Kamu Membuat Saya Kecewa

Gue berangkat cukup pagi. Kalau nggak ada perubahan jadwal, harusnya hari ini adalah hari terakhir gue kontrol di RSCM. Seluruh laporan hasil pemeriksaan gue kumpulin jadi satu untuk mempermudahkan dokter dalam merunut kronologi pengobatan yang gue jalani. Kami berbagi tugas. Gue ngambil hasil  labor di Prodia, sementara nyokap gue langsung ke RSCM untuk ngambil antrean rawat jalan. Saat keluar dari gang, kami pisah jalur.

“Udah keluar hasilnya?” tanya nyokap.

“Udah,” jawab gue, sambil nunjukin amplop warna kuning bertuliskan Prodia. Kemudian amplop itu gue taruh di dalam map berwarna biru, dan diganti dengan sebuah surat. Nyokap menatap gue bingung.

“Reza mau ke mana?” tanya kakaknya bokap.

“Mau ngambil hasil labor, bi,” kata gue.

“Oh, yaudah. Nanti langsung ke sini lagi, ya?”

“Iya, bi. Permisi.” Gue berjalan ke arah pintu keluar dari ruang Poli Penyakit Dalam. Menuju Laboratorium yang letaknya tak jauh dari ruang poli. Sepanjang jalan mulut gue tak ada henti-hentinya merapal doa serta harapan, berharap hasil pemeriksaannya bagus tanpa adanya keanehan.

Baca Juga: Mengasingkan Diri

Surat pengajuan pengambilan hasil lab itu gue letakkan di bagian loket pengambilan, dan gue timpa dengan semacam balok kayu kecil, ringan, biar nggak terbang ditiup oleh angin dari mesin penyejuk ruangan. Tak perlu waktu lama, nama gue pun dipanggil.

“Reza Andrian?” sebut petugas di loket pengambilan.

“Ya, saya?” gue menghampiri loket.

“Ini hasilnya, ya.”

“Makasih, bu.”

Karena gue bingung, semua petugas yang ada di rumah sakit ini gue pukul rata, menjadi ibu. Tak terkecuali yang muda. Dari laboratorium, gue nggak langsung menuju Poli Penyakit Dalam. Gue berjalan sedikit ke arah apotek, di sana ada tempat untuk fotokopi.

“Rangkap dua ya, mas.” Kata gue, nyerahin hasil lab yang ingin difotokopi. Jemarinya menari dengan indah di atas tombol-tombol mesin fotokopi. Gerakan tangannya seolah menjelaskan, bahwa dia sudah lama bekerja di sana. Tangan petugas itu seolah berbicara ke gue, “aku tidak mungkin membuat kesalahan!” beberapa detik kemudian, lembar hasil lab yang telah di fotokopi diserahkan ke tangan gue.

“Makasih ya, mas.”

“Ya, sama-sama.” Balasnya.

***

Tak seperti biasanya, hari itu ada banyak sekali pasien yang berobat. Sudah 2 jam menunggu, tapi nama gue tak kunjung disebut. Sementara itu, kakak bokap gue harus  menjemput anaknya di Bintaro jam 13.30. Sial, batin gue, dikejar oleh waktu.

Nama gue akhirnya dipanggil dan dipersilahkan masuk ke dalam ruangan. Di dalam, sudah ada seorang dokter yang menunggu. “Semoga dia bukan mahasiswi,” batin gue. Fyi, RSCM itu tempat praktek mahasiswa dari kedokteran UI. Jadi, jangan heran kalau berobat di sana kalian menemukan dokter-dokter muda. Sepanjang sejarah gue berobat di RSCM, gue jarang ditangani langsung oleh dokter spesialisnya. Kebanyakan gue ditangani dulu sama calon dokter. Dan bila mereka nggak bisa nanganin, baru dokternya langsung yang bergerak. Itupun gue harus menunggu dokternya datang. Makan waktu banget.

Dokter itu mempersilahkan gue duduk. “Sebentar ya, saya periksa,” katanya, menyentuh daerah leher gue. “Coba telan,” instruksi dokter tersebut. Gue menuruti seperti yang dokter katakan. “bagus,” katanya. “boleh saya lihat hasil pemeriksaannya?”

Gue nyerahin seluruh hasil pemeriksaan, yang gue urutin dari awal hingga pemeriksaan terakhir. Mulai dari hasil lab Bengkulu, sampai hasil lab rumah sakit Cipto. Dokter itu bergumam sendiri saat melihat seluruh rangkuman data pemeriksaan. “Tunggu di sini sebentar, ya?” katanya. Dokter tersebut keluar dari ruangan. Meninggalkan kami berdua di dalam ruangan.

“Reza nggak haus?” tanya kakak bokap.

“Haus sih, bi.” Kata gue.

“Tunggu di sini, biar abi ambilin minum,” Kata abi, berjalan ke arah pintu keluar. Begitu pintu membuka, sudah ada nyokap yang menunggu di depan pintu, sambil membawa minuman.

“si Reza haus,” kata abi. Lalu nyerahin botol minuman itu ke gue.

Tak lama kemudian dokter itu masuk lagi ke ruangan. Kali ini dia tidak sendirian, dia ditemani oleh dua dokter pria. Yang satu gue kenal, dia adalah dokter Tri Juli, dan dokter satunya lagi gue nggak kenal. Gue ditangani oleh tiga dokter sekaligus. Gue meyakini bahwa mereka berdua adalah dokter yang sudah ahli dan berpengalaman dibanding dokter satunya lagi (yang saat ini sedang menangani gue).

Dokter-dokter tersebut membaca seluruh hasil rangkuman pemeriksaan. Berdiskusi. Setelah mereka berdiskusi, barulah di dapati sebuah keputusan.

 “Jadi untuk saat ini kita tidak bisa langsung menyimpulkan penyakitnya. Oleh karena itu, kamu harus kontrol lagi.”

“Tapi dok, saya mau pulang ke Bengkulu. Sudah tiga minggu saya di sini dan tiket pulangnya sudah saya pesan.” Kata gue.

“Ohh begitu. Yasudah, gapapa kalau kamu mau pulang ke Bengkulu lagi. Tapi ingat, dua minggu sebelum lebaran, kamu harus balik ke Jakarta lagi. Ke sini lagi. Kita akan mengadakan rapat.” Katanya.

Kaki gue lemes mendengarnya.

“Walaupun hasil MRI kamu bagus, tapi bukan berarti nggak ada apa-apa di sana. Kita akan cek ulang, lagi. Kamu tidak usah takut.” Dokter itu berusaha menenangkan gue biar nggak takut.

Baca Juga: Jangan Dekat Dekat

Sebenarnya ada banyak hal yang dokter tersebut jelaskan, tapi gue singkat aja karena ada beberapa hal yang nggak bisa gue sebutin di sini.

Kedua dokter tersebut keluar, meninggalkan kami bertiga.

“Hasil ini akan saya simpan untuk dipelajari lebih jauh lagi. Gapapa, ya?” kata dokter wanita yang menangani gue. “Kamu masih punya salinannya, kan?” tambahnya lagi.

“Iya, dok, silahkan.” balas gue.

“Sama satu lagi. Saya ingin kamu menceritakan kronologinya. Di mulai dari bulan November lalu sampai sekarang. Termasuk obat apa saja yang telah kamu minum. Ini akan kami pelajari,” Terangnya, menjelaskan tujuan dari wawancara tersebut. Selain wawancara, gue juga ikut di foto untuk bahan dokumentasi para dokter.

“Saya kasih obat, ya.” Kata dokter tersebut.

“Jangan dok, nggak usah.” Kata gue.

“Kenapa?”

“Males ngantrenya, dok. Panjang.”

Dokter tersebut memicingkan matanya lalu berkata, “Kamu membuat saya kecewa.” seketika, ruangan tersebut berubah menjadi panas. Kehadiran pendingin ruangan bahkan tidak bisa membuat suhu diruangan tersebut menjadi stabil.

Bodo amat, dok! Antreannya panjang! Batin gue, kesal.

Baca Juga: Hari Pertama di Jakarta

Dokter itu berdengus panjang. Melihat-lihat kembali laporan hasil pemeriksaan. “Kalium kamu turun,” katanya, memecah keheningan ruangan tersebut.

***

Yeay! Akhirnya selesai juga cerita perjalanan berobat gue. Sebenarnya masih ada hal yang ingin gue ceritakan, tapi kalau gue masukin, nanti bakal jadi panjang. Untuk itu, gue persingkat aja menjadi bagian yang penting. Dokter belum bisa mengambil keputusan untuk jenis penyakit gue. Maka dari itu, gue diminta untuk kontrol kembali dua minggu sebelum lebaran.

Update: kemaren gue ditelpon sama dokter dari RSCM. Katanya, kontrol dua minggu sebelum lebaran dibatalkan. Dan jadwalnya diganti menjadi satu bulan lagi. Sial, padahal gue udah beli tiket. Karenanya, gue terpaksa harus merefund tiket yang sudah gue pesan. Tapi gapapa, karenanya, gue jadi bisa ngeblog lagi \o/

Keberangkatannya terpaksa dibatalin. Doc. Pribadi.
Keberangkatannya terpaksa dibatalin.
Doc. Pribadi.


19 COMMENTS

  1. Yaarabb, Za… Kamu sakit apa sih nyampe kalium turun gitu?
    Kayaknya rumit kali ya yang kamu derita. Sampai ada rapat gitu.
    Banyak doa, Za. Mumpung puasa. Bisi weh baik-baik ae. Jaga pola sehatnya. Cepat sembuh! :’)

  2. Hahaha nolak obat dari dokter
    sini aku aja yang ngobatin. kurang kalium kan? biar aku suntik pake larutan unsurhara essensial.
    cepat sembuh yo, makanya banyak minum aer putih :D

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.