Dari Masak Berujung Drama

“ASTAGA, ABANG! ITU MATIIN KOMPOR GASNYA!!!!” kata nyokap, panik saat melihat gue meninggalkan kompor dalam keadaan menyala.

“ASTAGA! IYA MA! IYA!” gue buru-buru matiin kompor dengan bertelanjang dada. Setengah dari bagian tubuh gue bugil tanpa ditutupi oleh sehelai benang. Setengahnya lagi gue tutupi dengan handuk biru bergambar kelinci putih lagi bugil. Sesama bugil harus saling menutupi.

Belakangan ini gue lagi suka nonton anime yang menceritakan tentang kehidupan di dapur. Tujuan gue nonton anime ini sebenarnya buat menghibur diri sekaligus menjawab rasa penasaran gue yang berlangsung sekitar setahun lebih. Sohib gue, Noven, merekomendasikan agar gue menonton anime ini karena menurut dia, anime ini bagus.  Sama seperti gue, Noven juga seorang Nipon Addict atau penyuka hal-hal yang berasal dari negeri sakura sana.

Kesan pertama yang gue dapetin pas awal-awal nonton sama sekali tidak sesuai dengan testimoni dari Noven yang mengatakan kalau jalan ceritanya menarik dan seru. Anime apa.. ini, pikir gue, sambil mengamati jalannya cerita dari anime tersebut. Dari jalan cerita yang gue amati, terpikirkan oleh gue bahwa anime yang saat ini lagi gue tonton tidak jauh berbeda dengan jalan cerita pada anime-anime bergenre hentai. Buat yang nggak tahu hentai itu apa, coba googling aja sendiri.

Seiring berjalannya cerita gue mulai mengerti, anime ini tidak seperti yang gue pikirkan. Setelah waktu gue terpakai ±15 menit, gue mulai memberi tanggapan, ANJRIT!!! SEMUA KARAKTER SELALU MENDESAH TIAP KALI MERASA MAKANAN YANG DIHIDANGKAN OLEH SANG KOKI TERASA ENAK!!! INI NGGAK MASUK AKAL! YA! NGGAK MASUK AKAL! sambil nunjuk-nunjuk layaknya anak sekolahan lagi tawuran.

MENDESAH!!! Source: https://giphy.com/

Setiap tontonan memiliki kekuatan atau magnet tersendiri untuk mempengaruhi orang-orang yang menikmatinya agar termotivasi melakukan hal serupa dengan karakter yang ada di dalam cerita. Sewaktu gue masih kecil dulu, setelah selesai menonton film Spiderman, gue berkeinginan menjadi seorang manusia laba-laba seperti Peter Parker. Menumpas kejahatan yang ada dengan kekuatan dari jaring laba-laba. Tiap kali melihat ada laba-laba kecil, gue nyodorin tangan atau jemari gue agar laba-laba tersebut mengigit dan merubah gue jadi manusia super layaknya di film Spiderman. Begitupun dengan temen gue. Dia juga melakukan hal serupa supaya bisa menjadi seorang Peter Parker Junior. Setelah digigit oleh laba-laba, dia masuk ke rumah sakit. Nasibnya kurang beruntung karena bertemu dengan seekor laba-laba beracun. Berutung dia terselamatkan karena laba-laba tersebut memiliki racun yang tidak mematikan (oke, yang terakhir itu boongan).

Semenjak gue nonton anime yang direkomendasiin oleh Noven, gue jadi kepengen belajar dan masuk ke sebuah sekolah khusus memasak. Gokil. Seorang remaja berusia delapan belas tahun menjadi korban anime yang dia tonton sendiri.

Seorang laki-laki sejati itu harus pinter masak. Kenapa harus pinter masak? Biar bisa hemat dan hidup sehat. Kenapa harus hemat? Karena hemat adalah salah satu cara biar nggak bangkrut di akhir bulan. Oke. Ini kedengarannya menyeramkan tapi begitulah realitanya menjadi seorang anak kost. Kehabisan uang di akhir bulan. Belum dapet kiriman uang dari kampung. Terpaksa mengutang di warteg langganan. Tidak berani datang saat sedang banyak hutang dan kebetulan sedang tidak memegang uang karena takut ditagihin hutang. Akhirnya hanya bisa makan-makanan murah meria yaitu mie instan. Sadis.

Belakangan ini gue lagi tertarik untuk belajar masak karena termotivasi ingin menjadi seorang koki dan media pembelajarannya berasal dari sebuah tontonan anime. Gokil. Sebelumnya tidak ada orang yang belajar masak lewat anime. Yang gue tahu, media yang sering orang-orang gunain untuk belajar masak ada media cetak (buku) dan media elektronik (Video/Youtube). Karena gue masih newbie dan jarang menyentuh peralatan masak di dapur, gue mensiasatinya dengan mempelajari masakan-masakan sederhana dulu yang tidak terlalu ribet dan memerlukan banyak bahan. Gue sengaja memfokuskannya ke masakan sederhana karena segala hal harus dimulai dari yang paling mudah atau sederhana dulu, ‘kan? Tidak hanya keripik maicih yang memilliki level dan tingkatan. Dalam memasak juga ada tingkatan-tingkatannya. Dimulai dari tingkatan paling rendah yaitu membuat masakan sederhana yang tidak memerlukan banyak bahan baku sampai ke masakan tingkat tinggi yang paling mewah yang memerlukan banyak bahan baku. Ditingkat dasar ada hidangan telor ceplok yang hanya menggunakan telur, garam dan minyak sebagai bahan bakunya. Lalu naik tingkat dan akan terus naik hingga dikenal sebagai koki profesional yang biasa muncul di layar televisi atau mendedikasikan diri menjadi koki di hotel atau restoran berbintang.

Gue mungkin tidak punya banyak waktu untuk meracik bumbu yang tersedia. Selain tidak punya waktu karena pasti akan terus diburu tugas, makanan-makanan enak tuh seringkali proses pembuatannya ribet. Untuk apa gue meracik bumbu-bumbu dapur kalau yang makan cuman gue SEORANG? Masakan ala kadar seperti telur ceplok merupakan pilihan yang tepat karena proses penghindangannya tidak memakan banyak waktu. Ya, gue ucapkan terima kasih teruntuk kamu sang penemu telor ceplok karena berkat idemu gue tidak harus bersusah payah meracik bumbu-bumbu dapur hanya untuk makanan yang gue nikmati sendiri. Idemu sungguh brillian.

Biarpun dianggap sudah bisa masak (ditingkat masakan sederhana), gue nggak mau berpuas diri begitu saja. Seringkali ketika sudah merasa puas dengan hasil yang gue peroleh, secara tidak sadar gue melewatkan hal-hal penting. Waktu pertama kali bisa masak dan gue bandingin dengan yang sekarang, gue merasa ada yang salah dari masakkan gue selama ini. Mangkanya, melalui proses belajar ini gue bisa sedikit memperbaiki kesalahan yang pernah gue lakuin saat sedang memasak seperti terlalu banyak memberi minyak pada penggorengan sehingga telur yang gue makan kelihatan mengkilap karena minyak gorengnya kebanyakan atau terlalu banyak memberi air pada mie rebus sehingga hasilnya (kuahnya) terasa kurang nikmat.

***

Siang itu gue lagi lapar-laparnya. Makanan yang sudah dihidangkan di atas meja tidak menggugah nafsu makan gue sama sekali. Nggak tahu kenapa akhir-akhir ini selera makan gue mulai berkurang. Indera pengecap gue terasa berbeda dari biasanya. Makanan apapun yang dihidangkan selama beberapa hari ini tidak ada yang gue anggap enak. “Yaudah deh, abang masak mie aja.”

Nyokap diam aja. Tidak menanggapi ucapan gue sama sekali.

Cara gue memasak sama seperti masak mie pada umumnya. Tidak ada cara-cara istimewa atau apalah itu namanya yang dapat mempengaruhi cita rasa mie tersebut. Misal dari mie instan harga dua ribuan disulap menjadi masakan spesial dengan cita rasa yang sungguh luar biasa yang dihidangkan di restoran-restoran berbintang. Nggak, nggak mungkin jadinya seperti itu. Masakan biasa dimasak dengan cara biasa sudah pasti menciptakan cita rasa yang juga biasa-biasa saja. Untuk membuatnya tidak kelihatan monoton, gue membuat variasi baru dari cara memasak. Ya, awalnya memang berjalan lancar sampai gue teringat kalau hari itu gue sudah tidak mandi selama tiga hari (lagi).

Gue jadi teringat pesan nenek gue dulu, “sehabis makan tidak boleh langsung mandi, Cu. Nanti perutmu buncit.” Tidak ingin hal itu sampai terjadi, gue mandi dengan terburu-buru. Berharap bisa menikmati mie dalam keadaan masih hangat. Tapi yah, namanya juga manusia. Suka lupa diri kalau udah nyentuh yang namanya air. Pengen buru-buru malah…

“ASTAGA, ABANG! ITU MATIIN KOMPOR GASNYA!!!!” kata nyokap, panik saat melihat gue meninggalkan kompor dalam keadaan menyala.

“ASTAGA! IYA MA! IYA!” gue buru-buru matiin kompor dengan bertelanjang dada. Setengah dari bagian tubuh gue bugil tanpa ditutupi oleh sehelai benang. Setengahnya lagi gue tutupi dengan handuk biru bergambar kelinci putih lagi bugil. Sesama bugil harus saling menutupi.

“KAMU TUH YA! SUKA BANGET NINGGALIN KOMPOR DALAM KEADAAN HIDUP!”

“Ya habis abang belum mandi, Ma,“ gue menjelaskan penyebab hal ini bisa terjadi.

“HABIS-HABIS… GASNYA YANG HABIS!”

Source: giphy.com
Source: giphy.com

“Ya mau giman-“ gue terkejut, ternyata mie yang gue tinggalin tadi telah menjadi abstrak. Mungkin kalau gue sedikit lebih lama lagi di kamar mandi dan nyokap tidak ada di rumah, rumah gue yang menjadi abu.

Yah, gue rasa inilah yang cocok disebut sebagai variasi dalam memasak. Drama di sebuah dapur. Paling tidak, gue udah bisa menyamai adegan di dalam anime yang gue tonton dimana sang murid (yaitu gue) dimarahi oleh gurunya sendiri yang merupakan seorang koki profesional (yaitu nyokap), pikir gue. Disatu sisi gue mengharapkan kehadiran para tikus-tikus bandel yang biasanya nakutin tiap kali nyokap masak agar ceramah ini segera berakhir. Suasana dapur berubah setelah nyokap memberi peringatan. Dari masak berujung drama.

Tips dari gue buat kalian yang mau belajar masak: jangan pernah mandi dan meninggalkan kompor dalam keadaan menyala ketika sedang memasak.

Kalau kalian punya masakan sederhana dari daerah kalian yang proses pembuatannya tidak terlalu ribet, kalian bisa memberikan ide-ide kalian tersebut pada kolom di bawah ini. Oya, kalau kalian punya pengalaman konyol, mengharukan ketika sedang memasak di dapur, kalian juga bisa berbagi kisah pengalaman kalian tersebut di bawah ini.

See you, gengs! Selamat memasak\o/



13 COMMENTS

  1. Anjaay… Gue fokus ke kata HENTAI.

    Leh juga tuh anime, mendesaaah
    Tsadeess..

    Kalo belajar masak ya mending sama mama aja. Bakalan senang hati dia ngajarin, ya salah masukin garam doang paling cuma digetok ulekan.

  2. betul itu, jangan meninggalkan kompor dengan keadaan menyala. karena resiko sangat besar. bisa2 kebakaran. jadi jika memasak gunakan kompor jika di butuhkan saja setelah selesai itu matikan.

  3. Lah sama… Gue kalo nonton anime jadi pengin-pengin. Nonton Kuroko pengin bisa main basket, nonton Yowamushi pengin punya sepeda balap, nonton Highschool DxD pengin…

    Ah, sudahlah!!

  4. Kamu pengen bisa masak karena termotivasi dari anime? Yaarabb, sekuat itukah animasi memikat seorang Reza untuk belajar masak? :v
    Itu cerita yang laba-laba, beneran nggak sih? Kok bilang jangan dipercaya? Bingung :(
    Iya Za, kamu harus bisa masak. Yang sederhana pun nggak apa-apa. Katanya kan ntar kuliah bakal merantau. Ehm. Sekadarnya mie atau telor ceplok. Etapi kamu udah bisa, sih. Alhamdulillah kalo gitu :) etapi masak telor ceplok dan mie instan nggak cukup. Ntar bosen. Mending kamu belajar bikin nasi goreng! Bumbunya simple, sih. Tapi kalo aku suka pake cabe, bawang merah, garam, minyak sitik, nasi, telor, dan saori saus tiram! Mm, sedap!
    Anjirrrrr kocak! Mama lu kocak sumpah. Habis mandi ke habis gas. Kocaaaakkkkkssss x))
    Eh, abstrak di sini maksudnya medok, ya? Heuheu. Kurang enak, tuh. Lain kali, kalo mau ninggalin makanan dalam keadaan masak, apinya dikecilin. Tapi kalo mie jangan ditinggalin. Ntar gantian siah cewek yang lu demen yang ninggalin. Astaghfirullah :(

  5. Petuah sama yang sering aku denger, abis makan terus mandi bikin perut jadi buncit. Tapi kalau ga mandi bukan karena takut buncit, males aja wkwkwk… :D Nice Post, Reza. GIFnya keren.

  6. Haha iyalah mie-nya bengkak, ditinggal mandi.
    Kalau mau, tiriskan dulu mienya, mandi 3 menit, selesai itu mie yg sudah ditiriskan dikasih air panas, dijamin gak bengkak-bengkak amat itu mie. eh ngemeng apa sih saya, kok malah bikin tutorial masak mie

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.