Pilih Peminatan

Sewaktu tulisan ini di buat, gue sedang duduk di kelas. Memerhatikan dosen. Pikiran melanglang buana. Entah ke mana. Tahu-tahu menggumam, “gak kerasa, ya, sudah setahun berlalu.”

Teman di sebelah memerhatikan dengan tatapan bingung. “Kau ngomong sama siapa?” katanya.

Gue menatapnya kembali, lalu berkata, “lupakan.” Dengan senyuman termanis yang bisa gue buat. Dia kembali memerhatikan materi yang dosen sampaikan; gue bermonolog sendiri di dalam kepala.

Gak kerasa, ya, sudah setahun berlalu sejak gue terdaftar sebagai mahasiswa baru di sebuah universitas swasta di Jakarta. Perasaan kemarin gue baru meetup sama temen-temen baru. Ada Andre, Sheren dan Cornelia. Kami bertemu di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Ya, kita saling mengenal satu sama lain karena ada grup untuk mahasiswa baru. Dari situ, kami berkenalan dan akhirnya janjian buat bertemu.

Sekarang gue udah semester tiga. Harusnya udah bisa pilih peminatan. Gue pernah mendiskusikan hal ini dengan orangtua. Tentang peminatan yang akan gue pilih nanti. Gue nunjukin nilai-nilai yang sudah gue capai pada semester sebelumnya. “Dengan nilai ini, abang bisa ambil peminatan ERP, Ma.” Kata gue. Tentu, gue juga ngasih penjelasan ERP itu apa. Kerjanya bagaimana dan gajinya berapa.

“Kalau Abang yakin bisa, ambil aja.” Kata nyokap. “Tapi coba tanya Ayah, deh. Ayah lebih tahu.”

Gue mendekati bokap. Mengulang apa yang sudah gue bicarakan sama nyokap. “Untuk tahun pertama hingga kedua, penghasilannya mungkin belum besar. Tapi untuk tahun berikutnya, pasti bisa.” Gue nunjukin hasil research kecil-kecilan.

Bokap mengatakan hal yang sama. “Kalau mampu nyerap pelajaran, ambil aja.”

Gue mengangguk. Saat itu tekad gue belum bulat. Gue masih mikir-mikir. Bahkan pihak jurusan sama sekali belum ngadain briefing. Selain itu ada syarat yang harus gue penuhi: skor toefl harus di atas 500. Tentu, gue bisa manfaatin jalur alternatif seperti ngajuin surat permohonan. Tapi persoalannya tidak sesederhana itu. Ada biaya yang harus dipikirin. Dan itu tidak sedikit.

Buat yang belum tau, gue terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Sistem Informasi. Jurusan gue itu berkaitan dengan komputerisasi dan manajemen bisnis. Lebih condong ke ilmu komputer sih, karena berdiri di bawah naungan School of Information System. Sedang untuk ilmu yang lebih condong ke arah manajemen dan bisnis, berdiri di bawah payung School of Business Management. Bedanya apa? Cari tahu sendiri, ya, hehe.

Selama tri semester, gue belajar tentang ilmu manajemen bisnis. Menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam dunia bisnis; juga dituntut untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut dengan mengimplementasikan suatu sistem berbasis teknologi. Tentunya, permasalahan itu di dapat dari studi kasus yang pernah terjadi pada perusahaan-perusahaan besar di dunia.

Setelah menunggu cukup lama. Akhirnya yang gue tunggu-tunggu sejak semester satu pun tiba. Awal bulan Oktober kemarin, gue ikut briefing peminatan. Ramai. Yang datang banyak. Banyak muka-muka asing yang gue nggak kenal. Padahal satu jurusan. Gue duduk di tengah keramaian; gue merasa sepi. Teman-teman datangnya telat. Bangku-bangku banyak yang sudah terisi; sisanya berdiri. Gue nggak mau berdiri sepanjang acara; gue tetap di tempat. Gue terasingkan, di antara mahasiswa jurusan Sistem Informasi.

Acara itu berlangsung selama dua jam. Menghadirkan sejumlah tokoh penting dari masing-masing peminatan. Satu-satunya hal yang membuat gue terkejut pada saat itu: dosen gue ternyata kepala dari salah satu peminatan yang akan gue pilih nanti. Gue mulai bertanya-tanya, kok beliau nggak cerita kalau dia kepala peminatan?

Sebulan berlalu. Gue berhasil melewati masa-masa paling mendebarkan: menentukan peminatan yang akan gue ambil. Jurusan gue menawarkan lima jenis peminatan: Applied ERP, Applied Database, Digital Business, Business Inteligence dan Strategic Information System. Ketentuannya setiap mahasiswa hanya dibolehkan memilih 3 jenis peminatan. Gue sempat bingung. Kalau di pikir-pikir, gue ini orangnya suka menganalisa sesuatu. Sebaiknya pilih ERP atau Strategic Information System, pikir gue.

Satu sisi gue juga bingung. Tentunya soal biaya tambahan yang tidak sedikit itu. Juga jam belajarnya yang tidak sedikit. “Iya, jadi anak ERP tuh nggak ada waktu buat santai. Aku aja kelas dari jam 7 pagi sampai 7 malam. Tanpa henti.” terang senior gue.

“Tapi ada hari liburnya kan, kak?”

Dia tersenyum kecut saat gue menyebut libur. “Nih, lihat aja sendiri.” Dia nunjukin jadwal kuliahnya. Gue langsung ganti topik. Nggak enak nyebut libur di depan dia.

Akhirnya, gue mencoret ERP dari daftar yang sudah gue buat. Puncaknya tanggal 1 November. Hasil peminatan telah di umumkan. Kamis pagi, seseorang bertanya ke gue. “Eh, btw Lo peminatan apa, Za?” tanyanya.

“Digital Business.” Kata gue, sambil nunjukin hasil pengumuman yang ada di halaman website kampus. “Lu apa?”

“Gue SIS,” balasnya, dengan emotikon cemberut. “Gue orang yang terbuang.” Dia menambahkan.

Gue bingung bagaimana menanggapinya. Akhirnya, gue berpura-pura bijak. Satu sisi gue juga takut. Takut nggak bisa memberikan yang terbaik buat orangtua; juga diri sendiri. Entalah, perjalanan gue masih panjang. Terlalu dini buat mikir ke sana. Mau kuliah atau cari cewek? gue menyindir diri sendiri.

 

 

STAY CONNECTED

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail: [email protected]



6 COMMENTS

  1. Nah, kadang milih peminatan emang suka bikin bingung. Dulu temen gue nyesel masuk Pemasaran, dia ngerasa dirinya aja grogi ngomong sama orang baru. Anaknya emang tertutup gitu. Mending Keuangan aja, ngitung-ngitung meskipun sering bikin pusing. Gue sendiri malah heran kenapa kuliah ngambil Jurusan Manajemen, padahal dari awal minatnya ke Sastra atau Jurnalistik.. Tapi, begitulah pilihan hidup. :|

    Semoga lancar dan sukses dengan pilihannya! Dan seperti yang lu tulis, jangan sampai mengecewakan orang tua, Za.

    Kuliah sambil cari cewek bisa juga. Bonus, kan, kalau dapet jodoh dari kampus~ Hahaha.

  2. Milih peminatan emang agak sulit, karna itu menyangkut perkembangan kita nantinya. Tapi, yang jelas milihnya dari hati karna biasanya yang milih dari hati itu bakal bener-bener nyampe ke kita nantinya.

    Milih kuliah atau cari cewek?

    Jawaban gue : Why not both!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.