Rabu, 28 Oktober 2020
Home Curhat Libur Tidak Sesuai Rencana

Libur Tidak Sesuai Rencana

on

Hal paling menyenangkan menjadi mahasiswa tingkat akhir ialah saat berhasil menyelesaikan semua urusan akademis. Dalam hal ini ialah skripsi dan segala persyaratannya. “Jadi ini aroma kebebasan,” kata gue setelah menerima surat tanda telah diterimanya hard cover skripsi yang dikirim ke email. Perjuangan gue selama beberapa bulan terakhir akhirnya selesai sampai di sini.

Hal lainnya yang membuat gue senang adalah gue berhasil menyelesaikan magang dengan baik. Hal ini tergambar dari nilai yang diberikan oleh supervisor gue di tempat magang, yang memberikan nilai sempurna. Hal serupa juga dilakukan oleh dosen pembimbing magang gue. Beliau juga memberikan nilai sempurna untuk tugas bulanan dan laporan magang yang sudah gue susun sesuai dengan tugas yang gue kerjakan selama magang.

Buat yang belum tau, gue menjalani program magang di Bank Mandiri selama setahun lebih dan ditempatkan di divisi IT. Berdasarkan perhitungan hari di kalender rasanya memang lama. Tapi karena gue menjalaninya sepenuh hati, waktu seperti berjalan beberapa bulan saja dan tahu-tahu gue udah dipenghujung masa bakti sebagai anak magang.

Karena lingkungan kerja yang sangat suportif, selama magang, gue mendapat cukup banyak kesempatan untuk mengembangkan diri. Selain mengembangkan diri, di sini, gue juga mendapat banyak pengalaman, wawasan, dan tentunya teman baru. Baik sesama teman magang mau pun karyawan. Puncaknya adalah ketika gue diberi mandat untuk mengerjakan project lintas divisi.

Sebagai apresiasi terhadap pencapaian tersebut, gue segera memesan tiket liburan. Ya, gue layak mendapat liburan karena gue berhasil melewati hari-hari panjang dan melelahkan selama beberapa bulan terakhir. Dimana fokus gue tidak hanya pada pekerjaan kantor, tapi juga skripsi.

Libur memang menyenangkan dan hampir semua orang menantikannya. Tapi, pernah enggak, libur yang sudah kalian rencanakan dari jauh hari menjadi tidak terkendali karena suatu hal? Ini lah cerita tentang libur tidak sesuai rencana yang gue alami. Begini ceritanya…

Setelah memesan tiket gue segera mengabari keluarga di rumah bahwa esok gue akan pulang.

Ada dua hal yang gue inginkan selama liburan. Pertama menyantap beberapa makanan kesukaan. Baik yang ada di rumah, mau pun yang dijual oleh pedagang. Salah satu dari makanan tersebut ialah gulai ayam. Gulai ayam kan banyak di rumah makan? Iya, tapi kan enggak bisa makan sampai puas tanpa perlu khawatir soal biaya!

Kedua, mengistirahatkan kan paru-paru. Salah satunya dengan cara lari pagi di pantai atau menghirup udara pagi yang masih segar tanpa melakukan olahraga. Alasan gue ingin istirahatkan paru-paru ialah karena gue cukup sering kena asap rokok ketika nongkrong atau main sama teman.

Gue percaya, dengan berlibur selama beberapa minggu dapat mengisi kembali energi yang sudah terkuras akibat aktivitas yang padat. Gue juga percaya, selesai liburan, gue lebih siap untuk memulai lembaran baru sebagai fresh graduate: mencari kerja!

Selesai mengabari orang rumah, malamnya gue lekas menyiapkan barang-barang yang akan dibawa karena gue harus berangkat ke bandara esok subuh. Gue memang sengaja mengambil penerbangan pagi karena selama ini gue selalu mengambil penerbangan siang atau sore. Selain itu, alasan gue mengambil penerbangan pagi ialah supaya gue bisa berhemat karena enggak perlu ngeluarin uang untuk beli sarapan sama makan siang. Kan, bisa makan di rumah hehe.

Dari kos gue memesan ojek online dengan tujuan Mall Taman Anggrek karena di sana ada bus khusus tujuan Bandara Soekarno Hatta. Berhubung gue datang lebih awal, gue bersama penumpang lainnya harus menunggu karena busnya baru akan berangkat tepat jam 5 pagi. Biayanya sendiri terbilang murah karena hanya mematok sebesar 30ribu untuk satu kali perjalanan. Lagi-lagi bisa hemat karena kalau pake taksi online ke bandara, tarifnya bisa 100ribu. Belum termasuk biaya tol.

Setelah 1 jam perjalanan udara, akhirnya gue tiba di kota tujuan. Gue segera mengabari bokap bahwa gue sedang menuju pintu keluar.

Awalnya liburan gue berjalan lancar. Gue bisa main ke pantai (baca: lari pagi), melihat pepohonan rindang, menghirup udara segar setiap pagi. Badan gue juga udah cukup berisi karena banyak makan selama di rumah dan mendapat asupan vitamin yang cukup dari buah-buahan—yang amat jarang gue konsumsi sewaktu di Jakarta.

Namun, liburan yang sudah gue niatkan hanya 3 minggu tersebut terpaksa diperpanjang karena Jakarta dalam kondisi darurat.

Sebenarnya gue bisa aja pulang ke Jakarta sesuai tanggal yang tertera di tiket. Tapi dengan kondisi di mana orang-orang harus Working From Home dan maraknya PHK, membuat gue berpikir ulang. Jika gue tetap nekat, sudah pasti gue sulit mendapat pekerjaan karena setiap perusahaan menunda rekrutmen karyawan. Sementara itu biaya hidup dan uang kos terus berjalan.

Atas pertimbangan tersebut, gue terpaksa mereschedule tiket pulang karena terlalu berisiko.

Untungnya gue terjebak di kampung sendiri. Di mana gue tinggal bersama keluarga lengkap dan enggak perlu khawatir soal makan. Coba waktu itu gue sok ide pengin liburan ke kota lain. Sudahlah terjebak, biaya hidup dan sewa hotel juga harus dibayar. Belum lagi harus bayar uang kos juga.

Sambil menunggu status bencananya reda, gue melakukan beberapa kegiatan biar enggak stress selama di rumah. Salah satu kegiatan yang gue lakukan yaitu belajar skill baru lewat beberapa situs yang menyediakan materi secara gratis. Kegiatan lainnya yang gue lakukan selama di rumah dapat dibaca melalui tulisan sebelumnya di sini.

Berhubung udah 4 bulan terjebak di rumah, gue jadi khawatir dengan keadaan kos. Ketika gue meninggalkan kos, gue sama sekali enggak mematikan saklar karena gue pikir libur cuma 3 minggu dan enggak perlu sampai mematikan saklar karena cuma sebentar. Yang penting lampu kos dimatikan dan semua colokan listrik dicabut kecuali exhaust fan.

Dengan kos yang sudah ditinggalkan selama 4 bulan, gue khawatir dengan barang-barang yang ada di dalamnya. Khususnya buku dan makanan. Alasan gue khawatir dengan buku adalah karena dulu kos gue pernah diserang rayap. Saat itu yang menjadi korban dari serangan pasukan rayap adalah kotak laptop gue. Ya, kalian ngga salah baca kok. Yang diserang adalah kotak laptop.

Selama ini gue pikir rayap hanya memakan kayu saja. Tapi sejak kejadian itu, gue jadi sadar bahwa rayap tidak hanya menyerang kayu, tapi juga bahan yang terbuat dari kertas. Contohnya, ya, kotak atau kardus laptop. Karena pengalaman buruk tersebut, rasanya gue pengin cepat-cepat pulang ke Jakarta dan mengecek kondisi barang-barang yang ada di kos.

Selain kos, gue juga khawatir dengan wisuda. Sebenarnya tahun ini kampus mengadakan 4 kali acara wisuda yang terbagi menjadi bulan mei, juli, september dan desember. Berhubung gue mengambil skripsi pada semester ganjil alias semester tujuh, artinya gue masuk kelompok wisuda bulan mei dan paling lambat bulan juli.

Berhubung mei kemarin Jakarta sedang dalam masa PSBB, maka acara wisuda terpaksa ditunda sampai ada informasi lebih lanjut dari kampus. Gue bersyukur acaranya ditunda sebab terlalu berisiko melaksanakan acara wisuda saat masa pandemi. Gue juga bersyukur dan mengapresiasi tindakan yang diambil oleh kampus yaitu mengratiskan biaya wisuda saat ekonomi sedang tidak baik. Melalui keputusan tersebut, seenggaknya gue bisa tenang karena enggak mikirin biaya wisuda lagi.

Kalau kampus sudah menunda dan menggratiskan biaya wisuda, trus apa yang gue khawatirkan? Yang gue takutkan adalah wisudanya ditunda sampai berakhirnya pandemi. Kan, bisa wisuda online kayak kampus-kampus lainnya? Gue juga berpikir demikian, wisudanya bisa aja dibikin online sebab kampus lain banyak yang sudah melakukannya.

Tapi masalahnya, saat yang lain mengadakan wisuda online, sementara itu kampus gue sendiri masih belum ada kabar mengenai wisuda. Bahkan di website khusus mahasiswa, status dan tempatnya To Be Announce atau menunggu informasi. Yah, semoga dalam waktu dekat ada pengumuman resmi terkait wisuda, supaya gue dan teman-teman enggak bertanya-tanya lagi.

Berhubung wisudanya ditunda, gue kembali mengajukan reschedule tiket untuk yang kedua kalinya. Saat reschedule kedua, gue memilih 10 Juni sebagai tanggal untuk pulang ke Jakarta. Saat gue mengajukan reschedule, sudah ada wacana soal “new normal” dan beberapa perusahaan sudah mulai membuka lowongan sehingga gue cukup yakin untuk pulang tanggal 10 nanti.

Memasuki minggu pertama bulan juni, gue mulai ragu dan menimbang kembali keputusan untuk pulang. Jakarta memang sudah mulai masuk masa transisi dan orang-orang sudah dibolehkan untuk berkegiatan seperti biasanya. Tapi setelah gue pikir lagi, sepertinya gue harus membatalkan niat gue untuk pulang.

Jika bulan sebelumnya gue enggak bisa pulang karena status Jakarta yang sedang darurat, kali ini yang jadi pikiran gue adalah SIKM. Ya, kali ini gue terbentur oleh SIKM. Menurut informasi yang beredar, untuk dapat memasuki Jakarta setiap orang harus mengantongi SIKM alias Surat Izin Keluar Masuk beserta hasil test kesehatan.

Sebetulnya gue sangat ingin kembali ke Jakarta dan mengurus surat tersebut. Hanya saja, gue terkendala oleh salah satu persyaratannya, yaitu memiliki surat keterangan dari kelurahan di Jakarta. Misalnya, gue ngekos di Kebayoran Lama, gue harus punya surat dari lurah Kebayoran Lama sebagai syarat untuk pengajuan SIKM.

Sebagai pendatang, gue jarang banget berurusan dengan orang di kantor kelurahan. Terakhir kali gue pergi ke kantor lurah, karena mengurus hak pilih pada pemilu tahun lalu. Setelahnya, gue enggak pernah lagi ke sana.

Karena gue baru satu kali ke kantor lurah, gue sama sekali enggak punya kontak orang yang bekerja di kelurahan tempat gue ngekos. Sebenarnya gue bisa minta tolong sama sepupu, kebetulan rumahnya masih satu kelurahan dengan tempat gue ngekos. Tapi gue enggak mau merepotkan sepupu gue itu karena dia sibuk bekerja dan mengurus keluarga. Sehingga gue pikir sebaiknya menunda kepulangan daripada merepotkan dia untuk kepetingan gue sendiri. Lagipula di sini gue tinggal bareng keluarga.

Yang jadi masalah adalah biaya kos yang harus dibayar setiap bulan. Untung ibu kos ngasih keringanan berupa diskon sebesar 50% beberapa bulan sebelumnya. Berkat kebijakan tersebut setiap penghuni kos hanya perlu membayar setengahnya saja. Gue senang dan menyambut baik sikap ibu kos karena melalui kebijakan tersebut beban sewanya jadi ringan.

Namun, karena sudah masuk masa transisi dan setiap orang sudah masuk kantor seperti biasa, kebijakan tersebut ditarik kembali sehingga tarif kos kembali seperti biasanya, terhitung mulai bulan Juni kemarin.

Dampak dari kembalinya tarif kos seperti semula, di rumah, gue jadi bulan-bulanannya nyokap. Kena omel karena uang kos terus dibayar padahal enggak ditempati. Kesel? Pasti. Tapi mau gimana lagi, mau pulang ke Jakarta juga enggak bisa tanpa adanya SIKM. Memohon ke ibu kos pun sudah gue lakukan, dan hasilnya enggak bisa karena bukan cuma gue sendiri yang mengalaminya, melainkan hampir semuanya.

Ah, gue pusing memikirkannya. Sudah liburnya enggak sesuai rencana, wisuda ditunda sampai adanya informasi lebih lanjut dari kampus, enggak kerja, uang kos dibayar penuh, eh di rumah kena omel nyokap!

Kalau kalian ada di posisi gue, apa yang akan kalian lakukan?

Reza Andrianhttp://rezaandrian.com
Bloger and Full Time Technical Writer.

Related Articles

6 KOMENTAR

  1. Sbnrnya aku rada bingung Ama aturan sikm ini mas. Masalahnya, ini asistenku dan asisten tetanggaku, udah 2x bolak balik pulang ke kampungnya di Purwokerto, dan aman2 aja balik ke JKT tanpa dimintain surat apapun. Nth Krn lwt darat makanya ga ketat yaaa. Dunno laah.

    Awal2 aku udh kuatir dia bakal kena cegat di tengah jalan Krn masalah dokumen. Tp ternyata g ada masalah apa2. Yg pertama pulang pas lebaran, dan balik sekitar awal Juni. Trus sempet pulang LG, tp cuma sebentar. Makanya sikm ini bnran di cek ato ga?

    Aku ngeliatnya seperti udh longgar ya aturannya. Sedih sih sbnrnya, Krn kok kayaknya orang2 ga peduli Ama pandemi ini. Aku sendiri pengeeeen banget semua nya normal LG,Krn kondisi begini juga ngaruh ke aku yg skr ga bisa jalan2, udh angusin tiket ke Iran utk sept, belum lagi Trip dalam kota.
    .
    tapi mau gimana, demi bisa normal rela deh ngikutin semua aturan.

  2. saya pernah ngalami keadaan harus bayar kosan padahal gaditempati selama 2 bulan. dan akhirnya memutuskan untuk nggak kos di situ lagi alias menetap di perantauan baru. bedanya, sang bapak kos punya kunci cadangan. jadi barang saya dikeluarin ama dia dan ditaro digudang, dan kamarnya disewakan ke orang lain lagi. xD selama di gudang itu tetap kena charge juga rupanya.

    saya nggak tahu SIKM masih diperlukan atau nggak saat ini, tapi teman saya ada yang bisa masuk jkt tanpa surat itu. dia ada bawa surat rapid test tapi, tesnya dilakukan oleh pihak penerbangan sehari sebelumnya di tempat yg ditentukan.

    kalo emang udah memberatkan, mending kuncinya dikirim aja, za. minta bantu pindahin ke sepupu. anggap aja uang kosan bulan ini buat bayar dia dan biaya angkutnya. namun keputusan baiknya gimana tetap di kamu, sih. soalny paling tahu kondisi yg dihadapi. xD

  3. Waduh.. Pusing juga ya mas, wisuda, uang kos, SIKM dan bla-bla lainnya. Masalah paket lengkap.
    Walaupun bilangnya udah new normal life tapi banyak banget peraturan yang harus dipatuhi kalau mau pergi ke kota lain. Jumlah positif covid pun juga makin banyak, peraturan makin ketat. Kalau udah gini cuma bisa berdoa semoga si covid lekas pamit biar semua kembali seperti semula
    Amin…

  4. Kalau gue di posisi lu sih gue akan mempertanyakan kenapa nyokap marah-marah soal kosan padahal dia sendiri tau keadaannya seperti apa. Kan kalau lu maksa balik dan terjadi hal yang tidak diinginkan, bakal lebih ribet urusannya.

    Btw, soal rayap itu, kan kardus itu bahan bakunya adalah pohon ya makanya kemakan sama rayap. Jadi sama kayak buku dan benda-benda lain yang bahan bakunya kayu/pohon ya pasti dimakan sih sama mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/
*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.

Bloger and Full Time Technical Writer.
597FansSuka
651PengikutMengikuti
927PengikutMengikuti

MUST READ