Reuni Kelas

“Tempat dan menu makanannya sudah aku booking. Jadi jangan lupa besok kita makan-makan di Sate Solo. Lokasinya di Suprapto.”

“Berangkatnya bareng atau sendiri-sendiri?”

“Gini aja, gimana kalau kita kumpul di satu tempat dulu, lalu nanti ke sananya bareng-bareng?” usul seseorang.

“Nah, idenya boleh juga tuh. Jadi, Senin besok kita kumpul-kumpul dulu di SD, lalu nanti kalau udah lengkap kita langsung berangkat ke sana. Yang lain boleh langsung ke sana. Bilang aja sama mbaknya kalau meja sudah di pesan atas nama Owik,” kata Dwi.

“Kalau bisa jam 13.15 sudah di SD, ya, biar kita bisa cepat perginya.” Yucha menambahkan.

Dipenghujung tahun masa-masa sekolah kurang afdol rasanya bila tak mengadakan acara reuni dengan kawan semasa sekolah dulu. Boleh ya, boleh juga tidak, sebab dipenghujung masa sekolah seperti sekarang ini antara satu dengan lainnya punya kesibukan sendiri. Ada yang sibuk ngurus surat-menyurat karena mendaftar di ikatan dinas, ada yang pergi ke luar kota demi bimbel buat persiapan SBMPTN dan ada yang ikut tes di kepolisian. Keren. Semoga yang kalian lakukan tidak sia-sia, kawan.

Belajar yang giat. Sumber: blogsnmptn.blogspot.com
Belajar yang giat.
Sumber: blogsnmptn.blogspot.com

Tak ada yang lebih menyenangkan selain acara reuni kelas. Melihat perubahan bentuk dan wujud dari masing-masing mereka, siapa tau ada yang nyantol di hati. Hehehe.

Senin, tanggal 18 april 2016.

Za, rumah kamu di mana?

Za, balas! Aku lupa rumah kamu yang mana. Pesan seseorang di bbm.

Gue keluar rumah tanpa membalas pesan yang masuk.

“Hen!” seru gue dari depan rumah, rupanya Hendry salah rumah. Untung dia nggak masuk.

Gue buru-buru mengembalikan gelas sementara Hendry memutar balik arah kendaraan roda duanya.

***

“Wess.. om.” Sapa Adit ramah.

Om-om-om, om PALELO!!! Gue membantin.

“Ya,” gue membalas dengan senyum. Dalam hati ingin segera menggampar muka Adit yang ngeselin.

“Udah berapa lama om di sini?” tanya Adit.

“Baru aja kok. Yah, kira-kira 15 menit yang lalu,” jawab gue santai.

BUSET! SEKALI LAGI LO MANGGIL GUE OM, GUE KEPRET JUGA LO DIT!!!! gue membatin, kesal.

“Oh..” gumam dia. “Mana yang lain, Ndry?”

“Udah di sekolah mungkin?” balas Hendry.

Tak lama kemudian Jupiter Z merah berhenti di depan rumah Adit. Seorang laki-laki tinggi besar melepas helmnya dan masuk ke teras rumah.

“Za” sapa dia, pertama.

“Di,” tanpa ragu gue menjawab tangannya.

“Mana Adit?” tanya dia.

“Adit masuk lagi tuh. Lagi pake baju paling.”

Sembari menunggu Adit masang baju, gue, Hendry dan Aldi ngobrol di teras rumah Adit. “Jemput lah si Widy, Di,” kata Hendry.

“Ah, males. Nanti ibunya banyak tanya,” balas Aldi, lalu tawa kami saling bersahutan.

“Aku juga malas jemput dia, Hahahaha,” Hendry mengiyakan.

“Dit, gih, jemput si Widy,” kata Aldi kepada Adit yang lagi sibuk menata rambutnya yang masih basah.

“Ah, males, ibunya banyak tanya,” jawab Adit, kesal.

Tawa kami saling bersahutan. Disatu sisi gue ketawa karena yang mereka katakan memang sesuai dengan fakta di lapangan (iya, gue juga pernah di interogasi sama nyokapnya Widy dan itu sangat menggangu sekali karena gue dihujani oleh pertanyaan yang nggak penting.), di lain sisi gue juga kasihan karena Widy dan nyokapnya dijadiin bahan candaan. Maaf ya tante, kami nggak bermaksud begitu. Semoga saja Widy, terutama nyokapnya nggak baca blog gue ini. Nggak tega aja.

Gue melirik jam tangan yang gue kenakan, “Ndry, coba BBM lagi. Ada yang udah sampai di lokasi belum?” usul gue.

“Iya juga, ya.” Hendry menanyakan kabar anggota di grup. Karena tidak ada yang merespond Hendry, kami berempat bergegas menuju titik kumpul yang telah ditentukan sehari sebelumnya. Berharap tidak membuat mereka kelamaan menunggu. Kasihan.

Setibanya di lokasi kami tidak menemukan adanya tanda-tanda kehidupan. Hanya ada kami berempat yang sudah sampai di lokasi. Padahal sebelumnya mereka (yang cewek) berpesan, “Jangan ada yang telat ya, pokoknya jam 13.15 sudah ada di SD.” Tapi nyatanya kami berempat yang pertama kali tiba di lokasi. Indonesia banget ini mah, suka ngaret. Bisa-bisanya ngatur jadwal tapi sendirinya malah datang terlambat. Huft. Kesel gue. Kalau kalian gimana? #Curhat

Sementara yang lainnya masih di jalan, kami berempat menghabiskan waktu dengan mengelilingi sekolah yang lama tak kami jamah selama 6 tahun. Dari segi penampilan dan tata letak gedungnya sama sekali tak mengalami perubahan. “Musholah ini belum dibangun pas kita masih sekolah di sini,” ujar Aldi. Gue setuju dengan ucapan Aldi barusan. Maklum, sewaktu kami masih jadi murid di sini, musholah yang berdiri persis di depan kelas kami dulu sama sekali belum dibangun pas itu. Waktu itu baru fondasi bangunannya saja yang berdiri.

Selebihnya tidak ada yang berubah dari sekolah ini. Bahkan kesan angker sepertinya masih melekat saja di sekolah ini.

Merasa puas mengelilingi lingkungan sekolah, kami berempat duduk di sebuah bangku panjang yang ada di depan perpustakaan. Saat flashback ke masa lalu, biasanya akan selalu ada orang yang menjadi korban. Lagi-lagi seseorang bernama Widy yang kami berempat korbankan. Entah kenapa, tapi nama dia memang layak untuk dikorbankan sebagai bahan guyonan.

“Acc lah Dit pin dia,” kata Aldi memulai.

“Iya Dit, acc aja pin dia,” Hendry setuju.

“Males ah berteman sama dia, lagian, kontak gue semuanya cowok.”

“Anjir! Jadi.. lo homo, dong?” celetuk gue. Kata-kata tersebut tak bisa gue tahan begitu mendengar jawaban Adit. Kata-kata tersebut dengan mudahnya naik kepermukaan.

“Yah enggak lah! Gue normal kali!” bela Adit.

“Kalau normal, terima, dong!” ujar Hendry, menahan geli.

Tiga pasang motor masuk dalam peredaran kami. Salah satu dari pengendara motor tersebut ialah orang yang sedang kami perbincangkan saat ini. “Wah.. wah.. Dit, jodohmu datang tuh,” ujar gue.

“Pokoknya gue nggak akan acc pin dia!” kata Adit, mukanya terlihat serius tapi sebenarnya dia menahan geli ingin ketawa.

Iyasih, kalau gue jadi dia juga nggak bakal acc pin Widy. Eh, tunggu dulu, gue kan udah acc pin dia? Arrgh!

***

Makanan yang kami pesan pun tiba. Dari total 30-an anak yang lulus sekitar 6 tahun lalu (khusus kelas kami), yang ikut reunian cuman setengahnya, bahkan kurang. Dua orang sohib gue semasa SD dulu nggak bisa datang dikarenakan sibuk dan satunya lagi tidak ada kabar. Gue kecewa berat. Eh, nggak kecewa-kecewa amat sih karena salah satu dari cewek-cewek yang hadir di acara reuni tersebut ada yang gue taksir.

Pertemuan tersebut persis seperti dugaan gue. Ada yang wujudnya berubah total, ada juga yang bentuknya begitu saja dari tahun-ketahun. Yang cantik bukannya jadi tambah cantik, malah yang cantik jadi semakin biasa-biasa saja di mata. Tapi, yang dulunya biasa-biasa aja, malah sekarang jadi luar biasa. Termasuk dia, yang gue taksir.

Gue dan dia duduk berseberangan saat di meja makan. Dari sudut ini, dari tempat gue duduk, gue bisa melirik wajahnya tanpa harus takut tertangkap basah. Dan saat dia makan, Masya Allah, gue kayak sedang melihat bidadari lagi makan. Sungguh indah makhluk ciptaanmu ini Ya Allah, batin gue.

Foto kiriman Reza Andrian (@rezaandrian_) pada

Sehabis acara makan-makan, Dwi mengusulkan ke view tower, tempat nongkrong paling populer se-Kota Bengkulu. Anak-anak hits Bengkulu biasanya suka menjadikan View Tower sebagai tempat buat hunting foto atau sekedar nongkrong bareng temen. Bagi gue, tempat ini tidak lebih dari sekedar tempat berkumpul anak-anak lem karena semuanya kelihatan kayak orang sakau.   Entah apa yang ada di pikiran Dwi saat itu, tapi rencana dia untuk main ke sini sepertinya kurang pas. Tidak ada yang bisa kami kerjakan di sini. Akhirnya kami cuman ngeliatin anak-anak kecil bermain sepatu roda dengan lincah. “Adek mana sepatu rodanya dek?” kata Ilham ke gue.   “Jadi gini om, om mau nggak kalau matanya adek colok pake ini?” gue nunjukin lidi. Bersamaan dengan itu, gerimis datang mengguyur kami yang lagi duduk-duduk di taman. Rencana ingin foto-foto di sini gagal karena kami disambut oleh hujan kenangan. Eh. Maksudnya hujan air yang mengguyur Bumi Rafflesia. Tak ada pilihan bagi kami selain berteduh menunggu hujan reda.

***

“Kita mau ke mana sih, Ndry?” tanya gue, penasaran karena daritadi kami pergi tak tentu arah.

“Nggak tau Za, pokoknya ikutin aja si Dwi.”

“Iyaiya.” Kalau dilihat dari gerak-geriknya sih kayaknya Dwi lagi nyari tempat yang pas buat foto-foto. Sebenarnya aneh juga kalau acara reuni cuman makan terus langsung pulang. Tapi kalau nggak tentu arah begini kesel juga dibuatnya. Untung gue diboncengin sama Hendry. Terima kasih, Hen.

Dan acara reuni kami pun ditutup dengan foto bersama di Pantai Panjang Bengkulu. Biar yang datang nggak sampai setengahnya, semoga di acara selanjutnya (bakal ada acara foto-foto di studio bareng senin nanti) semuanya dapat hadir meramaikan frame foto dengan seragam batik sekolahnya masing-masing. Temen-temen SMA gue nggak ada yang punya rencana buat foto sekelas di studio. Jadi, yah, tidak ada pilihan selain ikut foto bareng dengan teman SD. Paling tidak nantinya saat gue udah pindah ke Jakarta, ada harta karun yang bisa gue bawa sebagai barang bukti masa-masa sekolah dulu berupa foto gue dan temen-temen yang nanti bakal gue pajang di meja ataupun dinding kamar kost.  

Foto kiriman Reza Andrian (@rezaandrian_) pada

Foto kiriman Reza Andrian (@rezaandrian_) pada

Nah, sepulang dari acara reunian kemaren rencananya gue ingin PDKT dengan cewek yang gue taksir karena perubahannya yang amat jauh bila dibandingkan dengan dia saat SD dulu. Namun sejauh gue mengikuti acara reuni ini gue menemukan satu fakta mengejutkan: dia sudah ada yang punya. Mau nggak mau gue harus berlapang dada dan menerima kenyataan pahit ini. Lucu bagaimana dulunya orang yang pernah kita tolak cintanya karena sebuah alasan, “nggak mungkin, kan masih bocah (padahal sebenarnya naksir dengan yang lebih cantik dari dia)” dan sekarang justru orang itu juga  yang membuat kita menyesal karena dulu pernah menolak cintanya.

Gue seperti mendapat tamparan keras di pipi. Menyesal karena dulu dengan teganya gue menolak dia. Nggak menghargai perasaan dia.

Gimana dengan kalian? Sudahkah kalian reuni dengan kawan lama? Adakah pengalaman-pengalaman seru yang ingin kalian bagi ke gue dan pembaca lain? Silahkan berkomentar di kolom yang sudah tersedia di bawah ini.



13 COMMENTS

  1. hmm, reuni sd ya…. gue jadi keinget, gue nggak pernah dateng setiap diajak reunian sd. walaupun agak sedikit rindu dengan teman2 terdahulu. wih wih wih, ternyata reuni sd ini bisa dijadiin ajang buat “menaksir” teman terdahulu yak. apalagi, kalau perubahannya cukup jauh.

  2. Fyuuh… Cukup melodrama nih reuninya.. Berbalut kebahagiaan karna kumpul bareng lagi, tapi juga sedih denger lo tau kalo doi udah ada yg punya.. Ahahahha. Eh harusnya gue kan sedih yah? Yaudah, ahahaha

  3. Udah lama nggak reuni sama anak-anak smk, smp atau sd rasanya kangen juga sama mereka kalaupun ngadain reuni pasti yang paling sering malah anak-anak dari sd dulu kalau dari anak-anak smk malah belum pernah palingan ngumpul pas di salah satu temen smk yang ngadain acara pernikahan duh :’)

  4. gara gara baca postingan lo ini,gue jadi pingin reuni deh sama kawan SD dulu,gue penasaran apa muka nya udah pada tua tua semua ya,beda sama dulu,masih imut imut wkwkkwwk

  5. Enak banget ada acara reunian SD :D masih lengket aja sama temen-temen SD :)) kalo reuni yang terakhir ya sama temen-temen SMA, belum ada yang berubah cuy :)) hehe. Bilang sama tmen-temen kamu, harus sering-sering ngadain reuni. Nggak boleh ada alasan sibuk ;P hahaha.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.