Rabu Sendu

 

Rabu, 27 September.

Pagi ini tepat pukul 07.40 waktu Indonesia bagian barat, gue dibangunkan oleh suara alarm. Gue bangun dalam keadaan malas. Sangat-sangat malas. Udara terasa dingin sampai menusuk ke tulang. Padahal gue lagi nggak nyalain pendingin ruangan karena akan mengacaukan siklus pengeluaran yang sudah gue atur dengan sedemikian rupa sejak sembilan bulan yang lalu. Mengingat tingginya biaya hidup di Jakarta yang semuanya serba mahal dan nggak semurah biaya hidup di sumatera sana—yang kalau makan nasi padang 12 ribu udah dapet ayam pop—gue pikir nggak ada salahnya menjadi pelit untuk urusan pemakaian listrik.

Mata gue merem melek karena berisiknya suara alarm yang berbunyi setiap lima menit sekali. Gue nggak akan bangun sepagi ini kalau saja nggak ada kelas hari ini. Mata gue setengah terbuka ketika memastikan nomor ruangan. Kelas hari ini di mulai pukul 09.20 menit. Artinya gue masih punya waktu satu jam tiga puluh menit untuk gegoleran. Ah, maksudnya siap-siap untuk berangkat ke kampus.

Supaya gue nggak melanjutkan hal biadab—membungkus seluruh badan dengan kain selimut dan melanjutkan tidur—gue bangun dengan susah payah mengerahkan semua tenaga yang ada pada pagi itu. Entah kenapa pada saat seperti ini rasanya berat untuk keluar dari kamar.

Sehabis cuci muka gue baru sadar kalau di luar sedang hujan. Setan-setan mulai berbisik. Merayu supaya gue mengurungkan niat untuk datang ke kampus. Gue setuju dengan suara yang muncul di kepala gue yang mengatakan bahwa sia-sia saja ikut kelas hari ini. Lagian kelasnya cuma satu jam. Ngapain juga sih gue dateng? Ngotorin baju aja! Mending lanjutin tidur! Di luar juga lagi hujan! Pas banget tuh buat tidur!

Lalu tak lama suara-suara aneh mulai terdengar kembali. Kali ini suara-suara itu membujuk supaya gue tetap mengikuti kelas hari ini. Suara-suara yang entah datangnya darimana. Gue meringkuk di kasur. Melipat tubuh menyerupai kepompong. Meraih ponsel yang ada di atas meja lalu mengamati lini masa. Gue melihat banyak keluhan yang di lontarkan orang-orang ini. Orang-orang yang masuk dalam lingkaran media sosial gue. Keluhan-keluhan tentang turunnya hujan.

Guru agama gue dulu selalu mengatakan bahwa hujan adalah sebuah berkah. Pun dalam agama, ada malaikat yang bertugas untuk memberi rezeki dan menurunkan hujan. Gue setuju dengan yang dikatakan oleh guru agama gue dulu. Hujan adalah berkah, hujan adalah rezeki. Ketika hujan turun, beberapa anak kecil datang menawarkan jasa ojek payung. Anak-anak kecil ini mendapatkan uang saku atas jasa yang mereka berikan.

Jadi pantaskah kita mengeluhkan hujan? Gue rasa kita sebagai manusia enggak pantas untuk itu.

UDAH! LANJUT TIDUR AJA BEGO! Seru sisi gelap gue.

Oh ya, sebagai informasi kalau di kampus gue itu satu jam pelajaran sama dengan dua jam beraktivitas di luar. Dua jam pelajaran, artinya empat jam beraktivitas di dunia nyata. Yah, setiap universitas punya kebijakan waktu. Maka tak heran akhir ini gue sering menolak ajakan main  yang datang dari temen-temen di luar karena semester ini jadwalnya lebih nanggung, juga lebih sering pulang malam.

Selain malas, gue punya firasat akan ada sesuatu yang terjadi. Pikiran gue mengawang-awang. Menciptakan skenario yang bahkan belum tentu terjadi: gimana kalau pas gue lagi nggak masuk, dosennya ngasih tugas? Gimana kalau pas gue lagi nggak masuk ada hal penting yang dibagikan sama dosennya? Gimana kalau pas gue lagi nggak masuk, tiba-tiba dia jadian sama cowok lain?

Sambil menimbang-nimbang—apakah harus bolos atau tetap menerobos hujan demi ke kampus—gue memutuskan untuk mandi pagi saat udara sedang dingin-dinginnya. Mantap. Gue menggigil kedinginan saat air menyentuh kulit. Rasanya gue ingin mandi kambing saja karena gue nggak kuat menahan dingin. Bagian yang paling gue suka saat cuaca sedang dingin adalah membuat minuman hangat seperti teh, kopi, susu atau bahkan cokelat panas. Menghabiskannya secara perlahan; menyentuh bagian badan gelas untuk mengusir dingin di antara jemari dan punggung tangan.

Sialnya pagi itu galon gue sedang kosong. Jam segini tempat isi ulang air galon masih pada tutup. Sehabis mandi dan berpakaian, gue berselimut dan mengenakan jaket tebal. Apesnya lagi gue juga harus puasa. Yah, setidaknya sampai hujan reda.

Kalau jam 09.30 hujan belum reda juga, gue bolos, ujar gue di grup.

Gua fix bolos sih, balas Rico kemudian.

Jangan pada bolos woi, komentar Willy. Selang empat menit kemudian dia kembali mengirim pesan di grup: bolos dah gue, tambahnya. Ya, Willy memang begitu orangnya.

Waktu menunjukan pukul 09.20 menit saat langit Jakarta terlihat lebih ceria karena ada sinar mentari. Pagi ini semesta seolah mendukung gue untuk berangkat ke kampus. Gue berhenti di sebuah warung, membeli minuman untuk berbuka puasa. Haus, cuy! Dari semalam nggak minum gara-gara air galon habis!

Sejauh mata memandang yang tampak hanya kendaraan roda empat dan beberapa kendaraan roda dua yang berusaha menyalip lewat sela-sela kecil yang tercipta di antara dua mobil. Menguntungkan orang-orang yang berjalan kaki seperti gue. Yah, meski polusinya tambah parah karena macet, setidaknya kami penjalan kaki merasa aman karena nggak perlu khawatir akan ditabrak. Bisa nyempil sana, nyempil sini.

Sesampainya di kelas, gue duduk di barisan tengah agak ke kanan. Orang-orang yang datang cuma sedikit. Mungkin karena hujan; mungkin karena terjebak macet. Pada mata kuliah Character Building semester ini, kami tidak lagi mengajar anak paud seperti yang sudah pernah gue ceritakan. Berbeda dari semester sebelumnya, semester ini kami harus pilih salah satu dari tiga macam kegiatan mengabdi pada masyarakat: mengolah sampah, menanam pohon di area publik atau mengadakan sosialisasi kesadaran dan cinta lingkungan ke masyarakat umum.

Setelah semuanya kembali ke tempat duduk masing-masing, dosen langsung memberi selembar surat ajaib. Yang diketahui sebagai surat pengantar atau surat jalan untuk kegiatan yang akan kami pilih nanti. Firasat gue benar. Ternyata memang ada sesuatu yang terjadi. Nggak salah gue bela-belain lawan rasa malas untuk datang ke kampus hari ini.

Ini lho yang dosen gue bagi pas kelas rabu kemarin!
doc. pribadi

Kalian pernah kayak gitu juga nggak, sih? Kalau pernah, pas kapan?

 

 

STAY CONNECTED

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail: [email protected]



7 COMMENTS

  1. Pernah dan sering malah kalau pas musim hujan. Sayang sama bajunya,kalau dipake terus kebasahan, susah ngeringinnya. Tapi biasanya juga sih dateng aja sebelum hujan mengguyur kota, biasalah numpang wifi gratisan, soalnyakalau hujan dan turun banyak mahasiswa yang telat dateng. Lumayanlah koleksi movie lagi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.