Sudut Pandang

Sudut pandang. Apa itu sudut pandang? Menurut riset kecil-kecilan yang gue lakukan sebelum ini, yang ya, walaupun ujung-ujungnya gue bakal buka wikipedia juga karena hasil penelusuran di web-web lain kurang memuaskan, berikut adalah pengertian sudut pandang yang gue dapatin dari dua sumber yang berbeda:

Menurut wikipedia:   Dalam fotografi, sudut pandang (en:angle of view, angular field) adalah rentang sudut perspektif yang terekam oleh kamera.

Sementara itu sudut pandang menurut web lain:

Sudut pandang adalah cara pengarang menempatkan dirinya terhadap cerita atau dari sudut mana pengarang memandang ceritanya.

Bagaimana kalau seandainya kedua pengertian tersebut kita jadiin satu? Um, begini hasilnya: Cara seseorang menempatkan dirinya melalui perspektif yang terekam oleh mata.

Sejatinya fungsi kamera sama halnya dengan fungsi mata. Sama-sama menangkap gambar lalu diterjemahkan secara visual. Jadi, bagaimana cara seseorang menangkap gambar yang terekam maka begitulah hasil sesungguhnya. Nggak ngerti? Toss, kita sama.

“Nggak usah puasa dulu, Bang.” Kata bokap gue sambil mengempulkan asap ke udara.

“Kok gitu, Pah?” tanya gue yang memang nggak ngerti maksud perkataan bokap barusan. Kenapa bokap berkata begitu? Apa gue ketahuan habis melakukan hal yang iya-iya dan gue nggak mandi wajib langsung setelahnya?

“Besok kan mau ambil darah, kalau darahnya di ambil puasanya nggak sah.”

Gue menghela nafas panjang lega karena tidak ketahuan.

“Loh, memangnya iya, yah?” tanya gue.

“Iya.”

Sedih dan senang bergejolak di dalam darah. Sedih rasanya karena gue nggak bisa puasa penuh tahun ini gara-gara persoalan sepele: mau ambil darah. Gue kelihatan cemen dengan alasan tersebut. Kalau seandainya orang-orang tahu kalau gue sedang tidak berpuasa maka begini lah jadinya:

“Za, lu nggak puasa?”

“Enggak,”

“Kenapa?”

“Mau ambil darah.”

“Yailah, cuma ambil darah doang trus lu nggak menjalankan ibadah? Cemen, lu. Baru diambil dikit aja darahnya langsung nggak puasa.”

“Tapi kan-“

“Udah, habis ambil darah nanti jangan lupa minum susu sama makan sayur bayam ya, anak mami. Biar darahnya nggak habis.”

FAAAAAK!

Baca Juga: Seperti Orang Bodoh

Disisi lain gue senang karena itu artinya gue harus membayarnya di lain hari. Yah, gapapa lah. Lumayan untuk menghemat pengeluaran bulanan saat ngekost nanti, pikir gue sambil menimbang-nimbang untung-ruginya nggak puasa penuh.

Seperti kata bokap, gue diajurkan untuk tidak berpuasa esok harinya. Itu artinya, tidak ada bangun sahur dan jam tidur gue bisa balik normal lagi karena nggak harus bangun sahur. Entah kenapa selama bulan puasa ini jam tidur gue berantakan sekali seperti mukanya Dijah Yolo yang baru bangun tidur. Ya, nggak usaha dibayangkan juga, nanti puasa kalian bisa batal.

***

“Siap lah, ma,” Kata gue yang masih setengah siap.

“Nanti aja lah, rumah sakit buka jam 9.” Sahut nyokap dari dalam kamar.

Tau dari mana rumah sakit buka jam 9? pikir gue, tak percaya dengan kata nyokap barusan. Memang begitu lah nyokap gue. Suka berlebihan dalam menanggapi sesuatu tapi tidak pernah melebihkan uang jajan anaknya. Miris sekali.

Sementara itu bokap sudah terlihat rapih dengan kemeja dan celana bahan yang terlihat licin, persis seperti baru di gosok oleh Dewi Fortuna (entah apa hubungannya celana yang baru di gosok dengan dewi kemenangan). “Siap lah bang,” Kata bokap.

Di rumah sakit gue melihat ada cukup banyak orang-orang bermuka pucat tengah duduk di bangku yang telah disediakan, menunggu giliran untuk di panggil namanya.

“Minggu ini (minggu kedua bulan Juni) saya tidak praktek di poli. Yang praktek dokter Widya. Saran saya sih, minggu depannya lagi aja, biar nanti saya bantu,” balas dokter tersebut melalui Whatsapp. Atas saran dari dokter tersebut, gue mengulur waktu pemeriksaannya ke minggu depannya lagi atau lebih tepatnya minggu ketiga di bulan Juni. Gue khawatir kalau nantinya nggak cocok sama dokter Widya karena bukan dia yang merujuk ke Jakarta apalagi dia belum tau soal penyakit gue. “Siap, dok.” Balas gue tanpa pikir panjang.

“Bapak Reza Andrian, Bapak Reza Andrian, silahkan masuk ke ruang B.” Kata perawat melalui alat pengeras suara. Gue bangun dari posisi duduk menjadi berdiri lalu berjalan ke arah poli. Di dalam ruang B, satu persatu nama kami di panggil untuk di cek tensinya. Sejak dulu gue kepengin banget di periksa tensi darahnya. Lucu aja ngeliatnya sewaktu memompa, dan biasanya hanya orang-orang dewasa yang menjalani pemeriksaan ini. Setelah terbiasa bolak-balik rumah sakit gue mulai menyadari kalau gue ini udah masuk golongan orang dewasa. Setiap berobat, tensi darah gue tuh selalu di periksa sebelum gue menghadap dokter.

Biarpun sudah dikategorikan dewasa, tapi kalau ke mana-mana gue masuk dalam kategori anak-anak sampai remaja.

“110 yah. Gimana kata dokter di Jakarta?” tanya para perawat yang udah hafal dengan muka gue yang hina ini karena sering bolak-balik rumah sakit.

“Katanya cek dari sini aja dulu. Bulan depan baru ke Jakarta.”

“Ohh boleh ya periksa di sini? Sama dokter Sun aja kalau gitu,” seru ibu perawat yang meriksa tensi darah gue. Perawat itu berkata, “Reza masuk ke ruangan sebelah, ya.”

Ada 2 ruangan di sini. Ruang A dan B. Ruang A adalah tempat kerja dokter spesialis, dan ruang B tempat kerja dokter umumnya. Kebetulan dokter umumnya itu adalah dokter keluarga gue.

Sama seperti tadi, gue duduk menunggu panggilan dokter.

45 menit telah berlalu dan tibalah waktunya nama gue di panggil. “Jadi apa kata dokter di sana?” tanya dokter Sun, langsung pada intinya.

Gue diam. Padahal pertanyaan tersebut sudah pernah gue jawab di whatsapp. Pertanyaan tentang, apa kata dokter di  sana? sudah gue jelasin panjang x lebar x tinggi dan dia masih mempertanyakannya? Ini bukan ujian perbaikan nilai, kan? Boleh nyontek jawaban sebelumnya nggak? BOLEH MINTA BANTUAN SAMA DOKTER JAKARTA BUAT JAWAB PERTANYAAN INI, NGGAK?

Mungkin di ujian sebelumnya nilai gue belum tuntas sehingga di pertemuan kali ini gue di beri pertanyaan yang sama dengan pertanyaan minggu lalu.

“Sebetulnya tanggal 14 kemaren aku sudah harus di Jakarta, dok. Menurut hasil keputusan bersama dari dokter di sana, maka jadwal kontrolnya di undur dulu sampai bulan depan. Konon katanya, ada kemungkinan hal ini dipengaruhi oleh obat yang saya minum. Mungkin. Makanya dokter di sana minta supaya aku periksa darah di sini, lalu setelah darahnya di periksa, obatnya langsung di stoo-“

“Langsung stop total?” sambar dokter Sun yang sudah tak sabar.

“Iya.”

“Coba kamu hubungin lagi, apa betul boleh di stop langsung.”

“Iya, boleh katanya dok. Dokter di sana sendiri yang bilang,” kata gue.

“Oh, yaudah kalau gitu.”

Dokter muda (baca: mahasiswi kedokteran yang lagi praktek) menuliskan surat pengajuan untuk ambil darah di lab. Surat tersebut di tanda tanganin oleh dokter Sun selaku dokter yang sedang bertugas di poli saat itu.

“Nanti tolong bilangin sama dokter di sana, dokter di Bengkulu mau minta hasil diskusi mereka.”

“Siap, dok.” Kata gue tanpa ragu. Duh, boro-boro minta hasil diskusi. SMS aku aja nggak di bales, dok.

Doc. Pribadi.
Doc. Pribadi.

Baca Juga: Liburan Singkat

***

“Ma, tolong minta hasilnya sama Mak Rahmat,” kata gue dengan sedikit memelas. Jadi, hasil pemeriksaan laboratorium yang seharusnya sudah keluar dan bisa di ambil sejak siang tadi belum juga sampai di rumah. Nyokap mempercayakan hasil tersebut kepada Mak Rahmat, tetangga gue yang bekerja di laboratorium rumah sakit. Ini sudah malam dan pastinya gue penasaran dengan hasil tersebut.

“Bentar lagi,” balas nyokap enteng.

Karena sedang merasa tidak enak badan gue masuk ke dalam kamar.

“Bang, bang,” kata adik gue.

“Hm?”

“ini hasilnya.”

Mata gue terbuka dengan sendirinya begitu menangkap kata, “hasil”. “Tolong hidupin lampu kamar dek,” pinta gue. Cahaya dari bola lampu mengisi ruangan bercat biru tersebut, mengusir makhluk jahat yang hidup di kegelapan. Pandangan gue sedikit kabur. Apa ini? Kenapa jadi kabur? Pikir gue. Dengan sedikit kucekan pandangan yang tadinya kabur menjadi normal kembali.

Entah berapa lama gue berbaring di kasur, yang pasti, penglihatan gue sedikit kabur karena gue ketiduran.

“Normal, kosong, …” untuk yang terakhir gue tidak bisa berkata-kata lagi. Lidah yang tak bertulang itu kelu. Dari ketiga objek yang di periksa hanya ada satu yang normal. Satunya kosong karena reatgen yang digunakan sedang habis dan untuk objek terakhir, gue benci mengatakannya tapi nilai untuk objek terakhir melebihi batas normal.

“Matikan, dek.” Pinta gue. Melihat hasil laboratorium tersebut membuat gue lemes. Rasa penasaran yang sedaritadi memburu kini terjawab.

Ferry: Za, lu kenapa?

Gue: Gue depresi, Fer.

Ferry: Depresi kenapa?

Gue: Gapapa, tolong jangan tanyakan lagi.

Ferry: Oke, gws ya, Za!

Ya, makasih, Fer, batin gue. Gue mendiamkan pesan tersebut dan sama sekali tak berniat membalas pesan tersebut. Tak lama, gue mendapat pesan yang berisi ucapan dan kata-kata penyemangat.

***

Hasil labor tersebut mempengaruhi kehidupan sosial gue. Akibatnya dua hari gue jadi seperti orang aneh karena depresi yang melanda. Gue membenci keramaian, gue benci berinteraksi dengan orang lain, gue nggak bisa tertawa, ling-lung seperti orang kebingungan dan banyak lagi. Seketika semuanya berubah. Lucunya gara-gara selembar kertas sikap gue jadi berubah. Ya, mungkin terdengar aneh, tapi memang begitu kejadiannya.

 “nggak usah di pikirin lagi lah Za. Kadang hasilnya bisa begitu karena pengaruh obat. Apalagi kamu kan minum obatnya udah 7 bulan. Jadi ya maklum aja.” Kata tetangga gue, Mak Rahmat.

Gue terlempar kembali pada percakapan singkat melalui telepon dengan seorang dokter, “ada kemungkinan itu terpengaruh karena hasil obat, makanya kita sepakat untuk menghentikan obat yang kamu minum itu selama sebulan dan melihat reaksinya lagi.”

Baca Juga: Kamu Membuat Saya Kecewa

Habis itu, pikiran gue terisi oleh hal-hal yang positif.

Lalu hubungannya dengan sudut pandang?

Seperti yang sudah gue singgung di atas, apa yang mata kita tangkap dan perspektif yang kita gunakan sama dengan hasil. Yang mata gue tangkap adalah hasil lab dan gue menggunakan perspektif orang yang sedang sakit maka hasilnya adalah: stress dan depresi.

Lain halnya jika menggunakan sudut pandang orang yang sedang sehat jasmani dan rohaninya. Bahkan orang yang sedang sakit kronis sekalipun tidak akan merasa bahkan lupa kalau ia sedang sakit jika orang tersebut menggunakan sudut pandang orang yang sedang sehat.

Bagaimana masa depan kita, bagaimana cara kita bertindak, itu semua tergantung sudut pandang yang kita pilih.

Kalau kamu merasa bego setelah membaca tulisan ini, sudahlah, tenang saja, kamu tidak sendirian, kok.

Ps: Postingan ini di buat saat gue lagi mabok mama lem*n.

10 COMMENTS

  1. Turut prihatin za, btw itu sakitnya kaya gimana za? apa ada luka terbuka, pusing, atau gejala lain? Gaenak emang kalo sakit. Apalagi lu mau ngerantau sendirian di jkt.

  2. yoi, beda sudut pandang beda stereotipe. apa yang kita anggap benar, belum tentu dianggap orang lain benar. Gws, bro! sudut pandang orang yang nggak sakit versi gue mengatakan kalau lo haru istirahat plus olahraga teratur.

  3. Haduh haduh gue juga ikutan prihatin. Untung dengerin kata ortu walaupun di bully temen sih tapi bener kan jatohnya jadi kejadian sakit kayak gitu.

    Salam kenal ya gue mba nana hehe oia masih niat untuk gabung ke Blogger Jakarta gak? Sorry baru bisa bales sekarang kemaren-kemaren sibuk karena kondisi buruk akan coming kok post an nya blog tunggu aja ya hahaha

    kalo masih mau join di BlogJak kontak nomer ini aja ya! Whatsupp (Jarot) 085236284313 😀

    willynana.blogpost.com

Tinggalkan Komentar

Setelah berkunjung, yuk jangan lupa untuk ninggalin jejak dengan cara meninggalkan komentar kalian di kolom yang sudah gue sediakan! Oya, kalian juga boleh ajak sanak, gebetan atau bahkan keluarga buat main-main ke blog gue. Pssst kalau kalian ada seorang kenalan cewek, bisa kali kenalin dia sama gue. Kali aja jodoh :p Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.