Berawal Dari

 

Jadi, sudah berapa lama, Za?

Semua berawal dari …, gue mulai berkisah.

Di sebuah toko kelontong dua lantai gue duduk sambil bertopang dagu. Menanti datangnya seorang teman. Dia sedang di bawah. Mungkin lagi narik uang, mungkin juga lagi beli minum.  Sudah lima menit gue mengawasi sekitar. Belum ada yang melewati pintu masuk. Jemari menari di atas meja. Selaras dengan detak jantung. Menciptakan nada. Seseorang datang dari arah pintu masuk. Itu dia orangnya yang gue tunggu-tunggu daritadi.

“Za, lu kemarin ke mana aja? Dia ada datang ke sekre, tuh,” katanya seraya membuka bungkus nasi goreng.

“Gue di kost, Jor.”

“Kenapa nggak ke sekre? Lu kan biasanya selalu datang tiap ada dia. Trus dia juga jarang-jarang lho main ke sini.”

“Ya, gimana ya. Kan gue memang jarang main ke sekre. Gue nggak ada maksud ngehindarin dia, kok.” Kata gue. “Lagipula, kemarin gue ajakin Minion, kalian nonton Spidey. Ya udah, gue di kost aja.”

“Lu sih ajaknya nonton Minion. Kita orang maunya Spiderman.”

Gue cuma diam lantas tak mempersoalkan selera mereka. Ada jeda yang tercipta di tengah obrolan kami berdua. “Jadi, sudah berapa lama, Za?” tanya Jordi.

“Berapa lama? Maksudnya?”

“Dari kapan lu suka sama dia?”

Gue diam dan mulai berhitung. “Semua berawal dari …,” gue mulai berkisah.

Air muka Jordi berubah serius. Seperti tak ingin kehilangan satu detail cerita pun dari yang gue sampaikan. Beberapa kali dia mengangguk tanda mengerti. Sesekali dia mendesis. Dari cara dia mendengar membuat gue nyaman saat sedang bercerita. Gue berhenti bercerita. Mengambil nafas dalam.

“Kita semua terkejut lho, Za,” terang Jordi.

“Terkejut kenapa?” tanya gue.

“Terkejut aja, ternyata selama ini cewek yang sahabat kita taksir ternyata adalah orang terdekat kita juga.”

“Kok kalian bisa tau? Gimana ceritanya?” tanya gue penasaran. “Ah, pasti ulah Rico.”

“Engga, bukan Rico. Jadi waktu itu kita lagi di McD.”

“Bentar, berarti malem?” sanggah gue.

“Iya.”

“Trus siapa aja di sana?”

“Ada gua, Rico, Aldo, Amok, Rinjani,” katanya mulai bercerita. “Awalnya kita tahu dari Rinjani. Dia kaget. Kayak shock gitu. Kita semua penasaran dong.”

“Trus kita itu awalnya menduga-duga. Siapa ya? Siapa ya? Dari ekspresi Rinjani, gua kira kalau yang lu taksir itu dia. Trus si Rinjani ini ngebacain yang lu tulis di blog,”

Gue memasang mimik serius.

“Dari yang dia bacakan itu, ada kata kunci yang mengarah ke ‘Cev’, dari sana kita semua tau. Kalau aja lu nggak lu tulis atau misalnya lu samarkan, mungkin sampai sekarang dari kita nggak ada yang tau lu ini suka sama sama siapa.”

Baca Juga: Perlu Jujur

“Oh. Dari Rinjani. Gue kira Rico,”

“Kita semua kaget, kecuali Aldo sama Rico. Katanya mereka udah tau.”

Gue merasa aneh karena sebetulnya gue nggak pernah cerita apapun ke Aldo. “Gue bisa maklum kalau Rico sama Rinjani tau. Soalnya waktu Rinjani pernah bilang kalau dia selalu baca blog gue tiap-tiap gue ngepost di Instagram.”

Lidah gue kelu. Ada kata yang tertahan di ujung lidah. Gue terkenang kembali pada hari dimana kami pernah kumpul bersama. “OH! Iya! Gue paham sekarang kenapa Aldo bisa tahu jauh sebelum itu!”

“Kenapa?” tanya Jordi dengan mimik penasaran.

“Waktu lagi ngumpul di sekre, Aldo pernah bilang gini ke gue, ‘Eh Za, gini-gini, gue sama kayak Rico, selalu baca tulisan lu, bedanya gue nggak pernah ngomong ke elu.”

“JESUS! Ngeri juga!” kata Jordi.

“Gimana gue yang denger langsung dari Aldo. Lebih shock lagi,” balas gue. “Ngomong-ngomong, kenapa kita jadi ngomongin ini?”

“Yah gapapa, sebetulnya ini topik yang menarik untuk dibicarakan.”

“Menarik? Maksudnya?”

“Menarik, karena sahabat kita ini ternyata menyimpan rasa dengan orang terdekat kita juga.”

Lalu dari arah pintu masuk gue melihat dua orang yang mukanya tak asing lagi. Dia adalah Aldo dan Amok. Datang sambil membawa bungkusan hitam dan minuman teh. Topik berganti menjadi game tatkala mereka ikut bergabung. Untung udah ganti topik, pikir gue. Namun rasanya malam itu cukup menyenangkan. Terkadang gue masih suka ketawa membayangkan ekspresi Jordi yang berusaha menebak-nebak layaknya sedang membaca cerita detektif. Lain waktu, gue harus cerita lagi sama lu, Jor, pikir gue seraya menatap langit-langit kamar.

 

 

STAY CONNECTED

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail:[email protected]



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.