Cara Menghabiskan Masa Liburan

Pelajar di Indonesia tuh kadang suka aneh. Sekolah pengen libur. Lagi libur, pengen sekolah. Aneh banget. Dan kalau ditanya, alasannya selalu sama: Bosan di rumah, kangen suasana kelas, kangen sama temen-temen dan kangen mantan. Oops, sori, yang terakhir itu keceplosan.

Kalau pengen libur ya libur aja. Pergi jauh-jauh dan nikmati serunya liburan selagi bisa karena  kesenangan itu tak lama lagi akan segera sirna karna bakal menghadapi SBMPTN dan ospek bagi yang sudah diterima di universitas. Kayak gue. Sebelumnya gue pernah cerita di blog ini kalau gue diterima di salah satu universitas swasta di Jakarta. Gue nggak akan cerita caranya gue bisa diterima di sana karena sudah pernah gue bahas disalah satu postingan di blog ini.

Yang mau daftar di kepolisian atau TNI juga. Gunakan libur untuk menambah porsi olahraga. Bukan malah nambahin porsi kangen. Gue khawatir dengan orang-orang yang porsi kangennya lebih tinggi dibanding porsi olahraganya. Soalnya, kalau porsi kangennya lebih tinggi, itu bakalan ribet. Lagi semangat-semangatnya berolahraga, lalu berhenti di tengah jalan karena kangen olahraga berdua sama mantan. Lagi mau makan trus kangen disuapin sama mantan. Lagi boker trus kangen dicebokkin sama mantan. INI MANTAN MACAM APA YANG MAU CEBOKKIN E*K PACARNYA! Mau nelpon dan ngajakin balikan namun apa daya karena lebih mengutamakan gengsi daripada perasaan. Sekali lagi, gengsi selalu hadir dan menghalangi orang-orang yang ingin mengutarakan rindu kepada yang dulu pernah ditinggalkan. Oops, keceplosan lagi.

Tapi bener yah. Kalau lo punya mantan, trus dia suka ngasih semacam kode gitu lewat akun sosmednya, itu artinya dia pengen ngajakin mantannya buat balikan. Balikan sama siapa? Ya, mantannya lah. Mantannya yang mana? Yaa Barangkali dia ngasih kode itu buat mantannya yang dulu suka nyebokkin dia saat selesai pup.

Banyak hal menarik yang bisa kita ulik selama liburan. Tentu, beda orang, beda juga caranya menghabiskan masa liburan. Ada yang sibuk belajar dan les buat menghadapi SBMPTN, ada yang menghabiskan waktu dengan nonton film dan ada juga yang bikin acara reunian dengan kawan lama.

Baca Juga: Reuni Kelas

Yang punya uang mah enak. Udah punya tujuan pasca UN mau pergi berlibur ke mana. Biasanya destinasi liburan yang paling diincar oleh orang-orang berduit kalau bukan keluar negeri, ya diluar kota dengan suasana tempat yang berbeda. Diupload ke sosmed biar bisa dipamerin ke temen-temen yang lain. Terutama yang liburanya nggak kemana-mana. Trus yang liburannya nggak kemana-mana mulai iri dan dengki. Bikin status bernada sindiran di BBM atau sosmed lainnya yang berbunyi: Norak abis! Yang kayak gini ada di kontak BBM gue. Lagian ya, kalau tujuannya buat pamer, jangan sampai bikin orang lain pada dengki. Recent update penuh sama nama lu doang. Tiap 5 menit sekali ganti display picture. Ya wajar kalau orang-orang pada dengki.

Kalau buat ajang pamer mah yang wajar-wajar aja. Uploadnya di instagram trus dikasih caption yang simpel but elegan. Jadi orang-orang nggak akan merasa dengki sama lu karena kalau males liat ya tinggal tutup aja. Trus orang-orang nggak akan tau bahwa maksudnya ingin pamer karena udah ketutupan sama caption yang elegan.

Yang punya uang mah enak. Bisa nongkrong sama temen-temen di cafe. Foto-foto trus dijadiin display picture di bbm. Besoknya nongkrong lagi, jadiin display picture lagi, biar dianggap horang kaya karena tiap hari nongkrong di cafe yang harga minumannya dapat membuat anak kostan di akhir bulan merasa tercekik begitu mendengar harga dari minuman tersebut. Dan biasanya, untuk bisa nongkrong di cafe, dibutuhkan usaha yang keras seperti minta uang sambil merengek-rengek sama orangtua.

Minta uang Ma... Sumber: www.jpnn.com
Minta uang Ma…
Sumber: www.jpnn.com

Ya emang hepi. Tapi uang habis. Minta sama orangtua lagi. Menyedihkan.

Sementara yang nggak punya uang, hanya bisa meratapi nasib. Mengais-ngais tempat sampah. Berharap menemukan jodohnya dari salah tempat sampah yang dikorek. Belakangan diketahui, ternyata yang dimaksud adalah petugas kebersihan yang sedang mengambil sampah dari rumah ke rumah.

Sementara itu, yang nggak punya uang dan nggak punya skill yang mumpuni, terpaksa menjadi pengangguran dadakan. Bukan cuma tahu bulat yang bisa digoreng dadakan. Pengangguran juga ada yang bisa digoreng dadakan *lah.

Meluangkan waktu yang ada untuk begadang sampai larut malam dan bangun pada siang harinya. Um, saran gue, daripada begadang tanpa arah dan tujuan, mending ngeroda, deh. Serius. Selain lingkungan jadi aman dari rombongan maling, setidaknya kalian jadi pengangguran yang berguna bagi RT dan RW setempat. Dan tentunya, digaji. Mending mana, begadang sampai pagi karena nonton film atau begadang sampai pagi karena ngeronda?

Namun sayang. Kurangnya skill dan tingginya gengsi seringkali menjadi kambing hitam bagi pengangguran dadakan. Terutama pelajar SMA yang memang sama sekali tidak diciptakan untuk siap terjun ke lingkungan kerja. Dengan keterbatasan skill dan gengsi yang tinggi, membuat para pelajar SMA, terutama yang belum tau passionnya dimana, harus berlapang dada karena tiap harinya tidak dikasih uang jajan sama orangtua. Sementara yang SMK, karena memang sudah dilatih untuk siap terjun ke dunia kerja, mereka bisa kerja untuk sementara waktu di tempat-tempat yang memang ada kaitannya dengan jurusan di sekolah.

Pengangguran Dadakan. Sumber: bisniskeuangan.kompas.com
Pengangguran Dadakan.
Sumber: bisniskeuangan.kompas.com

Tingginya gengsi seringkali membuat para pengangguran yang tak diberi uang jajan ini tidak bisa berbuat apa-apa selama liburan. Cuma makan-tidur-makan-tidur selama sebulan penuh sampai kululusan diumumkan. Gapapa, gue juga begitu. Gengsi gue tinggi seiring berjalannya waktu.

Dulu, pas SD, gue nggak pernah malu sama apa yang gue kerjakan. Selama itu baik, tidak merugikan orangtua dan orang lain, akan gue kerjakan demi mendapat uang jajan selama libur pasca UN. Hari pertama pasca UN, gue bukannya males-malesan di rumah. Gue langsung kerja. Iya. Orang-orang mungkin akan bertanya, “apa yang bisa dikerjakan oleh seorang anak kelas 6 SD?” jawabnya adalah jualan koran. Dulu gue pernah jualan koran. Setiap pukul 5 pagi gue menunggu di depan rumah pengencer koran di kompleks bersama kawan-kawan kompleks yang seumuran. Masa itu sangat menyenangkan sekali. Gue dan kawan-kawan bekerja tanpa mengenal malu. Biasanya orang-orang kan suka malu dan seringkali merasa gengsi sama profesi yang satu ini. Tak jarang tiap gue keliling menjajakan koran-koran yang gue bawa, itu gue dicengin sama anak-anak. Kadang juga dicengin sama anak yang bapaknya beli koran di gue.

“Hahaha jualan koran,” kata si anak.

Waktu itu bapaknya lagi ngambil uang di dalam rumah.

“Terus kenapa?” tanya gue. “yang penting udah bisa nyari duit sendiri. Bukannya masih minta duit sama orangtua.”

Si anak terdiam. Mungkin kagum sama gue karena masih muda udah bisa nyari uang sendiri. Coba kalau sekarang gue jualan koran. Mungkin begini bentuk percakapannya.

“Hahha jualan koran.”

“Terus kenapa?” tanya gue.

“Mangkanya… sekolah tuh yang rajin biar nggak jadi penjual koran.”

“…”

Dan dulu gue jualan koran tuh ada alasannya. Nyokap menegakkan sebuah aturan di rumah yang bunyinya: Nggak ada uang jajan selama hari libur. Dan sialnya, gue itu liburnya sebulan lebih. Otomatis gue merugi karena satu bulan nggak menerima uang jajan. Bayangin nggak jajan sebulan itu rasanya kayak gimana. Nggak enak banget, kan? Gue itu juga sering menyalahgunakan uang jajan gue buat hal yang sebenarnya nggak bermanfaat. Main warnet. Libur nggak ngapa-ngapain tuh rasanya pasti bosan. Uang jajan nggak dapet, sementara temen pada ngajakin main warnet, maka tak ada pilihan bagi gue selain jualan koran demi mendapatkan uang jajan yang gue pergunain buat main warnet dengan kawan-kawan. Dan untungnya gue udah biasa jualan koran. Profesi ini sudah gue geluti sejak bulan puasa tahun lalu. Dimana uang jajan gue juga ikut libur selama berpuasa. Jadi ini bukan kali pertamanya gue jualan koran.

Soal hasil… ya kadang untung kadang nggak. Tiap satu koran yang berhasil gue jual, gue mendapat upah sebesar 600 rupiah. Jualan kesana-kemari sampai suara habis. Kadang hasilnya tak sesuai dengan apa yang gue korbanin. Suara habis, koran cuma laku dua. Kalau dijajani paling cuma dapat teh gelas dan itupun buat hilangin rasa haus. Miris.

Di SMP, libur pasca UN gue pergunain untuk nyari uang di dunia maya. Gue udah nggak jualan koran lagi kayak SD dulu. Bermodalkan komputer, internet dan segelas susu, gue mengais rezeki dari internet. Berbagai job juga gue tekuni  mulai dari membuat animasi sampai berjualan online untuk kebutuhan para gamer. Gue ngerasa profesi ini lebih layak untuk gue tekuni daripada berjualan koran. Ya walaupun yang didapatin sama-sama nggak sebanding dengan usaha, paling nggak gue bekerja berdasarkan hobi. Hobi yang dibayar tuh asik, men.

Kalau sekarang gue lebih fokus menganggur sambil sesekali mengupdate blog ini agar tak berdebu. Kadang-kadang juga mempelajari sesuatu yang baru seperti memasak. Menghabiskan bacaan di rumah yang tak sempat gue sentuh karena kesibukkan sebagai anak kelas dua belas.

Baca Juga: Dari Masak Berujung Drama

Baca Juga: Kesibukkan Anak Kelas 12

Lalu gue kepikiran, nanti kalau udah kuliah mau bener-bener fokus di kuliah atau kuliah sambil bekerja? Kuliah sambil bekerja tuh asik, pikir gue. Biasanya kalau mau ngelamar pekerjaan tuh kan suka dimintain CV sebagai persyaratan awalnya. Dilihat dari riwayat hidup, gue udah punya pengalaman kerja sebelumnya. Jadi penjual koran sama seller. Pengalaman-pengalaman kerja tersebut bisa gue cantumin di CV kali, ya? Yah lumayan lah ya untuk manjang-manjangin CV.

Kalau kalian gimana? Selama liburan ini ngapain aja? Melamar kerja kah? Liburan kah? Nongki di cafe, kah? Atau… kangen sama mantan kah?

Kalau kalian punya kisah menarik tentang dunia kerja atau pendapat lain yang ingin kalian bagi, gue sangat terbuka kok untuk berdiskusi.

Sebelum kalian menutup tab, jangan lupa untuk komen dan klik share dulu ya \o/



15 COMMENTS

  1. Yoi za, jalan2 uload. Cekrek upload… Itu kalo punya duit, ya kalo gak punya duit minjem dulu ke tmen lah.. Bayarnya entar lebaran.

    Kalo ngomongin kuliah sambil kerja, itu sih bqlik lagi ke masing2, kalo tanggungannya cuma kuliah sih gapapa, tapi kalo kerjqnya buat kebutuhan lain, kayak biaya keluarga misanya, itu harus mikir lagi dua kali. Positive tingtig.

  2. Jaman gue sekolah dulu kalau musim liburan uang jajan tetep jalan + kadang liburan ke rumah sodara tapi ga pernah foto trus share ke IG (dulu blm ada IG).

    Sekarang udah kerja liburannya pas Weekend itupun di pakai untuk istirahat atau Quality time / atau liburan hari raya besar pulang kampung.

    Baru sadar beda banget kehidupan dulu jaman sekolah dengan yang sekarang

  3. Gue pun juga begitu. Pertengahan semester, pengen banget cepet-cepet UAS terus libur. Eh pas udah libur, pengen banget cepet-cepet masuk. Dan alesannya ya sama kayak yang lu sebutin gitu, kangen suasana kelas.

    Duh, kalo gue, dikit lagi mau kelas 12. Dan harus berjuang biar bisa masuk Universitas yang gue senengin. :D

  4. Kalo gue dulu pas liburan sekolah ya bantuin nyokap beres-beres rumah. Kalo liburan sambil menunggu kelulusan emang enaknya ada kegiatan di luar rumah, bisa cari kerja part time atau jadi volunteer di event juga seru tuh. Nikmatin aja liburan sekarang, soalnya kalo udah kerja tuh males, lebih milih istirahat aja di rumah.

  5. ini baru libur pasca selesai UN aja udah bingung mau ngapain, belum pas udah kuliah baru libur, bisa 2 bulan lebih, makin bingung lo mau ngapain xD

    kayaknya ini pertama kali gue mampir, deh. Salam kenal!

  6. Kalau liburan, niatnya olahraga biar semester besoknya keliatan seger, eh nyatanya liburan cuman dihabisin main game wkwk

    Salam kenal ya. By the way, mampir ya ke fakhranheit.blogspot.com. Thank you!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.