Jangan Dekat Dekat

“Ini kartu SEP-nya. Mama langsung aja ke labor, trus ambil antrean. Abang mau ke lantai tiga dulu untuk ketemu sama Bu Dewi.”

“iya” kata nyokap, samar-samar.

Di lantai tiga, Bu Dewi yang konon katanya biasa menunggu di dekat lift belum menampakkan wujudnya sama sekali. Gue ngecek kembali kelengkapan surat-menyurat dan menaruhnya di atas tumpukan surat-surat yang lain. Dari lantai tiga, gue langsung menuju lab yang letaknya di lantai dua. Di sana, sudah ada nyokap yang berdiri di depan pintu masuk

“Kok mama nggak langsung ambil antrean?” tanya gue.

“Mama nggak tau apa aja yang mau diperiksa sama orang lab,” jawab nyokap. Untungnya saat itu antrean registrasi sedang sepi.

“Benar ini mau cek urin?” tanya bapak-bapak di bagian registrasi.

“Iya, benar, pak.”

“Biasanya kalau kamu itu urinnya nggak di cek. Coba tanya lagi sama dokternya?”

Ya kali, pak, harus nanya sama dokternya. Jelas-jelas di sana di ceklis bagian urinnya! Batin gue. “Iya, benar, pak. Memang harus cek urin. Saya sudah konfirmasi sama dokternya waktu surat ini dikasih ke saya.”

“benar?”

“Benar, pak.”

“tapi kok, tampangmu mencurigakan?” tanyanya.

Jleb. Tampang gue dibilang mencurigakan. “Sudahlah, pak. Saya sedang terburu-terburu”

“Yaudah, ini,” Katanya, memberi gue nomor antrean. “Kamu pergi ke loket 3, bilang sama petugasnya, minta pengawet urin,” tambahnya.

“Makasih, pak.”

***

Nama gue tak kunjung dipanggil. Padahal batas pemeriksaan glukosa darah sampai jam 10 pagi. “Duh, gimana nih? Waktunya makin mepet!”

“Sabar aja Za, bentar lagi juga namanya dipanggil,” kata kakak bokap gue.

“Iya, bi. Tapi kan ini udah mepet banget!” seru gue.

“Sabar, 10 nomor lagi.”

Sabar-sabar juga, tibalah giliran gue dipanggil.

Nomor antrean D165, silahkan memasuki ruang 6, sebut mesin pengeras suara tersebut. Seperbelasan langkah, gue sampai di ruang 6.

Doc. Pribadi
Doc. Pribadi

“Hasilnya kapan bisa diambil, mbak?” tanya gue, kepada petugas laboratorium yang ditugaskan mengambil darah pasien.

“Dua hari lagi, ya.”

“Oke, makasih ya, mbak.”

Keluar dari ruang labor, badan gue terasa sedikit lunglai karena darahnya habis diambil. Gimana nggak lunglai, darah yang diambil sampai tiga tabung

Dari laboratorium, gue balik lagi ke lantai tiga untuk menemui Bu Dewi. Moga aja udah selesai di acc, pikir gue. Satu jam menunggu di lantai tiga, surat yang gue ajuin akhirnya di acc juga. “Langsung ke radiologi aja, ya.” Kata bu Dewi.

Kami berempat (ditambah kakaknya bokap gue), bertolak ke gedung radiologi. Fyi, untuk pemeriksaan khusus, pasien harus melapor ke bagian departemen radiologi dan membuat perjanjian beberapa hari sebelumnya. Setelah membuat perjanjian, didapatilah jadwal MRI gue hari Selasa jam 11.30.

Dari tempat MRI, kami menuju ke ruang kedokteran nuklir untuk membuat perjanjian. Setelah bikin perjanjian, gue dapat jadwal hari Senin jam 08.30. Sial, kenapa harus pagi banget, sih? gumam gue.

***

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Mumpung lagi di Jakarta, cobain transportasi ini, ah. Dua orang driver sudah menanti di depan gang yang gue tunjuk. Hari senin, jam 06.45 gue berangkat ke RSCM dengan menaiki ojek online. Tak butuh waktu lama, dalam waktu 30 menit kami sudah sampai di depan gerbang masuk RSCM.

Baca Juga: Hari Pertama di Jakarta

Gue berlari sekuat tenaga menuju gedung radiologi. Perjuangan gue masih berlanjut, yaitu menaiki anak tangga menuju lantai tiga. Di lantai tiga kedokteran nuklir, sudah ada satu pasien yang menunggu.

“Kamu yang berobat?” tanyanya.

“Iya, nek.”

“Jangan panggil nek, panggil saja saya ibu.” Katanya, mengoreksi.

“Ah, maaf bu. Iya, saya yang berobat.”

“Sudah bikin perjanjian?” tanyanya.

“Sudah. Nenek gimana?”

“I-B-U. IBU!” ejanya.

“Ah, iya, maksud saya ibu. Ibu sudah bikin jadwal?”

“Sudah,” katanya. “Periksa apa?” tanyanya lagi.

“Periksa ini,” gue nunjukin surat permintaan pemeriksaan.

Ibu itu berdiri dari tempat duduknya menuju loket tempat pendaftaran dan pengambilan hasil. “Harusnya kamu taruh di sini. Soalnya nanti bakal antre.”

“Oh gitu ya? Makasih bu.”

“Iya, sama-sama.”

Tak lama kemudian orang-orang mulai berdatangan ke bagian kedokteran nuklir.

***

Di dalam ruang tunggu kedokteran nuklir, gue mendapat cukup banyak informasi. Telinga gue menyerap segala jenis arus informasi yang berlalu-lalang dari mulut-kemulut tersebut dan merekamnya ke dalam otak. “ternyata begitu ya, cara kerja kedokteran nuklir.” Gumam gue.

Pintu dari salah satu ruangan membuka, “Reza Andrian?” sebut pria berpakaian lengkap khas laboratorium..

“Iya?”

Pria dengan jas warna ijo tosca yang menutupi sebagian badannya  memberikan kode untuk masuk. Petugas mengunci rapat ruangan tersebut dari dalam.

“Silahkan duduk di sini,” dia menunjuk ke salah satu kursi. Gue duduk di kursi tersebut. “Tunggu sebentar, ya?” tambahnya.

Sudah hampir 15 menit gue disuruh menunggu. Tekanan yang gue rasakan makin menjadi-jadi setelah melihat jarum suntik di sebelah gue. Tentu, gue nggak bakalan betah cuman duduk-duduk doang di kursi. Untuk menghilangkan rasa khawatir, gue melakukan sedikit pemanasan untuk merilekskan otot-otot tubuh yang kini sedang kaku karena ditekan oleh pikiran.

 “Tangannya tolong di kepal ya?”

Tangan gue mengepal. Mata memejam. Jarum itu menyapa urat nadi di tangan kiri gue, bersama dengan rasa nyeri yang mengikutinya. Urat gue terasa panas saat cairan radiasi tersebut dimasukan ke dalam tubuh.

“Silahkan tidur di sini,” lanjutnya.

Gue mengambil posisi, mengaturnya senyaman mungkin. “Jangan bergerak, ya.”

Mesin tersebut dinyalakan. Kini, setengah dari bagian tubuh gue ditelan ke dalam mesin. Setengahnya lagi di luar mesin. Bagian terpenting dari alat tersebut di dekatkan ke bagian leher gue. Nadi gue bersentuhan kembali dengan jarum. Nyeri. Ini adalah kali pertamanya leher gue disapa oleh jarum berukuran kecil.

Baca Juga: Perjalanan Tak Terduga

“Keluar dari sini kamu harus banyak-banyak minum air putih biar radiasinya keluar melulai urin. Ketika buang air, jangan lupa untuk mencuci sampai bersih karena radiasinya dikeluarin dari sana.” Terang pria berjas lab tersebut.

Gue menganggu tanda mengerti.

“Sama satu lagi, jangan dekat-dekat sama ibu hamil atau anak kecil. Karena selama 24 jam tubuhmu memancarkan radiasi yang bisa membahayakan anak kecil.” Tambahnya lagi.

“Siap, dok!”

Keluar dari ruangan nuklir, gue ngejailin si adik dengan mendekatinya. Adik gue yang sudah tau langsung menjauh dan berkata, “jangan dekat dekat, bang!”

***
Keesokan harinya gue masih harus menjalani serangkaian pemeriksaan. Kali ini gue datang untuk tes MRI. Magnetic Resonance Imaging. Ialah gambaran pencitraan bagian badan yang diambil dengan menggunakan daya magnet yang kuat mengelilingi anggota badan.

“Reza Andrian?” kata perawat yang bertugas di bagian MRI.

“Iya?”

“Tolong semuanya di lepaskan, kecuali celana dalam” Perawat itu memberikan gue baju khusus yang bebas dari bahan logam. “Kalau di badanmu ada barang yang terbuat dari logam seperti jam tangan, alat pacu jantung, alat bantu pendengaran atau gigi palsu, tolong dilepaskan. Soalnya nanti kita akan menggunakan medan magnet yang cukup tinggi.”

“Em, bu, gigi saya kan pernah di tambal. Apa itu akan berpengaruh?”

“Sebenarnya berpengaruh. Kalau nanti ada rasa nyeri karena tertarik oleh magnet, kamu tahan aja, ya?”

Waduh, gawat, nih, gumam gue. Gue menelan ludah. “Iya, bu.” Hanya itu yang mampu terucap di bibir gue. Sebagai lelaki sejati, gue harus kuat.

Baca Juga: Lelaki Sejati

“silahkan kamu rebahan di sini,” perawat itu memberi instruksi. “Ininya juga dipake,” tambahnya lagi. Perawat itu memberikan gue alat peredam suara berupa headphone. Bukan sekedar riasan, headphone tersebut sedang memutar musik klasik dengan volume suara tinggi. Asik, nih, nggak bakalan bosan, gumam gue.

 “Kalau nanti kamu takut sama suara mesinnya, kamu boleh remas benda ini,” perawat itu memberikan gue semacam pompa yang biasa digunakan pada alat pengukur tensi darah. Tubuh bagian atas gue dimasukan ke dalam mesin berbentuk terowongan. Dan pemeriksaan pun di mulai.

Seperti ini bentuk alatnya. sumber gambar: www.alodokter.com/
Seperti ini bentuk alatnya.
sumber gambar: www.alodokter.com/

BRRRRRRTTTTTTT, bunyi mesin tersebut, keras. Biarpun telinga gue udah disumbat sama headphone dengan volume suara tinggi, bukan berarti gue nggak bisa mendengar bunyi mesin tersebut. Bunyi mesinnya tetap kedengaran di telinga, bahkan bunyinya bisa membuat telinga gue congek.

Tak terhitung sudah berapa lama gue di dalam mesin tersebut. Begitu mesinnya di matikan, gue lega karena pemeriksaannya telah selesai.

“Tunggu sebentar ya Reza.” Perawat tersebut menahan gue.

“Kenapa lagi bu?”

“Dokter minta dengan kontras. Jadi kamu harus masuk ke dalam lagi, dan akan diberikan suntikan.”

What? Suntik lagi? Mau disuntik di mana? Urat kanan sama urat kiri pada bengkak karena habis di suntik! Batin gue.

“Bu Wati jangan kaget ya, kita akan masukan lagi ke dalam,” kata petugas di ruang pengamatan, berbicara melalui mesin pengeras suara.

“Sebentar,” kata Bu Wati, menyeka urat gue dengan tisu yang sudah ada kandungan alkoholnya. Urat gue kembali dipertemukan dengan jarum suntik. Berbeda dengan suntik radiasi yang gue lakukan kemarin, kali ini cairannya terasa dingin di nadi.

Kepala gue kembali dimasukan ke dalam terowongan. Penderitaan akan segera dimulai, pikir gue.

Berbeda dengan pemeriksaan pertama, pemeriksaan kedua terbilang lebih singkat waktunya. Keluar dari ruangan khusus tersebut, kepala gue terasa pusing. Pendengaran gue sedikit terganggu untuk beberapa saat. Untungnya gue nggak ada pemeriksaan lain lagi di hari itu. Jadi, selesai MRI, gue langsung pulang ke rumah untuk beristirahat total.

Kalau kalian penasaran di MRI itu kayak gimana, silahkan lihat video di bawah ini.



4 COMMENTS

  1. Za! Gue bacanya nyampe takut yaarabb. Nggak tega! *ngelap air*
    Kamu ngalamin itu semua takut nggak sih awalnya?
    Btw lagu klasiknya lagu apa aja nih? Minta dong! :v

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.