Holaa. Apa kabar? Di sini gue baik-baik aja. Makan teratur, selera terpenuhi. Berbagai macam masakan khas Padang tersedia. Tebak, ada di mana gue sekarang? Yap, benar, gue lagi liburan. Tepatnya di salah satu provinsi di Pulau Sumatra. Hehe. Libur ini agak beda. Gue menjalankan tantangan libur semester.

Sebenarnya gue agak ragu ketika hendak mengambil tiket perjalanan ke sini. Sebab waktu itu uang di tangan gue pas-pasan banget. Kalau gue pakai, kemungkinan gue enggak bisa jajan di sana. Enggak bisa bawa pulang oleh-oleh ke Jakarta.

Untungnya gue enggak menghamburkan banyak uang saat liburan di Jogja akhir tahun kemarin; juga kebutuhan bulan Januari yang enggak begitu banyak sehingga gue masih sempat menyisihkan sebagian uang untuk dijadikan cadangan. Lalu menyimpannya secara terpisah supaya lebih terkontrol.

Baca juga: Liburan di Jogja 1 & Liburan di Jogja 2

Namanya juga anak kos. Kelebihan seratus ribu aja langsung di pakai buat jajan. Mumpung selesai UAS, rezeki lagi ada, kenapa enggak gue pakai aja untuk beli tiket pesawat? Pikir gue. Otak juga harus dilemesin, shay.

Tanggal 1 Februari adalah hari terakhir gue ujian. Untungnya ujian hari terakhir bukan mata kuliah yang sulit dan teoretis. Gue bangun sekitar jam setengah enam, membuka dan membaca kembali ringkasan dari kawan. Ujian jam delapan pagi, teng. Oh, gue masih punya waktu dua jam lagi untuk belajar, mandi dan bertemu mentor. Sarapan? Oh, itu nanti saja, sehabis ujian.

Kenapa enggak malamnya aja? Kan enggak perlu bangun pagi banget kalau malam udah belajar? Gini, malamnya gue enggak bisa belajar karena lagi pindahin data dari laptop lama ke harddisk. Laptop yang gue menangkan dari lomba ngeblog bulan Agustus lalu lagi di install. Laptop lama di hapus data-datanya karena udah bukan punya gue lagi alias pindah tangan. Dari anak pertama, di turunkan ke anak kedua. Mungkin juga sesekali digunakan oleh kepala keluarga: bokap.

Kemudian data-data yang gue simpan di dalam harddisk di pindahkan ke laptop yang baru. Ya, enggak semua. Gue pilah-pilah lagi biar nggak sesak. Sisanya di keep di dalam harddisk, untuk cadangan kalau nanti mau install ulang laptop.

Gue sampai di kampus jam setengah delapan. Menemui mentor sebentar. Cika sudah menyiapkan beberapa lembar kertas penilaian. Selesai mengisi kertas penilaian mentor, gue pamit dan kawan-kawan kelompok mentoring pamit dengan Cika. Lalu bergegas menuju ruang ujian di lantai 4.

Gue keluar dari ruang ujian persis tiga puluh menit sebelum waktunya habis. Di luar ada beberapa kawan sedang menunggu. Gue menghampiri Hansen yang lagi duduk di kursi panjang. “Eh, Sen, uang kemarin boleh gue minta sekarang, enggak? Mau gue pakai untuk jalan ke bandara nanti.”

“Boleh. Gue transfer sekarang, ya?”

“Kalau tunai ada, enggak? Mobile banking gue lagi gangguan, nih,” kata gue, “terus gue juga nggak hafal nomor rekening.”

“Oh gitu. Ada, kok.” Katanya. Dia meraih dompet dari saku belakang lalu menyerahkan sejumlah uang ke gue.

“Makasih, Sen!” kata gue.

“Iya, sama-sama. Lu pulang ke Padang, ya?” tanyanya, penasaran.

“Iya.” balas gue. Sementara itu teman gue satu lagi sedang menunggu.

“Hati-hati di jalan ya, Za!”

“Iya! Sampai jumpa semester depan nanti!” ucap gue, lalu segera di balas olehnya dengan kalimat yang sama. Satu hal yang gue tekankan pada diri gue sendiri, sebelum berangkat menuju bandara: libur kuliah berarti hape juga diliburkan. Kecuali saat ada urusan.

Buat yang belum tau, dalam rangka memeriahkan libur semester kali ini gue membuat sebuah tantangan, yang gue sendiri enggak tau sanggup menjalankannya atau enggak. Tantangan ini mirip seperti puasa. Bedanya, bukan menahan diri dari lapar dan haus. Melainkan menahan diri dari bermain hape dan media sosial selama periode libur.

Tentu kita semua tau kalau teknologi seperti hape dan media sosial punya dampak buruk jika digunakan secara berlebihan. Yang paling simpel, deh, nonton Instagram Stories teman saat lagi kerja. Misalnya suatu pekerjaan dapat di selesaikan dengan estimasi waktu selama satu jam. Jika si Andi anaknya pecandu media sosial dan dia bekerja sambil main hape, pekerjaan yang tadinya dapat diselesaikan dalam waktu satu jam bergeser menjadi satu jam setengah atau lebih.

Kalau lagi enggak ada kerjaan boleh, dong? Tentu boleh. Tapi lebih baik waktunya digunakan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat seperti push up dengan satu jari. Oke, itu enggak lucu.

Tentunya gue enggak mau membatasi diri dari aktivitas sosial. Apalagi penyebabnya karena asik main hape. Lagian, enggak ada yang gue tunggu. Gue bisa liburan dengan tenang. Tanpa gangguan, tanpa perlu merasa cemas.

Berhenti main hp
Liburan tanpa hp? Bisaa!
sumber gambar: pexels.com

Pada hari pertama gue berhasil melewati tantangan yang gue buat. Pada malam hari gue membuka aplikasi chatting, membalas setiap pesan masuk. Lalu menghilang bagai ditelan bumi.

Pada hari kedua dan ketiga guemasih sanggup menahan diri. Sesekali buka media sosial untuk mencari hiburan. Kadangkala tertawa melihat jokes receh di Twitter. Ya, Twitter adalah tempat di mana gue bisa mendapatkan hiburan tanpa perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Berbagai macam jokes bisa ditemukan di Twitter. Mulai dari jokes receh, jokes tingkat tinggi, dan jokes-jokes lainnya. Kadang juga menyeringai melihat carut-marutnya dunia perpolitikkan Indonesia.

Memasuki hari keempat, pertahanan mulai melemah. Perlahan gue mulai sering ngecek hape. Yang biasanya dua sampai tiga kali tiap sembilan jam, hari keempat meningkat jadi lima sampai enam kali pemakaian tiap empat jam. Dalam enam belas jam, sedikitnya gue ada dua puluh empat kali main hape. Apakah ada hal yang penting? Enggak juga.

Gue ngelakuinnya secara enggak sadar. Tau-tau udah buka aplikasi chatting seperti Line dan WhatsApp. Termasuk beberapa media sosial. Ternyata memang enggak mudah berhenti menggunakan perangkat komunikasi.

Hari kelima hancur sudah. Rusak janji yang gue buat beberapa waktu lalu karena enggak bisa menepatinya. Gue memutar otak. Daripada gue berhenti total, baiknya di ganti saja. Lalu gue mencari solusi dari permasalahan ini. Oh, tentu, buat dan tentukan kapan waktunya bermain, dan kapan waktunya istirahat. Kalau gitu kan enak, gue enggak perlu merasa berdosa.

Aturan harus dibuat sejelas mungkin dan mengikat. Jika melanggar atau melewati batas waktu yang ditentukan, ada sanksinya. Tentunya sanksi yang bermanfaat, sekaligus bikin jera.

Satu-satunya hukuman yang terlintas dan paling masuk akal menurut gue yaitu mentraktir seseorang makan. Entah itu makan bakso, sate atau makanan lain yang mengenyangkan.

Berapa banyak? Tergantung berapa banyaknya orang yang ada di dekat gue pada waktu melakukan pelanggaran. Andai kata ketika gue melanggar orangnya cuma ada satu, orang itu yang akan gue traktir. Apabila sewaktu melanggar cuma ada gue sendiri, hukumnya ditentukan oleh dadu.

Kalau gagal, traktir makan!
sumber gambar: pexels.com

Kapan aturan tersebut akan di jalankan? Sejak postingan ini gue tulis yaitu tanggal 8 Februari.

Kenapa gue pengin berhenti main hape? Ya, karena gue pengin betul-betul menikmati waktu liburan gue. Menikmati waktu bersama keluarga dan lainnya. Kan sayang, liburan di habiskan untuk main media sosial yang sebagian besar kontennya kurang sehat untuk di konsumsi.

Enggak Twitter, enggak Instagram, menurut gue semuanya sama aja. Kalau di Twitter isinya politik dan agama, di Instagram isinya lebih banyak lagi. Ada gosip, politik, agama, pamer barang mahal, pamer belahan dada, pamer kekayaan, dan terakhir pamer pacar.

Terkadang main media sosial membuat penggunanya ingin terlibat dan ikut mendukung gerakan tersebut, ikut memamerkan sesuatu. Namun permasalahannya sekarang adalah, enggak ada yang bisa gue pamerin. Pamer kekayaan? Apalagi. Kalau makan aja masih di warteg. Pamer belahan dada? Enggak punya! Pamer kemesraan bersama pacar? Enggak punya juga. Oke, yang terakhir menyedihkan banget, ya :’)

Sebetulnya mudah. Menjadi sulit karena gue udah kecanduan. Ibarat perokok, kalau udah candu, ya, sulit buat berhenti. Pun begitu dengan gue yang udah kecanduan main hape dan media sosial. Jangankan berhenti deh, mengurangi pemakaian aja udah sulit banget buat gue.

Ya, doakan saja semoga gue bisa memenuhi janji untuk mengurangin main media social. Semoga gue sanggup menahan diri dari berbagai macam godaan selama liburan. Mudah-mudahan sanggup sampai periode libur habis. Kalau boleh, hingga semester genap berganti jadi semester ganjil.

Ps: maaf, ternyata gue telat publish karena jaringannya susah alias enggak ada wifi sama sekali! Kalau mau internetan gue harus nyari ruang publik yang menyediakan wifi baik yang berbayar mau pun gratis. Kalau di rumah dan butuh internet gue harus thetering dari hape ke laptop. :(

Mau tau hasilnya? Yap, benar, gue gagal. Huhuhu.

Kalau kalian, hal apa yang menurut kalian mudah untuk direncanakan tapi berat untuk dilakukan? Gue pribadi, ya, kurang-kurangin main hape.

 

 

STAY CONNECTED

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

Punya pertanyaan? Silakan klik tautan ini

atau

e-mail ke: [email protected]

5 KOMENTAR

  1. Susah bgt bagi gwa!
    Bahkan, kmren pas gwa traveling, w memutuskan buat gak beli kartu internet, tapinyaaaa tiap ada cafe gwa masuk buat wifian, wkwkwkw.

    Eh, btw gwa blm pernah ke Padang, pengen deh ke sana za, nebeng ya kapan2 wkwkwkw…

  2. Susah banget ya kalau udah kecanduan. Menurut gw yang paling sulit itu berhenti main game! Gw gak bisa sehari aja gak main game! Pokoknya harus!

BERIKAN PENDAPAT ANDA

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.