Bertualang

 

Hamish dan Raisa baru aja menikah dua minggu yang lalu. Sebagian besar media terjun meliput prosesi akad nikah pelantun tembang “kali kedua” itu. Berlomba-lomba jadi yang terdepan dalam menayangkan dan melaporkan. Bukan cuma media, warganet pun berlomba-lomba dengan membuat kicauan-kicauan yang menyayat hati sekaligus menghibur.

Tagar #patahhatinasional yang bertengger di media sosial jadi bukti bahwa prosesi tersebut memiliki pengaruh cukup besar. Menurut gue, ini nggak logis dan gue nggak setuju dengan tagar tersebut. Harusnya yang patah hati adalah para pria yang pernah jadi pacarnya Raisa. Juga hari patah hati pria yang pernah menolak karena Raisa yang dulu belum secantik sekarang.

Lalu kenapa mesti nasional? Memangnya Hamish siapa? Raisa siapa? Mengapa jagad dunia maya menjadikan pernikahan mereka sebagai hari patah hati nasional? Sebanyak itukah pria dan wanita di luar sana yang patah hati? Secara pribadi gue nggak terusik apalagi patah hati. Sebaliknya, gue terhibur berkat kicauan warganet.

Lagipula, menurut gue Raisa biasa aja. Nggak ada yang istimewa dari dia selain suara dan parasnya yang cantik. Gue pribadi lebih suka Isyana. Mungkin Raisa dan Isyana hampir sama. Sama-sama cantik dan punya suara yang indah. Tapi satu hal yang nggak dimiliki Raisa, dan Isyana punya itu. Isyana tuh kayak ubin masjid. Hati gue adem tiap kali melihatnya. *lalu ditimpukin pake bata sama fansnya Raisa*

Katanya, waktu dapat menyembuhkan luka. Gue percaya, karena gue pernah mengalaminya. Semacam luka kecil yang seiring waktu akan sembuh dan mengering dengan sendirinya. Terkelupas dan tak meninggalkan bekas.

Namun satu sisi waktu juga bisa lebih menyakitkan dari benda tajam jenis apapun. Tentu, gue juga pernah mengalaminya dan ini buka kali pertama buat gue. Sedikitnya ada lima kali. Mungkin saja lebih karena bisa aja gue lupa. Meski begitu gue ingin bertepuk tangan karena berhasil sembuh sekaligus membuat rekor baru.

Malam itu gue cuma baring di kost. Mengamati percakapan demi percakapan yang masuk. Sesekali ikut bergabung dalam obrolan. Gue mulai bosan. Liburnya terlalu lama. Beruntung besoknya gue ada kesibukan: jadi panitia untuk event tahunan kampus. Semakin jauh gue terlibat, semakin dalam keingininan gue untuk aktif menjalani dan merasakan kesibukan layaknya mahasiswa.

Sebuah berita duka sampai ke telinga. Kaget bercampur tidak percaya. Seribu tanya muncul di kepala. Suara gemeretak gigi yang saling beradu terdengar samar ditengah makan siang. Mengapa hal semacam ini terjadi?

Toh akhirnya gue terima. Yaudah lah, kata gue mengudara di antara suara exhaust fan yang menyala. Kalau ditambah sedikit asap tembakau mungkin akan sedikit lebih keren. Berhubung gue bukan perokok, jadi gue nggak perlu repot-repot memasukannya ke dalam tulisan ini.

Gue menghitung hari di kalender. Kuliah udah berjalan selama 4 hari. Artinya tersisa beberapa hari lagi untuk menyelesaikan tugas kreativitas mahasiswa yang diberikan dosen. Gue sedikit stress memikirkannya. Gue butuh sedikit hiburan. Jalan-jalan sambil rekreasi sepertinya ide bagus. Ajakan jalan pun datang. Gue ikut. Kebetulan ada yang mau gue beli.

Kemudian hari terakhir tiba. Beban pikiran gue satu-persatu mulai lepas. Tes wawancara kerja udah, ujian dan presentasi tugas juga sudah. Satu-satunya masalah yang belum tuntas ialah… gue belum menuntaskan perasaan gue. Meski sebetulnya gue udah siap untuk itu. Hal terberat adalah ketika kita dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama penting, tapi kita cuma boleh pilih satu.

Situasi ini nggak asing. Ini pernah terjadi sebelumnya. Agar tak jatuh pada lubang yang sama, gue mengambil jalan tengah yang lebih aman namun berisiko. Meski itu artinya harus mengorbankan diri dan menanggung risikonya. Cuma patah hati aja, kan? Toh lebih baik daripada kehilangan sahabat, pikir gue sedikit meremehkan.

Sialnya rasa penasaran serta godaan untuk menyampaikan langsung terus menghantui. Sebulan, dua bulan hingga akhirnya enam bulan, gue baru bisa menuntaskan apa yang selama ini tak mampu gue bereskan. Penyesalan seolah menghantui sebab pernah menaruh rasa yang berujung dengan patah hati karena tumbuh cinta. Gue merasa berdosa karena sudah mengingkari janji.

Sejak saat itu gue mulai bertualang. Menghabiskan waktu sendiri untuk menikmati keindahan tersembunyi pada setiap tempat yang gue kunjungi. Mengabadikannya lewat karya dan lensa kamera. Barangkali saat tua nanti bisa jadi bahan obrolan dengan anak dan cucu.

Namun sekembalinya dari petualangan itu, gue mulai menemukan jawaban dari segala resah yang mampir, hingga menetap. Cara mudah mengobati patah hati: kembali jatuh cinta lagi. Saat cinta mulai tumbuh di hati, dia akan mekar dengan indahnya. Menghipnotis, menyembuhkan siapapun yang memujanya. Hingga perlahan lupa bahwa dulu kita pernah terjerembap dan terluka karena cinta.

Baca Juga: Surat cinta untuk dia

Berkaca dari masa lalu, gue rasa, patah hati nggak seburuk itu. Hal yang gue pelajari dari patah hati adalah berani mengatakan tidak suka terhadap hal yang betul-betul gue nggak suka. Yang selama ini gue pendam karena enggan berdebat dan sejenisnya. Terkadang berbuntut sakit hati karena tak mampu menepis meski sebetulnya bisa.

Tidak ada patah hati yang betul-betul percuma. Setiap kejadian merubah cara padang dan pola pikir seseorang. Tinggal bagaimana kau menemukan, mengubah dan melihat dari sudut pandang yang berbeda untuk merubah keadaan atau; tetap di situ saja tanpa merubah apa-apa. Jadi seorang pesakitan yang akan terus merasa tersindir tiap kali membahas suatu topik yang mengarah pada masa lalu. Khususnya cinta.

Sekedar mengingatkan. Jika mulai patah hati, mulai lah bertualanglah. Kau butuh waktu untuk menyendiri. Menginstropeksi, melihat jauh ke dalam diri. Perbaiki kekurangan yang ada. Pergilah ke tempat-tempat nan indah. Pergilah ke tempat-tempat bersejarah. Maka kau akan menemukan makna dari sebuah kehidupan: bahagia dan hadirmu sungguh sangat berarti bagi orang-orang di sekitar.

source: www.pexels.com

 

 

Contact

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail: [email protected]



18 COMMENTS

  1. Jika mulai patah hati, mulai lah bertualanglah. Kau butuh waktu untuk menyendiri. Menginstropeksi, melihat jauh ke dalam diri. Perbaiki kekurangan yang ada. Pergilah ke tempat-tempat nan indah. Ini waktunya bertualang

  2. Hmm, gue lebih suka Rara Sekar. Soalnya lebih kenal dia duluan daripada adiknya, Isyana. Selain itu, dia juga pakai kacamata. Uwuwuw~

    Waduh, jadi setelah ngomong langsung berakhir kecewa, Za? Sepakatlah kalau bertualang itu bisa melepas stres dan mengurangi beban masalah. Kayak Dian Hendrianto gitu. Patah hati bertualang ke Jogja, habis itu ke Sudimara juga buat makan tomyam. Wqwq.

  3. Dibanding raisa atau isyana, gue lebih suka Hamish. Soalnya hamish gateng. Kegantengan yg dimiliki hamish itu tidak dimiliki oleh Raisa sm Isyana kan? Wkwkw.

    Wuaaah, jd ssungguhnya ini adalah cerita soal cinta.
    Bertualang slain bsa mnyembuhkan patah hati, bisa jg menumbuhkan cinta yg lain loh.. Kali aja nemu org asing dn ternyata org itu adalah tmen msa kecil kita dan… Tuhkan, lama2 jd ftv mulu kan :(

  4. Dibandingin raisa dan isyana, saya milih via vallen aja deh. Ada hal yang tidak dimiliki keduanya dari Via. Apalagi kalau gak lagu panturanya. hehe…

    Ngomong-ngomong soal patah hati sih, yah bener, cara paling ampuh menyembuhkannya adalah dengan jatuh hati lagi. Tai untuk menemukannya juga tidak secepat itu. Ada hal yang harus kamu temui sendiri dalam perjalanan ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.