Taman dengan Luka

Hujan pukul 12. Mobil yang sedang kutumpangi melesat di jalanan Jakarta yang ramai. Jazz berplat Palembang itu tertahan di jalan tol. Sesak oleh cahaya merah dimana-mana. Aku menyandarkan kepala pada bagian kaca jendela mobil. Menghela nafas panjang.

Jejak hujan di kaca jendela mobil. Aku ingin menjamahnya dan melukis polaku sendiri. Memindahkan sesuatu yang ada di dasar hati kedalam bentuk gambar atau rangkaian kata. Kuharap saat itu tak ada sekat bernama kaca yang jadi pembatas antara aku dan dia. Aku dan jejak hujan.

Siang itu hujan turun dengan sangat deras beserta badai yang mengikuti. Mobil berplat BG itu berhasil keluar dari kemacetan. Arus kendaraan sudah mulai tenang. Tak separah yang sebelumnya. Mobil itu mengambil jalur kiri. Mengikuti papan penunjuk jalan yang bertuliskan Serpong dan wilayah disekitarnya.

Kami berhenti di sebuah persimpangan jalan. Seperti menunggui seseorang. Aku meraih gawai yang sengaja di simpan di dalam kantung jok belakang. Menenggelamkan diri pada layar berukuran 5.5 inch. Berharap ada sesuatu yang menarik disana.

Aku tak banyak bicara kala itu. Pun hanya beberapa patah kata saja yang kuucapkan. Menjawab pada saat ditanya, menanggapi pada saat lawan bicara membutuhkan. Kalau bukan karena sebuah keharusan, mungkin aku sudah jadi patung. Pada saat yang bersamaan menyelam ke dasar pikiran. Disitulah tempatku. Dunia di dalam pikiran.

Aku mengedarkan pandang ke seluruh penjuru pusat perbelanjaan. Mencari sesuatu yang menarik untuk dibawa pulang. Belum ada yang menarik saat itu. Kupikir, aku akan pulang dengan tangan kosong. Sampai mataku dan dia bertemu. Pertemuan itu terbilang cukup singkat. Terjadi dalam hitungan detik. Dan berpisah dalam sepersekian detik. Aku mengalihkan perhatian ke yang lain. Tak ingin menatap mata itu lama-lama.

Tak hanya sekali. Pertemuan itu terjadi hingga beberapa kali. Dan beberapa kali pula aku harus memisahkan diri atau setidaknya beberapa langkah di depan atau di belakang mereka agar bisa mengusap cairan bening di pelupuk mata. Taman bermain seolah tak cukup untuk menghibur diri. Sejenak aku bisa melupakan segalanya dengan permainan-permainan yang cukup menghibur. Dan balik ketitik semula dalam hitungan sepersekian detik.

Lalulitas sore itu terbilang cukup lancar. Mobil yang kutumpangi meluncur dengan kecepatan tinggi. Berpacu dengan waktu dan awan gelap di cakrawala. Aku menempelkan kepala pada bagian kaca jendela mobil. Mengusap dada sebelah kiri seraya berkata, “sepertinya aku pulang tidak dengan kosong.”

 

STAY CONNECTED

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail: [email protected]



3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.