Selasa, 13 April 2021
Home Curhat Kilas Balik 2020

Kilas Balik 2020

on

Malam yang membosankan, pikir gue setelah melihat kalender. Malam itu rasanya sungguh berbeda dari kebanyakan malam yang sudah gue lalui setiap pergantian tahun. Malam itu terasa suram dan aneh karena ini adalah kali pertamanya gue tidak melakukan kegiatan apapun di malam tahun baru.

Gue berusaha menggapai gelas lalu menyalakan dispenser. Bagaimanapun juga, kemuraman ini harus segera diakhiri, pikir gue lagi. Segelas kopi rasa caramel dan soundtrack pengisi Film Weathering with You, menemani gue melewati malam akhir tahun.

Setelah menyeruput minuman hangat itu, gue berpikir untuk mengenang kembali apa yang sudah gue lalui sepanjang tahun 2020. Gue segera mengatur posisi senyaman mungkin karena ini akan jadi perjalanan yang cukup panjang. Jadi, inilah kilas balik 2020 versi gue dan begini ceritanya…

“Za, sini nyusul. Gue sama Opik mau nyampein sesuatu ke lu.” pesan Rico.

“Langsung aja. Gue lagi males keluar,” jawab gue.

“Ini penting. Lu harus denger langsung,” kata Rico.

Mendengar kata “penting”, gue segera bersiap untuk menyusul mereka ke sebuah kedai pizza di daerah Kebon Jeruk. Setibanya di sana, tanpa berbasa-basi, Opik langsung mengutarakan gagasannya. “Lu kan belum pernah all u can eat, Za. Gimana kalau besok lu ikut kita?

Awalnya gue tidak tertarik dengan ajakan tersebut karena mudah bosan setiap kali makan daging sapi. Perut gue juga tidak bisa menampung begitu banyak daging karena daging cepat bikin kenyang dan itu cukup merugikan gue karena tidak bisa makan sepuasnya.

“Skip, gue yang rugi karena makan gue enggak banyak,” jawab gue, tegas.

“Itu kalau daging. Kita bukan all u can eat daging.” Rico menimpali. Lalu dia melanjutkan kalimatnya, “besok, kita mau all u can eat di hotel Kullman.”

Gue masih belum tertarik dengan ajakan tersebut. Ajakan ini sama saja dengan ajakan-ajakan sebelumnya. Hanya lokasinya saja yang berbeda. Kalau sebelumnya makan di restaurant, kali ini makannya di hotel berbintang dan gue sama sekali tidak memiliki ketertarikan dengan hotel berbintang.

Membaca ekspresi gue yang tidak tertarik, akhirnya Rico mengeluarkan kartu ‘As’ yang barangkali sudah dia sembunyikan sejak tadi. “Kali ini all u can eat-nya makanan luar. Ada Jepang, Meksiko, India, pokoknya banyak!”

Badan gue mulai condong ke depan sebagai reaksi atas ajakan tersebut. “Berapaan emang?” tanya gue, penasaran.

“Aslinya 500 ribu. Tapi dengan voucher ini, kita cukup bayar 200 ribu aja.”

“200 ribu untuk bertiga?”

“Ya enggaklah, cok! Itu harga per orang. Bayangin, 200 ribu lu bisa nyobain hidangan dari beberapa negara. Sepuasnya!”

“Menarik. Berapa lama waktunya?”

“Mulainya dari jam 11 siang, selesainya jam 3 sore.”

Harga udah oke, waktu makannya lumayan lama, tempat juga oke, pikir gue dalam hati.  “Oke, gue ikut.” Respon gue.

Akhirnya gue merasakan all u can eat untuk pertama kalinya dalam hidup gue. Semua hidangan yang ada di hotel tersebut gue cobain. Dari sekian banyak hidangan yang sudah gue coba, yang paling cocok di lidah gue adalah masakan India. Kemudian disusul oleh Meksiko.

All u can eat di hotel
Merasakan all u can eat untuk pertama kalinya.
doc. pribadi

Bulan Februari, gue lulus sidang skripsi! Saat itu gue amat bahagia karena bisa menyelesaikan pendidikan lebih cepat dari yang diharapkan. Terang saja karena saat semester pertama nilai gue amat jelek dan harus mengulang beberapa mata kuliah.

Permasalahan tersebut sempat membuat gue stress dan berpikir bahwa gue enggak akan lulus tepat waktu. Bayangkan, baru semester pertama saja sudah gagal di 3 matakuliah. Apalagi nanti?

Masalahnya bukan cuma itu. Gue juga nggak bisa Bahasa Inggris! Ya, kalian tidak salah baca. Saat itu gue nggak bisa Bahasa Inggris. Karena nggak bisa Bahasa Inggris, gue pun sulit mengikuti dan memahami pelajaran di kelas karena dosennya menyampaikan materi menggunakan Bahasa Inggris.

Jadi, selain mengulang mata kuliah, gue harus lebih giat belajar Bahasa Inggris supaya gue bisa mengikuti pelajaran di kelas.

Gagal dalam mata kuliah
Gagal dalam mata kuliah
Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Memasuki semester dua, gue mulai bangkit dari keterpurukan. Masalah yang tadinya banyak, bisa gue tuntaskan satu persatu. Gue yang tadinya gagal, kini bisa berdiri dengan penuh percaya diri.

Saking senangnya gue saat lulus sidang, gue sampai tidak bisa berkata-kata. Setiap kali ada yang memberi selamat atau bertanya, gue hanya bisa mengekspresikannya lewat senyuman.

Bulan ketiga di 2020, bulan di mana gue menikmati masa-masa liburan di kampung. Momen ini gue gunakan untuk istirahat total dan memperbaiki gizi setelah menang dari pertempuran panjang selama beberapa bulan terakhir.

Mulanya gue hanya ingin liburan sebentar. Namun karena situasinya tidak memungkinkan untuk kembali ke Jakarta, gue pun menunda kepulangan dengan mengganti jadwal penerbangan.

Karena belum tau kapan bisa kembali ke Jakarta, gue mengisi waktu dengan melakukan kegiatan produktif. Salah satunya membuat mini proyek. Mini proyek yang gue buat ketika itu adalah mendesain ulang UI (User Interface) aplikasi buku digital.

Mini proyek tersebut berangkat dari keresahan gue selama menggunakan aplikasi baca buku digital. Setelah satu bulan berkutat selama sebulan untuk mengerjakan mini proyek tersebut, gue lumayan bangga dengan hasilnya karena itu adalah proyek UI/UX pertama yang gue bikin menggunakan software Adobe XD.

UI Design Aplikasi Mobile
Mendesain ulang UI/UX sebuah aplikasi
Photo by picjumbo.com from Pexels

Sayangnya, gue kurang percaya diri untuk memamerkan karya gue itu ke khalayak banyak. Akibatnya, gue tidak belajar apapun dari karya gue itu. Bukan, ini bukan soal siap atau enggaknya gue menerima kritik. Yang membuat gue kurang percaya diri adalah karya itu berangkat dari asumsi pribadi.

Gue sama sekali tidak mengerjakan beberapa tahapan penting seperti penelitian, tidak membuat user persona, tidak menjalankan usability test, dan sebagainya. Yang gue lakukan hanya mendesain berdasarkan selera gue sendiri dan memecahkan masalah yang gue alami ketika menggunakan aplikasinya.

Meski begitu, gue cukup senang karena bisa menunjukkan hasilnya kepada seorang Chief Technology Officer salah satu Startup ternama. Karya tersebut gue tunjukan tepat saat Interview User. Meski beliau tidak memberi komentar tentang hasil mini proyek gue, tetapi setidaknya gue sudah pernah menunjukkan hasilnya ke satu orang.

Bulan Agustus, akhirnya gue bisa kembali ke Jakarta. Sebelum berangkat, tentu saja gue harus menjalani test kesehatan di rumah sakit guna memastikan bahwa gue dalam kondisi sehat dan dapat melakukan perjalanan.

Setelah beradaptasi dengan suasana Jakarta ketika pandemic selama dua minggu, gue memutuskan untuk belajar masak sendiri. Alasannya dua. Pertama, gue enggak bisa terus-terusan makan warteg karena lidah gue cenderung menyukai makanan yang pedas. Kedua, gue ingin menghemat uang bulanan.

Perjalanan gue belajar memasak pun dimulai pada bulan agustus. Gue memilih bahan yang paling mudah didapat dan sedapat mungkin proses pengolahannya tidaklah repot.

Pilihan gue jatuh kepada Ayam dan untuk sayurnya sendiri gue pilih tauge. Pelajaran pertama memasak gue adalah membuat ayam goreng dan tumis tahu tauge.

Bulan September, gue sakit untuk pertama kalinya di tahun 2020. Yah, sebenarnya biasa saja. Tapi karena lagi masa pandemi dan gejalanya persis seperti yang ditetapkan oleh CDC (Centers for Disease Control), gue jadi lumayan khawatir. Mana sakitnya lumayan lama lagi. Tapi syukurlah gue berhasil melewati masa itu.

Bulan Oktober, gue mendapat panggilan interview untuk pertama kalinya. Seperti yang sudah gue sebut di atas, gue interview bersama salah seorang Chief Technology Officer salah satu perusahaan startup ternama. Ini adalah sebuah pengalaman yang cukup menyenangkan karena ini pertama kalinya gue interview atau ngobrol bersama C-level.

Grogi? Lumayan. Senang? Tentu saja, karena dari interview tersebut gue jadi belajar cara berkomunikasi dengan C-level. Meskipun gue tidak berhasil lolos masuk perusahaan tersebut, paling tidak, gue punya pengalaman ngobrol bersama C-level dan beliau mau melihat karya gue.

Interview bersama user
Interview user
Photo by Andrea Piacquadio from Pexels

Setelah wawancara tersebut, gue juga mendapat panggilan interview di beberapa perusahaan startup ternama. Gue mengikuti semua tahapannya dan selalu berakhir di interview user. Yah, tidak apa lah. Mungkin memang belum rezeki gue.

Bulan November adalah pertama kalinya gue pergi ke luar Jakarta. Saat itu gue pergi bersama teman menuju Sukabumi untuk mengunjungi lah satu teman kami semasa kuliah dulu.

Hal ini sudah direncakan sejak bulan Oktober lalu, di mana rencananya ada 5 orang yang datang untuk hadir di acara akikahan anaknya teman kami. Tapi karena satu dan lain hal, yang berangkat untuk mewakilkan jadi 3 orang: Gue, Jordi dan Opik.

Pada hari yang dijanjikan, kami bertiga berangkat menuju Sukabumi menaiki mobilnya Opik. Kami jalan sekitar pukul 10.45 WIB. Menurut Opik, perjalanan ini akan memakan waktu lebih kurang sekitar dua jam.

Di belakang, gue sudah sangat antusias karena ini adalah kali pertamanya gue ke Sukabumi. Gue sangat antusias dengan perjalanan ini karena yang ada dibenak gue adalah bisa melihat deretan pepohonan hijau, seperti yang gue lihat saat dalam perjalanan ke Villa yang kami sewa di Puncak saat libur tahun 2019 kemarin.

Setibanya di Sukabumi, keinginan gue untuk bisa melihat pepohonan hijau terkabul. Lumayan untuk menyegarkan mata setelah sekian bulan hanya melihat langit dan dinding kamar.

Kami tiba di rumahnya Aldo tepat setelah acara selesai. Kami langsung disambut oleh tuan rumah dan dipersilakan masuk untuk istirahat dan makan. “Lu nggak boleh makan ini (kambing), Ja. Ini saudara lu” guyon Aldo ketika gue sedang unboxing nasi kotak yang dia sodorkan beberapa menit yang lalu.

Gue yang baru menuang Gulai Kambing ke wadah makan langsung menatap Aldo dan mengeluarkan sepatah kata, “Tai.” Sebagai informasi, selain “Oppa Korea”, gue juga punya satu julukan lagi, yaitu Kambing. Julukan “kambing” itu sudah melekat ke gue sejak semester pertama.

Mereka memberi gue julukan itu persis setelah mengetahui bahwa gue menulis blog. Julukan tersebut mungkin terinspirasi dari Raditya Dika yang dulunya memiliki blog dengan nama Kambing Jantan. Mungkin, mereka ingin menyamakan gue dengan Raditya Dika. Bedanya, gue adalah versi low budgetnya si Radit.

Bulan Desember! Ini adalah bulan yang nggak akan pernah gue lupakan. Pada bulan desember kemarin, gue berhasil masak gulai ayam! “Akhirnya! Nggak makan yang goreng-goreng lagi,” pikir gue setelah puas dengan gulai ayam yang gue masak.

Bulan Desember 2020! Ini adalah bulan yang nggak akan pernah gue lupakan. Di bulan desember gue berhasil mencetak sejarah baru dalam hidup gue. Salah satunya adalah gue berhasil masak gulai ayam! Bukan sembarang gulai, kali ini rasa gulainya sama persis dengan masakan nyokap!

“Akhirnya! Nggak makan yang goreng-goreng lagi,” pikir gue setelah mencicipi gulai ayam yang baru selesai dimasak. Sebetulnya, ini bukan kali pertamanya gue bikin gulai ayam.

Pertama kalinya gue mencoba masak Gulai Ayam itu sekitar bulan Oktober kemarin. Apakah berhasil? Ya, berhasil. Ayamnya matang dengan sempurna. Tapi bicara rasa dan aroma, gue tidak menganggap masakan gue kala itu sebagai gulai ayam karena rasanya berbeda dari gulai ayam yang pernah gue makan.

Pencapaian gue tidak hanya berhenti sampai di situ. Di bulan yang sama, gue juga berhasil masak gulai udang dan gulai cumi. Lagi-lagi rasanya mirip masakan nyokap. Itu adalah pencapaian terbesar gue dalam bidang memasak dan butuh beberapa kali percobaan untuk gue bisa mendapatkan rasa yang sama.

Selain memasak, di bulan desember gue belajar skill baru: ngulek. Selama ini gue menganggap ngulek bumbu itu gampang karena tinggal menokok bumbunya pakai ulekan. Ternyata, ngulek itu enggak bisa sembarangan. Ngulek itu butuh skill dan juga teknik.

Yang membuat gue tertarik untuk belajar ngulek adalah gue pengin belajar bikin sambel sendiri. Selama ini gue selalu merasa kurang puas dengan cabai giling yang gue beli di penjual sayur sebab cabainya kurang pedas. Karena itu, gue pun berinisiatif untuk bikin sambel versi gue sendiri.

Bermodal cobek dan ulekan kayu yang gue beli di Marketplace, gue memulai bikin sambel pertama gue.

“Sue, ternyata ngulek itu susah juga.” Pikir gue. Tangan gue sendiri mulai pegal karena bawangnya nggak mau halus saat diulek. Nyebelin sih, tapi seru!

Setelah bersusah payah ngulek cabai dan bawangnya, tibalah saatnya untuk mencicipi hasilnya! Awalnya gue sempat ragu karena ini adalah sambel pertama gue. Tapi begitu gue cicipi, rasanya enggak semburuk yang gue bayangkan. Rasanya ternyata enak dan pedasnya pas!

Memang, 2020 adalah tahun yang kurang menyenangkan. Tapi, berkat 2020, gue jadi belajar banyak hal. Sekian cerita gue tentang apa yang gue alami di tahun 2020. Gimana dengan 2020 kalian? Tulis di kolom komentar, ya!

Berita sebelumyaMembangun Kebiasaan Baru

Hey, jangan pergi. Kamu perlu baca ini

3 KOMENTAR

  1. OST Gadis Cuaca tuh Radwimps? Haha.

    Jiwa anak kos banget langsung tanya, 200 ribu bertiga? Gue pun pasti begitu. XD

    Kayaknya bisa lolos dari si user ini cukup sulit, ya. Gue beberapa kali lolos wawancara HRD, tapi giliran sampai user malah direkomendasi ke bidang lain. Yang dia bilang lebih cocok sama kepribadian gue. Tapi, ya tetap aja gagal. Enggak ada panggilan lagi buat divisi yang dia maksud. Itu cuma kayak penolakan halus.

    Sempet baca beberapa kali twit lu tentang belajar masak ini. Cukup banyak ya percobaannya. Gue masaknya masih sering ke telur gitu yang lebih murah. Kalau ayam, ya palingan digoreng biasa yang sebelumnya tinggal ungkep dan bumbunya beli. Sama bikin sambal bawang buat pelengkap. Nah, nguleknya ini emang susah, sih. Kadang kepikiran mau bikin sambal ala-ala gepuk atau geprek, tapi takut hasilnya zonk karena sambil biasa aja belum mantep-mantep. Gimana ngulek bumbu yang jenisnya sambal kacang gitu buat gado-gado atau ketoprak, ya?

    Gitu-gitu aja 2020 gue mah. Tak layak diceritakan.

    • Radwimps itu penyanyi/bandnya. Judul ost yang gue dengerin Grand Escape. Lagunya enak, bang!

      Asli! Apalagi gue belum pernah ikut all u can eat, jadi ngiranya itu harga untuk tiga orang XD

      Iya bang, user ini penentunya. Kalau dia nggak ngerasa cocok dengan kita, maka nggak dilanjutin prosesnya alias nggak direkrut.

      Awalnya gue juga gitu. Kepengin masak yang murah dan gampang kayak telur dan sarden kaleng. Tapi karena gue suka coba-coba, akhirnya keterusan sampai sekarang XD Gue juga pengen belajar bikin sambal ala-ala gepuk atau geprek gitu! Tapi karena cabe lagi mahal dan nggak tau jenis kacang dipakai, akhirnya gue nyerah. Mending bikin yang pasti-pasti aja lah~
      Lagipula ngulek sambel biasa aja udah sulit, apalagi ditambah kacang XD

  2. Waah, salut kamu bisa bikin gulai ayam sendiri, dan bisa sama dgn rasa masakan nyokap :D. Aku sendiri msh gagal kalo hrs nyamain Ama masakan mama :D. Dan belajar bikin sambel pula ;).

    Memang yaaa 2020 kmrn itu banyak ksh pelajaran macem2 sih. Dari belajar bertanam, masak, jualan, investasi , dll. Aku yg biasanya traveling trus, jd hrs belajar bahan diri utk stay di rumah. Kalopun traveling, hanya yg domestik dan bisa ditempuh dgn mobil pribadi. Blm berani naik pesawat..

    Ayce di hotel nya seru juga :D. Tapi akupun sudah sama kayak kamu mas. Udh susah makan banyak kalo ayce gitu. Yg ada rugi….

    Makanya skr kalo ayce aku sebisa mungkin cari yg maks 100rb aja. Bukan napa2, kalo yg mahal, akunya udh ga bisa makan bnyak. Mending aku pilih menu ala carte daripada yg ayce :D

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Sebelum kamu pergi, tinggalin komentar dulu, ya!
Setiap komentar yang kamu tinggalkan selalu aku baca dan itu sangat berarti untukku agar terus semangat dalam menulis. Semoga harimu menyenangkan \o/
*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.

582FansSuka
657PengikutMengikuti
923PengikutMengikuti

Belum Gaul Kalau Belum Baca

Kilas Balik 2020

Kilas Balik 2020

Membangun Kebiasaan Baru

Membangun Kebiasaan Baru

Supermarket dan Kuliner

Supermarket dan Kuliner

Sakit Bikin Parno

Sakit Bikin Parno

Belajar Masak di Kos

Belajar Masak di Kos