Home Curhat September dan Curhatan Semester Ganjil

September dan Curhatan Semester Ganjil

on

Agustus kemarin mungkin menjadi bulan yang tak akan bisa gue lupakan. Selain menjadi penanda dari berakhirnya semester genap, Agustus juga berhasil membuat gue babak belur dan berdarah-darah. Berbagai macam rasa campur aduk jadi satu di bulan Agustus; manis, asam, asin, pahit. Dan ketika berhasil melewatinya, gue merasa bahwa hari berlalu dengan begitu cepat.

Gue senang akhirnya sudah masuk bulan September. Karenanya pada kesempatan ini gue ingin bercerita tentang September dan curhatan semester ganjil. September bagi gue adalah awal baru karena berganti semester. Genap menjadi ganjil dan sekarang gue duduk di semester 7. Sebagaimana mestinya semester ganjil, akan ada banyak orang-orang atau wajah baru yang bergabung. Begitu pun divisi tempat gue sekarang mengabdi, di mana kami punya 3 orang teman baru.

Kebetulan masih satu universitas bahkan satu jurusan. 1 orang dari Kampus Kemanggisan, 2 orang dari Kampus Alam Sutera. Sebagaimana mestinya baru pertama bertemu, kami saling berkenalan satu sama lain. Jauh sebelum itu, gue sudah diberutahu oleh supervisor bahwa mereka bertiga akan menempat posisi yang sama dengan gue, yaitu Technical Writer.

Sebagaimana mestinya seorang senior, gue mulai memperkenalkan mereka dengan pekerjaan yang akan dilakukan nanti. Dimulai dengan memperlihatkan hasil pekerjaan yang pernah dibuat sebelumnya lalu menjelaskan masing-masing bagian.

Mengajari Technical Writer yang baru bergabung
Mengajari Technical Writer yang baru bergabung
sumber gambar: pixabay.com

Sebenarnya gue sedikit gugup karena enggak terbiasa mengajar. Tapi gue mencoba untuk bersikap profesional dan menutupi kegugupan tersebut dengan mengganti metodenya menjadi semacam diskusi atau ngobrol ringan bersama teman main. Sesudah diskusi tersebut, mereka dibiarkan untuk belajar sendiri menggunakan komputer yang ada.

Sementera mereka belajar, kesempatan tersebut digunakan untuk memperbarui timeline yang pernah dibuat sebelumnya dengan menambah nama-nama yang baru bergabung. Selain memasukan tiga nama ke dalam timeline, list proyeknya pun harus disusun kembali, menyesuaikan dengan situasi yang ada di perusahaan sekarang ini.

Hari itu juga, tepatnya senin tanggal 2 September kemarin, gue bersama supervisor mulai merancang timeline baru. Proses perancangan dimulai dengan mendiskusikan proyek yang sudah dikerjakan pada periode sebelumnya lalu mengupdate status dari masing-masing proyek. Setelah mengupdate status masing-masing proyek, berikutnya yang dilakukan adalah “potong kue” agar masing-masing memiliki jumlah yang sama banyak. Berhubung ada 3 anak, gue dan Aldo harus membagi sebagian proyek kepada mereka.

Dalam proses ini Aldo lah yang banyak menghibahkan proyeknya. Karena proyek yang dia hibahkan tersebut kebetulan belum dilaunching alias aplikasinya sedang dalam tahap pembangunan. Sementara itu gue hanya kehilangan satu buah proyek.

Sebenarnya gue bisa saja membagi satu proyek lagi, namun gue enggak tega kalau salah satu dari mereka kewalahan menghandle proyek tersebut dikarenakan waktu yang mereka miliki cuma sebentar yaitu 5 bulan. Selain waktunya yang enggak cukup, proyek tersebut merupakan proyek lintas divisi yang artinya si pemegang proyek harus sering bertamu ke divisi lain. Sebagai orang yang terbiasa menangani proyek lintas divisi, tentu gue bisa memahami betapa beratnya hal tersebut dan gue enggak mau hal tersebut mereka rasakan di waktu yang hanya sebentar ini.

Selepas menentukan proyek yang akan dipegang oleh mereka nanti, step terakhir ialah menghitung estimasi waktu dan mengurutkan proyek yang akan dikerjakan oleh mereka bertiga. Caranya bagaimana? Yaitu berdasarkan tingkat kesulitan suatu aplikasi.

Untuk tingkat kesulitan suatu proyek sendiri bisa diukur dengan cara menghitung jumlah modul yang ada pada aplikasi. Untuk menghitung estimasi waktu yang dibutuhkan dalam penyelesaian suatu proyek itu sendiri, gue menggunakan pendapat yang berlandaskan pengalaman gue sejauh ini yang sering terlibat di banyak proyek. Mulai dari proyek yang gampang sampai dengan proyek yang susah.

Ditengah-tengah perancangan timeline gue teringat pesan kepala divisi. Beliau pernah berpesan seperti ini, “Feel free untuk belajar apapun selama di sini. Lu mau belajar pemrograman, boleh. Lu mau belajar database, boleh. Tinggal sebut apa yang lu mau, nanti yang di sini siap membantu.” Sampai saat ini peasn tersebut masih terngiang-ngiang di kepala gue. Mungkin memang ini saatnya gue untuk mengikuti pesan beliau, yaitu memanfaatkan sisa waktu yang ada untuk belajar hal baru.

Saat itu juga gue pun minta tambah satu proyek lagi sebagai ganti dari proyek yang gue hibahkan. Ganti dari proyek tersebut yaitu belajar pemrograman untuk website. Supervisor menyetujui hal tersebut dan seketika proyek gue bertambah satu yaitu pemrograman.

Belajar Pemrograman
Belajar hal baru yaitu pemrograman web
sumber gambar: pixabay.com

Dan harus gue akui bahwa saat ini gue sudah cukup siap untuk menyambut semester ganjil, atau tepatnya periode ke dua magang. Gue berharap pada semester ini bisa lebih tenang sedikit dibanding semester kemarin. Gue menyadari bahwa hal tersebut akan sulit terjadi karena pada semester ini pula gue sudah mulai harus menyusun skripsi. Ya, di semester 7 ini gue sudah mulai mengambil skripsi dan hal tersebut sudah pernah gue bahas di pada postingan sebelumnya.

Mungkin semester ini gue akan sedikit kewalahan dalam membagi waktu. Namun gue akan berusaha untuk tetap mengupdate blog ini dengan tulisan terbaru yang sebagian besar adalah curhatan-curhatan enggak penting ini hehe. Mohon doanya, teman-teman!

STAY CONNECTED

e-mail: [email protected]

Berita sebelumyaCuti yang Kebablasan
Berita berikutnyaWaktu dan Uang
Reza Andrianhttp://rezaandrian.com
Bloger and Full Time Technical Writer.

Related Articles

9 KOMENTAR

    • Hahaha penginnya gitu, tapi takut kepanjangan. Mungkin akan gue ceritain di lain waktu soal itu.
      Sejujurnya, iya. Mau fokus di Technical Writer kayaknya enggak memungkinkan karena Technical Writernya aja udah 5 orang (termasuk gue). Mau enggak mau harus ada yang mengalah, yaitu gue. Tapi gapapa juga, sih, toh pengalamannya udah banyak banget yang gue dapetin. Dan gue ingin mereka (yang baru gabung) mendapatkan pengalaman yang cukup. :D

  1. Reza A N Drian, Technicak Witer Idaman
    Fuck, Percintaan. Sripsi’s still number wan.

    Walo dibilang gak penting, tapi curhatan semacam ini banyak memberi motivasi orang2 buat nyari tau hal baru. (Saya awalnya gak tau apa itu teknikal writer, tapi abis disinggung di sini, sepertinya itu bidang yang manarik, jadi pengin nyoba). pengin dapet kepala divisi yang baik sih yg lebih dipenginin. xD

  2. Gokil juga dari menulis malah pindah ke pemrograman Haha. Tapi lu kayaknya emang ada basic buat belajar program, Za. Kalau gue sih jelas keberatan. Udah sempet maksain belajar yang baru sebatas blog aja malah pusing dan mual. Jadi mau semaksimal apa pun gue pelajari, kalau potensinya bukan di situ sepertinya bakal pas-pasan doang.

    Yosh, semoga lancar proyeknya, Za. Sesama bloger kan harus saling support~

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/
*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.

Bloger and Full Time Technical Writer.
611FansSuka
653PengikutMengikuti
941PengikutMengikuti

MUST READ