Orang Pendek dan Busway

Masih mengenai persoalan derita dan nggak enaknya jadi orang dengan tubuh pendek. Gue sebagai orang pendek, bangga karena ada beberapa hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang dengan tubuh tinggi.

Dasar aneh, jadi pendek kok bangga.

Sesekali gue merasa sedih karena ada banyak sekali hal yang tidak bisa gue lakukan sebagai orang pendek: menjangkau benda di rak yang tinggi. Mbak-mbak SPG menghampiri dan menolong gue mengambil benda yang letaknya tinggi. Oke, gue jadi gagal tampil keren di depan cewek cakep yang kebetulan waktu itu juga lagi lihat-lihat produk susu.

“Kalau adek minum susu ini, adek pasti bisa jadi tinggi. Soalnya susu ini kandungan kalsiumnya sangat tinggi lho, dek. Kakak dulu suka minum susu ini. Sekarang adek lihat hasilnya, kakak tinggi bukan?” ucap mbak-mbak SPG menyakinkan gue bahwa produk susu tersebut sangat bagus untuk menunjang pertumbuhan tinggi badan gue.

“Oh begitu ya, mbak? Jadi susu ini sangat bagus dong buat nambah tinggi badan saya?”

“Tentu! Cobain deh. Apalagi kalau adek juga mengimbanginnya dengan olahraga, perkembangannya bisa adek lihat dalam beberapa bulan ke depan” SPG itu berusaha meyakinkan gue kembali.

Dongonya, gue percaya sama mbak-mbak SPG tersebut. Pulang dari supermarket, gue buru-buru membuka kotak susu yang gue beli di supermarket tadi dengan buasnya. Setelah dua bulan minum, efeknya belum kelihatan sama sekali.

Baca Juga: Disangka Tuyul

Entah apakah ini akan berhasil atau tidak, bila memang gue ditakdirkan begini, gue akan berusaha menerimanya dengan lapang dada. Paling tidak, tulang gue tetap kuat karena terus diberi asupan susu tinggi kalsium. Sesungguhnya tidak ada ruginya minum susu, toh inikan buat kesehatan tulang. Cepat atau lambat efek tersebut pasti akan terasa.

Libur kemarin adalah libur yang paling dinanti-nanti oleh setiap pelajar yang ada di dunia, termasuk gue. Dari Bengkulu gue berangkat menuju kota Jakarta buat ngurusin persyaratan kuliah nanti. Libur kali ini ada yang berbeda dari libur-libur sebelumnya. Yaitu kali ini liburnya jatuh pada minggu ke-3 di bulan Desember 2015. Berbeda dengan libur sebelumnya yang jatuh pada minggu ke-2 di bulan Juni 2015. Beda banget kan? Bulan Juni dan libur bulan Desember.

Baca Juga: Libur Saat Puasa

Juni adalah bulan ke-6 dari 12 bulan yang ada di kalender masehi. Desember adalah bulan ke-12 dari 12 bulan yang ada di kalender masehi. Enam kurang dua belas sama dengan enam. Enam tambah enam sama dengan dua belas. Maka perhitungannya adalah para pelajar seperti gue butuh waktu enam bulan lagi untuk dapat merasakan libur kembali.

Selama di Jakarta ada yang cukup berbeda dari pengalaman libur di Jakarta sebelum-sebelumnya. Libur di Jakarta kali ini, gue ngabisin waktu dengan naik kendaraan umum, men! Yeaaayy! Naik kendaraan umum! Jadi sebelum-sebelumnya gue memang udah pernah ke Jakarta cuman bedanya gue lebih banyak naik kendaraan pribadi. Dikarenakan saudara gue yang rata-rata ekonominya terbilang mapan untuk membeli kendaraan pribadi seperti mobil, itu artinya sama saja dengan menambah kemacetan di Jakarta. Karena gue orangnya suka gratisan (iya, siapa sih yang nggak suka gratisan), diajak jalan dengan kendaraan pribadi tidak jadi masalah selama itu gratis.

Kali ini gue nggak mau dengan datangnya gue menambah sumpeknya jalanan di Ibukota. Ini kali pertamanya gue liburan di Jakarta naik kendaraan umum. Sebagai pendatang baru, gue nyobain semua kendaraan umum yang ada seperti Kopaja, Busway dan kendaraan lainnya yang tidak ada di Bengkulu. Contohnya saja Go-Jek. Di Bengkulu nggak ada Go-Jek, men. Wajar sih, disini nggak pernah macet dan rata-rata punya kendaraan pribadi. Penduduknya belum sebanyak di kota-kota besar. Gue rasa wajar kalau Go-Jek belum dibutuhkan di mari.

Masing-masing kendaraan umum menawarkan sensasi yang berbeda. Seperti Kopaja yang tidak ber-ac namun penumpangnya dapat duduk di bangku dan Busway yang semuanya ber-ac namun untung-untungan bila ingin mendapatkan tempat duduk. Seperti waktu itu, saudara ngajakin gue jalan ke Kota Tua. Kami berangkat dari Pondok Cabe dengan naik angkot dan di drop di Halte Lebak Bulus. Dari Halte Lebak Bulus kami naik busway jurusan Harmoni.

Baca Juga: Melawan Banjir

Busway yang kami naikin masih sepi. Bangku yang tersedia masih cukup banyak. Lebih dari cukup untuk menampung penumpang yang naik dari halte Lebak Bulus. Busway yang kami naikin mulai jalan. Setiap ada halte, busway nya berhenti untuk menaikan dan menurunkan penumpang.

Naik Busway

Mata gue tidak lepas memandang ke arah jalanan. Memperhatikan macetnya jalanan di Ibukota. Entah harus senang atau sedih, Busway yang kami naiki perlahan-lahan mulai penuh dan sesak. Gue senang karena masih ada orang yang sadar bahwa menaiki kendaraan umum penting untuk mengurangin kemacetan di Jakarta. Disisi lain gue juga sedih karena ada nenek-nenek yang tidak kebagian tempat duduk. Sangat disayangkan, masih ada beberapa orang yang belum sadar bahwa seorang nenek-nenek adalah prioritas utama di dalam busway. Termasuk juga ibu-ibu yang sedang hamil, membawa anak kecil dan kaum difabel.

Begitu gue berdiri ingin membagi tempat duduk, ada seorang abang-abang yang memberikan tempat duduknya kepada si nenek. Gue duduk kembali di bangku gue.

Busway yang kami naiki kembali berhenti di halte. Penumpang kembali bertambah. Kali ini kondisinya lebih sesak dari sebelumnya. Di saat sesak seperti inilah, kejadian yang tidak mengenakan terjadi. Gue membuka mata dan melihat di depan mata gue ada selangkangan. Oh shit! Muka gue berhadapan langsung dengan sebuah selangkangan. Ingin rasanya cepat-cepat turun tapi perjalanan masih jauh. Gue terus bersabar dengan kondisi gue saat ini: berhadapan dengan selangkangan. Di sebelah ada selangkangan, disebelahnya lagi ada selangkangan. Gue nggak mau hidup dan liburan gue kali ini dipenuhi dengan selangkangan. Gue tidak mau cerita liburan gue dipenuhi selangkangan. Gue tidak mau saat ngerjain tugas tentang cerita pas liburan, isinya tentang selangkangan semua.

*Saat menceritakan kisah liburan di depan kelas*

Judul ceritaku adalah “selangkangan”.

Libur kemarin saya melihat ada banyak sekali selangkangan di Kota Jakarta. Selangkangan di sana lebih banyak daripada selangkangan di sini. Dimana-mana saya melihat ada banyak sekali selangkangan. Di Dufan ada selangkangan, di Sea World ada selangkangan, di Monas ada selangkangan, di Ragunan ada selangkangan dan di Kota Tua pun juga ada selangkangan. Kalian harus cobain main ke Jakarta!

Ini pengalaman paling buruk bagi orang pendek seperti gue. Orang pendek dan busway, orang pendek yang naik busway harus banyak-banyak bersabar ngadepin selangkangan di depan mata.

Tibalah di halte selanjutnya. Ada tiga penumpang difabel yang tidak kebagian tempat duduk saking penuhnya busway yang kami naiki saat itu. Ini adalah waktu yang tepat bagi gue buat menghindar dari selangkangan! Gue berdiri dari tempat duduk dan mempersilahkan penumpang difabel tersebut buat duduk di bangku yang gue dudukin tadi.

Yes! Penderitaan gue berakhir juga. Gue bisa jauh-jauh dari selangkangan yang merusak pandangan.

Tapi masih ada hal yang kurang mengenakan lainnya yang gue rasain. Hanya di postingan selanjutnya!

Yuk tinggalin jejakmu di mari. Jangan lupa juga ‘tuk dishare \o/



30 COMMENTS

    • Bangke… selangkangan dibilang indah. Jangan-jangan lo itu…
      Nggak muter-muter juga sih…
      Udah, cuman gue mainnya ke Jatibening tempat saudara. Bukan main di kota bekasinya langsung hehehe
      Memangnya lo tinggal di sana?

    • Liburan doang hahaha… tapi gak lama lagi juga bakal tinggal di sana karena gue kuliah di Jakbar.
      Oke deh nanti gue main-main ke bekasi. Tinggalin kontak lo dong biar nanti kalo udah di bekasi bisa gue hubungi :)

  1. BHAHAHAHA SELANGKANGAN! Aku harus melumpuhkan ingatanmu!
    Enam kurang dua belas mah minus enam atuh, Za. Ih, gimana sih?
    Nah, risiko naik kendaraan umum gitu, sometimes berhadapan dengan selangkangan. Siap? :))

  2. Selangkangan itu indah, Rez. Tanpa selangkangan tidak akan penerus-penerus manusia. Hargai dan nikmatilah selangkangan. Hahahaha!

    Btw, yang bener itu Transjakarta, bukan busway, karena busway adalah nama jalur Transjakarta.
    Bus = bus, Way = jalan. Busway = jalan bus/ jalan Transjakarta. Gitu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.