Teguran

Gue duduk memerhatikan dosen. Ini matakuliah yang cukup berat untuk gue. Data and Information Management. Anak dari mata kuliah database. Gue nggak tau apa memang gue ini lemah di mata kuliah ini atau dasarnya memang nggak merhatiin dosen. Tapi, sepanjang gue belajar, gue nggak ngerti apa-apa tentang mata kuliah ini. Yang gue tau cuma cardinality. Itupun gue pelajari di matakuliah Analysis and Design Information System semester kemarin.

Kepala gue mulai pusing. Mumet. Gue nggak nangkep apa-apa. Hape gue bergetar. Ada dm masuk. Dari seseorang yang gue kenal. Masih bisa disebut kerabat. Gue tutup hape. Kembali mengamati dosen. Waktu menunjukan pukul 5 sore. Bersiap untuk pulang. Seperti biasa, gue nggak dapet apa-apa dari matakuliah ini. Sementara itu UTS tinggal beberapa minggu lagi. Bagaimapun juga, gue harus kerja ekstra untuk bisa paham materi dari mata kuliah data ini.

Sesampainya di kost. Gue langsung rebahan di kasur. Memejamkan mata sejenak. Hape gue bergetar lagi. Pesan masuk. Gue buka dan baca. Pesan itu bernada tidak santai: UWOI. Gue langsung marah.

Nggak, gue bukan tipe orang yang mudah tersulut amarahnya. Tapi, coba lihat. Dia ini muda, jauh lebih muda dari gue. Selisih kami 5 tahun. Meski bersepupu, gue nggak begitu dekat dengan dia. Gue juga lagi capek. Stress. Lalu pantaskah dia mendesak gue untuk segera membalas pesannya? Bahkan orangtua gue aja nggak pernah nuntut gue untuk segera membalas pesannya.

Gue baca-baca lagi pesan-pesan sebelumnya. Oh, dia ini mau belajar ngeblog. Bagus. Seandainya dia minta dengan baik-baik, pasti gue ajarkan. Tapi sayang, gue udah terlanjur nggak suka. Gue langsung kasih teguran. Nyalinya menciut. Bagai kerupuk terkena air. Lembek.

Terkadang lucu kalau di ingat-ingat lagi. Gue tau, gue salah karena kasar dalam menegur. Nggak sampai menghardik juga, sih. Lebih tepatnya sarkas. Tapi, sebagai orang yang mendapat pendidikan, harusnya ngerti etika bagaimana berkomunikasi dengan yang lebih tua. Gimana dengan orang yang nggak di kenal, gimana dengan orang yang seumuran tapi hubungannya nggak dekat. Bukankah hal semacam itu sudah di ajarkan sejak kecil?

Gue pikir nggak ada salahnya menampar seseorang dengan teguran. Biar nggak jadi kebiasaan. Bukankah itu lebih baik daripada dihakimi masyarakat karena kurang ajar?

Gimana pendapat kalian? Yuk, diskusi di kolom komentar \o/

 

 

Contact

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail: [email protected]

 



2 COMMENTS

  1. Hihihi setuju. Selama penyampain teguran dengan cara yang baik. Semua itu ok. Terkadang suka kesel juga, ya. Klo ada orang yang nggak pengertian begitu. Tetapi, sebenernya orang2 yang tidak pengertian dan beretika itu banyak. Sehingga mau nggak mau kita mulai dari diri kita sendiri. Oh ya, semoga sukses ama mata kuliahnya

  2. Setuju… Aku pernah kok menegur langsung begitu anak buah yg aku anggab ga sopan. Aku sbnrnya termasuk atasan yg paling santai dengan anak2 teamku.. Ga nuntut dipanggil bos, dan lbh suka anggab aku kyk temen mereka.. Tp pernah dpt bawahan yg memang bebal dan ga ngerti kapan hrs serius, dan kapan bercanda. Di situlah aku ‘murka’ pertamakali marahin dia di depan team yg lain :D. Sebenernya salah sih.. Sebisa mungkin kalo mau negur harusnya saat berdua.. Tp waktu itu aku keburu gedhek ama anaknya :p

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.