Gue yakin kalau kita semua pasti tahu, bahkan mengikuti perkembangan berita tentang bocornya data pengguna Facebook. Gue, adalah salah satu pengguna Facebook. Dan, gue mengikuti beritanya (setidaknya sampai awal bulan April kemarin).

Di postingan kali ini gue enggak akan ngomongin yang berat-berat atau berteori tentang ini itu karena gue bukan ahli di bidang tersebut. Gue hanya ingin mengutarakan pendapat gue sebagai pengguna media sosial terhadap kasus bocornya data pengguna Facebook. Ya, gue pengen ngobrol santai aja gitu kayak biasanya. Sampai sini ngerti dulu, ya? Kalau udah ngerti, oke gue lanjutin.

Kalau ada yang belum tau, gue mahasiswa jurusan Sistem Informasi. Gue tahu ini bukan bidangnya gue. Walaupun enggak belajar tentang sistem keamanan dan sebagainya, paling enggak, sedikit banyak gue ada belajar tentang psikologi atau kebiasaan pengguna, he he he.

Meski begitu, gue hanya akan bicara sesuai kemampuan atau ilmu yang sudah gue pelajari.

Ada sedikit cerita. Jadi, gue main Facebook tuh udah dari tahun 2008 kemarin. Yang kalau dihitung-hitung artinya gue udah main Facebook selama 10 tahun. Awalnya, tujuan gue main Facebook ini untuk sekedar nyari hiburan doang kayak main game. Bukan untuk berlagak gaul, kekinian dan sejenisnya. Ngapain, lagipula gue masih SD waktu itu. Masih polos banget.

Ada beberapa jenis game yang gue mainkan. Tapi yang paling sering gue mainkan itu modelnya kayak Ninja Saga dan Restaurant City. Mungkin kawan-kawan ada yang pernah main gamenya juga?

Ya, harus gue akui kalau waktu itu di daerah gue, pada tahun segitu enggak semua warnet menyediakan game online. Hampir sebagian besar warnet di daerah gue di tahun segitu di manfaatkan untuk nyari tugas, main media sosial dan download lagu. Sedangkan untuk warnet yang punya berbagai jenis game online itu jumlahnya enggak banyak. Harus keluar komplek dulu dan itu jauh banget.

Bukan, bukan keluar kompleknya yang jauh. Tapi warnetnya. Waktu itu warnet yang bagus, yang punya berbagai jenis game online cuma ada di pusat kota. Jarak dari tempat tinggal gue ke pusat kota itu sekitar 4 sampai 5 kilometer. Cukup jauh dengan berjalan kaki dan lumayan malas kalau bersepeda di siang hari.

Waktu itu gue masih kelas empat SD, dan sekolah gue dekat dengan rumah. Jadi, enggak mungkin banget gue main jauh-jauh. Apalagi waktu itu gue belum tahu jalur angkutan kota.

Bokap dan nyokap memang enggak melarang gue buat main jauh-jauh. Gue di bebasin dan boleh main ke mana aja dengan catatan masih ingat makan, waktu dan yang paling penting dari semua itu: ingat jalan pulang ke rumah. Karena bahaya banget kalau sampai enggak tau jalan pulang. Nanti jadi butiran debu. *Oke, itu garing*

Oya, akun Facebook yang gue bikin di tahun 2008 itu sayangnya udah enggak ada lagi karena di hapus oleh pihak Facebook gara-gara gue gagal melakukan verifikasi. Nomor yang gue sambungkan ke Facebook itu sayangnya udah hangus dan enggak bisa di pakai lagi. Karena nomornya udah hangus, otomatis gue enggak mendapatkan kode verifikasi dari pihak Facebook dan berujung dengan penghapusan.

Seminggu berlalu sejak akun Facebook gue yang lama di tutup, gue bikin akun Facebook lagi. Ketika bikin akun Facebook untuk yang kedua kali, tentu guenya udah jauh lebih mateng dan sedikit lebih pintar di banding sebelumnya yang suka asal-asalan tanpa membaca persyaratannya terlebih dahulu. Gampangnya gue tau resikonya. Tapi gue tetap menyetujui persyaratan tersebut dan tetap mendaftar.

Data pengguna Facebook bocor begini pendapat gue.

Pertanyaannya sekarang, dalam kasus tersebut apakah Facebook salah? Ya, Facebook salah karena lengah dan lalai dalam menjaga privasi penggunanya. Tapi, di satu sisi, pihak Facebook juga enggak bisa di salahkan sepenuhnya. Seperti kata pepatah, enggak ada asap kalau enggak ada api. Hal tersebut (bocornya data pengguna) enggak akan terjadi kalau penggunanya sedikit lebih bijak dalam memanfaatkan media sosial.

Pengguna Juga Bisa Salah dalam menggunakan media sosial
Ingat! Pengguna juga bisa salah!

Trus, gimana dong biar profil atau data pribadi kita enggak di salah gunakan?

Seperti yang sudah gue bilang sebelumnya, jangan main media sosial. Tapi kalau udah terlanjur bikin dan gue memanfaatkan media sosial sebagai tempat untuk nyari rezeki, gimana, dong? Kalau gitu gunakan dengan bijak dan lakukan pencegahan. Misalnya, jangan terlalu banyak memberikan atau mengumbar informasi pribadi di media sosial. Informasi pribadi tuh yang kayak gimana? Ya, macem-macem.

Waktu itu gue pernah lihat ada yang memposting foto KTP di media sosial. Dan lucunya lagi, KTP tersebut enggak di sensor sama sekali. Jadi semua informasi mulai dari NIK, nama lengkap, tempat tanggal lahir, dan sebagainya terpampang dan bisa di lihat banyak orang. Itu KTP loh. Penting banget. Temen gue yang sekedar posting foto kartu mahasiswa aja pernah jadi korban salah tuduh.

Jadi waktu itu ada orang yang pake kartu mahasiswa punya temen gue ini untuk melakukan penipuan. Karena merasa di tipu, si korban ini akhirnya nelpon temen gue dan ngajak ketemuan langsung.

Dari situ si korban ini cerita kalau dia di tipu sekitar 4 juta karena beli item game dari orang yang pake profil temen gue ini. Waktu itu si korban ngasih lihat percakapan dan bukti transfer untuk beli item tersebut. Untungnya temen gue ini bisa ngebuktiin kalau dia enggak bersalah.

Oke, trus ada audit. Emang cuma transaksi doang yang perlu di audit? Media sosial juga perlu, kali! Jadi jangan males! Hehehe.

Nah, audit di media sosial ini enggak seribet mengaudit transaksi, kok. Dan yang di audit ini biasanya dalam bentuk aplikasi. Caranya gampang banget. Yaitu dengan memperhatikan izin akses dari si aplikasi. Contoh, aplikasi tersebut bisa ngapain aja? Mengakses profil publik kah? Mengumpulkan data kah? Mengedit dan memposting kah? Dan segala macamnya.

Kalau udah tau aplikasinya bisa ngapain aja, trus aplikasinya aman atau enggak? Kalau rasanya enggak aman, jangan di pakai. Kalau rasanya aman dan aplikasi tersebut dapat di percaya, mau di pakai boleh dan kalau enggak mau di pakai juga enggak apa-apa. Tapi dengan catatan sadar akan resikonya.

Belum ada gambaran? Gue kasih contoh, deh. Misalnya gue mau main game di Facebook. Waktu awal-awal main biasanya suka ada popup yang bentuknya kayak begini. Gue sebagai pengguna bisa mengedit informasi apa yang boleh di ambil atau dikumpulkan dan mana informasi yang enggak boleh di ambil oleh aplikasi atau game yang ingin gue pakai.

Permintaan Akses Informasi Facebook
Permintaan izin untuk akses informasi pengguna dari aplikasi pihak ketiga
doc. Pribadi

Hubungannya dengan kasus tersebut apa? Nah, kasus tersebut kan berawal dari kelalaian penggunanya sendiri yang memberi izin penuh terhadap aplikasi dari pihak ketiga bernama thisisyourdigitarlife untuk mengambil, mengumpul dan mengolah data pengguna? Hehe. Tau darimana? Gue tau dari berita yang gue baca.

Satu contoh lagi, ini aplikasi yang ada di Twitter. Bedanya dengan Facebook aplikasinya bisa di edit terlebih dahulu, kalau Twitter pilihannya setau gue cuma dua: izinkan sama tolak akses.

Izin Akses Aplikasi Twitter
Kalau yang ini akses informasi dari aplikasi pihak ketiga di Twitter. Tuh, kelihatan kan, aplikasinya bisa akses apa aja.
doc. Pribadi

Terus di tengah gonjang-ganjingnya kasus tersebut, ada beberapa temen gue yang udah menutup akun Facebooknya. Ada juga yang menutup akun lama lalu bikin akun baru lagi.

Kalau gue sendiri, gue tetep bakal pakai, dan gue enggak akan berhenti main Facebook. Kenapa? Karena Facebook menjadi tempat di mana gue dapat membagikan tulisan-tulisan terbaru gue. Kapok? Engga juga, karena sedari awal gue udah membatasi aplikasi dari pihak ketiga.

Jadi kesimpulannya, menurut gue baik Facebook mau pun pengguna sama-sama salah. Pihak Facebook sendiri salah karena udah lalai dalam mengatur perizinan dari aplikasi yang beredar dan pihak pengguna juga salah karena kurang bijak dalam pemakaian.

Habis ini mungkin enggak ada salahnya untuk melakukan audit terhadap aplikasi yang pernah kamu pakai. Jadilah pengguna yang bijak dan pintar.

Nah, kalau menurutmu gimana? Habis baca tulisan ini apakah masih mau main Facebook, atau langsung berhenti total dan tutup akun? Oya, jangan lupa tinggalkan komentar, ya!\o/

8 KOMENTAR

  1. Setuju banget bro, di sini kedua belah pihak sama-sama keliru dalam menggunakan aplikasi. Terlebih facebook sih harusnya bisa lebih protektif menjaga data pengguna sehingga kebocoran kayak gini gak terjadi secara massal. Dan juga penggunanya, please bijaknya dalam bermain medsos, paling tidak bacalah term of service sebelum menggunakan sesuatu.

  2. Pendapatku sama,sob … gunain medsos dengan bijak.
    Jangan sampai kebablasan terlalu open curhat ke muka umum dan jangan mudah percaya dengan seseorang dari sosmed.
    Sudah banyak contoh akibat negatif dari sosmed, untuk itu kita harus pandai gunain aplikasi sosmed.

  3. Kalau saya lebih menghindari login lewat facebook di aplikasi lain… Sepakat, Menggampangkan login situs apapun lewat fb sama saja menggampangkan kitta untuk memberi akses orang lain pada diri kita

  4. Bener banget, semua kesalahan bukan pada Facebook, namun kesalahan terbesar sendiri adalah pada penggunanya. Sudah tau itu ‘media sosial’, bisa diliat siapa aja meskipun udah ganti setting privacy (kan orang sana pasti tetep tau), ya masih punya napsu ngumbar data-data pribadi di sana. Belum lagi asal main aplikasi yang ga jelas arah tujuan pembuatannya. Hadeh~

  5. Oke gue nangkep poinnya. Ngomongin soal keamanan, gue ada pertanyaan. Tapi di luar konteks Facebook. Nggak apa-apa ya? :P

    1. Pentingkah blog personal pake “https” supaya lebih aman (yang sebenarnya lebih diutamakan untuk website e-commerce atau bank)?

    2. Gimana pendapat lo tentang blog yang nyediain kolom komen anonymous? Even bisa diisi nama, email, dan alamat web, tapi itu kan tetap kurang aman. Maksud gue, bisa aja gue nyamar ngomen pake nama orang lain. Atau orang lain nyamar pake nama gue di blog orang. Dan dijadiin celah untuk ngerusak nama baik orang lain, misalnya. Ya meskipun kasus kayak gini jarang terjadi. Pendapat?

    Itu aja sih, ditunggu jawabannya! ;D sekalian salam kenal ya!

    • Oke. Gue akan coba jawab.

      1. Menurut gue penting, karena semua data itu sifatnya sensitif. Data di sini engga terbatas di nomor kartu kredit dan nomor rekening doang, alamat email juga termasuk. Saat platform lainnya harus “membayar” untuk bisa mendapatkan sertifikat/pakai “https”, blogspot udah disediain langsung secara gratis oleh Google. Penggunanya tinggal pake doang. Sayang banget, kan, kalau engga di pakai? Hehe.

      2. Sebetulnya itu hak dan kebijakan dari si pemilik blog, sih, mau nyediain kolom komentar yang kayak gimana. Mau pake Disqus kek, mau pake Google+ kek, mau pake Facebook kek, itu tergantung selera si pemilik blog. Tapi kalau bicara soal komen anonymous, bukannya itu lebih ke nyembunyiin identitas asli? Maksud gue si komentatornya engga perlu masukin nama, email bahkan url blog. Mungkin yang lu maksud komen by url, kali. Iya engga, sih? Hahaha.

      Oke, salam kenal, Gip! :D

      • 1. WordPress versi gratis juga udah auto https setau gue. Kalau yang self-hosted harus beli SSL lagi ya? Wah bener-bener nguras uang jajan kalau gue pake WP self-hosted huhuhu

        2. Nah iya itu maksudnya. Kalau di blogspot namanya Anyone bukan Anon. Lupa gue -__- hahaha

        Oke oke, sudah tercerahkan. Thank you! :D

        • 1. Oiya, kalau engga salah wordpress udah auto https. Engga, kok. Ada juga yang gratisan. Tapi kalau menurut gue, versi gratisannya itu kurang powerful dan fiturnya sedikit di bawah versi berbayar. Kalau cuma mau ngincer SEO doang (pake https juga ngebantu SEO), versi gratisan cukup. Tapi kalau mau yang lebih poweful dengan fitur yang lumayan lengkap (misal: Technical Support yang siaga membantu dalam 24 jam, garansi keamanan, dan segudang fitur lainnya), versi berbayar lebih disarankan.

          Dibilang nguras uang jajan, lumayan, karena tiap tahun harus bayar domain. Tiap bulan harus bayar hosting. Apalagi kalau mau nambahin SSL berbayar yang ditagih tiap tahunnya. Tapi, buat gue, ngeluarin uang segitu tuh worth it, kok. Lu dapet banyak benefitnya.

          2. Nah, kalau komen by url, gue juga jarang bahkan belum pernah ngelihat ada kejadian kayak yang lu contohin. Tapi semisal pemilik blog tetep mau nyediain fitur komen by url dan seandainya ada kejadian kayak gitu terjadi di masa mendatang, baiknya admin atau si empunya blog langsung nanya atau mastiin ke pemilik nama dan url yang namanya dicatut di dalam kolom komentar. Bener engga nih kalau itu komentar asli dari dia. Soalnya gue jarang juga sih ngelihat komentar “kurang sedap” di blog-blog yang selama ini gue kunjungi. :)

          Oke. Semoga pertanyaannya terjawab ya dan sama-sama :)

BERIKAN PENDAPAT ANDA

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.