukup deras dan juga sering. Ya namanya juga manusia ya. Susah banget diomongin. Sudah diperingatin supaya tidak membuang sampah sembarang eh masih aja. Kalo di tanya sudah seberapa banyak diperingatin, jawaban gue: Mulut aja sampai bosan ngingetinnya.

Baca Juga: Bosan Bisa Berevolusi

Akhirnya terjadi banjir. Siapa yang rugi? Bukan cuman si pembuang sampah saja, melainkan warga dan masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah tanah yang rendah.

Kemarin merupakan banjir terbesar yang pernah terjadi di komplek gue selama gue hidup dan tinggal di sini. Selama 17 tahun tinggal di sini, baru kali inilah gue kewalahan melawan banjir. Biasanya kalo udah hujan deras air banjir tidak sampai masuk ke dalam rumah. Pernah beberapa kali masuk tapi ini adalah bencana banjir yang paling besar yang pernah terjadi di komplek tempat tinggal gue.

Rumah gue pernah tiga kali kemasukan banjir. Yang pertama masih bisa ditanganin karena waktu itu bokap sedang libur kantor. Yang kedua terbilang parah karena air benar-benar menggenangin rumah. Bahkan hp gue sampai kelelep karena di taruh di lantai. Airnya sih cuman sebatas mata kaki doang dan itupun terjadi waktu tengah malam saat semuanya sudah tidur. Air yang masuk tidak bisa ditanganin.

Yang ketiga bener-bener udah parah banget. Kejadiannya kemaren. Waktu itu gue lagi seru-serunya nonton Saitama episode sembilan di Laptop gue. Waktu gue lagi nonton diluar memang lagi hujan deras. Nyokap teriak-teriak bilang, “Bang, air udah naik!”

Gue diem aja. Sampai akhirnya nyokap matiin wifi baru gue gerak. Gue lihat, air sudah sampai ke teras rumah! Buset!

Nyokap buru-buru ngambil pakaian bekas untuk dipakai sebagai pengganjal pintu supaya air tidak sampai masuk ke dalam rumah. Awalnya kami bisa bernafas lega. Namun, tiba-tiba tambalan dari pakaian bekas itu terdorong oleh kekuatan air dan tambalan itu lepas sehingga air masuk ke dalam rumah.

Gue heran. Entah bagaimana air bisa masuk ke dalam rumah sementara rumah gue tergolong rumah yang aman dari banjir. Ya kalo Syahroni punya alis anti badai, maka rumah gue bisa dibilang rumah anti banjir. Tapi ya tetep aja kok bisa-bisanya ya banjir masuk sampai ke dalam rumah?

Gue, nyokap sama adek gue buru-buru bagi tugas. Nyokap sama adik gue nampungin air yang masuk ke dalam rumah dan tugas gue menahan kain pengganjal menggunakan kayu besar supaya air tidak masuk ke dalam rumah.

Kampretnya si air tetep masuk ke dalam rumah gue. Kami pun merubah strategi karena strategi sebelumnya tidak dapat menahan laju air yang masuk ke dalam rumah.

Gue dan adik sebagai penguras air dan nyokap sebagai penahan laju air yang sudah terlanjur masuk ke dalam rumah supaya aliran air tidak menyebar ke ruang tengah dan kamar. Sementara posisi pengganjal rembesan air diberikan kepada baskom besar yang berisi air hasil kurasan gue sama adik gue.

Meski begitu, airnya tetep aja masuk. Mangkanya gue bilang banjir yang ketiga adalah banjir terparah yang pernah terjadi di komplek tempat tinggal gue.

Baca Juga: Ceritanya Cukup Sedih

Untungnya air tersebut tidak masuk dari pintu samping yang memang juga sudah tinggi. Coba aja kalo dari samping masuk lalu dari belakang juga masuk, dipastikan rumah gue mendadak jadi kolam renang!

Berikut adalah foto kesibukan gue, adik dan nyokap sewaktu melawan banjir.

Ngadepin-Banjir

Gue dan keluarga ngabisin waktu dengan berjuang melawan banjir yang entah bagaimana bisa masuk ke dalam rumah yang sudah terbilang cukup tinggi. Selama dua jam dihabiskan untuk bertarung dengan banjir.

Syukur, ternyata airnya tidak sampai ke ruang tengah. Bagaimana dengan rumah tetangga? Semuanya kemasukan banjir. Kasihan yang teras rumahnya nggak di tinggikan. Kemasukan banjir sampai ke dalam.

Selepas melawan banjir punggung gue sakit-sakitan. Gapapa deh capek, itung-itung olahraga dikit.

Banjir kemarin mungkin belum ada apa-apanya bila dibandingkan sama banjir di Jakarta. Tapi cepat atau lambat ditambah dengan kurangnya kesadaran masyarakat akan membuang sampah pada tempatnya, di masa yang akan mendatang banjir tersebut bakal menyaingin banjir di Jakarta.

Sekedar mengingatkan, bahwa masalah banjir sekarang juga sering meneror. Dengan curah hujan yang tinggi, bisa saja membuat rumah kalian kebanjiran kayak rumah gue. Melawan banjir, kedengarannya mengasyikan tapi sebenarnya sangat merepotkan. Terutama bagi kalian yang tinggal sendirian seperti halnya anak kost.

Untuk itu, mari tingkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya supaya tidak terjadi lagi banjir di daerah-daerah kalian. Ya tentunya kesadaran tersebut dimulai dari diri sendiri. Bila diri sendiri tidak sadar, gimana mau nyadarin orang lain coba? Banjir memang kelihatannya sepele untuk ditanganin, tapi bila tidak segera melakukan tindakan pencegahan lama kelamaan akan menjadi banjir besar.

Percaya deh 😉

20 COMMENTS

  1. Benee bgt, kesadaran buat g buang sampah sembarang perlu ditekankan lagi. Kalau lingkungan keluarga kita udah tahu bahaya dan g ngelakuin buang sampah sembarang, bisa kita tularkan ke tetangga2 kita, biar banjir bisa dihindari

  2. Euh, si mantan mah let it go aja kaliiii. X))
    Aduh Za, aku nggak bisa ngebayangin itu bisaan air ngalahin kain yang udah ikut dijejelin sama kayu. Ada selokan nggak Za? Bisa parah gitu. Nggak abis pikir 🙁
    Btw, aku pernah ngerasain rumah kebanjiran. Itu musibah banget. Sekali doang sih, tapi ribetnya naudzubillah. Soalnya pas di rumah, aku cuma berdua sama adik aku, yang lain pergi belanja kebutuhan rumah ;(
    Masalah buang sampah, aku benci banget kalo udah liat sampah. Nggak cantik tauuu. Emang sih aku orangnya males bersih-bersih. Tapi kalo liat sampah, aku langsung segera buat ngilangin tuh sampah di depan mata aku. Tapi adaaaaa aja orang yang nggak sadar untuk buang sampah pada tempatnya. Jadi inget waktu itu ada adik kelas makan batagor, sampahnya dibuang dilempar gitu aja. Padahal dua langkah ia jalan ketemu tong sampah lho. Ih, kesel.
    Semoga nggak kena banjir lagi ya Za. Kalo akhirnya banjir pun, cari kesempatan aja untuk dapat kesenangan semata. Berenang, misalnya. 😀

    • Gue juga gak ngerti lagi sih Ris. Masih bisa jebol aja. Selokan ada kok.
      Gue juga gitu. Males bersih-bersih tapi giliran ada sampah di depan mata pasti tak buang ke tempatnya. Kalo lagi makan bareng temen juga biasanya temen pada nitip sampah sama gue. Karena gue orangnya baik (cie gitu), jadi gue buang aja sampah mereka. Daripada mereka buang sampah sembarangan kan? Mending gue buang aja itu sampah. Itung-itung dapat pahala hehe
      Boro-boro, renang aja gue gak bisa Ris, heu 🙁

  3. Setelah musim hujan tiba, banjir menjadi momok yang mengerikan.
    Seringnya saat banjir kita menyalahkan pemerintah, padahal dari diri kita sendiri terkadang yang menyebabkan banjir dengan membuang sampah sembarangan dan lainnya.
    Ah semoga aja taun ini dan taun2 selanjutnya gak banjir di tempat aku 🙂

  4. banjir mah masalah tahunan warga ibukota..
    bukan mutlak salah pemerintah, ataupun oknum lainnya. tapi permasalahan utama ada di manusianya sendiri. buang sampah sembarangan… kayaknya emang susdah dimusnahkan budaya buang sampah sembarang sejak zaman nenek moyang ini. fuh

  5. Melawan banjir dan bebagai tetek bengek spanduk dll itu sudah ada sejak saya belum lahir, tapi nyatanya podo wae gak sadar-sadar ya hahahha….Jadi, hikmah dari banjir adalah kamu beres2 sekalian olahraga ya za 😀

  6. aduh.. gue tinggal di kelapa gading, jakarta utara, dki jakarta. disini gue tersiksa bgt. tiap ujan deres pasti banjir. puft. kall.rumah gue makhluk hidup, mungkin dia udah jago renang kali ya.

    muhiraz.blogspot.co.id

Tinggalkan Komentar

Setelah berkunjung, yuk jangan lupa untuk ninggalin jejak dengan cara meninggalkan komentar kalian di kolom yang sudah gue sediakan! Oya, kalian juga boleh ajak sanak, gebetan atau bahkan keluarga buat main-main ke blog gue. Pssst kalau kalian ada seorang kenalan cewek, bisa kali kenalin dia sama gue. Kali aja jodoh :p Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.