Problematika Musik dan Tontonan Anak Masa Kini

Gue kadang merasa sedih dan prihatin sama lagu-lagu anak zaman sekarang yang sepertinya mengalami perubahan alias salah gaul. Dulu, sewaktu gue kecil, lagu anak yang paling suka gue dengerin itu kayak Balonku ada lima, Potong bebek angsa, Pelangi, Naik kereta api, Nina bobo, Helly guk guk guk, dan lain-lain. Bahkan sampai gue SD kelas dua pun gue masih suka dengerin lagu-lagu tersebut.

Tidak cukup sampai disitu. Gue juga nyuruh bokap buat beliin kaset lagu anak-anak. Setelah gue mulai beranjak dewasa, gue sekarang bingung sama diri gue sendiri. Kok bisa-bisanya ya gue minta beliin kaset yang berisi lagu anak, yang padahal lagunya sama sekali tidak mengalami perubahan seperti lagu-lagu orang dewasa. Bego banget ya Reza kecil.

Baca Juga: Saatnya Memikirkan Masa Depan

Lagu-lagu anak ini sedikit mengalami pergeseran seiring perkembangan zaman. Lagu-lagu anak yang sudah bersusah payah Ibu Sud dan Papa T. Bob buat digantikan sama lagu-lagu dewasa yang menyusup ke dalam kaset lagu anak. Kalau kalian lahir di era Millenium, pasti kenal sama nama-nama di atas. Ya, merekalah yang menciptakan lagu-lagu anak. Masih banyak lagi sih pencipta lagu anak, tapi yang familiar banget di telinga dan mata gue cuman Ibu Sud dan Papa T. Bob.

Kalau adik gue muter kasetnya di ruang tengah, gue suka geleng-geleng kepala sendiri. Gue tidak ada habis pikir. Kenapa sih, lagu-lagu legendaris itu hilang dari kaset lagu anak? Justru di kaset yang berisikan lagu anak tersebut yang paling mendominasi adalah lagu-lagu orang dewasa dan juga lagu-lagu dangdut.

Kok bisa-bisanya, ya?

Adik gue itu kalau udah muter lagunya, dia suka gedein volume tv. Jadi lagunya kedengaran sampai ke luar rumah. Gue yang mendengar lagu-lagu tersebut jadi risih. Tidak seharusnya lagu-lagu orang dewasa tersebut dikonsumsi oleh anak-anak. Anehnya lagi, ibu gue ikut-ikutan bela adik gue mendengarkan lagu-lagu orang dewasa.

Problematika Lagu Anak

Bukan cuman lagu-lagu aja sih, tapi tontonan juga sudah mengalami pergeseran dari yang semestinya. Adik gue yang seharusnya nonton tayangan yang memiliki nilai edukasi atau setidaknya film kartun yang menghibur, malah jadi nonton shitnetron ganteng-ganteng sering galau, yang banyak menayangkan adegan bermesraan dan tidak masuk akal. Tidak seharusnya adik gue nonton film yang tidak bermutu seperti film itu.

Kebalikannya, gue malah suka nonton film yang memiliki nilai edukasi dan juga film animasi, kartun dan sejenisnya yang cukup menghibur. Sesekali gue ngajakin si adik supaya ikut gabung sama gue nonton film animasi, tapi si adik tidak pernah mau. Dia lebih memilih film yang ada adegan mesra-mesraannya. Dan terkadang film bola yang tidak masuk diakal. Giliran gue ajakin nonton bola yang beneran bola, dia ogah dan menolak.

Lah, kok jadi gini ya adik gue?

Padahal gue tidak pernah tuh ngajarin untuk dengerin atau nonton yang bukan tontonan dia. Kalau gue matiin, dia marah. Melawan sama gue. Dinasehatin, malah membantah dan mengatakan, “Urusin aja urusan abang sendiri.”

Gila men! Adik gue ngomong kayak gitu sama gue, abang kandungnya sendiri! Baru kelas 5 SD padahal!

Gue sebagai abangnya merasa gagal mendidik adik sendiri. Tantangan buat gue mendidik si adik supaya tidak salah jalan. Mengingat anak-anak zaman sekarang ini kelihatannya sudah mulai salah arah. Kecil-kecil udah pacaran. Udah ngerokok. Udah bawa motor trus boncengan lagi sama pacarnya dengan kecepatan motor yang sengaja dilambetin dan berada di jalur tengah yang seharusnya dipake buat lajur cepat. Sehingga orang-orang yang pengin cepat, suka emosi sendiri ngelihat mereka. Kalau di klaksonin malah ngeres kayak pengen ngajakin berantem.

Gue, sebagai siswa kelas tiga SMA, merasa kalah saing sama mereka-mereka ini, anak kecil (SD) yang salah arah. Mereka udah kenal yang namanya pacaran sementara gue dulu tidak mengenal yang namanya pacaran. Paling cuman sekedar suka, secara diem-diem lagi. Mencintai seseorang dalam diam. Itu yang gue lakuin waktu dulu.

Kalau ngerokok alhamdulillah gue tidak terpengaruh. Karena gue sadar betapa jeleknya pengaruh rokok untuk kesehatan tubuh. Ada prinsip yang menyatakan, “Gak merokok, gak gaul. Gak ngerokok, gak keren. Gak ngerokok, gak ganteng.”

Jujur, gue kurang setuju sama prinsip seperti itu. Apa coba hal yang perlu dibanggakan dari merokok? Merokok membuat ganteng? Merokok sama sekali tidak membuat lo ganteng. Merokok hanya membuat badan lo rusak.

Baca Juga: Belajar Mencintai Diri Sendiri

Kembali ke topik permasalahan.

Gue tidak mau adik gue ikut-ikutan salah arah. Berpacaran di usia yang sangat muda. Itulah sebabnya gue melarang adik gue ini menonton sinetron yang tidak mendidik seperti itu. Yang menayangkan adegan mesra. Kenapa ya tidak ada aturan yang melarang stasiun televisi untuk menanyangkan film yang tidak bermutu seperti itu. Sementara film kartun yang menghibur malah dilarang. Katanya ada unsur kekerasan. Dimana letak kekerasannya coba? Kenapa tidak shitnetron aja yang dilarang? Kan ada unsur perkelahiannya tuh. Ada unsur pacar-pacarannya. Yang tidak mendidik. Bisa menghancurkan moral bangsa.

Lagu juga. Kenapa lagu anak-anak terdahulu malah lenyap dengan digantikan lagu-lagu orang dewasa? Di kasetnya tertulis, “Kumpulan Lagu Anak-anak Ceria”, tapi pas di play isinya lagu orang dewasa yang dinyanyikan sama anak-anak. Inikan pembohongan publik nih. Jadinya bukan lagu anak-anak lagi. Melainkan lagu orang dewasa yang dinyanyikan oleh anak-anak.

Jangan sampai hal itu terjadi pada adik, tetangga dan bahkan anak Anda sendiri. Karena apa yang mereka dengar dan mereka lihat akan menjadi sebuah pelajaran untuk mereka dan bisa saja praktekan sendiri dikehidupan nyata. Jangan biarkan anak atau adik Anda jadi salah arah. Jangan biarkan mereka jadi orang yang salah gaul. Sebaiknya batasi apa yang ingin mereka tonton karena siaran televisi sekarang sedang tidak baik. Menampilkan acara yang tidak bermanfaat.

Problematika Musik dan Tontonan Anak Masa Kini (2)
Source: https://masmoi.wordpress.com

Ini menjadi suatu problematika musik dan tontonan anak masa kini. Gue bersyukur banget lahir di tahun 90-an. Dimana generasi ini tidak mengalami yang namanya kehancuran yang disebabkan oleh tontonan dan musik karena masa kecil gue dulu, film kartun itu masih banyak di televisi. Masih sering ditayangkan. Belum ada shitnetron yang aneh-aneh. Lagu anak masih murni. Tidak mengalami perubahan. Meskipun tidak mengalami yang namanya update seperti lagu-lagu orang dewasa pada umumnya.

Seandainya gue lahir di tahun 2000-an. Bisa hancur deh gue. Nonton shitnetron yang tidak masuk akal. Yang ada cinta-cintaannya. Musik yang sudah tidak murni lagi.

Jangan biarkan moral anak bangsa menjadi rusak. Terkadang banyak dari kita yang mengetahui tapi seolah tidak tau. Seolah menutup mata. Kalau terus seperti ini, maka hancurlah moral bangsa. Kemajuan suatu negara ditentukan dari generasi penerusnya. Semakin hancur moral generasi, maka hancurlah negara tersebut.

Kalian punya tidak adik atau saudara yang kelakuannya seperti adik gue? Yang tidak mau dilarang menonton yang tidak pantas ia konsumsi?



38 COMMENTS

  1. ya begitulah kak, lagu-lagu jaman dulu apalagi yang lagu anak-anak kalah saing sama lagu-lagu jaman sekarang yang apalagi isinya gak pas buat anak kecil yang di bawah umur. lagu anak-anak jaman dulu gak kalah saing sama lagu-lagu jama sekarang. justru lagunya lebih enakan lagu anak-anak jaman dulu :3

    • Iya. Lagu-lagu tersebut cuman kalah saing saja. Tapi apa mungkin sepenuhnya karena kalah saing? Gue rasa tidak. Lagu-lagu tersebut hampir terlupakan karena tidak adanya yang berniat melestarikan. Lalu orang-orang tertentu mengetahui dan memanfaatkan kesempatan ini dan ia memasukan lagu-lagu orang dewasa yang seharus tidak dikonsumsi oleh anak-anak itu ke dalam bentuk lagu yang dikemas dan dinyanyikan oleh anak-anak :))

  2. Kayaknya stelah tahun 2000an mulai langka lagu anak2, padahal pangsa pasarnya bagus ya. Dan pasti banyak lah org indonesia yg bs ciptain lagu anak. Tapi knp kesannya kurang diminati ya, heraaan.

    • Hmm iya. Padahal pangsa pasarnya bagus. Walaupun gak update, tapi tetep aja pangsa pasarnya bagus. Terbukti gue dulu setiap kasetnya rusak aku minta beliin kaset yang baru padahal lagunya sama aja :))

  3. Dulu gue seneng banget ama sherina, film ga jauh-jauh nonton teletabis. Pokoknya gue men-dewa-kan 2 hal itu deh. Udah jadi idola banget! Tapi gue liat anak-anak jaman sekarang, mereka kayak gapunya idola. Gaada yang bisa dicontoh buat anak-anak kek mereka. Alhasil sinetron plus dangdut pantura jadi idaman. Heleh.

  4. prihatin sih liat tontonan sekarang. aku aja paling males buka tv karena acaranya kebanyakan sampah. korbannya ya anak-anak yang memang suka meniru apa yang mereka dengar dan lihat.

  5. soalnya jarang yg ada muterin lagu anak”, misal di radio atau tv, lagian sekarang daripada naik delman keliling kota mending naik motor boncengan nyabuk, huft

  6. iya men. Sabar ya. Mudah-mudahan adek lu cepet sadar.

    Eh, gimana? Sudah nonton Barakamon belum? Ini gua peter yang blognya dikomen sama lu di postingan kemarin. Seru nggak haha

    Kunjungan balik ya rez. Salam kenal :)

  7. Btw, gue gagal bayangin ya, soalnya lagu-lagu yang adek lo dengerin itu lagu apa? dan lo sendiri dengerin lagu apa? trus lagu yang tidak murni? indikatornya apaan emang?

    Menurut gue ya, musik dan tontonan itu adalah masalah selera, dan gak bisa dipaksain, ya kita juga harus ngerti alasannya dia suka lagu dan tontonan itu kenapa. Bayangkan lo jadi adek lo deh, punya abang kayak lo gimana. haha :V

    • Lagu yang adik gue dengerin itu rata-rata kayak lagu cinta-cintaan. Gue sendiri dengerin lagu Jejepangan. Ya gue sebenarnya gak mempermasalahkan lagu apa yang adik gue dengerin, tapi yang gue bahas di sini adalah anak-anak kecil zaman sekarang itu dengerin lagu-lagu yang kurang mendidik. Begitu juga dengan tontonan. Zaman gue dulu, gue gak ada tuh nonton film cinta-cintaan. Gue lebih senang nonton film yang memang menghibur, lucunya dapet, dan juga yang ada nilai edukasinya. Seperti Laptop si Kunyit :))

      Gue kasihan sama anak-anak masa kini, mereka diberikan tontonan yang tak sesuai dengan usianya. Stasiun televisi juga sekarang mulai jarang nayangin film kartun, mereka lebih memilih muterin shitnetron dibanding film yang ada nilai edukasi/menghibur :))

  8. Bener, anak-anak sekarang sukanya dengerin musik dan nonton film yang belum pantes untuk dikonsumsi sama mereka. Aku juga punya adik yang kelakuanya mirip sama adik kamu, dibilangin malah gak mau dengerin, harus marah-marah dulu baru mau nurut. Jadi kakak harus sabar hahah *curhat.

    Iya, jekarang ini media terutama TV (indonesia) lebih sering menayangkan konten yang tidak meng-edukasi, isinya cinta-cintaan mulu, useless content, etc. Sebagai kakak, aku mencoba mengawasi apa yang ditonton oleh adik-adik, menasehati mereka, mengajak untuk menonton ataupun mendengar hal-hal yang sesuai sama umur, karena aku percaya bahwa apa yang sering kita nikmati akan mempengaruhi pola pikir kita juga, jadi takutnya adik-adik yang keseringan disuguhi sinetron dll malah terpengaruh mengikuti hal yang gak patut untuk dicontoh, pacaran di usia belia kemudian blahblah misalnya?! Parah, jangan sampe :/

    • Iyaa… untungnya sekarang adik gue nurut. Udah gak nonton shitnetron lagi. Yang bikin dia gak nonton shitnetron lagi tuh karena di rumah di pasang tivi kabel. Jadi ya dia bisa nonton kartun sepanjang hari. Satu masalah terselesaikan :D

  9. Kalau dibilang salah siapa sih, ini sebenernya salah ibu2 indonesia zaman 2000an yang kelewat doyan nonton sinetron. Makannya saluran lokal kita nayangin tayangan yang ratingnya memang terbukti tinggi, yaitu….. SINETRON. Karena ibu menguasai remot, anak jadi gak berdaya terpaksa deh nonton gituan. Anak kan polos yah, dikasih apa juga lama2 doyan.

    Satu lagi, buat solusi. Kata gue mending lo suruh ayah bunda lo pasang tv kabel. Dijamin tuh bocah adek lo bakal anteng nonton nick, CN atau Disney.

    Asal kaka nya jangan sering mantengin fashion tv aja. haha

  10. Yap, sepakat gan.

    PR juga buar kita yang punya anak atau saudara yang masih kecil untuk memberikan edukasi tentang mana yang baik dan yang buruk.

    Bagusnya sih kuantitas menonton tv dikurangi dan diganti dengan aktivitas yang lebih positif dan bermanfaat. :D

    Salam kenal. :)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.