Ngekost

Menurut orang-orang, tinggal di Jakarta tuh, nggak enak. Macet, alasannya. Ya, Jakarta memang macet, aku bilang. Jakarta banyak pencopet, bilangnya. Ya, Jakarta memang banyak pencopet, aku bilang. Jakarta tempat hijaunya sedikit. Setidaknya masih ada ruang hijau, aku bilang. Tapi tak satupun pendapat mereka kuindahkan. Bagiku, Jakarta, ya, Jakarta. Tetap akan macet, tetap akan banyak pecopet di mana-mana. Kalau sudah tahu kondisinya begitu, satu-satunya yang dapat dilakukan tetap memperhatikan lingkungan sekitar. Kalau takut kejebak macet, belajarlah naik tranportasi umum. Kalau takut di copet, waspada, perhatikan sekitar, dan jangan memancing orang untuk berniat jahat dengan memamerkan perhiasan atau barang-barang mahal lainnya. Lebih baik di simpan dan baru dikenakan lagi ketika sampai di tempat kerja. Bila perlu, belajar ilmu beladiri.

Kata orang-orang, manusia bisa berubah. Ya, memang. Aku yang dulunya kepengin kuliah di Bandung, tau-tau di bangku SMA, berubah haluan. Kepengin kuliah di Jakarta. Impian itu tercapai. Sekarang, aku betul-betul kuliah di Jakarta. Hampir nggak percaya, sih, sebenarnya. Aku masih nggak percaya bahwa sekarang statusku sudah berubah. Dari seorang siswa, menjadi seorang mahasiswa. Aku juga masih belum percaya bahwa sekarang lagi menjalani hari sebagai anak kuliahan. Sebagai anak kost. Semua ini terlalu sulit untuk di percaya. Terlalu sulit untuk di cerna. Terlalu sulit untuk dikatakan.

Hampir semua orang merasa bebas setelah jauh dari jangkauan orangtua. Termasuk aku sendiri. Kebebasan yang cukup jelas untuk dirasakan perubahannya semenjak aku ngekost ialah aku bebas menentukan jam tidurku sendiri.

Maksudnya gini, aku bebas mau tidur jam berapapun yang aku mau tanpa perlu khawatir kena omel. Ada kalanya nyokap nelepon dan disetiap akhir percakapan selalu mengatakan, “Jangan tidur larut malam”, selalu. Hampir setiap mengakhiri percakapan nyokap selalu mengatakan hal seperti itu. Aku jawab, “iya, ma,” setelah mengakhiri percakapan via telepon, aku tidak langsung tidur. Malah lanjut nonton One Piece. Kadang ngedit tulisan. Kadang baca buku. Tergantung mood saat itu.

Aku baru menyerah saat jarum jam menunjuk ke angka dua atau tiga dinihari. Tak peduli ada kelas pagi atau tidak, yang jelas, di jam-jam itu biasanya aku baru tidur. Bukan karena susah tidur, lebih kepada kebiasaan. Efek bisa tidur jam berapapun, sih.

Beda kalau di rumah. Kalau di rumah, aku suka suka ditegur kalau jam sebelas belum tidur. “Tidur lagi. Udah jam dua belas, tuh,” kata nyokap. Nyatanya waktu baru menunjukkan pukul sebelas kurang.

“Nanti. Filmnya lagi asik.”

“Sekarang aja belum tidur, apalagi nanti? Gimana mau kuliah kalau jam dua belas aja belum tidur?”

“Please, ma, sekarang baru jam sebelas kurang,” aku membetulkan. Tapi tetap saja, walau sudah dikatakan jam sebelas kurang, nyokap akan mengatakan kalau waktu sudah menunjukkan jam dua belas malam. Kadang-kadang aku merasa terganggu. Apalagi kalau filmnya lagi seru. Pas lagi ada adegan panas di mana tokoh dari film tersebut lagi masak-masak di bawah terik matahari (masak-masak di bawah sinar matahari termasuk adegan panas, kan?), nyokap langsung mematikan tombol wi-finya. “Kenapa di matiin, ma? Kan lagi seru!” aku protes karena terganggu nontonya. Waktu itu aku lagi nonton Master Chef.

“Tidur!”

“Enggak!” setelah nyokap pergi ke kamar, aku langsung nyalain wifi dan nonton lagi. Tapi setelah di jalani, kadang-kadang ucapan nyokap ada benarnya juga. Kadang-kadang proses belajarku jadi terganggu karena rasa kantuk di kelas.

Sekarang “tidur awal” jadi bagian dari resolusiku di tahun 2017. Cukup semester satunya aja yang proses belajarnya kacau, semester berikutnya jangan!

Bebas menentukan jam pulang.  Maksudnya, jam berapapun aku pulang, nggak akan ada yang memarahi. Penjaga kost? Aku punya kunci cadangan. Artinya aku punya akses ke kost jam berapapun yang aku mau. Selagi nggak menganggu penjaga kost. Walaupun bebas, tapi biasanya jam satu aku udah pulang ke kost.

Menjadi anak kost juga membuatku bebas menentukan petualanganku sendiri. Maksudnya gini, kalau masih tinggal sama orangtua tuh, mau pergi-pergi rasanya nggak enak. Kudu minta izin dulu. Beda kalau ngekost. Aku bisa bepertualangan ke manapun yang aku inginkan. Melihat-lihat tempat baru. Mendapat pengalaman baru. Mendapat cerita baru. Dan tak jarang pula mendapat teman baru.

sumber gambar: lihat di sini

Bebas menentukan makanan. Kadang ada kalanya aku bosan sama suatu makanan. Kalau lagi pengin sesuatu, sulit untuk menahannya. Semisal kalau lagi pengin soto. Mau nggak mau, ya, harus makan soto hari itu juga. Tak ada soto sungguhan, indomie rasa soto pun jadi. Yang penting ada rasa sotonya. Hihihi.

Ya, aku bebas mau makan apapun yang aku mau dengan catatan kalau uangnya habis, nggak ada yang namanya uang tambahan. Semua uang itu murni aku sendiri yang harus me-managenya. Kalau sisa banyak, ya, syukur karena sisanya bisa ditabung. Kalau pas-pasan, juga syukur. Itu artinya uang yang diberikan cukup. Kalau uangnya habis sebelum waktunya, apalagi habis karena terpakai untuk hal yang tidak berguna, ya, wassalam. Tanggung sendiri akibatnya.

Amit-amit, dah!

Kau tahu apa yang lebih menyebalkan ketika menjadi anak kost? Bukan, bukan makanan instan yang menemani di akhir bulan. Bukan juga uang makan yang ada batasannya. Melainkan kamar mandinya.

Kost-kostanku tidaklah mewah. Biasa saja dengan fasilitas yang apa adanya. Ada pendingin ruangan, tapi jarang di pakai karena akan sangat membebankan pemakaian listrik (iya, kalau di kostanku listriknya pake token gitu). Meja ada, tapi terlalu rendah dan tidak enak kalau dipakai berlama-lama. Kamar mandi ada, tapi di luar alias milik bersama.

Dulu sewaktu mencari kost-kostan, yang paling pertama aku cari adalah adanya kamar mandi dalam. Setelah di cari-cari, kebanyakan sudah terisi. Ada sih yang kosong, tapi biaya bulanannya mahal. Setelah susah payah mencari, akhirnya aku dapat yang harganya sesuai. Tapi kamar mandi luar. Tak apalah, lagian juga aku cowok. Tidak begitu membutuhkan kamar mandi dalam.

Di kost-kostanku, biaya bulanan yang ada fasilitas kamar mandi dalamnya tak beda jauh dengan biaya bulanan kamarku. Tapi ya, gitu, udah terisi kamarnya. Belum ada orang yang pindah. Huhuhu.

Aku tidak mengapa dengan kamar mandi luar. Lagian selama ini hampir belum ada kejadian rebutan ke kamar mandi. Aneh bin ajaib. Padahal dalam satu lorong itu hampir semua kamarnya terisi. Kecuali kamar di sebelah tempatku yang orangnya baru saja pindah sebulan yang lalu.

Sementara itu kamar mandinya cuma ada dua. Pernah sekali aku bangunnya kesiangan. Di saat yang genting tersebut, aku masih sempat mandi. Tentu aku heran, dong, dengan jumlah kamar sebanyak ini, dan kamar mandi yang terbatas, kok hampir belum ada kasus rebutan ke kamar mandi? Akupun melakukan pengamatan. Berdasarkan pengamatan yang aku lakukan, bisa kutarik kesimpulan bahwa tiga permen loli milkina sama dengan satu gelas susu, lho!!! Yeah, sungguh informatif sekali, ‘kan?

Balik lagi ke persoalan kamar mandi bersama. Yang aku sesali dari kamar mandi bersama tuh, kebersihan dari penggunanya. Ada yang bersih, ada juga yang kotor. Maksudnya, setengah-setengah dalam menjaga kebersihannya.

Awalnya biasa-biasa aja. Pas pertama kali ngekost, aku lihat, kamar mandinya bersih. SELALU! Namun, setelah beberapa bulan tinggal, pada saat ingin menggunakan kamar mandi tersebut, aku mendapati ada tai di lubang wcnya! Baik itu tai dalam bentuk bulat dan utuh, maupun tai dalam bentuk garis yang pada saat proses penyiramannya tai tersebut tidak ikut tersapu bersamaan dengan air yang mengalir. Bangsat! kataku dengan nada kesal.

Dan itulah kali pertama aku melihat ada tai di wc. Oke, aku bisa maklum karena ini kejadian pertama. Tapi setelah hari itu, tiap kali akum au pakai wcnya, aku sering mendapati ada bekas tai pada wcnya. BANGSAT! kataku lagi.

Aku heran. Kok pengguna sebelumnya nggak bisa nyiram tainya sampai bersih, ya? Kesel, ih. Karena butuh, karena kamar mandinya mau aku pake, mau tak mau aku harus menyiram kotoran tersebut agar tidak menjadi fitnah setelahnya.

Namanya juga kamar mandi bersama. Biar bagaimanapun kotornya, masih lebih baik daripada kamar mandi yang di pakai sendiri tapi nggak pernah dibersihin. Bagaimanapun juga, kamar mandi tetaplah kamar mandi. Yang terlihat bersih, tidak sepenuhnya bersih. Yang terlihat kotor, ya, tetap aja kotor dan tidak akan menjadi bersih kalau tidak dibersihkan.

Mau di pake sendiri tapi nggak pernah dibersihin, sama aja bohong. Betapapun kotornya kamar mandi bersama, akan selalu ada orang yang menjaga kebersihannya (red: pengguna dan petugas kebersihan di kost). Teruntuk petugas kebersihan di kost, maafkeun diriku yang mengeluh karena kamar mandinya kotor. Aku yakin, kau pernah mendapat tugas yang lebih parah dari itu. Terima kasih karena sudah membersihkan kamar mandi serta lorong setiap paginya. Dan untuk bibi yang ngejaga kost, terima kasih karena sudah mau membersihkan pakaian kotorku. Tanpamu, entahlah, mungkin aku harus menyerahkan pakaian kotorku ke laundry dan baru bisa diambil dua sampai tiga hari setelahnya. Kalau mau sehari jadi, ya, kudu bayar biaya ekstra. Berkatmu, pakaian kotorku menjadi bersih kurang dari satu hari.

Terima kasih juga buat kedua orangtua yang sudah mau menyekolahkanku tinggi-tinggi serta membiayain uang kost, uang makan dan segala macamnya. Terima kasih sudah mewujudkan impianku untuk melanjutkan pendidikan di Jakarta. Kelak, bila tiba waktunya, giliranku yang akan mewujudkan impian kalian berdua :)



16 COMMENTS

  1. Jadi anak kos memang lebih bebas. Bisa ngapa-ngapain sesuka hati tanpa ada intervensi dari orangtua.
    Tapi ada nggak enaknya juga. Karena hidup seorang diri jadi mesti ngapa-ngapain sendiri. Apalagi kalau isi dompet menipis dan orangtua belum ngirim, hehehe. :D

    BTW, kalau dari ritme hidup aku ngerasa kalau di Bengkulu lebih baik daripada di Jakarta. Ya semua tempat selalu punya plus-minusnya sih. Tinggal bagaimana kita beradaptasinya saja.

    • Iya, tuh! Tapi aku selalu ada cara bagaimana caranya bertahan di saat uang lagi kritis-kritisnya. Mau tau rahasianya apa? Jawabannya adalah: rahasia.
      Iya. Betul. Tapi apa yang membuatku tetap ingin kuliah di Jakarta bukanlah ritme hidupnya. Melainkan pengalaman. Jujur, banyak pengalaman baru yang aku dapetin semenjak kuliah di Jakarta kalau dibandingkan dengan Bengkulu. Hihihi.
      Btw.. masih inget ya, mas, kalau saya tinggal di Bengkulu? Hehehe

  2. Hahahaha, tulisan mu lucu
    Iya aku juga ngekost… tp syukurlah msh dpt kamar mandi dalam
    Jadi milik pribadi,hahahah. Aku agak terganggu dengan penggunaan kata T**
    pas liat gambar awalnya kira in mau cerita kisah horror slma ngekost,hihihi ternyata bukan

  3. Hai Reza! Lama gak mampir ke blog kamu, tau-tau udah jadi anak kost Jkt aja nih haha. Semangat ya!

    *btw, aku baca blogpost kamu ini sambil ngunyah biskuat. Mendadak berhenti ngunyah pas di bagian *t*i. Hiyaaaakkk! Untung kos-kosan aku kamar mandinya di dalam. Pufufuuu.

  4. Enaknya ngekos yang isinya mahasiswa cowok semua itu, kalo malem minggu ngumpul nonton bola atau maen PS nyampe pagi. Apalagi kalo semuanya jomblo, mantap jiwa tuh!

  5. kost dimana bro? deket syahdan yak? dimananya tuh? temen gue ada beberapa yang ngekos, ada juga di binu square.mayoritas pada di sebrang syahdan, atau enggak dimana itu gue lupa namanya..

  6. saya pernah 3 mingu stay di jakarta, dan macet & panasnya minta ampuuun
    hiidup ngekost emang bisa nambah pengalaman ya, tapi awal-awal dulu suka pengen bolak-balik rumah *pengalaman pribadi

    untung ibu-ibu yg punya kostku rutin mbersihin kost-kost’an jadi cukup bersih lah toiletnya
    semoga cita-cita buat bahagia’in ortu tercapai aamiin

  7. Miris sih emang kalo yang masalah wc itu, mirip-mirip jaman sekolah dulu. Ada beberapa tipe orang yang emang kalo buang air besar ga pernah disiram, temen gua tuh gitu, jorok emang. Mungkin kost lu sama sifat nya kayak temen gua, maksudnya tuh minta disiramin sama anak kost lain, ya saling bantu aja, lu pake ya lu bersihin, mungkin gitu kasarnya haha

    Gimana ya, kalo disuruh ngekost mungkin gua bakal mikir-mikir dulu, bukan ga bisa mandiri, tapi enak nya yang bebas-bebas gitu blm bisa bikin gua mau ngekost haha ga ada tuntutan buat ngekost juga sih, jadi ya bebas nya masih sama keluarga aja, izin juga gpp deh haha

    mampir juga ya!

  8. Aku sekolah di Jakarta kuliah pun di Jakarta malah mau ngekos keluar kota -_- jenuh sama kemacetan dan kondisi disini lihat di daerah kayaknya lebih kondusif…

  9. Sama nih, kau udah hampir 10 tahun ini ngekos dan perhatianku selalu pada kamar mandi. Males aja gitu kalau fasilitas bersama seperti dapur dan kamar mandi kotor. Lagian kan kamar mandi itu tempat kita bebersih, kalau kamar mandinya aja kotor kan ewww banget!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.