MeetUp di Tengah Inagurasi

Hal yang paling di nanti-nanti para Binusian usai melewati masa-masa FEP ialah acara penyambutan mahasiswa baru atau biasa disebut dengan Inagurasi. Tanggal 30 Agustus lalu tepatnya, Binus University mengadakan acara pelantikan untuk mahasiswa barunya, Binusian 2020 yang bertempat di gedung Jakarta Convention Center (JCC), Senayan.

Bukan cuma mahasiswa dari Binus University saja, kawan-kawan dari Binus Internasional dan Binus ASO juga hadir meramaikan acara.

Eh, kita kan shift 2, kita nyantai saja, men. Kata Aldo malam sebelumnya.

Ya, saat ini kami tengah memikirkan persiapan untuk pergi ke JCC besok. Mulai dari sarapan, jam keberangkatan dan alat transportasi ke sananya.

Iya, kita nggak usah pagi banget berangkatnya. Minimal jam 12 kita nyari Papa Uber.

Nggak bisa gitu. Paling cepat itu jam satu siang kita berangkat ke sana.

Yee, terserah lu pada, dah. respond gue menanggapi percakapan mereka.

***

“Satu, dua, tiga, empat,” Jari telunjuk Ivan menari mengikuti gerakkan bibirnya. “Kita ada sembilan orang. Bersembilan harusnya satu mobil saja cukup. Nanti Reza pangku sama gua.” kata Ivan.

“Nggak bisa, Van. Mending pesan dua mobil aja.” Protes Willy kemudian.

“Mending kita coba dulu, mana tahu bisa.”

Setelah menunggu cukup lama akhirnya transportasi pilihan kami pun tiba. “Lu pangku sama gue, Za.” Kata Ivan yang duduk di bangku paling depan persis di sebelah supir.

Karena badan gue kecil, gue sadar diri dan ngikuti anjuran Ivan. Saat gue di pangku, si supir memasang muka masam. Kelihatannya dia kurang senang dengan pemandangan ini. “Maaf, mas, saya takut nanti mobilnya kena tilang sama polisi. Maksimal enam orang saja yang naik, ya.” protes supirnya.

“Enggak bisa di muat-muatin saja, pak? Soalnya kita buru-buru nih,” bujuk Ivan.

“Maaf, tapi nggak bisa, mas.”

“Jadi gimana?”

“Nggak bisa di muat-muatin dulu, pak? Soalnya kita hampir terlambat ini,” bujuk Willy.

“Maaf, tapi nggak bisa.”

“Yaudah kalau begitu kita bagi dua saja. Kalian pesan satu mobil lagi, nanti kalau kami duluan yang sampai di sana, kami tunggu.”

Dengan begini kami terpaksa harus pisah mobil dengan empat orang lainnya. Ahong, Aldo, Erick dan gue ikut sama Ivan. Sementara Andre, Jordi dan Rico ikut dengan Willy.

Di jalan menuju JCC. Btw Ivan duduk di paling depan sehingga dia ga bisa ikut foto bareng kami.
Di jalan menuju JCC. Btw Ivan duduk di paling depan sehingga dia ga bisa ikut foto bareng kami.

Mobil yang kami tumpangi pun sampai di Jakarta Convention Center bersamaan dengan hujan yang membasahi jalanan ibukota. Tak jauh dari mobil yang kami tumpangi, ada mobil yang ditumpangi oleh kelompok Willy.

“Eh, mending kalian turun di sini daripada di sana.” saran Ivan. Willy dan yang lainnya berusaha mencerna maksud perkataan Ivan sebelumnya. “Kalau nggak, kami tinggalin,” ancam dia. Sejurus kemudian mereka mengambil langkah tegas, “Pak, kami turun di sini saja,” kata Jordi.

Setelah semuanya turun dari mobil yang mereka tumpangin, kami bergegas menuju hall JCC di mana rombongan kelas sudah menunggu. Saat kami sampai, rombongan Shift 1 sibuk mengabadikan momen lewat lensa kamera bersama dengan teman-teman yang di kenal. Beberapa juga ada yang sudah siap untuk pulang ke rumahnya masing-masing sehingga membuat pintu masuk dan keluar JCC jadi sesak.

Baca Juga: Dikeroyok Anak Lampung

Di tengah lautan manusia ini pula kami berjuang mencari titik berkumpulnya rombongan kelas kami, DBN 03. Saat mulai memasuki pintu masuk, kami sempat kesulitan mencari mereka. Nggak heran, semua mahasiswa Binus berkumpul memadati Jakarta Convention Center. Bahkan, saking banyaknya, Binus terpaksa membagi acaranya menjadi dua sesi.

Jeri payah kami membuahkan hasil. Kami berhasil menemukan rombongan kelas di tengah padatnya manusia.

“Eh, Za, lu aja ya, yang jadi maskot kelas.” Kata Indra begitu kami baru sampai. Saat itu pula terjadi serah terima jabatan untuk maskot kelas. Entah apa motivasi Indra mempercayakan jabatannya itu ke gue. Secara umum, dia memenuhi persyaratan untuk jadi maskot: badan besar dan tinggi. Sementara itu yang bakal menggantikan tugas dia memiliki postur tubuh yang mungil dan imut. Gapapa, muntahkan saja, gue tahu kalian jadi pengen muntah saat membaca bagian imut di atas. Soalnya gue sudah muntah duluan saat nulis ini~

Sebagai seorang lelaki sejati dan kawan yang baik hatinya *cielah, gue menerima tawarannya itu dan detik itu juga, gue jadi maskot kelas. Hal paling utama yang gue lakuin setelah resmi jadi maskot kelas ialah dengan mengelilingin hall JCC dengan ditemani oleh dua rekan gue, Frendy sama Andre.

Tentu gue bukanlah tipe orang yang baik hatinya dan mau ngorbanin diri demi kelas. Gue punya alasan lain kenapa mau keliling JCC. Alasannya simpel, GUE MAU CUCI MATA. Kenapa? SOALNYA SEDARITADI (DARI PAGI SAMPAI DI JCC), GUE BARENG COWOK MULU. TERUTAMA DI DALEM MOBIL. ITU, BEH, GERSANG BANGET, MEN. NGGAK ADA PEMANDANGAN SAMA SEKALI. YANG GUE LIHAT KALAU BUKAN BREWOK, YA, KUMIS.

Alasan kedua, karena kita mau meetup sama teman dari kampus Alam Sutera. Ya, kita. Andre sama Frendy nggak mungkin mau nemenin gue keliling JCC kalau bukan karena ingin ketemuan sama teman-teman dari Alam Sutera.

Baca Juga: Meetup Nggak Tau Malu

Salah satu teman kami dari kampus Alam Sutera yang akan kami jumpai adalah Jacky. “Kalian di mana?,” tanya Jacky di grup. Setelah membaca pesan itu, gue, Andre dan Frendy bergerak mencari Jacky.

“Nah, itu si Jack.” Tunjuk gue ke kerumunan kelas DAS. Kami bertiga menghampiri kerumunan tersebut. “Halo, Jack, ini gue, Reza,” sapa gue, memberikan jabat tangan. “Ini Andre dan ini Frendy.” Lanjut gue.

“Gue Jacky,” balasnya, menyalami kami satu-persatu.

“Mana si Jul?” tanya gue.

Jul atau Julian juga merupakan salah satu dari teman baru kami yang mengambil kampus di Alam Sutera. Sama seperti yang pernah gue tulis di post sebelumnya, gue mengenal Jacky, Julian dan beberapa teman dari kampus Alam Sutera melalui grup gelombang DBN Binusian 2020.

“Mungkin lagi di jalan. Soalnya kami beda bus,” terang Jacky.

“Yaudah, sekarang lu ikut kita dulu,” gue menarik Jacky dari rombongan kelasnya.

“Gue pergi sebentar, ya,” kata Jacky pamit dengan kawan kelasnya.

“Iya, Jack.”

Jacky memisahkan diri dari rombongan kelasnya.

Pada di mana? Jacky sudah sama kita nih. Sambil menunggu respond dari mereka, kami berempat keliling melihat-lihat kelas DBN yang lain.

Setelah semuanya berhasilnya dikumpulin, kami meluangkan waktu untuk ngobrol sebentar dengan Jacky. Maklum, selama ini kami cuma bisa ngobrol via Line.

Eh, cepat, bentar lagi di suruh masuk, kata Buddy Coordinator salah satu kelas ke rombongan buddynya.

“Eh, foto, yuk.” Ajak Jacky. Salah seorang dari kami mengorbankan hapenya untuk di pakai berfoto. Selesai foto bersama, kami kembali ke rombongan kelas masing-masing karena ini sudah waktunya kami untuk masuk ke dalam JCC.

Proud to be DBN03!!! #DBN03 #binusian2020 #JCC #ccbinusian2020 cc: @binustv

Foto kiriman Reza Andrian (@rezaandrian_) pada

Kalian duduk di mana? Nyalain flashnya, dong! Pinta Cindy di grup.

“Lu ngapain Za nyalain flash?” tanya seseorang yang duduk di sebelah gue.

“Lu lihat cewek di barisan depan sana yang lagi berdiri?”

“Iya, kelihatan,” ucap Willy diikuti dengan anggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti.

“Dia itu teman gue. Dia minta kami nyalain flash supaya dia tahu di mana kami duduk.” terang gue, lalu ngelanjutin aktivitas gerak-gerakin flash dari tempat duduk. Setelah saling memberitahu lokasi tempat duduk masing-masing melalui kode flash, lampu ruangan tersebut lambat laun mulai meredup sampai akhirnya mengundang kegelapan di tengah keramaian.

Sebelum acaranya di mulai, beberapa peraturan diucapkan oleh sepasang pria dan wanita yang menjadi MC di acara inagurasi tersebut. Aturannya berbunyi: selama sesi formal berlangsung tidak di perkenankan untuk ke toilet, menyalakan hape, minum dan menggunakan almamater sampai sesi formal di anggap usai.

Semua bernafas lega setelah sesi formal usai. Ada yang langsung menikmati minuman dan ada juga yang berlarian ke toilet.

Pada sesi nonformal kami diberi hiburan dengan penampilan dari UKM Binus seperti Band, Paduan Suara, Seni teater dan masih banyak lagi.

***

“Kita foto sekelas dulu,” kata salah satu BC kami yang biasa dipanggil Ko Raffi.

“Elah, gimana, ini, kita nggak bisa foto bareng mereka, dong?”

“Iya, kayaknya nggak bisa. Tergantung ini kelas seberapa cepat selesainya.” Balas Frendy.

Hal paling sulit adalah ketika kamu di hadapkan oleh dua pilihan yang menurutmu sama-sama penting dan kampretnya kamu harus milih satu dari dua pilihan yang akan jadi prioritas utamamu. Foto bareng sahabat yang datang dari jauh atau foto bareng teman kelas saat FEP kemarin? Ini dilema banget, men. Di satu sisi gue pengin foto bareng mereka, namun di sisi lain gue juga ingin foto bareng teman kelas dan BC untuk yang terakhir kali.

Baca Juga: Ada Cerita Saat FEP

Keduanya juga belum tentu bisa jumpa lagi karena pasti nanti sama-sama sibuk dengan kegiatan perkuliahan.

Setelah berunding sama Frendy dan Andre, kami mengambil keputusan untuk foto sekelas dulu lalu lanjut bareng mereka.

Kami di tempat tadi. Balas mereka. Puas foto bersama dengan rombongan kelas, kami langsung nyusul ke tempat di mana mereka sudah menunggu kami bertiga.

Usai foto bersama yang memakan waktu sampai lebih kurang dua jam, kami memutuskan untuk pulang. Dan timbul lah masalah. “Hape lu dapet nggak?” tanya gue.

“Kagak, hape lu?” tanya dia balik.

“Sama, nggak dapet juga,” jawab gue. Tidak ada satupun dari kami yang menemukan supir yang mau mengantarkan kami pulang ke daerah kemanggisan. Bahkan yang lebih parahnya lagi, tidak ada satupun driver yang terdeteksi di dalam GPS sampai mengharuskan kami menunggu ssampai malam mulai menampakkan wujudnya, dan keajaiban pun terjadi.

“Bareng saya saja, saya lagi nggak ada kerjaan,” kata si supir menawarkan dirinya untuk nganterin pulang. Sudah pasti kami akan menjawab, “YA!”, karena bagaimanapun juga kami lagi butuh transportasi pulang saat itu. Akhirnya kami bisa pulang setelah mendapat tumpangan gratis dari pak supir yang baik hati.

Saat di jalan pulang semuanya terlihat letih sehabis mengikuti acara Inagurasi. Ada yang mukanya lesu karena belum makan, ada yang tidur gara-gara kecapekan. Tapi begitulah, acaranya memang benar-benar capek, terlebih bagi perwakilan jurusan seperti Nathan yang mewakili jurusan Sistem Informasi.

Setelah sampai, semuanya pulang ke kosan masing-masing. Tapi tidak bagi gue, Alvin dan Glenn. Bukannya pulang dan istirahat, kami malah berkunjung ke kostan Andre untuk numpang makan sekaligus mengistirahatkan badan sejenak sebelum akhirnya pulang ke kostan masing-masing dan tepar.

Foto bersama rombonga kelas saat sebelum masuk ke dalam Plennary Hall JCC
Foto bersama rombonga kelas saat sebelum masuk ke dalam Plennary Hall JCC
foto-bersama-rombongan-kelas-2
Foto bareng rombongan kelas lengkap dengan Buddy Coordinator kami
meetup-di-tengah-inagurasi-3
Tim kampus kemanggisan
meetup-di-tengah-tengah-inagurasi
MeetUp anak Kemanggisan dan Alam Sutera :3

Begitulah keseruan saat Inagurasi kemarin. Kalau kamu punya cerita seru saat pelantikkan mahasiswa baru di kampusmu, yuk, share di kolom komentar di bawah ini :)



9 COMMENTS

  1. wih, nak binus… jadi lo inagursi shift 2 yak? nggak seru, gue shift satu.. ABN gue dapet tempat duduk paling depan dibelakangnya petinggi2 binus gitu.. jadi sukar untuk membuat keributan, hahaha.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.