Menikmati Weekend dengan Ngopi di Museum

Kalau lagi ngomongin weekend, biasanya identik dengan tempat-tempat hiburan dan kegiatan apa yang akan dilakukan sesampainya di sana. Entah itu piknik, menikmati alam dan lain sebagainya. Nah, weekend kemarin, gue pergi ke museum. Dan tau apa yang gue lakuin di sana? Gue hadir untuk mencicipi kopi terbaik nusantara, di acara Pesta Kopi di Museum Bank Mandiri.

Singkatnya, gue menikmati weekend dengan ngopi museum.

Akses menuju ke sana terbilang cukup mudah. Bisa dengan naik kendaraan pribadi semacam motor atau mobil atau dengan naik kereta. Gue sendiri lebih milih naik kereta. Selain karena murah, kereta juga bebas dari macet.

Sebetulnya ada satu orang teman yang pengen gue ajak main ke sana. Mengingat hari itu adalah hari minggu, yang mana berarti hari itu dia ada Ibadah, gue mengurungkan untuk ngajak dia main ke Museum Bank Mandiri tempat dimana acara tersebut diadakan karena nggak mau menganggu proses ibadahnya.

Begitu sampai di Kota Tua gue sempat linglung. Nyasar ke Museum Fatahillah. Gue jadi dongkol sendiri saat tahu bahwa faktanya jarak dari stasiun ke Museum Bank Mandiri hanya dipisahkan oleh jalur busway dan jalan raya. Tahu gitu ngapain muter-muter sampai ke Fatahillah!

Tau-tau udah di depan museum Fatahillah!

Setelah masuk museum. Udara yang gue hirup bukan lagi yang biasanya. Tanpa bau, tanpa aroma. Tercium aroma kopi di sepanjang lorong. Dan aromanya tercium cukup kuat. Membuat rileks siapapun yang menghirupnya. Menstabilkan debar di dada.

Kaki ini mengayun sedikit demi sedikit. Pelan namun yakin disetiap langkahnya. Kali ini gue berhenti. Pada salah satu tenant. Seorang Barista sedang meracik kopi. Aksi meracik kopi terkadang menjadi tontonan yang menarik untuk diikuti. Mengamati proses pengolahan dari biji kopi asli menjadi bubuk kopi selalu mempunyai cerita menarik di baliknya. Dan kopi yang tadinya sedang diracik, kini telah siap untuk dituangkan ke dalam sebuah cangkir plastic kecil. Dan kopi pertama gue di siang itu berasal dari tanah batak, Sumatera Utara.

Kopi pertama siang ini berasal dari tanah batak, Medan!

Belum puas dengan satu jenis kopi. Gue berkelana lagi ke tenant yang lain. Apalagi kalau bukan nyicipin tester yang langsung diseduh saat itu juga. Dari nyicipin tester ini, setidaknya ada tiga jenis kopi yang berhasil gue coba tanpa mengeluarkan sepeser uang pun karena testernya free. Dan dari ketiganya, gue paling suka sama Sulawesi.

Warnanya seperti teh. Tapi percayalah, ini kopi. Kopi kedua, Geisha!

Ada Barista perempuan juga, lho!

Setelah cukup puas mencicipi tester, gue pindah ke areal taman di tengah-tengah Museum Bank Mandiri yang mana masih ada banyak tenant yang belum gue lihat. “Cappuchinonya satu ya, mas?” kata gue pada Barista yang menjaga tenant Kedai Filosofi Kopi.

“Hot or Ice?”

“Ice,” kata gue.

Pesanan dibuat. Sementara itu gue sibuk mencari-cari tempat kosong untuk mengistirahatkan kaki yang telah lelah diajak berkeliling ini. “Ini, mas,” katanya. Gue menerima minuman yang gue pesan lalu pergi.

Diantara kerumunan orang yang sibuk lalu-lalang, ada satu yang mukanya sudah tak asing lagi karena postingannya selalu mewarnai timeline Instagram gue dengan foto-foto makanan. Coba tebak deh siapa orangnya? Dia adalah Ko Hans atau sebagaimana yang kita kenal dengan nama akun dan blog eatandtreats. Itu adalah kali pertama gue ngelihat orangnya secara langsung. Di tempat yang nggak gue sangka-sangka sebelumnya.

Selain Ko Hans, juga ada Rio Dewanto yang bermain di film Filosofi Kopi.

Di sini. Pukul 3 sore. Gue berdiri. Di tengah-tengah keramaian. Menikmati serangkaian moment yang berlalu dengan keceriaan yang terlukis dari senyum pengunjung dan pelaku usaha kopi. Keceriaan semakin bertambah dengan di kumandangkannya pemenang dari Lomba Latte Art.

Rintik hujan perlahan turun ke bumi. Penanda waktu perpisahan. Ada yang bertahan. Ada pula yang menyerah pada rinai hujan. Gue masih di sana. Duduk di salah satu bangku di taman. Menarik nafas sedalam yang gue bisa. Membuangnya secara perlahan. Senyum simpul mengembang di wajah. Waktunya pulang, batin gue.

Keesokan harinya, gue kembali menjalani rutinitas biasa sebagai mahasiswa. Mengajar di salah satu PAUD yang ada di Jakarta, lalu belajar untuk persiapan UTS (Ujian Tengah Semester) hari Selasa nanti. Kiranya gue nggak salah pilih tempat untuk ngabisin waktu di akhir pekan. Buktinya, stress yang terus melanda belakangan ini reda semenjak itu. Hmm… buat gue sendiri kopi adalah pilihan yang tepat saat ingin lepas dari penat dan stress. Kalau kamu?

 

STAY CONNECTED

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail: [email protected]



8 COMMENTS

  1. Acaranya asik banget ya ja. Gue ga terlalu suka kopi sihh tapi suka dateng ke acara2 gituu. Asik aja gituu liat orang-orang happy sama kesukaan mereka.
    Pas gue kemaren ada nobar filosofi kopi juga cuma gue udah mau balik soalnya sore menjelang malam banget acaranya..

    • Iya bang.. acaranya kemarin asik dan sayangnya, gue datengnya pas hari minggu yang mana nggak bisa ikut nobar filosofi kopi.
      Tapi hari minggu juga nggak ada ruginya sih karena bisa ngeliat lomba latte art :D
      Gue pengen tumbler dari Bank Mandiri masa… tumblernya keren banget! Anjish!

  2. Wihhh mantap bro, gue suka kopi, yang awalnya cuma kopi warung, setelah didoktrin sama temen dengan kopi origin dicafe akhirnya pindah haluan kenikmatan haha, gue suka tangkuban perahu, cianjur, kerinci, begitulah kiranya, gue kuramg begitu paham dengan jenisnya. Tiap ke kafe langganan di Bandit Cafe purwakarta, selalu dikasih yang baru. hehe Cakep tulisan iburan + ulasannya bro :)

  3. Wah, lain kali kalo mau ke kota tua lagi, ngajakngajak dong! Lagi pengen hunting foto nih.. Haha :D
    Ngomong2 udah lama ya gue gak mampir kesini, kangen. *eh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.