Perubahan Part 2

 

Kali ini gue akan melanjutkan cerita gue sebelumnya yang berjudul “Perubahan Part I.”

Sampai dimana gue kemarin?

Sampai ke seberang jalan! Haha, enggak deng.

Usai pelajaran TIK, kami menjadi sedikit bebas karena gurunya belum masuk. Karena gak ada kerjaan, gue mengambil earphone dari dalam tas dan menyambungkannya ke hp gue. Lagu demi lagu telah gue putar. Tapi ada yang gak banget dari daftar lagu yang ada di hp gue, yaitu kenapa di hp gue bisa ada lagu “Pusing Pala Barbie dan teman-temannya!?” WHY!!?

Ini pasti ulah adik gue. Benar saja, ketika gue cek, lagu itu di kirim dari hp gue dengan menggunakan bluetooth.

Sejujurnya gue paling gak suka jenis lagu yang kayak gitu. Karena gue terbiasa mendengarkan jenis-jenis lagu yang sedikit hardcore, dual core, quad core dan octa core. Loh?

Tapi seketika itu juga gue jadi ikutan nyanyi. Meskipun gue gak begitu suka lagunya, berhubung lagi gak ada kerjaan yasudah gue ikutan nyanyi aja sambil ngilangin kebosanan yang gue rasakan. Yah daripada gak ada kerjaan kan?

 

Aduh pusing pala barbie pala barbaie
ouw..ouw
Pusing pala barbie pala barbaie
ouw..ouw
Pusing pala barbie pala barbaie
ouw..ouw
Pusing pala barbie pala barbaie

 

“Hmm… asik juga lah ya,” gumam gue.

Lalu guru bahasa inggris masuk dan langsung memulai pelajaran. Keadaan kelas sama seperti biasanya. Ramai bener. Berasa seperti di pasar dimana sedang ada transaksi jual beli dan tawar menawar antar pembeli dan pedagang di pasar.

Bel istirahat berbunyi. Suaranya terdengar begitu merdu di telinga gue. Gue yakin bukan cuman gue yang merasakan hal yang sama. Temen-temen gue berhamburan keluar kelas menuju kantin. Kantin di sekolah gue letaknya sangat strategis, sehingga para pelajar jadi mudah untuk meng-akses kantin.

Sebelumnya, letak kantin di sekolah gue sangat tidak strategis sehingga para pelajar kesulitan ingin mengakses kantin. FYI… kantin sekolah gue sebelumnya berlokasi di dekat ruang kesiswaan, BP/BK dan juga meja piket. Sungguh sangat tidak strategis bagi para siswa yang ingin mengakses kantin saat jam pelajaran.

Beruntung tahun ini kantinnya dialokasikan ke tempat yang sangat-sangat strategis. Dekat dengan kelas. Entah itu kelas XI IPA, IPS, XII IPA dan IPS. Sehingga para siswa yang mungkin kelasnya sedang kosong, atau belum sempat sarapan jadi begitu mudah untuk mengakses kantin.

Hari ini gue gak keluar kelas. Gue sengaja ingin menghemat uang jajan gue tabung. Nanti kalau uang gue udah banyak, gue mau beli Es Teh Manis. Hehehe…

Sisanya buat beli Lykan Hypersport.

“Ji, ntar temenin ke meja piket ya,” kata gue.

“Mau ngapain Za?”

“Minta surat izin, ntar gue mau pulang.”

Lalu temen gue menunjuk dirinya sendiri. Memberi isyarat kalau dia juga ingin minta surat izin pulang.

“Oh, lu mau izin pulang juga?” tanya gue.

Masih menunjuk dirinya sendiri.

“Oke, urusan gampang lah itu.”

Setelah menghabiskan makanannya, lalu teman gue kembali bertanya. “Ngapain kamu pulang? Tanggung. Dua jam lagi kita juga pulang.”

“Bukan pulang sih sebenarnya, tapi gue mau ngambil KTP.” kata gue, dengan suara yang dalam sambil memasang muka cool.

“Oh.. aku gak jadi-jadi mau ngurus KTP. Orang tuaku gak sempat,” temen gue curhat.

“Sabar aja, nanti juga lu pasti bikin kok.”

Lalu bel istirahat kedua berbunyi. Gue langsung mengajak temen gue tadi untuk pergi ke meja piket mengurus surat izin gue.

“Bu, aku mau izin pergi keluar Bu.”

“Alasannya?” tanya guru di meja piket.

“Mau ngambil KTP, Bu.” lagi-lagi gue mengatakannya dengan suara khas laki-laki yang sangat dalam. Memperlihatkan perubahan yang ada dalam diri gue.

“Emang umurmu berapa?” tanya guru di meja piket.

“Lebih dari cukup untuk ngambil KTP, Bu.”

Guru itu melihat gue secara seksama.

“Iya.. Iya.. kamu lebih dari cukup untuk ngambil KTP.”

Lalu gue diberi izin untuk keluar.

Gue langsung ngambil tas dan meninggalkan sekolah. Sambil memberi kiss bye ke arah temen-temen gue yang lainnya. Kedua tangan di saku celana, sesekali memberikan lambaian tangan dan kiss bye ke yang lainnya. Like a boss!

Gue langsung naik ke atas motor bapak gue lalu berangkat menuju kantor tempat pengambilan KTPnya. Lokasi kantornya bener-bener jauh! Dari sekolah gue menuju kantor pusatnya memerlukan waktu perjalanan lebih dari 45 menit.

Setibanya di kantor, gue harus ngantre dan bersabar menunggu antrean. Waktu gue sampai, lagi jam istirahat makan siang sehingga harus menunggu lama. Belum lagi ditambah lama dan panjangnya antrean.

Akhirnya tibalah giliran gue untuk mengambil KTP. Perasaan gue waktu itu? Seneng pastinya! Pas gue udah duduk, ternyata listrik mati. Gue terpaksa menunggu. Lagi seneng-senengnya karena bentar lagi dapet KTP, eh listriknya mati.

Listrik kembali hidup. Proses kembali dilanjutkan. KTP gue berhasil di cetak. Lalu untuk melengkapi persyaratan terakhir saat pengambilan KTP, gue disuruh memberikan jari telunjuk gue ke mesin pembaca sidik jari. Entah mengapa disini gue mendadak bego. Gue memberikan 3 jari. Lalu ditegur karena gue salah. Seharusnya yang gue berikan adalah jari telunjuk.

Gue blank. Gue mendadak bego. Gue bahkan lupa mana yang namanya jari telunjuk. Lalu karena sedikit panik, gue nanya ke bapak gue yang mana jari telunjuk. Petugasnya tertawa melihat tingkah gue yang mendadak bego itu.

“Ini jari telunjuk,” kata petugas satunya lagi.

Gue langsung memberikan jari telunjuk gue ke mesin scan. Yak, proses lengkap. KTP pun langsung diberikan ke gue.

Dalam satu hari itu, gue benar-benar merasa sedikit berbeda setelah menerima KTP. Gue mendadak merasa menjadi orang yang lebih-lebih dewasa lagi dari sebelumnya. Sebelum gue memiliki KTP. Lalu gue bertekad, gue harus bersikap lebih dewasa lagi.



2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.