Mengasingkan Diri

Sambil menunggu hasil MRI nya keluar, gue mengasingkan diri selama 4 hari di luar bumi, atau lebih tepatnya di kota Bekasi. Tentu, gue nggak pergi sendirian ke sana, ada nyokap sama adek gue yang menemani. Gue nggak bisa pergi sendirian karena gue nggak kenal sama keluarga nyokap. Ada begitu banyak keluarga sampe-sampe gue nggak tau mana yang satu Ibu dengan nyokap dan mana yang bukan. Keluarga nyokap gue tuh banyak, men. Saking banyaknya itu bisa dibikin dua tim sepak bola dan satu tim futsal. Banyak banget, kan?

“Alamatnya di mana dek?” tanya gue.

“Jalan Ayam, RT 99, RW 100, kompleks perumahan Doraemon.” Sebutnya satu-satu.

Gue mengeja kembali apa yang telah disebutin sama adik gue. “Oke.” Beberapa menit kemudian hape gue berdering. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak di kenal.

“Ya, hallo?”

“Halo, di mana lokasinya mas?” tanya seseorang di seberang.

“Mas sekarang ada di mana?” tanya gue balik. Orang diseberang memberitahukan keberadaannya saat sedang menelpon gue dengan detail.

“Oh, oke. Dari situ mas masuk ke kompleks A, dari tempat satpam lurus terus. Mentok, belok kanan. Lalu belok kiri,” gue menyebutkan detai lokasi penjemputan. Panggilan di akhiri dan gue berjalanan ke lokasi yang gue sebutin tadi.

Toyota Rush warna silver dengan nopol Jakarta berhenti di depan sebuah gang. “Itu ma, mobilnya.” Kata gue, sambil membaca layar hape.

Baca Juga: Jangan Dekat Dekat

“Dengan mas Indra, kan?” tanya gue dengan sang pemilik mobil Toyota Rush silver tersebut. Pemilik mobil itu menurunkan kacamatanya.

“Ya, saya Indra. Dengan mas Reza ya?” kata pria berkacamata hitam tersebut memastikan.

“Iya.”

Tanpa menunggu aba-aba, gue nyelonong masuk ke dalam mobil dan mengatur posisi duduk senyaman mungkin.

“Kompleks perumahan Doraemon di Jati Bening ya mas?” tanya driver tersebut ke gue.

“Iya.”

Mesin mobil itu menyala, siap mengantar kami ke tujuan.

***

TING-NUNG. Bunyi suara bel. TING-NUNG. Bunyi bel untuk yang kedua kalinya. Pintu rumah itu terbuka, menampakkan wujud sang pemilik rumah.

“Ya, betul ini rumahnya, mas. Makasih ya.” Gue memberikan tiga lembar uang kertas kepada sang driver yang telah mengantarkan kami jauh-jauh dari Jakarta menuju Bekasi.

Driver tersebut menyambut tangan gue, “Ya, sama-sama, mas.” Mesin mobil menyala dan Toyota Rush silver itu perlahan menghilang ditelan kegelapan malam.

Pagar rumah terbuka, “Masuk Tante,” kata sang pemilik rumah ke nyokap gue.

Di ruang tengah…

“Tadi berangkatnya jam berapa?” tanya kakaknya nyokap gue.

“Jam 5 tadi mak tuo,” jawab gue.

“Oh, macet tadi?”

“Nggak juga sih,” kata gue. “Macetnya pas mau masuk gerbang tol aja.”

Ditengah obrolan Bang Rezy keluar sambil membawa lima gelas minuman serta beberapa camilan. Rezeki jangan ditolak, pikir gue.

Hape gue bergetar. Menampilkan satu notifikasi yang datang dari orang yang gue kenal.

Udah sampe Za? Bunyi pesan tersebut. Pesan itu dikirim oleh Kak Yunda.

Gue membalas pesan tersebut. Alhamdulillah, udah, kak.

Alhamdulillah kalau gitu. Jam berapa nyampenya? Balasnya lagi.

Gue ngecek jam yang melingkari tangan kiri gue. Sekitar 7 menit yang lalu, lebih tepatnya jam 5.50, kak. sebut gue, seakurat dan sedetail mungkin. Setelah memberikan informasi waktu, kami tak lagi saling berbalas pesan atau lebih tepatnya, pesan terakhir yang gue kirim cuman di read. Gue udah biasa diginiin.

***

“Bang, di sini ada Sevel, nggak?” tanya gue.

“Nggak ada, Za. Di Bekasi nggak ada Sevel.”

“Loh, kok bisa?” selidik gue. Ini aneh. Kok bisa-bisanya kota besar seperti Bekasi ini nggak ada Sevel?

Bang Rezy nggak ngasih penjelasan, ia diam seribu bahasa. “Memangnya mau ngapain di Sevel?” tanyanya.

“Mau beli mie Samyang, bang.”

“Samyang? Itu apaan sih?”

“Itu mie instan asal Korea,” bang Bilman menimpali.

“Mie instan korea?” tanyanya. “Enak?”

“Nggak tau sih, katanya pedes.”

“Reza mau beli samyang?” tanya bang Rezy.

“Iya, bang.”

“Di mana nyarinya, man?”

“Waktu itu kalau nggak salah lihat di SI ada deh.”

Bang Rezy bangun dari tempat duduknya. Gue diam ditempat, menatapnya sambil kebingungan, punggungnya perlahan menjauh dari penglihatan. Terseka oleh pembatas.

Perjalanan gue sama Bang Rezy dalam mencari samyang tidaklah mulus. Gue kira kalau udah di kota besar kayak Bekasi gini mudah untuk menemukannya, tau-taunya sulit. Sesulit menemukan jodoh. Sudah empat minimarket dan dua supermarket yang kami kunjungi,  tetep aja gue nggak nemu produk yang lagi gue cari.

Kalau kalian tau di mana tempat untuk nyari samyang, tolong komen di bawah, ya? Plis, gue penasaran banget sama rasanya hihihi.

Kami pulang dengan tangan kosong. Prioritas gue saat itu ya, nyari samyang. Bukan nyari yang lain. Jadi pas di supermarket atau minimarket gitu nggak kepikiran pengen beli yang lain.

“Gimana? Dapet?”

“Nggak dapet mak tuo.”

“Emang udah nyari ke mana aja?” tanyanya.

“Udah nyari ke empat minimarket dan dua supermarket, tapi nggak ada juga.”

“Kok bisa sih Ji? Udah coba nyari ke superinstan?”

“Udah ma, tapi tetep nggak ada.”

“Gapapa mak tuo, nanti Reza cari aja di Jakarta,” bela gue, biar Bang Rezy nggak disalahin. “Di Sevel Jakarta pasti ada kok.”

“Iya juga ya, di Jakarta pasti ada.”

***

 “Bang, bangun bang! Kita mau berangkat lagi!”

“Kok pagi-pagi banget sih, ma?” kata gue, malas. “Jam 7 aja lah.”

“Kita kan numpang sama bang Beri!” maki nyokap gue.

Sial! maki gue, tertahan dikerongkongan. Nggak sampai naik ke permukaan. Gue baru ingat kalau berangkat ke Jakartanya sama Bang Beri. Dan gue bangunnya kesiangan. Dasar, penumpang yang nggak tau diri! Maki diri gue sendiri. Disusul lompatan nggak jelas ke arah kamar mandi.

Saking betahnya menginap di Bekasi, gue sampai lupa kalau hari itu gue harus kontrol ke rumah sakit lagi sekaligus ngambil hasil MRI. Pagi itu gue nggak sempat sarapan sama sekali. Hanya segelas teh hangat yang berhasil masuk ke dalam kerongokongan gue di pagi itu. Ya, gue benar-benar diburu oleh waktu.

Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 5 pagi, lebih tepatnya setelah selesai sholat subuh. Jalanan di Bekasi basah diguyur hujan. Meski sedang hujan, Honda Mobilio warna hitam yang kami tumpangi melesat dengan lincah di jalanan Bekasi.

Baca Juga: Perjalanan Tak Terduga

Setelah 4 hari mengasingkan diri di Bekasi, akhirnya gue balik ke Jakarta juga. Beruntungnya kami karena kebetulan kantornya Bang Beri masih satu arah dengan RSCM.

Melihat mobil-mobil seramai ini di jalanan pada pukul 5 pagi, adalah pemandangan langkah yang tak pernah atau bahkan jarang gue jumpai di Bengkulu.

Kami sampai ditujuan sekitar pukul 5:35 pagi. Artinya perjalanan dari Bekasi menuju Jakarta memakan waktu 35 menit. Untungnya saat di gerbang tol Bang Beri ambil yang otomatis.

“Yes! Bisa dapet antrean paling awal!” gumam gue. Begitu ke bagian admisi, antrean sudah panjang, mengular. Sementara bagian admisi belum di buka.

Kalau jam segini aja antreannya udah panjang, trus mereka semua ini ngantre dari jam berapa?! Biar nggak jadi antrean paling belakang, gue langsung meletakkan map biru yang berisi kumpulan hasil lab dan beberapa data lainnya di lantai. Menunggu kantor admisi di buka.

***

“Jadi gini Reza, walaupun hasil MRI kamu bagus, bukan berarti di sana nggak ada apa-apa. Ada beberapa hal lagi yang harus kita tinjau bersama. Jadi, aku ingin kamu cek ini ke lab di luar.” Kata mahasiswa kedokteran UI. Memberikan gue sepucuk surat untuk pemeriksaan. “Kita nggak bisa ngecek di rumah sakit ini. Jadi, kamu harus cek ke laboratorium Prodia di luar sana, ya?” tambahnya.

“Lab. Prodia? Itu di mana dok?”

“Coba tanya sama orang di depan, mereka tau di mana tempatnya.”

Setelah bertanya ke perawat dan juga satpam, gue pergi ke Lab. Prodia yang letaknya nggak terlalu jauh dari RSCM, di Kramat Raya. Yah, kira-kira satu kali naik angkutan umum lah. Setibanya di lab yang ditunjuk oleh dokter, gue langsung mengambil nomor antrean pendaftaran dan menunggu untuk dipanggil.

“Ada yang bisa saya bantu, mas?” tanya pria berpakaian batik dibagian pendaftaran.

“Jadi gini, pak. Saya pasien RSCM, diminta untuk melakukan pemeriksaan di sini. Jenis pemeriksaannya itu, ini.” Gue memberikan selembar kertas yang diberikan oleh dokter.

“Sebentar ya, saya cek.” Kata petugasnya. Kami diminta menunggu sebentar.

“Jadi jam 8 pagi mas udah harus ada di sini untuk diambil darahnya. Nah, apa mas berminat untuk melakukan pendaftaran sekarang?” tanyanya.

“Kalau besok gimana, pak?” tanya gue.

“Besok sih, bisa. Tapi mungkin antreannya bakal panjang. Saran saya, mas daftar sekarang aja, trus besok tinggal datang ke sini tanpa perlu mengantre lagi.”

“Boleh, deh,” kata gue.

“Boleh saya pinjem KTP nya sebentar, mas?” tanyanya.

“Oh, tentu,” KTP milik gue berpindah tangan. Setelah pengisian data tersebut, gue memberikan kartu debit sebagai alat pembayaran.

“Nah, jadi, besok mas tinggal serahin ini aja sama petugasnya. Pengambilannya di ruang sebelah sana,” tunjuknya. “Kalau yang ini mas simpen. Untuk pengambilan hasil kesimpulan labnya.” Tambahnya. Gue mengangguk tanda mengerti.

***

Sesuai permintaan, gue datang tepat pukul 8 pagi. Sebenarnya udah terbilang telat, sih, untungnya gue udah daftar dari kemarin. Pas ada yang kosong, gue langsung menghampiri petugas dan nyerahin amplop tersebut.

Baca Juga: Hari Pertama di Jakarta

Bukan cuma sekali, tapi hari itu darah gue diambil dua kali. Di Lab. Prodia, dan di Lab. RSCM. Jenis pemeriksaannya pun berbeda dan yang diambil pun berbeda. Di prodia, ada dua tabung darah yang diambil. Di RSCM, ada tiga tabung. Total ada 5 tabung darah yang berhasil di ambil. Pulangnya gue lemes banget karena kurang darah. Rencana pengen beli tas hari itu, batal, gara-gara badan gue terlalu lemas. Berjalan pun nggak sanggup. Setibanya di rumah, gue langsung tidur. Sampai sore tiba.

Kiri-Kanan
Dari RSCM Doc.Pribadi.
Dari Prodia Doc. Pribadi
Dari Prodia
Doc. Pribadi

Akhirnya! Bagian ini kelar juga! Jujur, mood gue lagi jelek banget pas nulis post ini. Terutama pas pengalaman di Bekasi. Gue bingung mau nulis apaan. Tapi gapapa, akhirnya post ini kelar! Sebenarnya masih ada satu post lagi, dan post itu akan jadi post penutup perjalanan gue selama tiga minggu di Jakarta kemaren. Tunggu aja, ya!

Baca Juga: Kamu Membuat Saya Kecewa



3 COMMENTS

  1. Wah gue belum pernah diambil darah sebanayak itu sih. Serem juga ya kayaknya. Banyak-banyak hemaviton tuh! *lalu promosi*
    Anyway, bukannya banyak ya samyang-samyang gitu? Lottemart coba deh.

  2. Za?! Darah lu diambil kapasitas 5 tabung?! What’s… Aku aja yang disuntik udah pengen nangis. Ambil darah sedikit buat tes golongan darah udah meringis. Lah kamu, Za…. :'(
    Haha emang gitu sih Za, aku juga dateng seawal-awalnya, pasti berpeluang 1/30 bisa ambil urutan pertama :( mungkin kamu harus dateng jam 3 subuh deh heuheu
    Aku tunggu yang terakhir~~

  3. Beli samyang dimana? Di temen adek gue bisa nih kebetulan gue barusan mesen dan besok barangnya diambil :p

    Btw samyang banyak yang jual di toko online, coba cek di instagram pake hastag jual samyang atau samyang aja kali aja ada. Biasanya sih ada dan banyak yang jual :D

    Wew darahnya itu yang diambil banyak banget, hati hati kurang darah, kalo kurang darah, minum aja sangobion *jadi promosi* hahaha for the first time nih kayaknya mampir kesini :D

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.