Hampir Mati

Gue telah melewatkan banyak hal. Melewatkan hal-hal sederhana. Juga ritual rutin yang biasa gue lakukan dari hari ke hari. Yang hanya di mengerti oleh diri sendiri.

Setahun tinggal di Jakarta… beberapa kali gue hampir mati. Yang pertama gue pernah di tabrak. Saat itu udah larut malam, gue habis main di kostan temen. Kami berjalan bersama; gue pamitan karena kost gue ada di seberang jalan. Saat hendak menyeberang jalan, gue di tabrak oleh pengendara motor. “Maaf, mas,” kata gue pada si pengendara.

“Iya, mas gapapa, kan?” tanyanya penuh perhatian.

“Saya gapapa, kok.” Kata gue, sambil menahan sakit.

“Lain kali kalau nyeberang hati-hati, mas.” Pengedara itu langsung pergi.

Gue mengancungkan ibu jari saat mereka bertanya dari seberang jalan, “lu gapapa kan, Jak?”

Saat itu gue nggak marah. Gue sadar, sebagai pendatang baru, alangkah baiknya jika gue sadar tempat. Tidak membawa kebiasaan-kebiasaan buruk dari kampung. Ini Jakarta. Untungnya pengedara motor itu tidak memacu kendaraannya dengan keras. Lengan gue sakit habis di tabrak.

Lalu gue pernah hampir mati, kali ini lokasinya di dalam kamar kost. Bukan karena keracunan, apalagi ada yang berniat untuk balas dendam. Melainkan karena hampir kehabisan oksigen akibat lupa nyalain exhaust fan. Untungnya alarm tubuh gue berfungsi dengan sangat baik. Gue buru-buru nyalain exhaust fan, lalu melihat jam. Gue tertidur selama satu jam.

Ya, saat itu gue udah letih banget. Baru pulang kerja. Gue rebahan sebentar, tau-tau ketiduran. Bahkan gue masih mengenakan kemeja kerja; celana bahan, saat tertidur.

Tinggal di Jakarta… buat gue adalah suatu hal menyenangkan. Ya, ada sedih-sedihnya juga. Bagian paling menyenangkan itu ketika membersihkan kamar dapat kawan baru. Keluarga baru, tantangan dan cerita baru. Serta hal baru lainnya yang tak mungkin gue sebutkan satu persatu di sini.

Bagian paling menyedihkannya… saat sakit. Semua harus dikerjakan sendiri. Nyari makan sendiri, berobat sendiri. Nggak ada yang ngerawat, juga nggak ada yang ngasih perhatian. Untungnya di sini gue belum pernah sakit keras; yang mengharuskan rawat inap di rumah sakit. Paling parah itu… ya, waktu kena tifus. Mau makan nggak enak, mual-mual, demam lagi. Untungnya gue segera berobat. Dalam waktu dua hari, gue sembuh dari tifus dan bisa beraktivitas lagi seperti biasanya.

sumber: pexels.com

Ngomongi soal makan… gue jadi teringat kejadian beberapa waktu lalu. Waktu itu Jumat sore. Gue habis ikut ujian untuk matakuliah User Experience. Sepulangnya dari kampus, gue tidur siang. Udah sore gitu, sih. Soalnya udah mau jam empat.

Gue tidur sekitar 30 menitan. Sebentar, tapi efektif buat memulihkan tenaga. Bangun tidur perut gue keroncongan. Kalau di ingat-ingat lagi, gue terakhir makan itu sekitar jam 9 pagi. Berarti ini udah waktunya makan.

Satu hal yang menjadi kebiasaan gue setiap selesai mengikuti ujian: selalu memberi reward pada diri sendiri. Rewardnya bisa dalam berbagai macam. Bisa dalam bentuk buku baru, pergi ke tempat-tempat baru dan masih banyak lagi. Intinya memanjakan diri dan gue puas. Rewardnya pun nggak mesti sesuatu yang mahal. Bahkan menghabiskan waktu dengan membaca satu judul buku sampai tamat sudah termasuk reward buat gue.

Karena waktu itu gue lagi males pergi keluar, kebetulan lagi lapar, jadilah gue pesen sesuatu yang belum pernah gue makan lewat aplikasi ojek online.

“Halo?” seseorang di ujung sana menyapa.

“Iya, halo.” Gue jawab dengan lebih sopan.

“Saya dari ojek online, mas. Pesanannya sesuai dengan aplikasi, kan?”

“Iya, betul. Level 5 ya, mas,” gue mengingatkan.

“Oke, mohon di tunggu ya, mas.”

Percakapan berakhir. Gue kembali mengerjakan project yang sedang gue garap. Sesekali mengamati layar hape. Dua puluh menit berlalu, hape gue bergetar. Ada satu pesan masuk. Dari ojek online. “Saya sudah di bawah, mas,” bunyi pesannya.

“Baik, saya segera ke bawah.” Balas gue.

Sesampainya di bawah, gue lihat pengendara ojek online itu sedang ngobrol dengan penjaga kost. “Mas Reza, ya?” tanyanya ketika gue menghampiri.

“Iya, betul,” gue tersenyum. Lalu dia menyerahkan bungkusan warna putih. “Totalnya berapa, mas?”

Dia menyebut total harga dari makanan yang gue pesan. Menyerahkan struk pembayaran. Gue langsung nyerahin selembar uang kertas warna merah. Pengendara ojek online itu mengembalikan sesuai jumlah pembayaran yang ada di struk; juga uang parkir. “Nih mas,” gue ngasih selembar kertas ke dia, atas jasanya.

“Oh, nggak usah mas. Kan dari aplikasinya udah free delivery.”

“Ambil aja mas, gapapa. Lagian masnya pasti capek ngantre di sana.”

“Gapapa, mas. Saya ikhlas ngantre, kok.” Dia menolak.

Gue makin nggak enak. Sementara dia bersikukuh untuk nggak nerima. “Kalau gitu terima kasih banyak, mas.” Ujar gue. Dia mengangguk. Lantas berpamitan dengan gue dan penjaga kost. Dia memacu sepeda motornya. Sepertinya dia dapat orderan lagi.

“Udah Ja, simpen aja,” kata penjaga kost gue. Gue mengangguk, lalu pamit dan kembali ke kamar.

Gue membuka bungkusan warna putih yang gue terima dari abang ojek online. Lalu menemukan sebuah tempat makan dari plastik. Membuka penutupnya. Mencuil-cuil sesuatu yang gue kira ayam; ternyata cabe. Nggak heran. Ayam Geprek yang gue pesan adalah level 5. Setiap satu level setara dengan 10 cabe; level 5 berarti setara dengan 50 cabe. Aromanya sedap. Gue suka. Hal yang paling gue suka saat mencoba sesuatu yang baru adalah menebak-nebak bagaimana rasanya.

Pada suapan pertama gue belum menemukan letak pedasnya di mana. Tapi dari segi rasa, memang enak. Ini ayam geprek keenam yang pernah gue makan. Dan rasanya jauh lebih enak yang ini daripada yang sudah-sudah. Suapan keenam dan ketujuh gue mulai menemukan letak pedasnya. Rasanya memang pedas, tapi pedasnya itu belum bisa bikin gue ‘minta pengampunan’. Mungkin karena gue dari kecilnya udah terbiasa makan pedas kali, ya?

Selesai makan, gue lanjut nonton film. Selang 20 menit kemudian, gue merasa nggak nyaman. Gue seperti kesulitan bernafas. Keringat dingin mengucur. Nggak, ini bukan sensasi yang di dapat saat makan pedes. Jika memang sesuatu terasa pedas atau makanannya memang panas, biasanya gue akan mengeluarkan keringat panas. Tapi kali ini… yang keluar keringat dingin dan rasa nggak nyaman di perut.

Gue jadi teringat dengan salah satu konten video yang pernah gue tonton di Youtube, yang mana di video itu mereka mengadakan tantangan untuk makan sesuatu yang pedas. Karena gue nggak di bayar sama sekali, maka gue nggak akan ngejelasin secara detail, apalagi menampilkan videonya di sini.

Intinya di video itu hampir semua yang terlibat menyerah karena nggak kuat, kecuali satu orang. Lidahnya kuat dan dia makan dengan lahap. Lalu pada suapan keenam (setelah melahap makanan lainnya), dia langsung pingsan. Setelah mencari penjelasan kenapa dia bisa pingsan, gue denger kalau dia punya penyakit maag. Dan saat mengikuti tantantangan itu dia memang belum makan nasi; kecuali nasi yang ada pada hidangan yang dia makan.

Gue pernah makan sesuatu yang lebih pedas dari ini dan belum pernah menemukan masalah seperti sesak nafas. Gue coba analisis kembali… mencari tahu kenapa gue bisa sesak nafas. Jangan-jangan gue punya maag? Jika disangkut-pautin dengan video yang gue tonton itu… kejadiannya memang mirip. Gue belum makan. Paginya gue cuma makan satu bungkus Timtam dan segelas susu. Siangnya minum Cola. Dan sorenya, gue pesen sesuatu yang pedas.

Setelah mencari penjelasannya, gue sedikit panik, takut kalau nanti gue pingsan di dalam kamar dan nggak ada satu orang pun yang membawa ke klinik. Kepala gue terasa agak pusing. Gue coba menyandarkan punggung pada tembok kamar. Meredam stress dan berusaha untuk tidak panik.  Setelah agak mendingan, gue buru-buru keluar kamar dan pergi ke bawah. Mengabari Bang Sandy yang sedang bertugas menjaga kost. “Kalau dalam satu jam ke depan aku nggak ada turun ke bawah, tolong samperin ke kamar ya, bang?” pesan gue.

Bang Sandy mengangguk. “Iya, Ja.” katanya.

Ini juga jadi pelajaran buat gue untuk lebih mengerti dan mengenal batasan dalam setiap tindakan. Andai waktu itu gue ngotot buat nyoba level 5 ke atas, mungkin ini bakal jadi pengalaman yang menyeramkan.

Gimana dengan kalian? Apakah kalian pernah mengalami kejadian seperti yang gue alami? Cerita dong, kali aja bisa jadi bahan pelajaran buat gue dan yang lainnya!

 

Contact

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail: [email protected]



18 COMMENTS

  1. Gue suka pedas, gue pernah ‘minta pengampunan’ saat makan bakso yang masih panas (ga tau kenapa itu panas banget perasaan) pake cabe 3 sendok makan (sendok cabenya dipake temen). Rasanya? kalo ada naga disana bisa gue ajak sembur2an api kayanya. haha

  2. Pengalaman emang guru yg terbaik. Sy jg pernah ngekost di Jakarta, udah 7 tahun. Emang yg paling ngeri ya pas kalau sakit. Tp untungnya sy ndak pernah kenapa2 pas ngekos, malah pas ud merid sy ngalamin usus buntu dan harus operasi.

  3. Kalo makan pedesnya itu blm pernah sih bang,
    Cuma yg kejadian tabrakan itu, pas dulu awal masuk kuliah, ceritanya mau nengokin temen yg kecelakaan, ehh di jalan saya sama temen malah kena kecelakaan tabrakan sama org, alhamdulillah gak kenapa2, cuma motornya aja yg ga bisa jalan lurus.

  4. Mas reza, itu yg bagian kamar, bisa sampe g ada oksigen, memangnya trtutup rapat bgt kamarmu yaa?

    Aku prnh ngerasain sensasi setelah mkn pedas gitu.. Pas dulu makan recheese factory yg wingsnya, pake level maksimal 5 pula.. Selesai makan, itu aku lemes, ulu hati sakit banget dan ga mampu berdiri. Aku butuh 3 jam utk bisa pulih. Akhirnya cuma berbaring aja sih sampe sakit reda sendiri. Banyakin minum juga. Kalo udah gitu aku ga berani minum obat, krn takut ama efek samping.

    Ngalamin kedua pas makan nasi goreng mafia, level terpedes nya. Kapok mas… Sama lah, aku ga bisa bangun akhirnya. Makanya skr ini aku ga berani trlalu nantangin diri kalo menyangkut pedes. Takut lambung rusak :D

    • Iya, betul Mbak Fanny, kamarnya tertutup rapat banget. Nggak ada ventilasi sama sekali. Soalnya di sini pada pake AC, makanya nggak di buatkan ventilasi. Hahaha.

      Waduh, udah 2 kali berarti ya. Aku baru baru sekali dan nggak berani ngulang lagi. Soalnya lambungku juga pernah rusak :)

  5. Kejadian paling sulit saat pertama kali merantau di jakarta adalah
    saat sakit selama satu minggu
    Tapi ya untungnya ada temen kost dan bapak kost yang memang baik mau merawat saya.
    saat hidup jauh dari keluarga dan kerabat memang kita hrus bener2 menjaga kesehatan. Jangan sampai merpotkan orang lain.
    BTW jakarta nya di mana?

  6. Sama kaya Mba Fanny, pengalaman makan spicy fire wingsnya richeese yang level 5 bikin megap-megap dan bercucuran air mata udah kaya patah hati. Kapooook! Bahahahak.

  7. Pisah jauh dari orang tua harus pinter pinter jaga diri, meningkatkan kewaspadaan apalagi jakarta yang udah macam sarangnya tindak kriminal. Jaga kesehatan yang terpenting karena kalo udah sakit susah pastinya karena sendiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.