Perang Dingin

Pokoknya gue harus beli buku baru malam ini!, ujar hati kecil gue. Dengan demikian, tanda dimulainya perang dingin resmi dimulai malam ini juga.

Yah, jadi kemarin itu sepulang sekolah yang jadwalnya tidak seperti biasa (nggak belajar selama tiga hari berturut-turut) menimbulkan sebuah rencana baru di kepala gue. Entah setan apa yang merasuki raga gue, tau-tau gue berkeinginan untuk membeli sebuah buku untuk dibaca.

Baca Juga: Hari yang Melelahkan

Terakhir kalinya gue pergi ke toko buku untuk membeli sebuah buku berkisar satu tahun yang lalu. Buku yang gue beli setahun yang lalu berjudul: Marmut Merah Jambu. Yang menimbulkan niat gue untuk membeli buku MMJ karya Raditya Dika itu karena sejujurnya gue lagi iseng aja. Lagi pengen baca buku bergenre komedi.

Lalu tak lama kemudian keluarlah film terbarunya bang Radit, dengan judul yang sama dengan buku yang gue beli, Marmut Merah Jambu. Nggak sia-sia beli nih buku, pikir gue.

Jangan! Kalau beli buku, nanti uangmu bakal habis! bantah otak gue, tidak mau kalah sama hati.

Heh! Za! Kamu bermimpi ingin menjadi seorang penulis besar, bukan? Ikuti saja saranku, niscaya kau tidak akan pernah kecewa bila mengikutinya.

Helaaww? Yakali ngumpulin uang untuk beli buku. Mending beli barang lain lah. Seperti sepatu misalnya? Kasihan tuh tiap kali pergi kemana-mana kamu selalu make sendal jepit keluaran distro. Tau nggak? Penampilanmu kelihatan seperti bocah SMP! Otak berusaha manas-manasin gue dengan bilang kalau penampilan gue kayak bocah SMP salah gaul.

Emang iyasih, kalau dilihat-lihat penampilan gue emang kayak bocah smp salah gaul.

Pikirkan baik-baik, Za. Dengan kamu membeli buku, kamu akan mendapatkan manfaat positif. Kosakata dan pilihan diksimu akan semakin beragam dengan banyaknya buku yang kamu baca.

Mungkin saran hati emang ada benarnya, pikir gue.

WOOOY! Kamu dengar nggak sih? Ikuti saranku maka kamu akan semakin dilirik sama cewek-cewek cantik! otak tak mau kalah.

Iya gitu cewek-cewek bakal ngelirik kamu karena penampilan kamu modis? Za, kalau kamu udah jadi penulis, atau paling enggak blogger besar, biar penampilanmu aneh sekalipun, orang-orang akan tetap ngelirik kamu. Percayalah, Za, masing-masing orang punya ciri khasnya tersendiri dalam berpenampilan. Bahkan dengan penampilanmu itu bisa kamu jadiin sebagai self-branding.

Self-branding? Hahaha… jangan bikin aku tertawa! Justru cewek-cewek bakal ilfeel sama penampilanmu itu! ledek otak.

Sudah… begini saja. Kamu ingat sama project kamu? Kamu ingat sama impianmu? Kamu ingat sama janjimu padaku? Kamu ingat semua itu bukan? Tepatilah semua itu. Kamu tidak akan pernah menyesalinya sekalipun. Bahkan untuk seumur hidup.

Otak diam aja. Tak memberikan tanggapan sama sekali. Dia percaya diri bahwa gue bakal terpengaruh sama kehendaknya.

Dan terjadilah perang dingin antara hati melawan otak. Hati menginginkan gue begini, otak menginginkan gue begitu, sulit emang kalau punya hati sama otak yang tidak bisa saling bekerjasama. Penginnya berdebat terus.

Ini tuh sama seperti film-film yang gue tonton di televisi dimana sisi baik dan sisi buruk saling memberikan pengaruhnya. Dan biasanya sisi jahat yang selalu menang.

Gue tidur aja lah, kali aja bangun-bangun langsung dapat ilham.

Betul, bangunnya gue langsung mendapati ilham: membeli sebuah buku baru. Kali ini bukan settingan seperti di film-film yang mana jahat yang selalu menang soal pengaruh, melainkan murni datangnya dari keinginan hati yang gue ibaratkan sebagai sisi baik dalam jiwa gue.

Pilihan gue udah mantap. Lalu gue menemui bokap yang lagi membersihkan gudang. “Ke toko buku yok, Pa?”

“Pergi lah.”

“Ya temanin dong,” rengek gue.

“Ya pergi aja sana. Udah gede juga, kan bisa pergi sendiri,” kata bokap dari dalam kamar yang telah dijadikan gudang sejak gue TK.

Seperti kata bokap, gue udah gede. Seharusnya gue udah bisa pergi sendiri tanpa harus ditemani. Bukan, gue bukan bocah yang kalau pergi harus selalu bersama orangtua. Gue hanya takut nantinya terjadi kenapa-napa di jalan karena jam terbang gue yang belum tinggi. Ketakutan gue meliputi: ditilang, kesasar, diculik lalu dimasukan ke dalam sebuah mobil Jeep hitam sama om-om berbadan gede, sama nggak bisa engkol. Tadi sewaktu di sekolah ada temen gue, cewek, minta tolong agar motornya di-engkol-in, karena gue nggak bisa, gue minta tolong sama temen gue satunya lagi.

***

Malam minggu semakin suram dengan matinya lampu. Gue yang tengah sibuk sama nulis, terpaksa menghentikan sejenak pekerjaan mulia tersebut. Matinya lampu, keinginan untuk membeli buku serta ditambah lagi sekarang malam minggu, melahirkan sebuah ide untuk mempengaruhi bokap.

“Keluar yok, Pa?”

Jawaban bokap nampaknya masih belum berubah sejak sore tadi, “pergi lah” balasnya.

“Iya Pa… jalan-jalan yok pa!” seru adik gue.

“Mau jalan-jalan ke mana dek?”

“Ke toko buku, pa!” seru gue.

“Iya pa! Ke toko buku! Adek udah lama nggak ke toko buku.”

Tumben si adik sepemikiran sama gue. “Abang mau beli buku, Pa. Udah lama banget abang nggak beli buku.” terang gue.

“Yaudah, buruan ganti baju,” balas bokap.

Dalam gelap gue mengganti baju. Tanpa diterangi oleh cahaya sama sekali. Inilah kehebatan gue, bisa tau dimana letak pakaian yang ingin gue pake. Iyalah, wong udah gue siapin dari sehabis mandi sore.

Gue ngaca, tentunya dengan penerangan cahaya dari senter yang ada pada raket nyamuk. Seperti kata otak, penampilan gue emang kayak anak smp. Yaudahlah ya, dengan tinggi segini orang-orang nggak akan tau kalau gue murid kelas dua belas SMA. Penampilan sama tinggi badan gue memang sinkron.

Baca Juga: Kritik

Satu lagi yang menjadi penghalang, nyokap. Setelah gue berhasil menaklukkan bokap, gue kembali dihadapkan sama nyokap. “Mau kemana?” tanya nyokap.

“Keluar… mau ke toko buku.”

“Terus gimana sama rumah?”

“Maksudnya?”

“Siapa yang jagain rumah kita? Mama takut ninggalin rumah dalam keadaan lampu mati begini,” terang nyokap.

“Yaelah, yakali rumah ditungguin. Rumah mah nggak akan kemana-mana,” kata gue.

“Bahaya kita ninggalin rumah. Nanti ada maling yang masuk.” nyokap nakut-nakutin.

Nyokap memang selalu begini tiap kali mati lampu, gue udah nyiapin jawaban soal ketakutan nyokap sama rumah yang ditinggalin, “Ya kunci pintunya.” ujar gue.

Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, nyokap pun menyetujui.

Setibanya di tujuan utama, gue menghampiri langsung bagian rak buku yang tertulis ‘Komedi’ diatasnya. Saat itu gue berkeinginan untuk membeli buku Koala Kumal. Gue merhatiin buku-buku yang mengisi rak tersebut, buku dengan sampul berwarna hijau dilengkapi dengan muka horror di dalamnya menarik perhatian gue. Ini dia buku yang gue cari-cari! gumam gue.

Pas gue membalikkan posisi buku tersebut, mata gue seakan tertarik keluar dari posisi seharusnya berkat kertas putih berukuran kecil dengan tulisan Rp72.500 di dalamnya. Bujug! Mahal amat!

Tuh kan, lebih baik nggak usah beli buku. Paling cuman sekali pakai udah, bukunya langsung disimpan dan berdebu diantara tumpukkan buku-buku yang tak terbaca. Komentar otak gue. Mending beli yang lain aja.

Lebih baik kamu beli aja, Za, memang mahal, tapi pikirkan manfaatnya. Komentar hati.

Lagi-lagi berdebat. Gue sempat nurutin keinginan otak. Tapi hati terus mendorong gue untuk tetap membeli itu buku.

Gue bingung lagi. Beli atau enggak? Gue mutusin untuk lihat-lihat buku yang lain, kali aja dapat buku komedi dengan harga murah. Mata gue waktu itu tertuju pada bukunya Kevin Anggara yang pertama, Student Guide Book for Dummy. Gue balikin, lalu gue taruh lagi ke tempatnya. Kemahalan. Biasanya juga kalau beli buku kisaran harganya dari 40 ribu – 60 ribu.

Keputusan gue waktu itu hapir bulat: nggak jadi beli buku. Gue keliling lagi, dan ketemulah gue sama buku karangannya Dewi Lestari. Soal harga tidak jauh sama buku-buku sebelumnya, kemahalan bagi otak gue. Otak gue sifatnya emang begitu, materialistis. Sementara hati gue sifatnya manfaat-itis.

“Gimana?” tanya bokap.

“Kayaknya nggak jadi deh Pa… mahal. Mending beli online aja.”

Secara kebetulan muncul sebuah pernyataan yang mampu membantah pernyataan gue yang sebelumnya: Beli online ada biaya kirim. Sama aja jatuhnya. Mending beli di sini kalau gitu, pikir gue.

Gue kembali lagi ke deretan rak-rak buku bergenren komedi. Tanpa pikir panjang langsung ngambil buku dengan sampul berwarna hijau. Pas antre mau bayar, mata gue tertuju pada sebuah buku berukuran tebal dengan sampul berwarna putih yang tersusun rapih di rak tempat kasir. Gue terpikirkan untuk beli buku itu. Gue dihadapkan pada pilihan buku komedi dan buku fiksi yang bahkan gue belum tau sama sekali harganya.

Baca Juga: Antrean Masuk

Pas gue cek harganya, mata gue langsung copot. Tertulis Rp130000. What the… gumam gue.

“Gimana dek?” tanya si mbak kasir yang cantiknya bukan main.

Dek… yah, penampilan gue emang cocok untuk ngebuat gue dipanggil “dek” sama si mbak-mbak kasir.

“Sebentar mbak…” kata gue, pura-pura ngebaca bagian blurb buku. Padahal mah lagi nimbang dengan harga segini mahalnya lebih baik gue beli atau enggak ya?

“Iya mbak.” gue memberi buku tersebut ke mbak-mbak kasir yang tadinya manggil gue dengan sebutan “dek”. Buat menyakinkan si mbaknya kalau gue nggak pantas disebut “adik”, gue ngambil kartu debit yang ada di dompet gue. “Saya bayarnya pake ini ya mbak yang cantik.”

“Oh.. oke,” si mbak kasir melakukan scan dengan alat barcode reader pada buku yang ingin gue beli. “seratus tiga puluh ribu ya dek. Oya… sekarang kantong plastiknya berbayar 200 rupiah. Maka totalnya seratus tiga puluh ribu dua ratus rupiah ya dek. Silahkan dipanggil dulu orangtuanya untuk memasukan nomor pin untuk transaksi menggunakan kartu debit,” kata mbak kasir.

Baca Juga: Duka yang Sering Gue Alami

“Orangtua? Mbak… saya ini udah gede. Dan kartu debit itu punya saya, bukan punya orangtua saya,” balas gue dengan nada ketus. “Nih buktinya.” gue nunjukin isi dompet gue yang didalamnya ada KTP serta kartu-kartu lainnya.

Si mbak kasir tertawa kecil. “Oh maaf mas… saya kira mas anak SD… maaf banget ya mas.”

“Yee… untung aja mbak orangnya cantik.”

Oya… coba tebak, buku apa yang gue beli kemarin? Jawabannya akan kalian temukan di akhir postingan ini.

Gue pulang dengan perasaan puas karena mendapat bacaan baru malam itu juga. Sebenarnya nggak gue baca malam itu juga sih, tapi baru gue baca keesokan harinya (hari ini). Seperti kata hati… nggak ada ruginya gue beli novel berukuran tebal dengan harganya yang mahal. Harganya sebanding lah ya sama ketebalan kertasnya, jadi gue nggak rugi-rugi amat, gumam gue. Ya, gue orangnya memang nggak mau dirugikan.

Isi, ketebalan dan manfaatnya sebanding sama harga yang ditawarkan. Melalui buku ini banyak istilah-istilah baru yang gue dapetin. Baru baca sedikit sih… tapi manfaatnya langsung kerasa. Pokoknya nggak rugi gue beli nih buku. Oya, dari buku ini ada sepotong kalimat yang sangat gue sukai.

Scripta manent, verba volant.

Artinya… Yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi.

Sebenarnya ini pepatah latin, tapi gue suka. Kalau gue nggak baca nih buku, mungkin gue nggak bakal ketemu sama kalimat tersebut.

Tak ada salahnya mengorbakan uangmu untuk hal yang kau cintai. Tak ada hal yang percuma jika kau mampu melihat manfaat dibalik hal yang kau korbani. Dalam hal ini gue mengorbankan uang gue untuk sebuah buku. Dari buku tersebut, gue mendapat kosakata baru yang dapat gue gunain untuk kegiatan kepenulisan berikutnya.

Ciee... buku baru.
Ciee… buku baru.
Ciee buku baru (2)
Ciee buku baru (2)

Dengan demikian… perang dingin dan sebuah buku yang tadi diperdebatkan berakhir sudah. Biar susah untuk melerai keduanya, yah, paling tidak masalahnya sekarang terselesaikan.



34 COMMENTS

  1. Quote dari buku yg baru dibeli kece juga bro.
    manfaat banget. Thanks udah di share disini.
    semoga makin tinggi ya.
    lain kali kalau perang dingin antara hati dan otak, ajakin bokong biar bisa melerai dengan gas berbaunya. Hehehe..

  2. Bulan kemarin beli buku juga, Cerita dari Digul, punya kakek Pramoedya seharga 60k. Baru baca kata pengantar itupun belum selesai, gara2 keganggu jadwal sekolah.

    Kadang tiap mau beli buku kepikiran jg ngapain beli buku mahal2 mending buat beli baju. Solusinya harus nekat, jangan kebanyakan mikir.

    Tapi kalau masalah cewek-cewek jd ilfil, masa bodo lah. Saya gak butuh cewek-cewek, saya cuma butuh satu cewek, yaitu dia… #badumtsss #baper

  3. Quote ini:Yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi…

    Hampir mirip sama buku KISAH LAINNYA (ariel) “yg terucap akan lenyap, yg tercatat akan teringat”.. Hmm.. Leh uga.

  4. njir,mau beli buku aja pake perang dulu,emang gitu bro kalo soal keluarin duit,emang kadang kadang bikin delima juga,itu buku nya karya dewi lestari bukan sih?

  5. Acieee buku baru. *ikut nyorakin*
    EH bentar, kayaknya Student Guidebook For Dummies, deh. Bukan Dummy. Wkwk. :v
    HAHAHA YAARABB UNTUK KESEKIAN KALINYA DIBILANG GITU. GIMANA PERASAANNYA? ATAU UDAH KEBAL, ZA? :(
    Oooh judulnya itu… buku fiksi? Ehm, ehm.

  6. ACIE BUKU BARU HAHAHA *ikut nyorakin*
    Eh bentar, kayaknya Student Guidebook For Dummies deh, bukan Dummy. He.
    HAHAHAHA YAARABB UNTUK KESEKIAN KALINYA DIBILANG GITU. GIMANA PERASAANMU? HUHUHU :’)
    AH REZA MAH PASTI UDAH KEBAL. HOHOHO.
    Ooooh, itu toh judulnya. Udah dibaca? Selesai? Buku Fiksi? EHM.

  7. Njiiir baca bukunya berat banget.. Intelijensi..
    Bahasanya berat banget euy…
    Buku gituan ama gue mah cuma bernasib di atas meja pojok ruangan, tertumpuk debu-debu halus.

    • Sepertinya kamu harus banyak membaca lagi, deh sebelum membaca buku intelejensi, hehehe.
      Ya memang berat, terdapat banyak istilah-istilah asing yang tak bisa gue pahami. Namun gue tidak hanya sekedar membaca tiap katanya, tapi gue juga mencari kata yang tidak gue mengerti. Membacanya, jadi lebih asik kalau udah tau maksud dan artinya. Apalagi ditemani secangkir kopi hangat.

  8. wah wah wah. oke juga seleranya, selera buku mbak dewi. bukunya penulis setingkat dewi dee itu emang harganya cukup mahal. setara sama isinya. hmm, lama jug aya setahun nggak beli buku. hibernasi kah tuh bro? :)

  9. Udah kejebak ah buku yang mau dibeli apaan pas bilang sampul warna putih sama harga 130rb wkwkwk sebelumnya udah disebut Dewi Lestari pun. Yeay, gue bisa bebas yeay! Lo baca buku-buku sebelum IEP? Soalnya kan nyangkut banget ceritanya sama buku terakhir itu. Oh iya, emang gak akan ada ruginya kok ngeluarin uang buat sesuatu yang kita suka. Terutama buku, jendela pengetahuan. Selamat membaca IEP! :)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.