Kenapa Harus Sarjana

 

Semester genap berakhir lebih cepat dari yang diharapkan. Tak ada lagi tugas mandiri, project kelompok, apalagi ujian. Masih terekam jelas di benak gue, tawa riang temen-temen kala kami selesai menghadapi ujian akhir semester.

Yah, libur, keluh gue dalam hati. Gue senang libur panjang sudah menanti di depan mata. Tapi satu sisi gue juga benci libur karena ujung-ujungnya pasti bingung mau ngapain. Juga bosan.

Libur semester ini terbilang lama, memberi kesempatan bagi anak rantau untuk kembali ke kampung halaman. Beberapa ada yang pergi berlibur ke luar kota bahkan luar negeri bersama keluarga.

Sementara itu gue, si anak rantau dari Sumatera, tetap tinggal di Jakarta sampai satu bulan ke depan karena harus menyelesaikan urusan akademis. Karena gagal pada mata kuliah Akuntansi dan Business Process, mau nggak mau gue harus pake waktu libur untuk datang ke kampus. Kuliah seperti hari biasa.

Sial, batin gue di hari pertama masuk. Kelas terasa sunyi pada saat itu. Mungkin karena belum mengenal satu dengan lainnya. Dosennya juga baru. Sekilas terlihat baik dan sepertinya tidak pelit nilai. Semoga dugaan gue benar.

“Kok sepi?” tanya si dosen.

“Lagi pada magang, pak,” jawab pria bertopi di depan gue.

“Oh, 3 + 1, ya?” tanyanya. “Kamu nggak magang?”

“Harusnya iya, pak. Saya udah dapet ijin dari tempat saya magang,” jawabnya mantap.

Si dosen mengangguk, lantas tersenyum atas tanggapan dari mahasiswanya.

Memperhatikan dosen
sumber gambar: pexels.com

Tentu saja mayoritas penghuni kelas ini adalah angkatan atas. Tidak begitu mengherankan bila hari pertama kelas terasa sepi. Mungkin yang lain belum minta izin. Sedang yang seangkatan dengan gue bisa dihitung dengan jari. Ya, cuma 10 orang. Untungnya gue satu kelas sama Hartono alias Ahong yang pernah gue ceritakan di postingan berikut.

Gue merasa nggak begitu terbebani dengan jadwal kuliah yang cuma tiga kali pertemuan dalam seminggu. Syukur gue bisa ikut merasakan libur walau cuma empat hari dalam satu minggu. Ah, paling enggak gue punya banyak waktu dan bisa mencoba hal baru, pikir gue. Seiring berjalannya waktu, di minggu kedua gue udah kehabisan akal. Gue menghela nafas. Menempelkan punggung pada tembok kamar. Menyelam ke dalam pikiran.

Sebuah pesan masuk. Darah gue mengalir deras saat notification itu menampilkan sebuah nama. Jemari gue berhenti mengusap layar. Membaca rekaman percakapan hingga berulang kali.

“Memang benar ya cowo bisa depresi saat nggak punya pekerjaan?” tanya Nath waktu itu.

“Bisa ya, bisa engga. Tapi satu yang pasti, Nath, adalah aib bagi seorang pria ketika dia tidak mempunyai pekerjaan,” balas gue.

Gue hampir nggak percaya kalau gue pernah berkata demikian. Dan sepertinya gue menemukan potongan yang sedaritadi gue cari-cari. Gue butuh pekerjaan!

Tapi kerja apa? tanya gue kemudian seperti pada diri sendiri.

Sekarang ini buat nyari kerja tuh gampang-gampang susah. Apalagi untuk gue yang kuliahnya belum selesai. Entah berapa banyak gue keluar-masuk dari satu website, ke website lain. Entah berapa banyak akun media social yang gue telusuri.

Pencarian yang gue lakukan kurang memuaskan. Beberapa gue tandai dulu dengan membookmark halaman website, menambahkannya ke daftar koleksi jika di media sosial. Setelah cukup, gue mulai melakukan scanning.

Ini cocok, tapi kejauhan, gue membatin. Ini dekat, tapi skill gue nggak mumpunin, komentar gue. Maklum saja, setelah lulus SMA, gue nggak pernah memperdalam kemampuan Bahasa Mandarin gue. Selain susah, belajar Bahasa Mandarin juga perlu dibimbing oleh orang yang bisa. Singkatnya, Bahasa Mandarin nggak mungkin di pelajari secara otodidak.

Gue terus mengusap layar hingga ke yang paling bawah. Menemukan berbagai jenis pekerjaan yang tersedia. Ini dekat, cocok, tapi minimal Pendidikan harus S1. Kenapa sih harus setara Sarjana dulu buat ngelamar posisi ini? Tanya gue seperti ke diri sendiri.

Cukup sulit menerimanya karena posisi yang ingin gue lamar masih berhubungan dengan kegiatan menulis dan syarat untuk melamarnya adalah minimal harus S1. Bicara soal menulis, gue udah terbilang cukup lama menekuni bidang ini. Walau hanya sebatas menulis blog dengan format sesuka hati, tapi sama aja dengan nulis, kan?

Bukannya pengalaman jauh lebih berharga dari sekedar teori tanpa praktik?

Setelah puas ngomel-ngomel, gue bisa menerima hal tersebut dan tak mempersoalkannya lagi. Pertanyaan seperti, kenapa harus Sarjana? Tak lagi bergelora di kepala gue. Gue langsung menutup laptop. Merebahkan badan di atas ranjang. Membaca pesan masuk.

Esok harinya, gue masih berusaha mencari. Bermodal sedikit pengalaman dan CV yang sudah terupdate, gue lantas melakukan pencarian lagi. Pada akun media sosial sebuah kedai kopi baru, gue menemukan sebuah postingan bertuliskan, We are currently seeking a part time Barista. Sepertinya pencarian gue menemukan ujung.

Hi, saat ini masih membutuhkan tenaga Barista nggak, min? Lalu syaratnya apa aja ya kalau boleh tau? tanya gue lewat direct messages.

Hi, iya, kirim CV ke alamat email yang ada di bio, ya, jawab adminnya ramah.

Tak butuh waktu lama, jemari gue menari dengan lincah di papan tuts. Mengetik alamat beserta isi email, lengkap dengan lampiran CV di dalamnya. Send. Email berhasil di kirim.

Gue buka lagi akun media sosial gue. Kali ini bukan mau nyari informasi lowongan kerja, lebih dari itu, sekedar membunuh waktu. Jantung gue seolah berhenti tatkala membaca alamat kedai kopi tempat gue melamar. Jakarta Pusat. Mampus, batin gue. Ya, untungnya sampai saat ini gue belum dapat panggilan interview dari kedai tersebut. Setidaknya gue nggak kewalahan dalam nyiapin alesan.

Penyesalan mulai menghantui di saat seperti ini. Gue menyesal karena waktu itu nggak melakukan perpanjangan kontrak kerja. Padahal pekerjaan gue dulu terbilang mengasyikan. Bahkan banyak teman-teman gue dari divisi lain yang iri dan seringkali bercerita bahwa mereka ingin bergabung dengan divisi gue yang terbilang nyaman dengan lingkungannya friendly sekali.

Yang tak kalah menarik dari tempat gue kerja dulu adalah ruangan kami terpisah dari divisi lain alias punya ruangan sendiri gitu. Sementara itu divisi lain harus berbagi ruang dengan ketiga divisi yang ada. Terkadang gue pengen maki diri gue sendiri. Betapa bodohnya gue dulu. Gue pikir lepas dari kontrak, gue bisa menemukan pekerjaan lain dengan mudah. Nyatanya, syarat buat ngelamar harus S1 dan sebagian lokasinya jauh.

Semangat untuk mencari tetap ada. Masih kuat. Namun bayang-bayang semester atas makin kuat menghantui saat gue ingin ngambil keputusan. Menurut kalian gue harus bagaimana?

Pernah nggak sih kalian ngerasa kayak gitu? Tiba-tiba merindukan suasana lingkungan tempat kerja dulu. Orang-orangnya atau mungkin ruangannya? Ceritain dong!

 

 

Contact

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail: [email protected]



13 COMMENTS

  1. Gak juga.. kangen sama orang2nya yg friendly mah bs ditemui di lingkungan kerja mana saja.. tp kesempatan untuk berkembang di tempat baru dan menambah skill blm tentu bs di daptkan di tmpt lama.. itu sebabnya sy memilih resign meski sdh jd pegawai tetap.

  2. Gue juga gitu, dulu mundur dari kerjaan gara-gara jam kuliah yng padat. Akhirnya kelar deh, gue keluar dari kerjaan. Sampai sekarang masih rindu dan terbayang, andai saja dulu gak keluar, gaji gue udah berapa ya. Hehehehe

    Setelah keluar kerja, sambil kuliah kerjaan apapun gue jalani. Mulai berwirausaha sampai jadi sopir taksi. Tapi gak nyesel juga, ternyata pengalaman lebih asik dri pada uang.

  3. Yaa kalau pas tiba-tiba bengong, terus kepikiran asyiknya temen-temen di tempat kerja dulu emang sering bikin kangen. Rasanya pengen balek kesana gitu. Tapi kalau inget “kejamnya” manajemen perusahaan, jadi mengurungkan niat lah. Hahaha

  4. ah, lingkungan kerja yg dulu , begitu menyakitkan , walau katanya dimanapun pasti ada yg spt itu tapi ini gak ada yang bisa dikenang, parah ya

  5. Iya neh, sekarang perusahaan yang dicari seorang yang berijazah sarjana.
    Bahkan perusahaan biasa/kecil pun welcome dengan sarjana.

    Disini menurut ak kenapa sarjana, ya sebetulnya pengalaman memang lebih penting, bahkan kalau diadu antara orang yang perpengalaman yang ijazah masih SMA dengan sarjana muda yah lebih potensial orang yang berpengalaman, tapi disini perusahaan2 mereka punya standart perusahaan dan tingkatan masing2, sesuai kebijakan perusahaan tersebut, makanya mereka memilih sarjana. Kalau masalah karir sih potential yang sarjana. Ini sih pendapat ak ya.

    Kalau masalah suasana kantor sih, di mana-mana bisa di dapati tergantung kita beradaptasiya.

  6. Saya ga tau jawabannya apa, kenapa harus sarjana. Tapi apapun yang sudah dipilih saat ini, jangan jadikan bebas. Toh itu keputusan diri sendiri, kan? Katanya, orang dewasa itu orang yang sudah tidak memusingkan konsekuensi dari pilihannya. Hang in there, jangan takut skripsi! :D

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.