Bersahabat dengan Langit

Belakangan langit sering bersedih. Begitu juga denganku. Mungkin aku bersahabat dengan langit saja? Bagiku langit sudah seperti sahabat sejati. Dia mengerti keadaanku. Dia ikut merasakan kesedihanku.

Beratnya pikiran membuatku ingin menangis saja. Seperti seorang anak kecil yang menjerit ketika diberi beban yang berat. Rasa ini amat berat bagiku. Barangkali lebih berat dari apapun yang ada di muka bumi.

Kian hari, rasa yang selama ini kupendam kian bertambah besar. Rasanya aku tak sanggup lagi memendamnya seorang diri. Lalu ku tumpahkan segala curahan hatiku ke pada orang-orang yang kupercayai.

Di malam yang sunyi di bulan Februari. Aku trus terjaga sepanjang malam. Ku coba untuk memejamkan mata sambil diiringi irama musik yang lembut sebagai terapi. Seberapa keras ku mencoba, mataku tetap saja tak mau terpejam.

Di tengah kesunyian malam. Kuteringat lagi pada hari di mana aku baru mengenalnya. Hari di mana semuanya saling terhubung dengan hari ini. Aku menyukai cara dia berkomunikasi, cara dia menyuarakan pendapatnya. Aku menyukai semua hal tentang dirinya.

Dia tak secantik Raline Shah. Tak semanis Chelsea Islan. Tak semewah Syahrini atau perempuan yang sering kujumpai di pusat perbelanjaan. Bodynya pun tak seseksi model di dalam majalah. Lalu, apa yang membuatku tertarik padanya? Dia punya daya tarik tersendiri.

Aku pun memastikan bahwa ini hanya sebatas kagum. Ku cek detak jantungku. Kuingat-ingat lagi apakah sebelumnya aku pernah punya riwayat penyakit yang dapat mempengaruhi detak jantung. Ternyata tidak. Dokter memastikan bahwa aku baik-baik saja.

Ketakutanku berubah menjadi kenyataan. Ketika di dekatnya jantungku akan berdetak lebih cepat dari biasanya. Oh, Tuhan… kenapa? Kenapa jantungku selalu berdetak lebih cepat setiap berada di sampingnya? Kenapa?

Dia memang belum ada yang memiliki. Pun bukan berarti itu adalah kesempatan buatku. Pun baru saja aku sudah berdamai dengan urusan hati. Aku ingin istirahat sejenak dari urusan-urusan yang menyangkut hati. Namun, apa ini?! Ada yang aneh dari diriku! Hatiku terasa perih ketika ada yang berusaha mendekatinya. Orang-orang biasa menyebutnya cemburu. Mungkinkah aku telah cemburu? Kembali ku peringatkan diriku sendiri, Kamu boleh saja kagum. Kamu boleh saja suka bagian dari dirinya. Kamu boleh saja cinta kepadanya. Memiliki? Jangan! Tolong lah!

Baca Juga: Maaf

Aku pun berusaha bersikap dewasa. Aku mulai melihat ke luar jendela. Melihat dunia luar. Namun, sejauh apapun aku berkelana, secantik apapun perempuan yang ada di luar sana. Yang kudapati hanyalah: wow, dia cantik. Hanya itu. Lalu pikiranku akan dipenuhi lagi oleh dia.

Kenapa harus dia? Kenapa aku harus jatuh hati padanya?, pikirku. Kuteringat kembali pada alasan kenapa aku menyukainya. Dia mempunyai sesuatu yang tak kutemukan pada perempuan lain di luar sana. Kekaguman itu kini menjelma menjadi cinta. Dan yang paling kutakuti sekarang ini, cinta bisa membuatku jadi seseorang yang egois. Seseorang yang ingin memiliki dia sepenuhnya.

Aku tak sanggup dan aku ingin berdamai saja. Paling tidak sekarang aku sudah cukup lega karena sudah mencurahkan sebagiannya. Sebagiannya lagi sengaja kusisihkan untuk sahabatku, langit dan hujan.

Sahabatku.. pictures taken by: me.

Langit selalu akrab dengan orang-orang yang sedang dilanda kesedihan. Orang-orang sepertiku. Saat sedang dalam keadaan kurang beruntung seperti sekarang ini, dia selalu datang sebagai hujan. Dan di sanalah aku mulai mencurahkan segala kesedihan yang kurasa, dari jendela kamarku.

Follow my blog with Bloglovin



5 COMMENTS

  1. cinta sebelah tangan emang selalu nyes hahaha

    Btw aku kurang setuju kalo ujan itu sahabat bagi yang galau. ujan itu sahabat bagi orang yang bahagiaaaaa… bahagiaaa karena bisa enak-enak nikmatin sambil makan abis gitu tidur hehehe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.