Menunggu Pagi

Belakangan ini penyakit susah tidur sering menyerang. Mengacaukan kebiasaan dan jam tidurku. Mata sulit terpejam; pikiran kemana-mana. Aku melirik jam. Sudah pukul 4 pagi. Aku seperti menunggu pagi. Tubuhku mulai lelah. Aktivitas hari ini menyerap banyak energi. Tolong, tidurlah. Agar aku bisa bangun dalam keadaan segar kembali. Lalu mengerjakan aktivitas sehari-hari.

Aku masih muda. Namun pikiranku kompleks seperti orang dewasa: tak berujung. Aku tidak ingin seperti itu. Aku ingin seperti anak muda: tidak banyak pikiran. Pun jika banyak, aku ingin seperti mereka: masih bisa tertawa untuk hari esok.

Akhirnya kita bertemu. Di sebuah ruangan yang sama; setelah empat bulan lamanya. Aku menatapmu. Kau masih sama seperti dulu. Hanya rambutmu yang berbeda. Terlihat lebih indah dari sebelumnya. Mungkin karena kau rajin merawat diri; mungkin juga karena aku memandangmu dari jarak yang cukup dekat.

Hari itu kau mengenakan pakaian kebesaranmu; yang dulu sering kau kenakan tiap kali kita berjumpa. Mata kita bertemu. Lagu Kangen dari Dewa 19 mengudara. Sial, aku seperti sedang bernostalgia saja!

Aku menepikan rasa yang dulu pernah hinggap: menyimpannya di antara rak yang tertata rapih. Barangkali saat nanti bertemu lagi, kita bisa ngobrol lebih lanjut. Ngopi lucu di bawah payung; bermandikan matahari sore yang manja dengan background bebas. Tapi aku lebih suka laut. Pegunungan juga menarik. Tapi aku tidak akan menuntut keduanya. Aku hanya ingin kau ada pada saat itu. Menemaniku hingga kehabisan cerita; sore berganti malam; hingga di usir oleh si pemilik kedai karena sudah waktunya tutup.

Tadinya aku tidak mau ambil pusing. Namun semakin aku berusaha untuk tidak peduli, semakin jelas bayang-bayang wajahmu. Pada saat itu, jam tidurku mulai berantakan. Aku mulai sering memikirkanmu. Pada waktu tengah malam. Kau sedang apa pada jam segini? Apakah kau sudah tidur? Kalau begitu, selamat tidur. Semoga para malaikat menjagamu.

Aku tertawa sendiri melihat jarum pendek menunjuk angka 4.

Semoga malaikat menjagamu
sumber: pexels.com

Temanku pernah berpesan bahwa sebaiknya aku menuruti kata-katanya saja. Aku menolak. Bagaimana mungkin aku menyerah di tengah jalan begini? Ya, aku percaya dia. Dia pasti punya maksud baik. Hanya akunya saja yang bodoh karena tidak mau mendengar.

Saat temanku itu lelah memberi saran; dan sifat keras kepalaku yang tidak ingin mendengar kata-katanya, kau datang. Kau menyadarkan, kau menyembuhkan. Kau tidak bekerja lewat kata-kata; kau bekerja lewat mata. Sungguh aku ingin bilang terima kasih padamu karena telah menyadarkanku dari lamunan di siang bolong. Menyingkap realitas yang selaluku tepis dengan kalimat pamungkas.

Hingga sekarang aku masih bertanya-tanya. Mengapa kita selalu bertemu pada waktu yang tidak tepat? Kita pernah bertemu saat ada seseorang di hatiku; kini kita bertemu lagi saat aku sudah terlanjur berkomitmen untuk tidak membiarkan seseorang masuk, mengisi hati ini. Aku curiga. Jangan-jangan Tuhan sengaja agar kita tidak menjalani hubungan yang sia-sia. Kuharap begitu. Karena jika memang begitu, aku akan menutup diri dulu sampai saat itu tiba. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Berat. Aku sudah tak tahan lagi. Aku ingin bicara denganmu. Empat mata. Hanya ada kita. Tidak yang ada lain; kecuali pelayan dan orang-orang yang tidak kita kenal.

Waktu terus berjalan. Bulan akan berganti. Sebentar lagi giliran tahun. Sampai saat itu tiba, entah aku masih kuat dengan prinsip yang kutanam. Aku tidak tahu. Namun jika aku memang tidak kuat lagi, aku harap aku menyerah karena kamu. Bukan karena perempuan lain.

Setiap langkah selalu punya resiko. Inilah resiko yang harus aku terima karena telah mengudarakan janji. Akan lebih banyak waktu dalam 24 jam. Menunggu pagi… tak pernah seindah ini.

 

STAY CONNECTED

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail: [email protected]



5 COMMENTS

  1. Cinta itu memang selalu membingungkan
    tapi semua sudah di atur oleh tuhan
    seberapaun usaha kita jika Tuhan tidak mengizinkan untuk bersama apa mau di kata
    tapi jika tuhan sudah mengizinkan seberapa jauh berpisahpun akan dipertemukan dengan jalannya sendiri
    perdana mampir di sini, salam kenal aja

  2. jatuh cinta muda-mudi, meminjam istilah Gibran (KW 2), adalah dua kelami* yang bergetar. Hahahaha piss
    Saranku sih, soal tanda baca, pilihan kata harus lebih oke, biar memberikan vibrator, eh vibrasi :)

    Semangat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.