Home Curhat Drama, Interview dan Salah Ngomong

Drama, Interview dan Salah Ngomong

on

Hola! Apa kabarnya kalian semua? Di sini, gue baik-baik aja, kok. Belakangan ini gue mulai jarang cerita di blog. Akibatnya, blog ini jadi kurang mendapat perhatian dan seperti terbengkalai gitu aja. Tapi harus gue akui, kalau penyebabnya adalah karena gue kesulitan membagi waktu dan mood yang berubah-ubah ini, menjadi penghalangnya. Beruntung waktu itu dosen gue, Pak Rido, sempat membahas blog gue sebagai topiknya.

“Reza, dengan blog yang segini bagusnya, kenapa kamu jarang update? Padahal, potensi blog kamu ini bagus,” tanya Pak Rido, sewaktu menerangkan materi di kelas.

“Karena saya sibuk, pak,” jawab gue, berusaha mencari pembenaran.

“Waduh, lagi sibuk apa sekarang? Jangan jangan ngeyoutube, ya?”

“Enggak pak, lagi banyak tugas kuliah,” jawab gue.

Tapi harus gue akui juga, semester ini sedikit berbeda dari sebelum-sebelumnya. Karena ini semester terakhir, maka muncul lah kegiatan-kegiatan tidak terduga. Kegiatan tidak terduga di sini maksudnya adalah kegiatan yang tadinya nggak ada, lalu muncul di semester ini.

Sekalinya punya waktu luang, gue pake untuk istirahat. Sekalinya punya semangat, mood gue mendadak jelek, semangat menulis pun hilang seketika. Andai saja kemarin Pak Rido nggak bahas blog gue di kelas, mungkin blog ini makin terbengkalai. Kepada Pak Rido, terima kasih banyak, Pak! Saya jadi bersemangat lagi berkat Bapak. Hehehe.

Ditanya Dosen
Ditanya Pak Rido.
sumber gambar: pexels.com

Seperti yang sudah pernah gue ceritakan sebelumnya, ini adalah semester terakhir gue belajar di kelas. Sehubungan dengan hal ini, maka, kegiatan gue juga makin banyak. Yang tadinya kegiatan gue cuma kuliah, pulang, nongkrong, nugas dan jalan, lalu sekarang bertambah menjadi: kuliah, nongkrong, nugas, jalan, pulang, meeting, dan cari informasi. Kegiatan banyak, tugas kuliah pun nggak kalah banyak.

Belum lagi baru-baru ini kampus gue habis ngadain UTS.

Sebagaimana mestinya mahasiswa, pasti diwajibkan yang namanya PKL atau Praktek Kerja Lapangan. Kampus gue juga begitu. Bedanya, jangka waktu atau periode PKL di kampus gue jauh lebih panjang dibanding kampus lain yakni satu tahun!

Berhubung gue memilih program magang, maka, ada beberapa aturan yang harus gue ikuti. Yang pertama, harus bikin CV dan menguploadnya ke website kampus. Sebagai informasi, sebelumnya gue udah pernah melamar dan bekerja di kampus sebagai parttimer dibagian marketing. Maka jelas gue nggak perlu bikin CV lagi karena ada CV yang lama.

Tapi, karena gue anaknya suka ngide, maka CV-nya gue bikin ulang dan tentunya lebih diperbarui sesuai dengan skill dan pengalaman yang pernah gue dapatkan.

Selesai dengan urusan CV, yang kedua adalah memilih perusahaan yang ingin dituju dengan maksimal 5 nama perusahaan. Waktu itu gue hanya memilih 3 nama: Bank BCA, Bank Mandiri dan recommendation company. Recommendation company adalah perusahaan yang gue pilih sendiri dan nggak ada kerjasama dengan kampus. Misalnya seperti Disney atau Amazon.

Selesai mengupload dan memantapkan pilihan, hal selanjutnya yang perlu gue lakukan adalah membiarkan sistem bekerja sambil mengumpulkan informasi perusahaan yang membuka lowongan internship untuk mahasiswa seperti gue.

Yep, sebagai mahasiswa yang membutuhkan tempat magang, maka gue menggunakan waktu yang ada untuk menggali lebih banyak informasi melalui berbagai macam platform mulai dari situs pencari kerja seperti Jobstreet, social media seperti Linkedin, sampai mengunjungi website perusahaannya langsung.

Aktivitas semacam ini memang bikin gue pusing dan mengurangi rasa percaya diri. Ya, pusing karena gue harus bersaing dengan mahasiswa dari berbagai macam kampus mulai dari negeri sampai swasta. Belum lagi gue harus bersaing dengan teman satu angkatan gue di kampus. Selain itu, tiap kali membaca kualifikasi yang dibutuhkan, gue langsung kepikiran, “gue bisa nggak ya diterima di sini?”

Dari pencarian itu, gue mencatat ada 3 posisi dari 3 perusahaan yang cocok untuk gue. Yakni Software Tester, UX Researcher dan terakhir UX Designer. Setelah tahu posisi dan perusahaan mana yang akan dituju, lalu gue mengirim CV terbaru gue ke perusahaan tersebut.

Selesai melamar, perjalanan gue dalam mencari tempat magang belum selesai sampai disitu saja. Gue masih terus berusaha mencari sampai suatu sore di hari kamis, gue ditelpon oleh seseorang.

“Selamat siang, benar ini dengan Bapak Reza?” tanya seseorang di seberang.

“Iya, dengan saya sendiri,” jawab gue.

“Baik, jadi kami dari Mandiri ingin mengundang bapak untuk Interview, kira-kira kapan bapak bisa hadir?” tanyanya.

“Mungkin sekitar tanggal 12 November, bu,” jawab gue.

Lalu teman gue menyanggah, “Tanggal 12 kita ada ujian, Jak,” Amok mengingatkan.

“Ohiya, maaf bu, ternyata ada kesalahan informasi. Saya tanggal 12 ada ujian,” gue mengoreksi.

“Baik, kalau begitu kami kirim undangannya dulu, nanti bapak bisa konfirmasi lagi kapan waktu kosongnya melalui email.”

“Baik bu, terima kasih.”

“Terima kasih kembali, selamat sore.”

Panggilan berakhir. Jantung gue berdegub kencang seolah habis lari sprint. Kemudian gue menceritakan ke teman-teman gue yang lagi asik mengobrol. “Gue dapat panggilan interview dari Bank Mandiri.”

Mereka terlihat senang. Beberapa ada yang memberi apresiasi karena saat itu diantarakami semua, gue adalah orang pertama yang dipanggil untuk ikut interview. Keesokan harinya, gue membalas email tersebut untuk menginformasikan bahwa gue dapat hadir pada tanggal yang tertera di badan email.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Gue bangun lebih pagi dari biasanya. Ojek yang gue pesan tak kunjung mengangkat panggilan telepon sementara gue sudah menunggu di depan kos dengan pakaian rapih dan formal. “Saya cancel ya, pak?” tulis gue di layar messanging waktu itu. Karena drivernya tak kunjung membalas dan susah dihubungi, gue membatalkan pesanan dan mencari driver lain.

Nggak lama kemudian, gue mendapatkan driver yang siap menjemput dan berangkat tepat pukul 9 pagi. “Ini Menara Mandiri yang di mana, Pak? Gatot Subroto atau yang satunya lagi?” tanya driver gue waktu itu.

“Menara Mandiri yang di SCBD, Pak,” jawab gue dari bangku penumpang.

Perjalanan ke Menara Mandiri 1 Sudirman dengan Ojek Online
Macet. Untungnya udah deket. sumber gambar: doc. pribadi

Driver tersebut mengerti dan memacu sepeda motornya lebih cepat dari sebelumnya. Dari tempat gue ke SCBD sebenarnya lumayan dekat. Berhubung kondisi jalannya saat itu cukup ramai, yang bisa gue lakukan hanyalah berdoa agar sampai tepat waktu. Beruntung waktu itu gue sampai di depan Menara Mandiri tepat pada waktunya. Gue membayar ongkos ojek, lalu bertemu dengan penjaga di pintu depan.

“Tower II di mana ya, pak?” tanya gue.

“Ada keperluan apa ya, mas?” tanya petugas di depan.

“Mau interview,” jawab gue.

“Silakan lewat sana ya, mas.” Petugas tersebut menunjuk ke tower yang dimaksud.

“Terima kasih, pak,” gue membalas lalu bergegas menuju tower II.

Dibagian pemeriksaan gue kembali ditanya oleh petugas yang berjaga. “Ada keperluan apa, ya, mas?” tanya petugas di depan pintu masuk tower II.

“Mau ketemu Ibu Ratna—bukan nama sesungguhnya—bagian HRD, pak, untuk keperluan interview” Gue mengikuti apa yang Bu Ratna katakan ketika berbalas email.

“Baik, dari sini Mas lurus aja, nanti belok kiri. Nah, di situ nanti ada resepsionis,” kata petugas yang berjaga dibagian pemeriksaan.

Gue mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Dibagian resepsionis gue melapor terlebih dahulu sekaligus menukar kartu tanda pengenal dengan kartu visitor. Masih dengan pertanyaan yang sama seperti sebelumnya, gue menjawab, “ingin bertemu dengan Ibu Ratna bagian HRD untuk keperluan interview.”

“Mohon tunggu sebentar ya, mas.”

“Baik,” jawab gue.

“Mau ke lantai berapa ya, mas?” tanya petugas dibagian resepsionis.

“Lantai 27,” jawab gue.

“Oke, ini kartunya”

“Terima kasih, mbak.” Kata gue sambil memasukan dompet ke saku celana dan berjalan lambat ke arah gate keamanan yang hanya bisa dilewati dengan kartu khusus. “Semoga interviewnya lancar ya, mas,” kata petugas keamanan yang isengin gue tadi.

Gue membalasnya dengan senyum sambil berjalan ke arah lift dan mengalungkan kartu visitor ke badan. Sesampainya di lantai 27, gue masuk ke dalam ruangan dan melapor kebagian penerimaan tamu. “Ada perlu apa, pak?” tanya petugas keamanan.

“Mau bertemu Ibu Ratna untuk interview, pak,” jawab gue.

“Boleh lihat CVnya?”

“Boleh,” gue mengeluarkan amplop berisi CV dari dalam tas.

“Silakan mengisi buku tamunya,” kata petugas tersebut.

Selesai mengisi buku tamu, gue diberi selembar formulir untuk diisi. Tak lama setelah gue menyerahkan formulir tersebut, gue berkenalan dengan dua orang karyawan Mandiri—yang gue sendiri lupa namanya—dan diajak ke lantai 26.

Setibanya di lantai 26, gue dibawa ke dalam sebuah ruangan tertutup dan dua orang tadi kembali memperkenalkan diri. Dalam sesi perkenalan itu gue baru tau bahwa dua orang karyawan tadi adalah orang yang akan menginterview gue dan mereka bekerja dibagian divisi IT Mandiri.

Sesi interview di Bank Mandiri
Interview
sumber gambar: pexels.com

Dalam sesi tersebut, gue dimintauntuk menceritakan diri gue sendiri. Gue menarik nafas dalam-dalam, menghembuskannya lalu bercerita. Gue memulainya dari nama, jurusan, dan semua yang tercantum di dalam CV. Lalu tak lupa juga gue menceritakan hobi gue sebagai blogger dan apa yang sudah pernah gue capai selama ini.

Selesai memperkenalkan diri, lalu user atau orang yang akan menjadi atasan gue nanti menjelaskan posisi apa yang tim mereka butuhkan saat ini dan apa yang akan gue kerjakan nanti.

Sesi interview yang gue pikir akan berjalan tegang, justru lebih santai dari yang gue pikir. Entah karena guenya udah terbiasa mengikuti interview sehingga gue lebih enjoy, atau karena dua user di depan gue ini, yang piawai dalam membuat suasana ruangan ini menjadi ceria. “Ada pertanyaan, mas?” tanya user tersebut.

“Ada, pak. Seandainya saya nanti diterima, apakah saya akan bekerja di gedung ini?” tanya gue.

“Betul, nanti Mas Reza akan bekerja di kantor ini.”

“Kira-kira kapan ya, pak, hasil interviewnya diumumkan?” tanya gue dengan nada penasaran namun penuh semangat.

“Mungkin sekitar dua minggu lagi. Nanti akan kita hubungi lewat email.”

Sesi interview berakhir, gue berpamitan dengan dua user yang menginterview gue pada saat itu. Keluar dari lift, gue berjalan ke arah resepsionis untuk menukarkan kembali kartu visitor yang gue kalungkan dengan KTP.

Interview di Menara Mandiri 1 Jakarta, Sudirman.
Keren juga kantornya. Berlokasi di SCBD (Sudirman Central Business District), Jakarta.
sumber gambar: doc. pribadi

***

Sehari sesudah interview, gue selalu rajin mengecek email sambil berharap ada pesan dari Mandiri. Suatu pagi, di hari jumat, tiba-tiba gue dihubungi oleh nomor telepon kantor. Karena gue lagi makan, waktu itu gue langsung meneguk segelas air untuk kemudian menghilangkan makanan yang ada di mulut. Gue menarik nafas panjang, kemudian mengangkat panggilan tersebut dengan mantap.

“Selamat pagi, betul ini dengan Mas Reza?” seseorang diseberang sana berbicara.

“Selamat pagi, iya dengan saya sendiri.”

“Saya Winda—bukan nama sesungguhnya—dari Mandiri Mas, sebelumnya Mas Reza sudah mengikuti interview, ya?”

DEG! Jantung gue berdegub kencang. “Betul, saya sudah ikut interview waktu itu,” jawab gue.

“Waktu itu interviewnya sama Bapak—Ibu Winda menyebut dua nama untuk mengkonfirmasi dengan siapa gue interview pada saat itu—ya?”

“Maaf, saya lupa bu siapa yang menginterview saya waktu itu.”

“Baik. Jadi kita mau informasikan, bahwa Mas Reza lolos dan diterima bekerja di Mandiri sebagai Technical Writer.”

JANTUNG GUE RASANYA MAU COPOT SAAT ITU JUGA!

“Bagaimana mas? Mau dipikir-pikir dulu?” tanya Ibu Winda di seberang.

“Apakah informasinya bisa dikirimkan ke email saja, bu? Biar lebih professional? Karena waktu interview kemarin, katanya nanti dikabarin lewat email” Jawab gue. Setelah mengatakan itu jantung gue semakin ingin copot. Bagaimana mungkin gue mengatakan hal kurang sopan seperti “biar lebih professional” ke HRD. “Cabut saja nyawaku ya tuhan,” gue membatin.

“Maaf, mas, informasinya hanya dapat kita sampaikan melalui panggilan telepon saja,” balas Bu Winda, dengan nada santai.

Gue berusaha menyusun kata-kata biar nggak salah ngomong untuk yang kedua kalinya. Namun pertanyaan Ibu Winda waktu itu memecahkan keheningan di telepon. “Gimana, Mas? Mau dipikir-pikir dulu? Soalnya kita juga perlu melapor ke Binus.”

“IYA BU! SAYA MAU!” jawab gue, dengan nada santai namun mantap. Padahal sebenarnya gue lagi tegang karena salah ngomong.

“Baik mas, kalau begitu saya ingin mengucapkan selamat bergabung di Mandiri.” Jawab Ibu Winda.

“Terima kasih, bu.”

Panggilan berakhir. Meski panggilan sudah berakhir, tapi jantung gue masih mau copot rasanya. Syukurlah Ibu Winda menanggapi perkataan gue dengan santai.

Nah, karena gue udah diterima di Mandiri, sekarang gue hanya perlu mempersiapkan diri dengan matang karena mulai Februari nanti gue akan resmi bekerja sebagai Technical Writer, ya walaupun posisinya sebagai anak magang.

Itulah cerita dari Drama, Interview dan Salah Ngomong yang gue alami sebagai mahasiswa semester atas sewaktu mencari pekerjaan. Gimana dengan kesibukan kalian akhir-akhir ini? Yuk, cerita di kolom komentar di bawah ini!

Contact

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail: [email protected]

Reza Andrianhttp://rezaandrian.com
Bloger and Full Time Technical Writer.

Related Articles

11 KOMENTAR

  1. Woaaahh, selamat lebih sibuk, cuy!
    Eh, lo bisa bikin aplikasi gak sih? Kayak aplikasi Android gitu. Bahasa programnya agak mirip-mirip sama web, kan?

    Btw, keren, dosen lo mainannya mantau blog

    • Makasih, Gip! Udah deket pergantian semester, nih, harusnya udah lebih santai.
      Kebetulan banget semester ini gue dapet matakuliah Android. Bisa, kok, tapi belum bisa jadi aplikasi yang sempurna karena masih belajar. Untuk bahasa sebenarnya agak beda. Kalau web PHP, kalau Android Bahasa Java tapi konsepnya sama: Object Oriented Program.
      Hmm, sebenarnya dosen gue nggak tau sampai teman gue waktu itu cerita kalau gue blogger. Yah, kebetulan materinya waktu itu lagi ngebahas ke arah sana, jadilah dosen gue ikut memantau blog gue. :’)

      • Wooohhh gitu, ya. Kalau Java berarti mirip Symbian OS, tuh. Gue pernah baca-baca dan ngoprek sedikit aplikasi Android. Ceritanya mau bedah sambil belajar, ternyata apa daya otak gue belum mampu hahahahaha.

        Respek buat lo!

  2. Wah mantapp..

    Cerita saya saat melemar kerja perusahaan start up saya dapat lolos interview, namun saat test terakhir bagian menulis bahasa inggris sepertinya gak lolos deh, karena udah 2 bulan gak ada kabar lagi, sampai saat ini.

  3. Cerita saya pada saat interview bulan november kemarin, saat interview untuk lolos ke magang ke Jepang saya mulai grogi akan pertanyaan orang jepang untuk mencari mahasiswa di universitas. Untung saja ada sang penerjemah dari Jepang ke Indonesia. Namun mungkin baru pertama interview saya langsung kaget dan bingung mau jawab pertanyaan jika di terima di perusahaan Jepang, kamu mau berapa lama?? dari situ saya bingung. Kesimpulannya saya tidak lolos hehe karena interview pertama kali.

  4. Gue pikir salah ngomong gimana. Hahaha. Congrats man! Kalo gue pas kuliah dulu malah serem kalo ada anak kampus yang tahu blog gue, lah ini lo sampe dosen pun malah tahu ya. Gooks. Muahaha.

  5. Kok dosennya bisa tahu blog lu? Malah nyuruh aktif pula. Gue kalau ditanya begitu kayaknya bakal berhenti atau bikin blog lain. Wahaha.

    Terakhir kali melamar jadi penulis konten dan ternyata kedapetan tugas di kerjaan yang sama kayak lu, gue gagal. Pas wawancara sempet mau dipindahkan ke bagian lain, tapi ujung-ujungnya suruh nunggu panggilan. Tapi kagak ada kabar. Emang enggak sreg juga, sih, karena lokasinya kejauhan. Minat nulisnya pun bukan ke arah situ seandainya jadi technical writer. HRD-nya pun bilang begini, “Artikel kamu kok kayak cerpen.” Wqwq.

    Btw, selamat ya, Za!

    • Karena ada temen yang ngebocorin, bang. Semenjak itu dosennya suka kepoin blog gue. Bukan cuma dosen, sih, bokap pun juga suka ngepoin blog gue. Huhu. Pengennya sih begitu, bikin blog baru dan ngerintis dari awal lagi dengan atau tanpa domain name. Tapi kalau blog ini ditinggalin, rasanya sayang juga karena ngebangun reputasinya butuh waktu yang panjang. :’)
      Nah, kadang suka nyesek sih, nunggu panggilan tapi enggak dikabarin sama sekali sama orang perusahaannya. Padahal kalau mau nolak ya, baiknya kasih tau aja supaya yang diinterview juga dapet kepastian jadi enggak saling tunggu :’). Iya, setiap orang punya preferensi dan tekniknya masing-masing ya, bang. Gue bisa diterima kemungkinannya karena latarbelakang gue kebetulan cocok dengan posisi tersebut: penulis dan IT.
      Siap, makasih banyak, bang!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/
*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.

Bloger and Full Time Technical Writer.
609FansSuka
647PengikutMengikuti
945PengikutMengikuti

MUST READ