Selasa, 29 September 2020
Home Curhat Boros

Boros

on

Belakangan ini gue merasa boros banget. Padahal, enggak ada yang berubah dari keseharian gue. Makan tetap 2-3 kali sehari. Jajan, rutin seperti biasa. Nabung dan investasi tetap jalan seperti sebelumnya.

Melihat tidak ada yang berubah, gue makin bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa gue bisa seboros ini? Padahal, semua berjalan persis seperti yang gue rencanakan: belanja enggak pernah lebih dari batas wajar. Bergaya pun sesuai dengan kemampuan.

 Apa karena belanja online? pikir gue.

Gue berusaha menemukan benang merah antara belanja online dengan carut marutnya kondisi keuangan gue belakangan ini. Gue hitung lagi biaya yang sudah gue keluarkan untuk belanja.  Namun, gue tetap tidak menemukan kaitannya.

Gue rasa borosnya bukan karena itu, pikir gue. Kalau borosnya karena belanja online, gue pasti sudah menyadarinya sejak jauh hari. Apalagi gue punya kriteria dan batasan tersendiri untuk urusan belanja: hanya membeli barang sesuai kebutuhan dan harganya tidak boleh mahal.

Ketika batas tersebut terpenuhi, otomatis gue akan mengerem dan mengurangi porsi belanja untuk bulan itu. Seperti beberapa bulan yang lalu, di mana gue membeli lisensi sebuah antivirus laptop. Sehabis membeli lisensi tersebut, gue enggak belanja yang lain sampai ganti bulan. Termasuk belanja bulanan (ya, gue bahkan puasa belanja setelah itu).

Di saat yang bersamaan, gue juga mengurangi porsi jajan sehari-hari.

Makin dipikir, rasanya makin lucu. Padahal, harga makanan di kantor baru jauh lebih murah dibanding kantor lama. Dengan kondisi tersebut, yang harusnya terjadi adalah semakin besar yang bisa gue simpan karena biaya hidupnya lebih murah. Tapi tidak, pengeluaran gue justru bertambah besar dan semakin sedikit yang bisa gue simpan. Padahal lingkungan kantor lama jauh lebih mungkin membuat gue boros.

Gue mencoba berpikir dan mengingat-ingat kenapa bisa seboros ini.

***

“Di sini gue harus hemat!” Itulah yang terlintas di pikiran gue di hari pertama masuk sebagai anak magang. Dulu, ketika baru pindah ke Jakarta pun gue juga mengatakan hal yang sama. Tidak ada yang salah dari hal tersebut. Karena semua orang tentu ingin menghindari hal yang paling tidak diinginkan.

Bicara tentang hal yang tidak diinginkan, hal yang paling tidak gue inginkan tentu saja kehabisan uang. Biasanya, penyebab seseorang kehabisan uang yaitu karena pengeluarannya lebih besar dibanding pemasukan. Bekerja di pusat bisnis seperti SCBD menuntut gue agar memutar otak supaya terhindar dari skenario buruk tersebut.

Baca Juga: Pengalaman Magang Bulan Pertama

Salah satu cara yang gue pake untuk mencegahnya yaitu dengan membawa bekal ke kantor. Bekal tersebut tentu tidak gue siapkan sendiri, melainkan dibantu oleh mas-mas pemilik warteg.

Sebagaimana halnya warteg pada pagi hari, mereka hanya menyediakan hidangan cepat saji seperti telur dadar, nugget, ikan goreng, dan sayur tumis. Karena gue anaknya enggak suka repot, gue selalu memilih lauk yang praktis seperti telur dan nugget. Alasan lainnya adalah karena gue enggak mau ngotorin baju hingga tangan. Apalagi wastafelnya lumayan jauh untuk dijangkau.

Membeli bekal saat pagi hari menjadi tantangan tersendiri buat gue. Permasalahan yang gue temukan selalu tentang pilihan tempat makan yang lumayan terbatas. Mungkin karena gue belinya sebelum jam tujuh, pikir gue. Alasan kenapa gue beli sebelum jam tujuh ialah karena gue harus buru-buru mengejar angkot supaya enggak rebutan waktu mau naik Transjakarta.

Kalau mau lebih banyak pilihan lagi, gue harus menunggu hingga jam 9 pagi dan gue pasti sudah terlambat masuk kerja.

Urusan sarapan pagi, gue punya cara lain. Yaitu dengan dengan membeli kue yang ada di dekat kos atau sarapan di pasar. Beruntungnya gue, karena pasarnya berdekatan dengan Halte Transjakarta. Jadi setelah turun dari angkot, gue bisa mampir dulu untuk sarapan.

Kuliner Pasar
Sarapan pagi di pasar
Sumber gambar: pexels.com

Di pasar, gue bisa menemukan beberapa jenis makanan berat. Mulai dari mie ayam, bubur ayam, soto, ketoprak, hingga ketupat sayur. Banyaknya pilihan makanan di pasar setidaknya memberi warna pada masa-masa magang yang gue jalani.

Setelah dua bulan berjalan, gue menyerah dan memutuskan untuk tidak lagi membawa bekal ke kantor. Karena gue berhenti bawa bekal, sebagai gantinya, gue membeli makanan yang ada di food court. Food courtnya besar, sehingga bisa menampung banyak orang. Yang makan di sini tidak hanya karyawan dan nasabah dari Bank Mandiri, tapi juga karyawan dari kantor sebelah. Maka enggak heran kalau tempatnya selalu ramai.

Urusan sarapan tetap sama, yaitu makan di pasar atau beli kue di dekat kos. Selain harganya murah, kulineran di pasar selalu mengingatkan gue dengan masa kecil. Ah, waktu memang cepat berlalu!

Di food court, gue bisa memilih berbagai jenis makanan. Dari hidangan khas sumatara sampai sulawesi. Harganya pun beragam. Di mulai dari lima belas ribu sampai tiga puluh ribuan. Jajanannya juga banyak. Mulai dari jus, hingga es krim.

Sehabis makan siang, gue punya satu ritual wajib, yaitu jajan. Jajanan yang pasti gue beli setelah makan siang biasanya antara es tebu atau kopi. Singkatnya, habis makan siang, gue perlu jajanan yang bisa dinikmati sambil kerja. Dan kedua minuman tersebut memenuhinya: bisa dinikmati sambil bekerja dan enggak rempong.

Kalau baru gajian, jajanannya beda lagi. Salah satu jajanan yang pasti gue beli sewaktu gajian yaitu Dumdum Thai Tea. Yang paling gue seneng di sini yaitu jajanannya yang lumayan terjangkau. Untuk kopi aceh misalnya, dihargai dengan sepuluh ribu untuk satu kapnya. Untuk satu kap es tebu ukuran kecil harganya enam ribu dan sepuluh ribu untuk ukuran besar. Lalu untuk es krim, harganya sekitar tujuh ribu rupiah.

Yang paling mahal tentu saja dumdum. Karenanya gue beli hanya pada saat baru gajian.

Meskipun doyan jajan dan makan di food court kantor, gue masih punya sisa gaji yang terbilang cukup banyak. Yang tentu saja bisa gue habiskan kalau gue mau, tapi gue memilih untuk menyimpan sisanya untuk jaga-jaga.

Kondisi keuangan gue saat itu terbilang cukup baik karena gue mengikuti prinsip “pengeluaran tidak boleh lebih besar dibanding pemasukan.”

***

“Eh gaji udah masuk, nih. Mau ngopi nggak?” tanya gue, selepas makan siang.

“Boleh, kopi apa?” tanya Farhan.

“Gimana kalau Kopi Janji?” usul gue.

Semua mengangguk setuju. Sebagai eksekutor jajan, tugas Farhan yaitu mengeksekusi usulan yang telah disepakati. Semenjak pindah ke kantor baru, semua jadi bergantung pada layanan ojek online. Mulai dari berangkat ke kantor sampai dengan urusan jajan.

Jajan Kopi
Jajan es kopi susu kekinian
sumber gambar: pexels.com

Sebenarnya bisa beli sendiri. Tapi mengingat gue dan yang lainnya enggak punya kendaraan pribadi, kami pun sepakat menyerahkan urusan ini pada layanan ojek online. Dan untungnya kami berlima punya selera yang sama.

Kejanggalan ini baru saja gue sadari akhir-akhir ini. Gue yakin bahwa gue sama sekali enggak salah hitung, karena antara rekening satu dengan yang lainnya gue tempatkan secara terpisah biar enggak bingung.

Mungkin perasaan lu doang, pikir gue, setelah berkali-kali tidak menemukan benang merahnya. Ucapan ‘mungkin perasaan lu doang‘ rupanya tidak berhasil membuat gue tenang. Daripada mengandalkan angka dan perasaan, gue mulai bergerak lewat cara screening. Bulan pertama di kantor baru, aman, pikir gue. Bulan kedua kantor baru, aman, pikir gue.

Bulan ketiga di kantor baru, aha, di sini sumbernya! Seru gue ketika menemukan awal dari masalah. Gue mencatat total transaksi di bulan tersebut dan melanjutkan screening.

Bulan keempat kantor baru, ini juga! Gue mengecek kalender di meja, sekarang pertengahan bulan Desember. Belum bisa dihitung, berarti ntar aja.

Dari screening tersebut, tercatat bahwa gue mulai boros di bulan ketiga dan keempat setelah pindah kantor. Gue mulai berpikir yang enggak-enggak. Tapi dari history transaksi, gue tidak menemukan aktivitas yang mencurigakan sama sekali. Malah kebanyakan dipake untuk topup saldo e-wallet.

Dipikir-pikir lagi, rasanya seperti enggak mungkin. Ya, enggak mungkin gue jadi boros karena jajan. Lagipula, makanan dan jajanan di sini serba murah. Mungkin ini hanya perasaan gue doang yang gagal move on dari kantor lama.

Untuk memastikan hal tersebut, keesokan harinya, gue iseng nanya beberapa teman. Ternyata mereka juga merasakan hal yang sama. Yaitu merasa lebih boros di kantor baru dibanding yang lama. “Gue kira, gue doang yang ngerasa boros.” Kata Tanti.

Mencoba mendapatkan sudut pandang lain, gue pun menemui teman gue yang beda divisi. Menurut teman gue yang beda divisi, penyebabnya karena ongkos transportasi yang mahal.

Gue setuju dengan pendapat tersebut. Ongkos transportasi di sini lebih mahal karena kami semua mengandalkan ojek online. Dulu, ketika berangkat kantor, gue selalu mengandalkan transportasi publik seperti angkot dan Transjakarta. Biaya yang gue keluarkan untuk transportasi dalam sehari ketika masih di kantor lama yaitu tiga belas ribu rupiah. Terbantu karena transportasi umum yang murah.

Sementara di kantor baru, ongkos transportasi yang gue keluarkan dalam sehari sekitar dua puluh enam ribu rupiah. Jadi mahal karena harus pake ojek online. Habis, tempatnya enggak terjamah sama transportasi publik.

Setelah instropeksi diri, gue mulai menyadari, bahwa sebenarnya gue boros karena dua hal. Yaitu karena biaya transportasi yang mahal, dan terlalu sering jajan. Awalnya memang jajan minuman seperti kopi dan beberapa minuman lainnya. Lama kelamaan, gue kehilangan kendali dan mengampangkan semuanya.

“Jajan martabak, yuk? 11 ribu doang, nih, kalau kita patungan berlima.” usul gue setelah menghitung harga martabak setelah diskon dan dibagi lima orang.

Jajan makanan
Jajan makanan
Sumber gambar: pexels.com

Hal tersebut tidak hanya terjadi sekali, tapi berkali-kali dalam dua bulan itu.

Selama ini gue sudah jadi orang yang toxic, pikir gue kemudian. Membayangkannya, gue jadi takut pada diri gue sendiri karena sudah membawa pengaruh buruk dalam kehidupan mereka. Padahal di satu sisi, gue juga mengajak mereka untuk setidaknya melek terhadap keuangan. Ah, gue miris terhadap perilaku sendiri.

Baca Juga: September dan Curhatan Semester Ganjil

Berkaca dari pengalaman tersebut, gue jadi belajar satu hal. Jajanan murah ternyata bisa bikin seseorang menyepelekkan uangnya, pikir gue kembali. Yah, untungnya sekarang gue sudah sadar. Sekarang, waktunya untuk memperbaiki apa yang sudah gue lakukan.

Itu lah cerita gue soal pengalaman boros. Kalau kalian bagaimana? Suka jajan juga nggak di kampus atau kantor? Kalau iya, jajan apa? Jadi boros, enggak? Yuk, ceritakan pengalamanmu di kolom komentar!

Berita sebelumyaWaktu dan Uang
Berita berikutnyaSkripsi dan Kerja dan Janji
Reza Andrianhttp://rezaandrian.com
Bloger and Full Time Technical Writer.

Related Articles

9 KOMENTAR

  1. Iya bener, Za. Akhir-akhir ini gue juga merasakan hal yang sama, boros bener soal duit. Udah nyoba irit, tp rasanya gak ada yg berubah. Ngeselin emang… harus bener-bener cari cara biar gak boros banget, yaitu kurangin jajan apalagi menyepelekan “cuma goceng doang” misalnya.. :’)

    • Bener, pikiran kayak “cuma goceng doang” atau “cuma ceban doang” ini yang biasanya bikin cepet boros :’)
      Gimana, ya, cara ampuh biar nggak boros selain kurangin jajan? Mari kita pikirkan bersama…

  2. Gue bersyukur dari zaman 2012-2018, setiap kerja–biarpun di antara itu ada yang statusnya pegawai lepas–sering dapat jatah makan siang dari kantornya. Jadi, enggak perlu boros mikirin mau makan apa. Kayak pilih yang mahal setiap gajian, terus berhemat begitu akhir bulan. Enggak ada hal semacam itu. Paling-paling mah perayaan sehari habis gajian, jajan sekitar 50-100 ribu. Buat buku maupun makanan. Gitu doang.

    Soal transportasi, jujur aja sih, naik motor sendiri pasti lebih irit jika di kantornya layanan parkirnya gratis atau seharian cuma 2.000. Isi bensin 25 ribu bisa buat seminggu selama cuma rumah-kantor-rumah. Kalau lu kan naik ojek online uang segitu buat sehari (entah itu udah pergi-pulang apa belum). Bedanya jauh banget, Za.

    Berdasarkan cerita temen yang hobi pesen-pesen makanan lewat ojek, emang boros sih walaupun udah pakai promo. Karena tergiur promo, tapi jajannya rutin jelas aja boros.

    • Iya, transportasi sebetulnya lebih murah kalau bawa kendaraan pribadi. Tapi gimana, ya, gue sendiri enggak punya motor hahaha. Mau ngajuin kredit atau cicilan, tapi, ya, rasanya belum terlalu butuh. Apalagi transportasi publik udah makin bagus. Untuk sekarang mungkin guenya lagi apes aja dapet lokasi kantor yang kurang strategis (baca: enggak terjangkau sama Transjakarta). Dulu kalau di kantor lama, mah, naik angkot sama TJ mulu dan itu hemat banget. Mungkin nanti, kalau gajinya udah mencukupi, gue akan berpikir ulang untuk ngambil kredit motor. :’)

      Nah, iya. Karena tergiur promo jadinya boros banget. Apalagi, gue jajannya bisa dua kali dalam sehari. Jajan makan sama cemilan kayak martabak hahaha :’)

  3. Istilahnya latte factor, sesuatu yanh dianggap kecil tp kalo diakumulasi jadi gede. Banyak memang yang ga sadar disini. Dulu pas tinggal di jkt juga gitu, sering beli makanan online, ahh cuma 40k kok, eh tau2 di akjir bulan bingung sendiri duitnya habis kemana, ternyata kemm makanan online

    • Nah itu dia! Gue lupa nama teorinya, makanya enggak gue masukin ke dalam tulisan.
      Kalau makan gue emang “agak pelit” ke diri sendiri, sih. Ngelihat makanan yang harganya di atas 38k aja rasanya ingin menjerit. Hahaha

  4. Biasanya kalau di lingkungan kantor tuh faktor utamanya adalah gengsi, makanya suka jajan ini itu dan tanpa sadar udah abis banyak. Anyway, dari yang gue baca di atas, “ritual wajib” lo itu sebenarnya bisa aja dijadiin enggak wajib. Gue enggak tau kenapa lu masih menyebut itu ritual wajib, tapi yang gue tangkap harusnya bisa aja itu diilangin. Gue ngeliat sebenarnya enggak ada keterikatan dengan ritual itu, tapi mungkin karena hal lain, lu jadi me-“wajib”-kannya. Ngerti gak sih lu maksud gue? Enggak ya, yaudah. Hahahaha.

    Oh sama satu lagi. Kalau gue sih, soal trasportasi gue akan langsung menyadari perbedaannya pada hari pertama gue mengubah sarana trasportasi gue. Kalau sampai berbulan-bulan baru nyadar, itu agak keterlaluan sih. Kecuali lu sultan. Eh kan emang sultan ya?

    • Awalnya gue memang enggak mewajibkannya, sih. Tapi seiring berjalannya waktu, gue merasa kalau diri gue perlu diberi sedikit apresiasi karena udah bekerja dengan baik selama sebulan, salah satunya lewat jajan (karena gue enggak suka ada remah makanan di keyboard, jadi gue pilih jajan minuman aja biar praktis).
      Iya, ngerti, makanya sekarang lagi gue kurang-kurangi haha.
      Waduh, enggak kok, gue bukan sultan. Sebenernya gue jarang banget mengkalkulasi uang buat transportasi. Yang gue tau, kalau pagi itu memang suka highfare (tarifnya di atas harga normal), makanya jadi “agak boros”. Dan kalau udah highfare begitu, mau enggak mau gue harus ambil (berapapun tarifnya) karena terlambat masuk kantor pasti udah kena omel. Kalau jam pulang, tarifnya normal dan itu sama persis dengan ongkos transportasi umum (karena udah dihitung promo).

  5. Kalau terpaksa naik ojol, coba usahain pake promo. Untuk Gr4b, mereka punya paket langganan (subscription) gr4b bike yang isinya voucher potongan 5k dan 10k dan worth it kok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/
*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.

Bloger and Full Time Technical Writer.
597FansSuka
646PengikutMengikuti
932PengikutMengikuti

MUST READ