Mudik Sampai Buka Puasa Pertama di Kampung Halaman

Ntah mengapa belakangan ini aku terbiasa menyalakan AC di siang bolong. Padahal seharian ini aku beraktivitas di depan laptop lantas rebahan di ranjang yang tak lagi empuk akibat dimakan usia. Jadwalku pun sedang tak lagi padat-padatnya dan perkuliahan sudah mulai libur dari tanggal 14 Juni kemarin.

Mataku berbinar tiap menengok kalender di sudut meja kerja. Salah satu hari ditandai dengan spidol warna merah yang membentuk lingkaran. Mungkin si pemilik mau menunjukkan keeksistensian tanggal tersebut dibanding hari-hari lainnya di bulan Juni. Aku terbangun kala handphoneku berdering untuk yang ketiga kalinya. “Halo?”

“Jadi pulang kan, bang?” tanya lelaki di ujung sana.

“Enggak,” jawabku. “Ya pulang, dong.”

“Oh. Papa kira nggak pulang. Soalnya mama bilang Abang nggak jadi pulang.”

“Karena mama nanya terus,” terangku.

Lelaki itu tertawa mendengar penjelasanku. “Yasudah. Kalau gitu, jangan lupa siapin barang-barangnya malam ini. Sama novelnya tolong di bawa pulang. Papa mau baca.”

“Iya, Pa.”

Panggilan berakhir tatkala aku lagi mengecek jadwal penerbangan yang tertera pada tiket di layar handphoneku. Penerbangan siang, cukup waktu untuk sampai di bandara tanpa terjebak macet, pikirku seraya menaksir jarak dan waktu tempuh dari tempat tinggalku ke Bandara. Keputusanku sudah matang, jam 11 ialah waktu yang tepat untuk berangkat ke Bandara. Tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu lama.

Setelah selesai dengan urusan pakaian, aku mulai membersihkan kamar dari jaring laba-laba dan rambut yang berserakan di lantai. Setidaknya sepeninggalanku nanti kamar dalam keadaan bersih dan siap untuk ditiduri bilamana nanti aku tlah kembali ke Jakarta.

Waktu trus berjalan sementara buku yang baru kubuka dari pembungkusnya tlah terbaca sampai seperempat dari tebal buku. Buku berjudul Idol Gagal karangan Indra Wijaya menemaniku melawan malam yang semakin larut dan sunyi. ANJING! Umpatku, kaget dengan suara keras yang dihasilkan oleh sekumpulan anak muda yang berkeliling membangunkan sahur. Suara tersebut terdengar cukup bising sampai ke kamar. Jam baru menunjukkan pukul setengah tiga dinihari. Aku menyumbat telinga dengan earphone lantas lanjut membaca buku.

Baca Juga: Telat Posting

“Cus jam berapa nih, Za?” tanya Jordi.

“Katanya jam 10 dia ke kos gue.”

“Cepat amat. Jam 11 dong,” pinta Jordi.

“Iya. Kan memang jam 11 berangkat ke bandaranya,” balasku. “Siap-siap gih.”

Tak lama kemudian aku menghubungi sahabatku dibangku SMP dulu. Kebetulan saat ini dia kuliah di Jakarta dan menawarkan diri untuk mengantarkanku ke Bandara. Sementara dia dalam perjalanan, aku memastikan kembali kelengkapan barang-barang yang akan kubawa pulang ke Bengkulu tak tertinggal satu pun. “Saya pulang dulu ya pak, mohon maaf lahir batin,” ucapku seraya berpamitan dengan penjaga kost.

“Maaf lahir bathin. Hati-hati di jalan,” beliau mengingatkan.

Aku mengangguk lantas melayangkan senyum simpul. Sembari menunggu sobatku itu, aku mengecek arus lalulintas di Jakarta lewat aplikasi peta digital keluaran raksasa internet. Tak lama, seseorang menegurku dari arah belakang. “Tunggu bentar ya, Za, gua ambil bomber dulu di kos,” kata Jordi. Aku mengamini lantas maklum karena kostnya sangat dekat dari tempatku berdiri.

Jalanan terpantau lancar sampai sobatku itu datang dan memarkir kendaraannya di depan minimarket. “Langsung masuk aja, Za. Ben mau isi saldo e-Toll dulu,” katanya. Aku dan Jordi memasukkan barang dan menunggu di dalam mobil. Lima menit berlalu dan jalanan yang tadinya lancar berganti jadi macet dan sesak dengan kendaran roda dua hingga empat karena terhalang oleh dua mobil yang hendak keluar dari parkiran. Ditambah dengan mobil kami yang sedang di parkir sembarang. “Jor, kau bisa ngedarain mobil, kan?” tanyaku sedikit panik.

“Bisa.”

“Bagus. Kalau nanti ada yang negur kita buat pindahin, kau yang pindahin, ya?”

“Aman,” katanya.

Aku menengok ke belakang, petugas parkir mendekat seperti ingin menegur agar pemilik mobil segera memindahkan kendaraan roda empat ini ke tempat lain. Ben kembali sehabis dari mengisi saldo kartunya dan duduk di bangku pengemudi. Petugas itu menghentikan langkahnya. Diam. Seperti memaklumi. “Ya, mau kemana kita, mas?” tanya Ben seperti meniru driver taksi online.

“Terminal 1 Soetta, trus dilanjut ke Terminal 3,” kataku di bangku penumpang.

“Baik,” dia mulai menyalakan peta digital pada perangkat gadgetnya sementara aku kembali menatap gawaiku.

“LAH, IYO! ANGGAP AJO AMBO NIH SUPIR!” kata Ben berbicara dalam Bahasa Bengkulu. “Za, pindah ke depan dong,” pintanya setelah itu. Aku cuma bisa tergelak melihat dia marah. Aku yang duduk di bangku belakang membuatnya terlihat seperti supir pribadi atau driver taksi online.

“Iyo. Carilah dulu tempat menepi. Di siko macet. Dak mungkin ambo keluar sekarang!” balasku dengan Bahasa Bengkulu. Mobil yang kami tumpangi berusaha merangkak keluar dari kemacetan. Dari bangku penumpang Ben terlihat tenang mengemudikan mobilnya. Seperti sudah terlatih berkendara di tempat macet seperti Jakarta. Aku tak heran dengan kemampuannya itu, sebab dia pernah bercerita selama di Jakarta sering membawa mobilnya itu bepergian jauh.

Baca Juga: Libur is Not Real

Kami segera menepi ketika menemukan tempat yang masuk dalam kriteria. Aku pindah ke bangku depan, persis di samping bangku pengemudi. Ben mengambil sebatang tembakau dari dalam kotak lantas membakarnya dengan alat pemantik. “Ngerokok aja, Jor. Bebas kalau di mobil Ben,” katanya ke Jordi.

“Serius nih?” tanya Jordi hampir tak percaya karena saat itu pendingin di dalam mobil dalam keadaan menyala.

“Iya. Yang punya aja ngerokok.”

Sementara mereka berdua menyembulkan asap tembakau, aku sibuk mengambil gambar untuk proses dokumentasi. Sesampainya di areal Bandar Udara Soekarno Hatta, kami membelok ke arah terminal 1, mengantar Jordi lebih dulu. Jordi turun lantas berpamitan dengan kami berdua.

“Makasih Ben, makasih Za,” katanya.

“Sama-sama,” balas kami kompak. Ben memacu mobilnya ke pintu keluar. Berpacu dengan waktu yang terus merangkak maju. “Kayaknya kita harus mutar deh, Ben,” kataku.

Ben memperhatikan peta digitalnya. “Oiya, kita harus mutar ini.”

Begitu menemukan jalan memutar, Ben mengarahkan mobilnya mengikuti arah yang ada di papan penunjuk jalan hingga menemukan dua jalur yang berbeda. “Ambil mana nih, Za? Atas atau bawah?”

“Atas,” kataku. “Kalau bawah itu khusus kedatangan.”

Tibalah kami di areal keberangkatan terminal 3 dan berhenti di salah satu gate. Aku mengeluarkan koper dari bagasi belakang mobil lantas berpamitan dengan sobatku itu. “Makasih Ben,” kataku.

“Yop, samo-samo.”

“Hati-hati di jalan,” kataku.

“Kau jugo.”

“Sampai ketemu di Bengkulu.”

Ben mengangguk lantas memacu kendaraannya keluar dari terminal 3. Sementara aku bertanya pada petugas bandara letak pintu masuk untuk penerbangan domestik. Ini kali kedua aku di terminal 3. Yang pertama ketika aku akan berangkat ke Jakarta sehabis menjemput ijazah dan SKHU SMA. Kebetulan saat itu hari pertama Terminal 3 Soekarno Hatta beroperasi. Sehingga tempatnya masih sangat sepi saat itu.

Sehabis check-in, aku harus berjalan kaki cukup jauh dari escalator turun hingga ke gate 26. Sepengamatanku, sedikit banyak ada mobil golf yang lalu lalang mengantar penumpang hingga ke tempat yang di tuju. Aku tidak tahu apakah itu free atau harus bayar jika ingin menaikinya. Yang pasti, aku lebih prefer jalan kaki karena selama ini aku memang kurang berolahraga. Dan nggak menolak jika ditawarkan secara cuma-cuma.

Di ruang boarding, aku tak sanggup menahan tawa tatkala melihat kelakuan seorang remaja perempuan yang tertawa lepas saat menonton video lucu di layar tablet miliknya. Diperhatikan, lucu aja gitu. Dia nggak malu diliatin orang-orang sekitarnya. Kuperhatikan sekitar, beberapa ada yang tersenyum melihat tingkah laku remaja perempuan itu. Tanpa dia sadari, dia sudah menghadirkan keceriaan sebentuk garis senyum di pipi di tengah-tengah penumpang yang lagi menunggu pesawat.

Ruang Boardingnya nih. Kece kan?
doc. pribadi
Ini juga di ruang boarding terminal 3 nih.
doc. pribadi

Namun, lama-lama aku menjauh dari tempat itu karena nggak bisa konsentransi ketika lagi membaca buku. Tiga puluh menit berlalu dan orang-orang mulai membentuk dua baris memanjang ketika pesawat tiba.

FYI, Jakarta ke Bengkulu bisa di tempuh lewat dua jalur. Udara dan darat. Perjalanan dari Jakarta menuju Bengkulu lebih kurang dapat di tempuh dalam waktu satu jam perjalanan jika menggunakan transportasi udara. Sedangkan jika jalur darat, bisa sampai dua hari satu malam.

Aku membuka mata tatkala mengencangkan sabuk pengaman. Pesawat tlah mendarat di Bandar Udar Fatmawati, Bengkulu. Tibalah aku di kampung halaman. Begitu keluar dari pintu kedatangan para supir taksi sudah menunggu di pintu keluar. “Taksi bang?” tawar mereka pada penumpang yang baru sampai.

“Enggak, makasih,” jawabku dengan nada rendah.

Setibanya di rumah aku langsung beristirahat selama satu jam dan adzan maghrib berkumandang. Itu menjadi buka puasa pertamaku di kampung halaman. Bagaimana dengan mudik kalian dan buka puasa pertama di kampung halaman?

 

STAY CONNECTED

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail:[email protected]



4 COMMENTS

  1. Karena kampung halamanku nggak terlalu jauh, jadi hampir tidak terasa perbedaannya :’D
    Dulu sih ketika masih di Jakarta dan Surabaya malah susah sekali mau pulang dan buka bareng keluarga :(

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.