Lagu yang Pernah Menghadirkan Kita

Siang itu Jakarta cukup bersahabat. Tak seperti hari biasanya yang sumpek dan kurang bersahabat dengan alat pernafasan. Mungkin karena bertepatan dengan hari libur. Orang-orang memilih bersantai di rumah atau melakukan perjalanan singkat dengan berlibur di luar Jakarta. Seperti ke Puncak, misalnya.

Sejak November tahun lalu, tempat ini sudah kujadikan sebagai tempat pelarian bila sedang merasa penat dan suntuk. Juga saat ingin mengasingkan diri. Menjauh sejenak dari lingkungan dan orang-orang yang kukenal. Biasanya setiap satu atau dua pekan, aku selalu menyempatkan waktu untuk mampir ke tempat ini. Membawa buku-buku bagus untuk dibaca dan laptop untuk menyelesaikan draft dan beberapa tulisan baru.

Aku dan Barista di sana sudah berteman akrab. Seolah tahu betul apa yang akan kupesan, jauh sebelum bibirku menyebut salah satu nama minuman yang ada di daftar menu. “Hari ini sendirian lagi, mas? Ceweknya mana?” goda Mas Dani sembari meracik minuman pesananku.

“Lagi berenang dengan ikan-ikan,” jawabku dengan senyum kecut.

Barista itu tergelak. “Yaelah, bercanda mas,” ucapnya berusaha mencairkan suasana. “Nih, Americanonya udah jadi.”

Aku menerima minuman dari tangannya.  “Makasih lho,” lalu berjalan ke arah pintu keluar sambil menenteng makanan dan minuman di tangan.

Kedai itu sedang ramai tatkala aku sedang menyunting draft untuk tulisan di blog dan wattpad. Mas Dani dan kawan-kawannya terlihat sibuk melayani pelanggan yang datang. Aku melirik jam digital di pojok kanan bawah yang tampil pada layar gawai. Sudah dua jam aku di sini. Tenggelam dalam kesibukan. Jemari tak pernah bergeser dari papan tuts, perhatian tak pernah lepas dari layar komputer jinjing yang kubeli setahun yang lalu.

Jemariku berhenti memijit papan tuts kala tulisanku telah sampai di paragraf keempat. Semesta seolah berhenti bekerja saat pemutar musik memutar lagu yang pernah kudengar di suatu tempat. Bulu tengkukku meremang. Mendengarnya, membawa ingatanku kembali padanya.

Ceritanya lagi mendengarkan lagu
Ceritanya lagi dengerin lagu
sumber gambar: lihat di sini

Lagu ini pernah menghadirkan kita, batinku seraya mengingat kembali kejadian di masa lampau. Ialah lagu yang pernah menghadirkan kita, yang menempatkan kita pada satu kondisi dan tujuan yang sama. Peneman kala kantuk dan sepi mulai merayap. Dalam hingar-bingar lagu bertepo cepat aku berbisik, siapa penyanyinya? Dan apa judulnya?

Tangga Lagu Billboard yang kujadikan sebagai referensi, belum mampu menjawab rasa penasaranku akan judul lagu yang menghubungkan aku dan dia. Hal konyol pun terjadi saat rasa penasaranku semakin menjadi. Lagu itu kuberi judul dengan nama dia. Entah apa yang kupikirkan saat itu. Entah apa yang kuinginkan setelah itu. Tak ada yang tahu. Termaksud diriku sendiri.

Baca Juga: Taman dengan Luka

Aku tersadar dari lamunan saat seseorang menyentuh bahuku. “Ini kosong kan, mas? Saya boleh pinjem kursinya?” kata pria berambut gondrong yang kini berdiri di depanku.

“Oh, tentu.” balasku.

“Makasih.”

Aku mengangguk. Sama-sama, batinku.

Aku menyambung kembali kegiatanku yang sempat terhenti. Membenamkan diri dalam barisan kalimat dan kata-kata tatkala lagu itu tlah habis didengarkan. Sudah empat puluh menit berlalu dan pekerjaanku masih di situ-situ saja. Belum menghasilkan satu paragraf baru.

Langit tlah berubah warna jadi biru kehitaman saat aku sedang membereskan buku-buku, kertas warna dengan coretan dan laptop di atas meja. Hari itu tidak banyak yang kulakukan. Sebagian besar kuhabiskan untuk mendengarkan lagu. Memutarnya berulang kali hingga telinga lelah mendengar. Bermain dengan ingatan. Menikmati setiap perasaan yang tumbuh menghijau dari waktu ke waktu hingga akhirnya menguning, layu dan mati.

Sekali waktu aku masih bisa merasakan hadir dan hangat senyumnya pada tiap-tiap lagu yang kuputar saat sedang menulis atau saat mulai mengusir sepi. Aku pun mulai sadar bahwa rasa ini tak lagi sama dengan yang dulu. Jika Raditya Dika percaya bahwa cinta bisa kadaluwarsa, pun aku juga percaya bahwa cinta tak berbalas juga memiliki tanggal kadaluwarsanya. Dan mungkin inilah waktu dimana cinta tak berbalas itu memasuki tanggal kadaluwarsanya.

Kalau menurut kalian gimana? Kalian setuju nggak sih bahwa cinta bisa kadaluwarsa? Yuk, tulis jawaban kalian di kolom komen! :)

 

 

STAY CONNECTED

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail:[email protected]



9 COMMENTS

  1. Semua perasaan terikat oleh waktu, jadi cinta pun hanya hidup pada masanya. Ketika masa itu berakhir, yang tersisa tinggal komitmen dan janji untuk bahagia bersama :)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.