Hanya Ingin Jujur

Belakangan ini story media sosialku lagi sering dipenuhi oleh nama-nama orang. Salah satu dari nama-nama tersebut, ada namamu yang juga ikut terpajang di dalamnya. Semua ini berawal dari aku yang me-reply story di akun media sosialmu. Aku yang lagi iseng. Aku yang lagi ingin mendengarkan pendapatmu tentang diriku ini.

“Lu dulu, Za,” katamu lewat direct message.

Segera kuiyakan permintaanmu tanpa ingin mempersoalkan siapa yang harusnya lebih dulu mengisi lembar putih berisikan beberapa pertanyaan singkat yang harus diisi oleh si pemilik akun saat ada yang me-reply storynya. Oke, balasku singkat. Menyanggupi permintaanmu. Tak perlu waktu lama bagiku untuk mengisinya karena aku hanya ingin jujur. Ya, aku hanya perlu jujur di permainan ini.

Aku masih ingat betul apa yang sudah aku isi saat itu. Khususnya pada bagian to be honest. Pada bagian itu, kukatakan bahwa dulunya aku punya rasa ke kamu. Aku memang sudah gila dan sungguh aku sudah tak peduli lagi bagaimana reaksimu nanti begitu melihatnya.

Satu jam setelah itu. Kau kembali mengirim pesan. “Manaa? Belum liat weh,” katamu, mempertanyakan lembar putih yang kubilang sudah kuisi.

“Sudah. Tapi sudah ku delete,” jawabku datar tanpa memberikan sedikitpun penjelasan tentang tindakanku itu.

Lalu kau bilang, kau kecewa. Kau bilang, aku jahat. Pada waktu yang bersamaan. Lucunya, kau masih menagih lembar putih itu. Kau bahkan minta untuk di kirim ulang karena kau bilang, kau belum lihat isinya. “Gimana kalau aku kirim ke line aja?” kataku, seperti memberi ide.

“Nggak mau. Maunya di story. Sekarang.” Katamu. “Cepat Za, batre sisa 8% lagi, nih,” desakmu kemudian.

“Di line aja,” balasku.

“Gila Za. Jahat. Pelit,” katamu.

Bukannya aku jahat. Aku hanya tidak ingin ada orang lain yang tahu soal ini. Aku tak ingin ada yang tahu siapa perempuan yang aku taksir selama ini. Aku tak ingin orang lain tahu siapa perempuan yang namanya selalu kuselipkan di setiap doa setiap selesai beribadah di sepertiga malam.

Baca Juga: Mimpi

“Sekarang aku tunggu. Aku liat. Nanti kalau udah, baru boleh di hapus lagi.” Katamu.

Aku setuju dengan idemu karena kurasa memang itulah cara terbaik. “Udah siap?” tanyaku padamu. Memastikan bahwa kau sedang aktif saat itu.

“Sudah?”

“Sudah,” balasmu.

Aku bergerak secepat yang aku bisa dan mengabarimu langsung setelah berhasil mengunggahnya ke story. “Sudah?” tanyaku memastikan.

“Sudah,” jawabmu.

Ada perasaan lega dan senang yang menyertai ketika mendapat kabar bahwa kau sudah melihatnya. Paling tidak, aku boleh senang karena perasaan yang selama iniku pendam telah tersampaikan pada orangnya langsung meski lewat cara yang terbilang nggak laki banget.

Sekarang masih apa engga? Kepo,” tanyamu perihal perasaanku saat ini.

Aku betul-betul bingung harus jawab apa. Haruskah aku jujur atau kembali membohongi diriku sendiri? Entah kenapa, saat itu, aku jadi teringat dengan kisah cintanya Mbak Dian Hendrianto. Dan entah kenapa pula, aku seperti mendapat kekuatan untuk berkata jujur setelah teringat kisah cintanya Mbak Dian. Kepada Mbak Dian, maafkeun diriku ini.

Masih,” jawabku jujur.

Lalu untuk yang kedua kalinya kau bilang bahwa kau terharu. Untuk yang kesekian kalinya juga, aku bingung. Bingung harus berbuat setelah ini. Yang kubutuhkan selama ini telah terpenuhi. Perasaan yang selama ini mengganjal, telah kusampaikan kepadamu. Kini perasaanku sudah lega. Sudah tak ada lagi yang mengganjal di hati dan pikiran. Lalu selanjutnya apa? seperti kepada diri sendiri. Pun sedari awal aku tidak berekspektasi apapun.

“Suka sama sahabat sendiri tuh berat, Cev.” tutupku. Mengakhiri permainan.

Sebetulnya ada hal yang lupa kusampaikan saat itu. Ya, aku lupa bilang bahwa aku tlah menyukaimu sejak pertama kali kita jumpa di FEP tahun lalu. Terima kasih karena selama ini kau sudah sudah menjadi dirimu sendiri. Jujur, aku suka kamu yang apa adanya. Dan terima kasih sudah ingin mendengarkan ungkapan hatiku. Setelah ini aku harap kita masih bisa berhubungan baik sebagaimana mestinya.

Baca Juga: Bersahabat dengan Langit

Dan aku ingin mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang selalu meluangkan waktunya untuk mendengarkan curahan hati ini. Terima kasih atas supportnya selama ini sehingga aku mendapat keberanian untuk mengungkapkan perasaan ini ke orangnya meski bukan secara langsung. Maaf tidak bisa menyebutkan nama kalian satu persatu di postingan ini karena bakalan jadi panjang. Sekali lagi, terima kasih atas segalanya:)

6 COMMENTS

  1. Suka sama sahabat sendiri, aku belum pernah ngerasain. Tapi pastinya berat, ada rasa aneh dan yang paling kentara kikuk sama sahabat kita. Ah.. Andilau banget

  2. Hanya ingin jujur. Tak perlulah lagi kautanyakan apa status kita. Wuooooooo~ Anjir, itu lagu siapa auk. Wqwq.

    Suka sama sahabat sendiri emang nganu, sih. Tapi ya udah, yang penting kan udah jujur. Duh, jadi kangen sahabat yang sekarang hampir gak pernah main lagi karena pacarnya dia cemburu sama gue. :’)

Tinggalkan Komentar

Setelah berkunjung, yuk jangan lupa untuk ninggalin jejak dengan cara meninggalkan komentar kalian di kolom yang sudah gue sediakan! Oya, kalian juga boleh ajak sanak, gebetan atau bahkan keluarga buat main-main ke blog gue. Pssst kalau kalian ada seorang kenalan cewek, bisa kali kenalin dia sama gue. Kali aja jodoh :p Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.