Tunggu dulu. Masih ada hal yang mau gue ceritain soal libur tahun baru kemarin. Jadi
sepulangnya dari Jogja tanggal 28 Desember kemarin, kami melanjutkan liburan di sekitaran Jabodetabek dan merayakan tahun baruan di Jakarta. Kenapa Jabodetabek? Nah, begini ceritanya.

Sebelum pulang ke Jakarta gue sama nyokap bikin kesepakatan yaitu gue pengin dikenalkan ke keluarga yang ada di Jakarta. Nyokap setuju. Keesokan harinya, nyokap langsung menepati janji. Setelah pulang dari jalan-jalan, nyokap datang dan mengenalkan gue sama keluarganya. Waktu itu gue lagi mengeringkan rambut dengan handuk. “Bang, kenalin, ini Om Erman.” Kata nyokap.

Lalu gue menyalimi tangan Om Erman. “Siapa namanya?”

“Reza, om.”

“Reza udah berapa lama di sini?”

Gue menghitung dengan bantuan jari. “Udah satu tahun setengah, om.”

“Oh, gitu. Om enggak tahu kalau di sini ada keponakan.”

Gue senyum-senyum malu.

“Main-main dong ke Tanah Abang.” Bujuk Om Erman.

“Iya, om. Nanti deh Reza ke sana.”

Om Erman memberi kartu nama lengkap dengan nomor telepon dan alamat kedai. “Yuk,
mampir dulu ke rumah.” Ajaknya yang langsung gue iyakan. Sementara nyokap dan Om
menunggu di mobil, gue buru-buru memasukan baju ganti, handuk dan sikat gigi ke dalam tas. Lepas berkemas gue nyusul ke depan tempat Om Erman memarkir mobilnya: di gang depan.

Awalnya gue mengira setelah dari tempat gue bakal langsung menuju rumah. Ternyata dugaan gue salah karena Om Erman ngajakin jalan-jalan. “Kita makan dulu, ya,” kata Om Erman begitu melihat plang bertuliskan Rumah Makan Sederhana.

Berhubung udah lama nggak makan Soto Padang (yea, terakhir kali gue makan soto padang itu sekitar lima tahun lalu), di restoran tersebut gue memesan soto padang sebagai santapan malam. Lalu dilanjutkan dengan melahap hidangan yang ada di atas meja karena ternyata sotonya kurang mengenyangkan. Selepas makan kami melanjutkan perjalanan dan sampai di rumah tepat pukul satu malam.

Rencananya hari itu kami akan mengunjungi rumah keluarga yang ada di Bekasi. Tapi sebelum sempat ke Bekasi, kami mampir dulu ke Tangerang karena ada yang mau dikunjungi. Selepas dari Tangerang, barulah kami berangkat menuju Bekasi. Untungnya saat itu masih suasana libur. Jalanan Jakarta cenderung ramai dan lancar.

Kami tiba di Bekasi tepat pukul tujuh lebih sedikit. Gue menyalami tangan om dan tante, juga saudara yang usianya lebih tua dan lebih muda. Hingga kunjungan harus disudahi karena sudah terlampau malam. Kami pamit dan kembali ke Jakarta malam itu juga.
Sesampainya di rumah gue lihat Om Erman duduk sendirian di balkon lantai dua rumahnya.
Gue mendekat. “Reza belum tidur?”

“Belum, om. Reza biasanya tidur di atas jam 2.”

“Kok gitu?” tanyanya.

“Udah jadi kebiasaan, om.” jawab gue.

“Oh, tugas kuliah, ya?”

Gue menyesap kopi dari gelas. “Bisa dibilang begitu, om.”

“Sama. Om dulu waktu kuliah suka begadang karena tugas.”

“Om dulu kuliah di mana?” tanya gue dengan nada antusias.

Om Erman mulai berkisah. “Awalnya om kuliah di kampung—Padang. Terus Om pindah ke Jakarta karena merasa kurang cocok kuliah di Padang.”

Gue meletakkan gelas berisi kopi di lantai. Lalu dengan anteng menyimak cerita tentang masa lalu Om Erman. “Sebelum di Jakarta, Om kuliah di Bekasi. Ngekos sama si Roni. Reza
manggilnya apa?” tanyanya.

“Om Roni.”

“Nah, iya. Dulu waktu om kuliah di Bekasi, Om tinggal satu kos sama Om Roni. Zaman om
kuliah dulu itu beda banget sama sekarang.”

“Teknologinya ya, Om?” gue memotong.

“Salah satunya itu.”

Gue mangut-mangut.

“Trus Om pindah ke Jakarta. Sekarang udah wisuda.” Gue makin penasaran karena Om Erman suka pindah-pindah kampus. Lalu terlintas satu pertanyaan di kepala gue. “Di Jakarta, om kuliah di mana?”

“UTA.”

“UTA? Nggak pernah denger.” Gue berpikir keras. Tentang kepanjangan nama universitas
tempat Om Erman menimba ilmu. Gue bisa paham kalau Om Erman nyebutnya UT. Tapi
persoalannya Om Erman bukan nyebut UT, melainkan UTA. Karena udah mentok, akhirnya gue menyerah dan bertanya. “Emang UTA apa, om? Trus Om ambil jurusan apa di sana?”

“Universitas Tanah Abang. Jurusan Clothing Business.”

“…” Gue diam. Berusaha mencerna maksud perkataan Om Erman. Senyap menghampiri. Kami berdua tertawa keras di balkon. Untungnya waktu itu malam minggu. Bapak-bapak hingga anak remaja masih banyak yang berkeliaran di luar rumah. Aman. Nggak ada tetangga yang marah apalagi protes. Tiba-tiba nyokap datang. Tersenyum melihat gue dan Om Erman. Gue tau apa yang nyokap pikirkan. Nyokap tersenyum melihat om dan keponakan cepat akur. Begitulah nyokap. Suka menganggap kalau anaknya susah bergaul dengan saudara.

Lalu begitulah. Hari dan tanggal berganti. Tiba lah di penghujung tahun 2017.

Siang tanggal 31 Desember Om Erman ngajakin gue keluar. Katanya mau mancing di kolam pemancingan. Sayangnya gue lagi nggak enak badan. Gue merasa nggak enak karena Om Erman jadi pergi sendiri. Ah, nggak sendiri juga, sih. Ada temannya yang juga ikut mancing.

Jam delapan malam gue di suruh ke bawah. Acara yang ditunggu-tunggu telah tiba. Pesta
pergantian tahun! Yeay! Kami bakar-bakar di teras rumah yang cukup besar. Ada jagung, ayam, ikan dan udang. Sementara jagungnya sedang di bakar, gue kembali ke kamar untuk mengambil gelas bekas minum lalu membuat kopi. Malam ini bakal jadi malam yang panjang, gue membatin.

“Reza,” Om Joni memanggil.

“Iya om?” tanya gue sambil memegang gelas berisi kopi.

“Tolong gantiin om sebentar, ya.”

“Beres, om.”

Posisi diambil alih. Gue dan Tante Anggi mengipas. Sukses dengan jagung bakar, menu
berikutnya yang akan kami buat adalah ayam bakar. Rencananya mau dibuat pedes. Tapi
sayang, hasilnya malah jadi pedes manis karena kecapnya terlalu banyak. Waktu baru
menunjukkan pukul sepuluh malam dan nampaknya sudah banyak yang keok dan
melonggarkan ikat pinggang.

“Masih mau lanjut?” tanya Om Erman.

“Istirahat dulu, bang,” kata adik iparnya.

Aktivitas bakar-bakar dikurangi. Padahal masih ada dua menu lagi yang akan dibuat. Gue
kembali ke kamar, mengambil handphone yang lagi di charger. Satu pesan masuk dari orang yang gue kenal. Berbunyi, “tahun baruan di mana lo?”

“Tempat saudara, di Tanjung Priok.” Balas gue sekenannya. “Lu?”

Kemudian dia membalas. “Di rumah aja. Bareng saudara.”

Tau-tau gue di panggil ke bawah. Acara bakar-bakar sebentar lagi akan segera dilanjutkan.
Gue bergegas menuruni anak tangga mendengar menu berikutnya adalah ikan! Nggak,
sebetulnya gue nggak begitu tertarik sama ikan. Sama sekali enggak. Gue turut dipanggil ke bawah karena disuruh menghabiskan satu potong ayam bakar. Masih utuh karena enggak ada yang cuil-cuil ayamnya. “Betul nih, Reza boleh habisin?” tanya gue.

“Habisin aja. Selagi ada.”

Sungguh terharu mendengarnya. Belum pernah gue mendengar kalimat seindah itu.
Rezeki enggak boleh ditolak. Gue menghabiskan satu porsi ayam bakar di atas piring. Menu
berikutnya telah matang. Ikan bakar siap di makan. Lagi-lagi gue disuruh mencicipi hidangan yang telah dibuat. Tapi karena gue nggak begitu suka ikan, jadi, gue cuma makan sedikit. “Masih ada udang, nih. Mau lanjut?” tanya Om Erman.

Sedang bakar ikan dan sate.
doc. Pribadi

 

“Lanjut!” jawab kami, kompak.

Untuk udangnya sendiri, kami menggunakan udang tambak. Dikirim langsung dari Surabaya. Jumlahnya cukup banyak; ukurannya lumayan besar sehingga kami membuatnya jadi sate udang. Karena merasa nggak enak udah makan banyak, gue memutuskan untuk bekerja dibagian kipas-mengipas.

Begitu udangnya mateng, semuanya kembali makan. Sate Udang telah habis. Semuanya
mengendurkan ikat pinggang. Setelah cukup kuat untuk berjalan, gue kembali ke lantai atas. Bersiap untuk menikmati momen pergantian tahun.

Lagi-lagi hape gue berdering. Menampilkan nama pengirim serta pesan. Gue membaca
semuanya. Obrolan yang sedikit ngaco dari grup sebelah; percakapan penuh kode dari dia
seperti, “siapa ya yang ngucapin tahun baru ke gue?”

Senyum mengembang saat gue membaca pesan darinya yang berbunyi, “HAPPY NEW YEAR!” tepat pada pukul 00.00 WIB.

Yang langsung gue balas, “Happy new year! Jangan galau-galauan lagi ya di 2018!”
Percakapan jadi penuh doa. Mulai dari yang paling sederhana seperti lancar kuliah, lancar uas, sampai ke yang paling remeh seperti: sama-sama bisa melepas masa lajang di tahun ini.

Suara kembang api mengusir sepi; meramaikan suasana malam pergantian tahun. Langit
tampak meriah dan ramai dengan warna-warni kembang api. Satu hal yang gue belum gue
mengerti. KENAPA DI MALAM TAHUN BARU ADA YANG NYALAIN SUAR? KALIAN TAU SUAR, KAN? KALAU NGGAK TAU, SUAR ITU BIASANYA DI PAKE UNTUK MENANDAKAN TITIK TERTENTU. BIASANYA ADA DI FILM-FILM BERGENRE ADVENTURE. NAH, ITU YANG SAMPAI SEKARANG BIKIN GUE BINGUNG! MAAF GUE JADI SEDIKIT EMOSI.

Ini lho suar yang gue maksud. KOK BISA, GITU?
doc. Pribadi

Anak-anak kecil di depan rumah bermain; merekam momen pergantian tahun dari gawainya masing-masing. Sehabis pesta kembang api. Semuanya kembali ke kamar. Malam kembali sunyi. Mungkin semuanya sudah tidur.

Keesokan harinya kami mengantar om dan tante (adik ipar dari Om Erman) ke Bandara.
Mereka akan pulang ke Surabaya. Sehabis dari Bandara, kami pergi ke rumah Om Erman di
Kebon Jeruk. Tak lama setelah kami tiba di rumah satunya lagi, Om Fauzan datang. Ngajakin ke Bogor. Tawaran tersebut segera di-iya-kan oleh nyokap mengingat hari itu masih suasana libur.

Kami berangkat sekitar pukul 11 siang dari rumahnya Om Erman di Kebon Jeruk. Sampai di
Kota Bogor pukul 2 siang. Ternyata, Om Fauzan bukan ngajakin ke Kota Bogor. Tapi Bogor sananya lagi. Masuk ke dalam. Apesnya lagi, Bogor macet banget. Kami sampai di tujuan sekitar pukul 5 sore.

Pemandangan langit sore di Bogor pukul lima sore.
doc. Pribadi

Gue langsung rebahan di lantai. Capek dan pegal. Perjalan yang kami tempuh cukup Panjang. Selesai bincang-bincang dengan Om Fauzan, gue dapat informasi kalau jam 7 malam kami akan pulang ke Jakarta. Gue enggak bisa berkomentar lagi. Di sini susah sinyalnya susah. Kalau mau bermalam, tempatnya enggak memungkinkan. Mau enggak mau gue mengiktui jalan yang di pilih Om Fauzan. Kembali ke Jakarta malam ini juga.

Kami tiba di Jakarta tepat pukul satu dinihari. Gue langsung tiduran di rumah Om Fauzan. Capek dan pegal jadi kawan tidur malam ini. Esok paginya kami di antar ke Palmerah, tempat gue ngekos. Dan begitulah kisah libur tahun baru gue.

Gue tau kalau ini telat. Udah lewat satu bulan. Tapi, gapapa, lebih baik terlambat daripada enggak ngucapin sama sekali. Selamat tahun baru semuanya! Selamat memasuki 2018!

 

STAY CONNECTED

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail: [email protected]



2 COMMENTS

  1. Soto padang? Baru tau gue ada bgtuan. pankapan pesenn aahh~
    Gpp za, telat. gue aja pgn nyeritain taun baruan blm2 jg. kayaknya ntr deh prtengahan tahun. wkakaa telat bgt anjer! :’D
    UTA.. Pdhal gue udh mikir keras. Eh taunya pdagang di tanah abang.. suek bgt yak, ahaha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.