Bahagia Untuk Hal Sederhana

 

Apakah gue bahagia?

Oke, untuk saat ini mari kita kesampingkan dulu pertanyaan di atas. Pertanyaan itu nantinya akan gue jawab di bagian penutup postingan ini karena gue mau ngejelasin sesuatu ke kalian para pembaca. Bahwa mulai hari ini gue akan rajin ngepost di blog sampai satu minggu ke depan. Sejujurnya gue kurang suka ngepost tiap hari. Tapi yaudahlah, ya, toh nggak ada salahnya keluar dari zona nyaman.

Belakangan ini gue lihat banyak orang-orang yang berhasil keluar dari zona nyamannya. Seperti Agung Hapsah yang mencoba membuat daily vlog. Lalu ada Om Deddy Corbuzier dengan dancenya.

Gara-gara dua tokoh di atas, gue jadi tertarik untuk mencoba sesuatu yang baru. Ya, nggak baru-baru amat, sih, karena dulunya gue juga pernah menerapkan satu postingan sehari. Tepatnya dua tahun yang lalu. Hasilnya? Sangat berantakan. Berantakan banget. Tapi di situ gue berusaha untuk tetap melakukannya dengan sepenuh hati.

Sebetulnya karena tertantang juga, sih. Ya, bisa dibilang gue ikut tantangan tujuh hari menulis. Jadi jangan kaget melihat gue tiap hari ngepost. Harap diingat, gue orangnya nggak serajin itu. Oke?

Ngomongin soal bahagia, tiap-tiap orang punya definisi tersendiri dari kata bahagia ini. Sama seperti cinta, cinta juga banyak jenisnya. Cinta kepada Tuhan, cinta pada kedua orangtua dan cinta pada rel kereta api. Loh?

Bahagia tuh juga banyak jenisnya. Bahagia versi gue, bisa jadi berbeda dengan bahagia versi kalian. Kalau ditanya apa aja yang bisa bikin gue bahagia, dengan santai gue akan menjawabnya ke dalam beberapa point:

  1. Mendengar suara penjual roti keliling di pagi hari

Nggak, gue nggak lagi bercanda. Ini serius. Gue tuh bahagia banget karena masih bisa mendengar suara tukang roti keliling di pagi hari. Aneh bin ajaib. Dengar suara tukang roti keliling di pagi hari aja bisa bikin lo bahagia? Yap, tepat sekali. Seperti yang gue bilang tadi, versi gue, bisa jadi beda dengan versi kalian. Kalau nggak sama, ya, harap maklum.

Tentu ada sebab kenapa gue bisa sebahagia itu mendengar suara penjual roti keliling di pagi hari. Jadi ceritanya gue habis pindahan. Nyokap udah pulang ke Bengkulu. Gue udah tinggal sendiri saat itu. Singkat kata, gue udah jadi anak kost.

Waktu itu pagi sekitar jam 8, suasana cukup hening. Roti… roti… kencana bakery…, kira-kira begitulah bunyinya. Gue bangun lantas tersenyum. Gue inget banget apa yang gue ucapkan saat itu, saat bangun tidur. Alhamdulillah… Ternyata gue masih hidup. Gue mengatakannya dalam keadaan susah bernafas.

Ya, yang gue kurang suka dari kost ini, kamarnya sama sekali nggak ada ventilasi. Satu-satunya jalan masuk udara ke dalam kamar cuma celah-celah di pintu. Saat survey, gue sama sekali nggak kepikiran soal jalur masuk udara. Yang gue pikirin waktu itu yang penting kamarnya ada AC dan suasananya tenang.

Kriteria kost gue masuk dalam dua hal tersebut. Ada AC dan suasanya selalu tenang karena ditempati oleh orang-orang yang sudah berkarir. Bisa dibilang tahu malu gitu, lah. Karena kriterianya memenuhi standar, gue jadi lupa soal jalan masuk udara. Malah, nggak kepikiran sama sekali.

Kembali ke topik awal. Hal itu masih berlaku hingga sekarang. Tiap gue bangun pagi, gue selalu bisa mendengar penjual roti keliling. Gue bahagia untuk bisa mendengar suaranya.

2. Makan Nasi Padang

Mungkin karena dari kecil gue udah terlatih untuk makan masakan padang kali, ya. Jadinya udah kebiasaan gitu. Rasanya tuh ada yang kurang kalau sehari aja nggak makan sesuatu yang pedas dan bersantan.

Ya, di Jawa tuh hampir sebagian besar makanannya serba manis. Sate Padang aja malah ada yang rasanya manis. Apa-apaan ini! Mana ada sate padang rasanya manis gini! Komentar gue pada suapan pertama saat makan sate padang di suatu tempat di Jakarta. Tentu, gue mengumpat dalam hati waktu itu. Nggak enak sama penjualnya.

Pada suatu waktu, temen gue pernah ngerekomendasiin untuk mencoba salah satu rumah makan padang yang ada di dekat kampus. Sejak tragedi sate padang manis, gue jadi trauma dan takut mencoba. Temen gue mendesak dan berjanji akan membayar makanan kalau rasanya nggak sesuai ekspektasi gue. Oke, nggak ada salahnya mencoba. Toh kalau rasanya manis, gue nggak perlu mengganti uangnya. Setelah mencoba, gue merasa seperti ada di rumah.

Sejak itu gue merasa bahagia banget tiap makan nasi padang. Gue bahagia karena di Jakarta masih ada Rumah Makan Padang yang mempertahankan citarasa asli masakan padang.

Kalau aja gue nggak merantau ke Pulau Jawa, mungkin point kedua bukan ditempati dengan nasi padang.

3. Mendengarkan musik

Hampir sebagian besar waktu gue lewati sambil mendengarkan musik. Musik tuh udah berperan banyak dalam hidup gue. Saat galau, saat sedih, saat senang, gue selalu memutar musik. Bahkan saat postingan ini dibuat, gue menulis sambil mendengarkan musik. Buset, nggak terganggu, tuh? Enggak. Mungkin karena udah biasa juga kali, ya?

Beberapa lagu di daftar playlist gue juga jadi pengiring moment-moment yang pernah gue lewati. Tiap kali mendengarkan, gue seperti terkenang kembali dengan kejadian yang pernah gue lewati. Entah itu kenangan indah maupun kenangan paling buruk dan paling gue takuti. Tak heran kalau gue bisa mengingat dengan detail kejadian-kejadian yang pernah gue lewati. Sebab sebagian besar memori gue merekam kejadian dengan bantuan musik.

Baca Juga: Lagu yang pernah menghadirkan kita

Gara-gara musik, nilai UTS gue tertolong. Pagi-pagi sekali, gue bangun lantas cuci muka. Laptop gue nyalain. Gue langsung nyetel musik untuk menemani belajar. Waktu itu musik yang gue dengerin adalah Beethoven. Dengan ditemani secangkir kopi, yang gue pelajari bisa masuk dengan mudahnya.

Di ruang ujian. Otak gue memutar kembali lagu yang gue putar paginya. Pena gue menari dengan sangat indah di atas kertas putih. Otak gue dibanjiri oleh syntax dan function di dalam Bahasa Java.

4. Jalan-jalan

Nah, ini bagian yang paling gue suka. Jalan-jalan. Gue tuh paling seneng jalan-jalan. Apalagi ke tempat-tempat baru yang belum pernah gue kunjungi sebelumnya. Menurut gue, jalan-jalan tuh bisa nyegerin otak. Ngehilangin stress dan mumet yang berdatangan. Caranya pun termasuk mudah. Bisa rame-rame dengan kawan, bisa juga bepergian seorang diri. Ya, ini tergantung kondisi.

Kalau disuruh milih antara kedua itu, gue akan pilih jalan-jalan sendiri. Ya bodo amat kalau kesasar. Sebab kalau sendiri gue bisa bebas ngelihat apa yang gue suka. Apa yang gue mau. Tanpa ngerasa nggak enak karena lagi ditungguin.

Kalau jalan bareng gitu, gue sering ngga enakan karena ditungguin. Cenderung buru-buru. Tapi enaknya kalau bareng temen, dalam hal beli baju misalnya, temen bisa ngasih saran atau ngerekomendasiin jenis setelan yang cocok dengan badan kita. Seperti yang gue bilang tadi, kembali ke kondisinya.

5. Mencoba hal baru

Gue juga nggak segan untuk mencoba hal baru. Baru-baru ini gue mencoba belajar video editing. Seru, sih. Ada kesenangan tersendiri yang gue dapetin waktu mengeksplor teknik yang ingin gue pelajari. Kalau bisa ngecek saat itu juga, hormon serotonin, endorfin dan dopamin gue pasti udah di atas normal saking girangnya.

Setelah ngerti tekniknya, udah, gue tinggalin gitu aja. Namanya juga mencoba, kan?

6. Punya banyak teman

Siapapun pasti setuju, kalau punya banyak temen tuh asik. Apalagi kalau dari jurusan atau daerah yang berbeda. Main sama anak arsitek, sedikit banyak jadi kenal dengan istilah atau dunia arsitek. Main dengan anak IT sedikit banyak jadi bisa coding atau ngerti teknologi. Dan kalau musim libur semester tiba, bisa nyobain oleh-oleh dari berbagai jenis daerah.

Atau bahkan nitip sesuatu yang hanya ada di daerah tersebut. Seperti gue yang nitip Kopi Toraja karena temen gue kebetulan pulang ke Makassar. Enak kan punya temen banyak? Tapi perlu hati-hati, juga waspada dalam berteman. Karena nggak semuanya bisa dijadiin teman dekat.

7. Bercerita

Aslinya, gue tuh bawel. Tapi sejak gue naik ke tingkat SMA, kebawelan gue mulai berkurang. Mungkin karena lingkungannya kurang mendukung kali, ya, jadi gue cuma bawel pada orang-orang tertentu aja yang deket sama gue.

Karena bawel, gue juga hobi bercerita. Nah, sayangnya, gue kurang pede kalau bercerita di depan orang banyak secara langsung. Gue lebih nyaman kalau ngobrol dengan orang yang nggak begitu banyak. Semakin dikit orang, semakin fokus. Mungkin karena suara gue kecil juga kali ya.

Baca Juga: Empat Mata

Saat suara gue nggak bisa didengar oleh orang banyak, lantas gue milih blog sebagai media untuk bercerita dan menyuarakan isi hati.

Kalau gue ditanya, “Lu bahagia nggak dengan hidup yang lu jalanin sekarang, Za?”

Gue dengan pede akan menjawab, Ya! Gue bahagia untuk hal-hal sederhana yang bisa gue lakukan. Jadi jangan tanyakan lagi karena jawabannya sudah jelas bahwa gue bahagia untuk hal tersebut.

Oke, segitu dulu kali ya untuk postingan ini. Kalau ditanya soal apa yang bisa bikin bahagia, kira-kira kalian bakal jawab apa? Yuk, tinggalin di kolom komentar!

 

Contact

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail: [email protected]



2 COMMENTS

  1. Mantaaap. Gua belom habis kagum sejak minggu lalu dengan konsistensi agung hapsah aplod dailyvlog diluar zona nyamannya, dan sekarang lo mau nyoba hal yg sama di platform yg berbeda. Saluut

    Yaa kadang perlu banget coba keluar dari zona nyaman, buat mencoba hal baru dalam diri kita. Kapan-kapan gua coba ah, wkwkw

    Dari beberapa point gua setuju banget sama jalan-jalan dan bercerita bikin bahagia, dari dua hal tersebut kita bisa mendapatkan dan membagi sesuatu yg sifatnya tak kasat mata tapi tetap menyenangkan. Meski gabisa dibilang hobi bercerita, emang basicnya gua bawel kali ya, jadi cenderung terdengar ngomong mulu. Wkwk

  2. Haruslah keluar dari zona nyaman, susah tapi. Jangan terlalu dipaksakan aja, kalau ga kuat, bisa masuk ke zona nyaman lagi kok :v.

    Bahagia versi gue: kuota unlimited (absolutely :v)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.