Menghabiskan Liburan di Bekasi

Apa kabar? Gimana liburannya kemarin? Apakah menyenangkan? Semoga saja menyenangkan, ya.

Tiap libur natal dan tahun baru, masing-masing orang punya cara tersendiri untuk menghabiskan waktu liburan. Berbeda dengan orang-orang kebanyakan yang menghabiskan waktu libur dengan keluarga di kampung, sebaliknya, libur kemarin, gue nggak pulang kampung dan memilih untuk menghabiskan liburan di Bekasi. Dasar anak durhaka!

Untuk menyambut natal dan tahun baru, kampus diliburkan selama dua minggu. Hal ini diperburuk dengan adanya tugas yang dosen berikan sesaat sebelum kelas dibubarkan. Selain liburnya singkat, juga ada tugas yang harus dikerjakan dan dikumpul. Baik melalui forum, maupun di kumpul secara langsung saat aktivitas di kampus berjalan seperti biasa. Saat yang lain pulang membawa oleh-oleh, gue pulang membawa tugas. Nggak, ini nggak gue banget. Jadilah gue batal pulang karena ada tugas.

Seperti yang diharapkan, nyokap menyetujui keputusan yang telah gue ambil. “Iya juga, daripada sekarang Abang pulang terus Februari nanti pulang lagi, mending mama tambahin aja uang sakunya,” kata nyokap di seberang. Beberapa hari setelah teleponan sama nyokap, saldo di rekening gue bertambah sesuai jumlah nominal yang sudah disepakati.

Minggu, 25 Desember 2016

Minggu sore gue berangkat dari kost ke rumah saudara yang ada di Bekasi. Sesampainya di Bekasi, Mak Tuo langsung menjamu dengan makanan yang sudah terhidang di atas meja makan. Gue datang di waktu yang tepat karena makanan tersebut baru saja selesai di masak.

Senin, 26 Desember 2016

Keesokan harinya, gue pergi ke daerah Summarecon Bekasi. Bukan liburan namanya kalau nggak ngapain-ngapain. Dengan bermodal jiwa petualang alias sotoy, gue menemukan apa yang gue cari tanpa di pandu oleh orang yang khatam dengan setiap sudut mall tersebut. Sebuah bioskop. Saat gue sampai, antreannya sudah lumayan panjang. Tapi tidak terlalu panjang untuk ukuran hari libur nasional. Saat gue lihat masih jam dua belas kurang. Wicis, bioskopnya baru di buka.

“Satu tiket untuk film Hangout, tempat duduknya di sini,” kata gue dengan mantap sambil menunjuk bangku di Row B seat nomor 13 yang tampil di layar. Iya, SATU TIKET UNTUK FILM HANGOUT. Memang mengecewakan. Nonton film komedi seorang diri di daerah orang. Apalagi gue punya rekam jejak yang buruk terkait nonton di bioskop. Gue selalu mendapat seat yang bersebelahan dengan orang-orang yang lagi pacaran. Mau horror, mau komedi, selalu saja duduk bersebelahan dengan orang yang membawa pacar. Apes.

Kutukkan itu sepenuhnya terangkat saat gue nonton di Bekasi. Tanpa diduga-duga, gue duduk bersebelahan dengan cewek cantik. Akhirnya!

Kamis, 29 Desember 2016

Rencanannya gue mau nonton hari ini. Waktu itu tanggal dua puluh sembilan Desember. Ada film komedi baru yang ingin gue tonton. Setelah berpakaian rapih, gue pamit dengan Mak Tuo, juga Bang Rezy untuk berangkat ke Grand Metropolitan.

“Pak, XXI-nya di mana, ya?” tanya gue dengan seorang petugas keamanan.

“Ada di lantai atas deh kayaknya, mas?” ucapnya dengan nada ragu.

Gue yang nggak tahu apa-apa menurut saja dengan petunjuk dari petugas tersebut.

Setibanya di atas, gue perhatiin nggak ada tanda-tanda keberadaan bioskop di sini. Gue perhatikan lagi, ternyata bukan di lantai paling atas. Melainkan satu lantai di bawahnya. Gue nggak punya pilihan selain harus turun satu lantai lagi.

Pintu bioskop masih tertutup rapat. Namun sudah ada yang berbaris dengan rapih dan teratur menunggu pintu bioskop tersebut di buka. Gue ikut ngantre. Begitu pintu di buka, semuanya masuk dengan sangat teratur. Mata gue menatap monitor yang menempel di dinding. Mata gue mengerjap. Meyakinkan diri bahwa yang gue lihat adalah sebuah kesalahan. Masih kurang yakin, gue mengucek mata. Berharap apa yang gue lihat hanyalah sebuah ilusi optik.

Apa yang gue lihat justru berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan. Bioskop di mall tersebut tidak menayangkan film yang ingin gue tonton. Kampret. Ternyata salah mall! batin gue saat ngecek jadwal di website. Film yang ingin gue tonton ternyata nggak tayang di Grand Metropolitan. Gue salah baca. Seharusnya Metropolitan, bukan Grand Metropolitan.

Begitu mengetahui kebenarannya, gue langsung keluar dari barisan sambil pura-pura ngangkat telepon. Berjalan ke arah pintu keluar, lalu menghilang dari pandangan saat semuanya sedang lengah. Gue menjauh dari bioskop secepat yang gue bisa supaya malunya nggak berlipat ganda.

Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Gue berjalan ke mall satunya lagi secepat yang gue bisa. Berharap antrean di sana nggak panjang. Begitu gue hampir sampai, gue teringat dengan pesan bang Niko yang mengatakan mall tersebut menyediakan shuttle bus. Kampret. Tahu gitu ngapain gue capek-capek jalan kaki!!? Panas-panasan lagi!

Sesampainya di sana, gue terkejut dengan antreannya. Bioskop tersebut masih belum di buka saat jam sebelas lewat, sehingga semuanya menumpuk di depan bioskop. Awalnya biasa saja. Semuanya berubah ketika ada seorang cewek yang menyelak antrean. Gue kesal dengannya. Saat semuanya mengantre dengan tertib, tanpa berdesak-desakan, tiba-tiba cewek yang baru datang itu entah sengaja atau tidak disengaja, dia kayak nggak sadar bahwa ada orang di belakangnya. Dan orang yang di belakangnya itu gue. Dia terus mundur. Membuat gue berada di posisi yang kurang mengenakkan. Di posisi seperti ini gue bisa dikira melakukan pelecehan. Gue pengen negur supaya orangnya sadar. Tapi gue bisa apa? Teguran dari temannya aja nggak diindahkan. Apalagi teguran dari gue.

“Di belakang lu ada orang,” ucap temannya. Dia masih berpura-pura seakan tidak ada orang di belakangnya ketika temannya sudah melayangkan teguran kedua. Malah, dia mengalihkan pembicaraan ketika temannya menegur.

Gue pun memilih diam dan terus mundur ketika dia mundur. Awalnya gue bisa mengerti. Tapi lama-lama dia makin ngelunjak. Kini sepenuhnya dia sudah merebut barisan. Gue bisa apa kalau posisinya sudah seperti ini?

Waktu menunjukkan pukul 11.35 WIB. Orang-orang berhamburan masuk saat pintu bioskop di buka. Barisan yang tadinya rapih, terpecah jadi tak beraturan. Seumur-umur nonton di bioskop, gue belum nemu kejadian yang kayak gini. Baik di Bengkulu, maupun di Jakarta.

Oh ya, mbak-mbak yang tadi ngerebut antrean gue, tau-tau udah di barisan paling depan saat pintu bioskop di buka. “Gile, sakti bener itu orang!” batin gue. Gue hampir nggak percaya orang yang tadinya nyelak antrian, yang datangnya belakangan, jadi orang pertama yang dilayani begitu bioskop di buka. Gue hampir mau mengangkat dia jadi guru seandainya saat itu gue lagi nggak ngantre tiket.

Baca Juga: Terancam kena SP

Udah salah mall, antrean direbut sama cewek, eh, kartu debit gue hampir kena blokir gara-gara salah masukkin pin. “Udah dua kali ya, mas. Sekali lagi kalau masih salah juga, kartunya ke blokir,” Petugas tiket mengingatkan. “Kalau nggak, mas menepi dulu aja. Nanti kalau udah ingat, kembali ke sini lagi,” tambahnya.

“Kutil kuda! Pantesan salah!” seru gue di pojokkan. Memancing perhatian petugas keamanan yang sedang menertibkan antrean.

***

“Mau pesan apa, kak?” tanya petugas kasir yang sedang melayani pelanggan.

“Hem, di sini udah bisa cobain menu baru, kan?” tanya gue sambil nunjukin pesan dari aplikasi Line.

“Gimana? Udah bisa belum?” tanya petugas di kasir kepada rekannya.

“Bisa,” jawab rekannya.

“Bisa, kak.” petugas kasir tersebut mengulangi.

“Oke, kalau gitu aku mau pesan Chestnut White Chocolate Trufflenya satu,” kata gue. “Oya, ini bisa digabungin sama promo Tumbler Amnesty kan, mbak?”

“Tentu. Ukurannya?” tanya petugas kasir.

“Kayaknya venti, deh. Sebentar ya, mbak.” Kata gue sambil ngeluarin tumbler dari dalam tas lalu menyerahkannya ke petugas kasir.

“Oh, ini sih ukuran Grande, kak.” Kata petugasnya.

“Yaudah, deh. Grande aja kalau gitu.”

“Hot or ice?”

“Ice,” jawab gue tanpa menoleh ke petugas kasir karena lagi sibuk merogoh sesuatu dari dalam dompet.

“Maaf kak, sistemnya lagi offline. Jadi pembayarannya melalui Debit atau Cash aja, ya?”

“Oh, gitu. Yaudah, deh. Pakai debit aja.”

“Oke, ditunggu aja ya, kak.” Kata petugas tersebut.

Gue langsung balik badan untuk nyari tempat kosong yang bisa di pake untuk duduk. Dari yang gue lihat, di dalam cuma ada satu bangku kosong. Letaknya persis di dekat pintu masuk dan keluar. Gue menimbang-nimbang mau duduk di sana atau cari tempat lain yang kosong.

“Kak Reza,” seru seseorang.

“Oh ya, itu saya.” Kata gue. “terima kasih ya, mbak,” kata gue kepada si barista. Setelah mendapat apa yang di cari, gue berjalan ke arah pintu keluar. Memilih satu diantara bangku-bangku kosong yang ada di luar kedai tersebut. Setelah mengeluarkan isi tas, gue duduk termenung di bawah payung berwarna hijau. Menatap dengan tatapan kosong. Entah kenapa, tapi gue selalu suka melakukannya. Saat melakukannya, gue seperti bisa mendengar suara orang-orang yang menitipkan rindu kepada sang angin.

Baca Juga: Me Time ala Reza

Menu barunya Starbucks. Chestnut White Chocololate Truffle!
Pictures taken by: me (rezaandrian.com)

Setelah puas melakukannya, gue langsung fokus dengan apa yang ada di atas meja. Berhubung laptop gue saat itu lagi nggak bisa di pakai karena nggak bisa buka apa-apa kecuali media player, jadi hari itu gue cuma bisa menuliskan apa yang dirasa ke buku diary yang sedang gue bawa.

Siang berganti menjadi malam dan gue masih duduk di bawah payung berwarna hijau. Meski hari itu gue terbilang cukup apes, setidaknya hari itu terbayarkan oleh keindahan langit senja di Kota Bekasi.

Langit senja di Bekasi. Indahnya. Pictures taken by: me.

Meski sering di buli sama orang-orang, gue tetap suka sama Bekasi. Selain kotanya indah (ya, ini menurut gue), satu hal yang gue sukai dan mungkin bakal gue kangenin dari Bekasi, yaitu Landmarknya. Landmark di Summarecon. Gue suka banget sama landmarknya.

Kalau sedang di Bekasi, cobalah untuk main ke Summarecon.
Pictures taken by: me.

Akhir kata, gue ingin mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca blog yang sama sekali nggak berfaedah ini. Terima kasih sudah mau mengikuti perjalanan gue selama ngeblog. Terima kasih untuk semuanya dan terima kasih Bekasi! Terima kasih untuk cerita dan kenangannya! Selamat tahun baru 2017! Mari buka lembaran baru! :)

Follow my blog with Bloglovin



10 COMMENTS

  1. Eh ga lama baru nulis sesuatu tentang bekasi juga nih haha. Btw gue tinggal di Bekasi, tapi baru tau kalau di Mal Metropolitan ada shuttle bus nya -_-

    Bekasi itu sebenernya deket. Cuma rasanya aja yang jauh~

  2. Seriusan lu sampe salah mall? Ga abis pikir banget, asli haha udah gitu keliatan bekasi ini serem ya, lebih keras dari bati kayak nya. Kunjungan balik bro.

  3. Ini Reza anak mal abis sumpah. Wahaha. :))
    Duh, masih ada aja ya orang yang nggak bisa ngantre. Nggak tau malu pula. Ckck.

    Yang pertama nonton Hangout. Terus satu lagi emang nonton apaan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.