Rabu, 28 Oktober 2020
Home Curhat Membersihkan Kamar Kos

Membersihkan Kamar Kos

on

Kapan terakhir kamu membersihkan kamar kos atau kamar tidur sendiri? Kalau gue, terakhir kali membersihkan kamar kos itu tanggal 25 Februari kemarin alias satu minggu sebelum gue pulang ke kampung.

Mungkin yang muncul dipikiran kamu begini, “Udah lama banget, tuh. Pasti repot banget bersihkannya” atau, “Jorok banget sih, masa udah berbulan-bulan enggak disapu!”

Eits, tenang dulu. Sebelum berasumsi yang tidak-tidak, izinkan gue bercerita sampai selesai. Dalam postingan kali ini gue ingin membagikan pengalaman gue saat membersihkan kamar kos yang sudah berbulan-bulan tidak berpenghuni. Hmm, kira-kira ada apa saja ya di kamar gue? Begini ceritanya…

Cerita ini bermula ketika gue berhasil mendapatkan tiket untuk pulang kampung sebagai reward atas keberhasilan gue menyelesaikan tugas akhir mahasiswa yaitu skripsi. Saat itu gue sama sekali tidak kepikiran untuk membersihkan kos karena kamarnya baru saja gue bersihkan tiga hari yang lalu, tepatnya tanggal 26 Februari.

Karena sudah dibersihkan beberapa hari yang lalu, gue pikir kamarnya bisa dibersihkan nanti sepulangnya gue dari kampung. Lagipula, liburannya cuma 3 minggu, kok. Untuk memastikan gue tidak melakukan extend atau memperpanjang liburan, gue sama sekali tidak mematikan saklar listrik saat meninggalkan kos dan sengaja memesan tiket untuk perjalanan pulang-pergi.

Sebagaimana yang telah gue ceritakan di postingan sebelum ini, gue sempat tidak bisa kembali ke Jakarta karena sedang ada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Untuk masuk ke Jakarta, setiap orang diwajibkan untuk membawa Surat Izin Keluar Masuk (SIKM).

Menurut berita yang gue baca juga, bagi yang tidak punya surat izin dan tetap paksa masuk Jakarta, maka akan langsung disuruh putar balik arah kendaraan. Ada juga yang diasingkan/dikarantina dulu di tempat yang sudah disediakan oleh pemerintah. Gue tidak tahu bagaimana di lapangan, tapi yang gue baca di media memang seperti itu.

Karena gue tidak bisa memenuhi salah satu prasyarat, dengan perat hati gue harus menunda untuk kembali ke Jakarta atau dengan kata lain extend. Akibat dari tidak bisa kembali ke Jakarta, tentu saja kamar kos gue jadi tidak terurus. Selain itu masalahnya saklar listrik kamar gue dalam posisi masih menyala.

Untungnya gue sudah mencabut semua kabel yang tidak terpakai dan menyisihkan satu peralatan dalam keadaan menyala seperti Exhaust Fan yang difungsikan untuk mengeluarkan debu dan udara kotor yang ada di dalam ruangan.

Gue segera menghubungi Mbak Siti yang kebetulan bertugas di kos. “Siang Mbak Siti, ini Reza yang di lantai 2. Bisa tolong matiin saklar untuk kamar saya, Mbak? Sepertinya saya belum bisa pulang ke Jakarta.” Ketik gue.

“Siang, mas. Oh, iya nanti tak matiin, mas.”

“Terima kasih mbak.” tutup gue.

Urusan saklar sudah aman. Sekarang tinggal urusan kamar yang harus gue pikirkan. Sebetulnya gue ingin minta tolong Mbak Siti untuk mengecek keadaan kamar gue. Tapi, masalahnya kunci kamar ada di gue dan pintunya dalam keadaan digembok saat gue tinggal pergi.

Ketakutan terbesar gue saat meninggalkan kamar kos berbulan-bulan tidak berpenghuni adalah takut dapat serangan dari koloni rayap. Dalam tulisan yang berjudul Libur Tidak Sesuai Rencana gue pernah cerita sedikit (meski tidak lengkap) tentang bagaimana barang pribadi gue bisa habis diserang rayap. Atau kalau kamu penasaran banget, nanti akan gue ceritakan versi lengkapnya.

Kamar Tidak Dihuni Selama Berbulan-bulan
Kamar tidak dihuni selama berbulan-bulan
Sumber gambar: Photo by Wendelin Jacober from Pexels

Selain rayap, yang juga gue takutkan dari kamar kos yang ditinggalkan selama berbulan-bulan adalah tumbuhnya jamur pada barang-barang pribadi gue seperti baju, celana dan seprei.

Lalu awal bulan Agustus kemarin, gue mendapat kesempatan untuk kembali ke Jakarta tanpa perlu mengurus surat izin. Tentu gue tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan seperti ini karena di lain waktu, belum tentu gue bisa dapat kesempatan yang sama.

Akhirnya, tanggal 8 Agustus kemarin, gue berhasil menginjakkan kaki di Jakarta.

Kalau kamu penasaran bagaimana gue bisa kembali ke Jakarta, silakan membaca tulisan gue yang berjudul Pengalaman Terbang di Masa Pandemi. Dalam tulisan tersebut gue sudah menuliskan bagaimana alur dan persyaratan yang harus dilengkapi saat bepergian dengan pesawat selama masa pandemi.

Hal pertama yang gue lakukan ketika memasuki kos yang sudah 5 bulan tidak dihuni tentu saja mengucap salam. Setelah meletakkan barang bawaan, gue langsung menyalakan laptop untuk memutar lantunan ayat pendek dan juga ayat kursi supaya kamar ini jadi lebih adem sedikit.

Lagipula gue sampai di kos bertepatan dengan adzan maghrib. Jadi, gue pikir memutar lantunan ayat pendek jauh lebih baik daripada memutar lagu pop, edm dan sejenisnya.

Setelah istirahat selama sepuluh menit, yang gue lakukan selanjutnya yaitu mengecek kondisi barang sambil berharap ketakutan gue selama beberapa bulan terakhir ini tidak jadi kenyataan. “Syukur semua aman,” batin gue.

Meski aman dari rayap, sepertinya itu tidak berlaku untuk jamur. Saat mengecek kondisi barang yang ada di lemari, gue menemukan ada jamur di jaket dan celana panjang gue. Selain jaket dan celana, gue punya masalah yang jauh lebih besar: SEPREI DAN SARUNG BANTAL GUE JUGA DITUMBUHI JAMUR!

Barang Ditumbuhi Jamur
Barang Ditumbuhi Jamur. Jamurnya enggak segede ini, ya!
Sumber gambar: Photo by Visually Us from Pexels

Mengetahui bahwa sarung bantal dan seprei gue ditumbuhi jamur, mulut gue siap menyebut nama-nama binatang. Habis gimana enggak emosi, nyuci seprei kan repot. Apalagi sepreinya jamuran. Nyucinya butuh tenaga dua kali lipat!

Karena sudah terjadi, gue hanya melakukan apa yang perlu gue kerjakan saat itu juga: menyapu.

Jujur, membersihkan kamar yang tidak dihuni selama berbulan-bulan itu jauh lebih merepotkan dibanding kamar yang tidak dibersihkan selama sebulan tetapi dihuni. Masalahnya bukan debu, melainkan laba-laba dan sarangnya.

Gue cukup kewalahan ketika menyapu. Setiap kali gue menggeser suatu barang, ada saja laba-laba yang keluar. Mulai dari anak laba-laba sampai laba-laba dewasa. Gue kurang tau jenisnya, yang pasti ukuran badannya enggak besar dan enggak cukup untuk bikin gue bergidik ngeri ketika melihatnya.

Meski sarangnya merepotkan, laba-laba kiranya jauh lebih baik daripada berurusan dengan pasukan rayap.

Selesai menyapu, gue lanjut mencuci piring. Sebenarnya semua alat makan dan minum gue tinggalkan dalam keadaan bersih. Gue mencucinya tepat beberapa jam sebelum berangkat ke bandara.

Kalau sudah bersih kenapa dicuci lagi? Karena alat makan dan minum gue berdebu dan di gelas ada sarang laba-labanya. Karena itulah gue memilih untuk mencucinya lagi. Biar sekalian bersih, gitu.

Selesai mencuci alat makan dan minum, pekerjaan selanjutnya yaitu mengepel lantai. Ya, malam itu juga gue langsung mengepel lantai kamar. Semua pekerjaan itu baru beres tepat pukul 10 malam.

Berhubung gue mengeluarkan banyak keringat, gue memutuskan untuk mandi malam itu juga. Itu adalah kali pertamanya gue mandi lewat dari jam 7 malam. Semoga kondisi tubuh gue enggak terganggu.

“Akhirnya bisa rebahan!” pikir gue setelah mengganti pakaian dan mengeringkan rambut. Setelah merasa cukup bertenaga, gue langsung mengabari keluarga di rumah bahwa gue sudah sampai di kos dengan selamat. “Jam berapa nyampe kos?” tanya nyokap.

“Jam 6, Ma.”

“Kok nggak ngabarin? Tadi adek nelpon abang katanya enggak diangkat.”

“Iya, jadi tadi abang sengaja matiin hape karena lagi bersih-bersih kos.” tutur gue.

Video Call Sama Keluarga
Video call sama keluarga
Sumber gambar: Photo by Julia M Cameron from Pexels

Selesai memberi kabar, gue langsung membokar isi paket yang gue bawa dari kampung. Yang gue incar pertama kali adalah nasi. Setelah mendapatkan tiga bungkus nasi dari dalam kardus, gue memasukkan nasi yang dibungkus daun pisang tersebut ke dalam magic com untuk dipanaskan.

Supaya makannya lebih enak, gue juga memanaskan rendang yang disimpan di dalam bungkus plastik. Setelah memanaskan rendang, gue mengambil satu bungkus nasi dari dalam magic com dan menaruh dua potong daging dan bumbunya di atas nasi yang habis dipanaskan.

Setelah menyelesaikan semua pekerjaan yang melelahkan itu, kini gue merasa cukup puas melihat kondisi kamar yang sudah bersih dan rapih.

Itu dia pengalaman gue saat membersihkan kamar yang tidak dihuni selama berbulan-bulan. Yang pasti rasanya capek banget dan punggung pegel-pegel karena semua dikerjakan sendiri.

Sebagai orang yang pernah merasakannya capeknya membersihkan kos yang ditinggalkan selama berbulan-bulan, kalau kamu terpaksa meninggalkan kos karena sistem belajar atau kuliahnya secara daring, ketika pulang nanti, gue sangat menyarankan kamu untuk menggunakan jasa bersih-bersih rumah atau ruangan atau mencicil pekerjaan supaya ringan.

Lebih bagus lagi kalau kamu dan teman satu kos bekerja sama untuk saling membantu membersihkan kamar.

Kalau kamu punya pengalaman serupa atau punya tips untuk membasmi rayap dan laba-laba tolong tulis di kolom komentar, ya!

Reza Andrianhttp://rezaandrian.com
Bloger and Full Time Technical Writer.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/
*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.

Bloger and Full Time Technical Writer.
597FansSuka
651PengikutMengikuti
927PengikutMengikuti

MUST READ