Balada Angpao Imlek

Postingan kali ini ngomongin balada angpao imlek yang gue alamin beberapa waktu lalu.

Tahun Baru Imlek selalu identik sama yang berwarna merah. Lampion merah, kertas merah, petasan berwarna merah, baju merah, lilin merah, pokoknya apapun itu, wajib berwarna merah. Bagi masyarakat Tionghoa, merah memiliki arti kebahagiaan, kesenangan, keberuntungan, hoki, semangat dan keberanian. Tapi ada satu hal yang gue belum mengerti, kenapa angpao yang tetangga gue kasih, sama sekali bukan berwarna merah?

Jadi gue tuh punya tetangga yang lagi merayakan Imlek. Ceritanya sudah cukup lama sebenarnya, sekitar 4 – 5 tahun yang lalu. Waktu itu, anak-anak pada nungguin di depan rumah gue buat bersiap-siap berburung angpao di Tahun Baru Imlek.

Baca Juga: Bertambah Tua

Selesai bersiap, gue disambut sama anak-anak, ‘Eh Za, lo kok gaya banget hari ini? Kan kita cuman main ke rumah Ibu Lin. Ngapain gaya banget?’

‘Iya! Ngapain coba lo gegayaan begitu?’ seru yang lainnya.

‘Iya dong gue harus gaya. Kan, gue mau ketemu sama calon mertua,’ kata gue, sambil benerin kerah.

‘Heh! Sadar diri dulu dong! Tuyul kayak lo mana mungkin cocok sama anaknya Ibu Lin! Harusnya gue yang cocok sama anaknya!” seru Heru.

‘Muka pas-pasan kayak lo berdua mana cocok sama dia. Udah-udah, kok jadi ngeributin anaknya Ibu Lin sih,” kata yang lebih ganteng dan gak sombong, Somat.

Gue sama anak-anak menyusuri jalanan komplek untuk sampai ke rumahnya Ibu Lin. Rumah Ibu Lin kelihatan sangat mencolok hari itu, jelas, karena hari ini mereka merayakan Imlek. Setibanya di rumah Ibu Lin, kami disambut sama anaknya, Vivi, yang kelihatan cantik jelita dengan pakaian ala-ala China gitu. Rambutnya yang disanggul itu menambah tingkat kecantikan dirinya. Kami semua terpesona oleh kecantikannya Vivi.

Tapi hanya ada satu orang yang tidak begitu terpengaruh oleh kecantikan Vivi, ia adalah orang paling ganteng diantara kami semua, Somat. Dia dengan begitu sombongnya mengatakan bahwa penampilan Vivi hari itu biasa-biasa aja baginya.

Diam-diam dia pernah cerita (semacam curhat) sama kami semua, bahwa dia adalah seorang homo. Okesip, gue segera menarik kesimpilan bahwa saingan kami untuk meluluhkan hati Vivi, berkurang.

Baca Juga: Balada Deketin Cewek

Yang selalu menjadi penghalang setiap kali bermain bersama adalah Somat dengan wajahnya yang ganteng. Tiap kali kami main ke mall bareng, cewek-cewek disekitar lebih tertarik untuk melihat ke arah Somat dibanding ke arah kami. Kami seperti mendapat perlakuan diskriminasi oleh cewek-cewek cantik yang berpapasan dengan kami. Fak! Kenapa sih cewek-cewek cantik maunya sama cowok yang ganteng? Padahal, stock cowok ganteng di dunia ini gak sebanyak stock cewek-cewek cantik! Dan kenapa harus Somat sih yang ganteng? Kenapa gak gue aja coba yang jadi ganteng? Kan sia-sia punya tampang ganteng tapi nyatanya homo.

Meski begitu, gue harusnya bersyukur karena saingan gue untuk mendapatkan cintanya Vivi berkurang. Coba kalau Somat gak homo, pasti gue sama para fakir asmara ini gagal mendapatkan cintanya Vivi.

Setelah numpang gratisan (makan, minum, wifi-an) di rumahnya Ibu Lin dan anaknya yang cantik, kami berpamitan ingin pulang ke rumah. Sebenarnya gak pulang ke rumah juga sih, tapi masih ingin melanjutkan perjalanan ini ke rumah-rumah lainnya yang lagi merayakan Imlek.

Saat ingin berpamitan, Ibu Lin memberikan kami semacam amplop berwarna merah sebagai cindera matanya. ‘Yes! Dapet angpao!’ gue membatin.

Ada satu hal yang tidak boleh dilakukan begitu menerima angpao, jangan pernah membuka angpao di depan si pemberi karena katanya dianggap tidak sopan.

Setelah berjalan cukup jauh dari rumahnya Ibu Lin, gue dan anak-anak berhenti sebentar disebuah rumah kosong untuk melihat isi dari amplop yang kami terima dari Ibu Lin. Pas isinya dibuka, gue sama anak-anak kecewa berat. Tak sesuai harapan, isinya bukanlah kertas berwarna merah seperti gue dan anak-anak harapkan.

Uang Merah yang di Harapkan
Jadi tadinya kami mengharapkan uang ini yang mengisi amplop merah itu

Baca Juga: Tak Sesuai Ekspektasi

‘Yahh cuman segini. Gue kira Ibu Lin bakalan ngasih kertas warna merah.’

‘Iya, gue kira juga gitu!’ seru yang lainnya.

‘Sudah-sudah, yang terpenting saat ini kita tetap bisa melihat Vivi yang cantik jelita hari ini. Jarang-jarang loh bisa lihat Vivi dengan penampilan secantik itu,’ ucap Aldo.

‘Waini! Ini yang gue suka! Gak salah gue temenan sama lo!’ kata gue ke Aldo.

‘Iya dong, Aldo gitu loh,’ kata Aldo, sambil benerin kerah. ‘Tapi sayangnya kecantikan Vivi hari ini tak sempat kita abadikan. Huhuhu’ Aldo melanjutkan.

‘Waini! Gue … ah, kampret lo, Do!’ kata Heru.

Seketika kami semua baper karena lupa mengabadikan kecantikan Vivi hari ini melalui sebuah foto. Ini semua salah Aldo! Coba Aldo gak bilang begitu, gak akan begini jadinya :(

Entah postingan ini bermanfaat atau kagak buat kemajuan bangsa ini tapi yang jelas, jangan terlalu berharap sama warna merah yang menghiasi setiap Imlek. Jangan terlalu berharap sama warna amplop yang merah, karena belum tentu isi di dalamnya juga bakalan merah. Dan… terlalu banyak berharap nanti berujung nyesek :(

Oya, Gong Xi Fat Cai! Selamat Tahun Baru Imlek yang ke 2567! Semoga di tahun Monyet Api ini, kita selalu dilimpahkan keberuntungan!

sumber: sidomi.com
sumber: sidomi.com

Sekian postingan gue kali ini, jangan lupa untuk Like fanspage gue yang ada di sebelah kanan atas di blog ini. Jangan lupa juga untuk ninggalin jejak karena seorang blogger yang baik akan selalu ninggalin jejak dimanapun ia berada.

Ciaao~ \o/



11 COMMENTS

  1. Petcah pas kata Waini! :v
    baca posting ini jadi nostalgia, aku dulu waktu masa2 sd/smp itu suka banget ke rumah teman2 yg chinese, soalnya emang masa2 itu punya banyak teman chinese. Sekarng udah gak tau pada merantau kemana tuh mereka hahaha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.