Aku Akan Menjadi Dewasa [2/3]

<<<< Aku Akan Menjadi Dewasa [1/3]

*SMS*

“Michelle, jajan ke kantin yuk? Aku sekarang lagi di depan kelas.”

Michelle melihat handphonenya. Ternyata ada satu pesan masuk dari Anin. Lalu Michelle membalas pesan itu.

Pesan terkirim.

Satu pesan diterima. Anin membuka pesan itu dan membacanya.

“Maaf Nin, aku sekarang lagi jajan di kantin sama teman sekelasku. Kamu nyusul aja ke sini, aku tunggu ya!”

Setelah membaca pesan balasan dari Michelle, Anin langsung menutup handphone miliknya.

***

Memasuki hari kedua sekolah. Di hari kedua itu, Michelle meluangkan waktunya untuk bersama dengan Anin. Karena Michelle sangat tau kalau Anin masih menutup diri dari orang-orang yang baru ia kenal. Saat mereka berdua sedang ngobrol di taman, tiba-tiba ada seseorang yang berlari menghampiri mereka.

“Anin… Michelle…”

Orang itu langsung memeluk mereka berdua dengan begitu kuatnya.

“Tolong lepas sebentar, aku sesak…” ucap Michelle sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan orang itu. Dengan nafas putus-putus.

Orang itu perlahan merenggangkan pelukannya.

“Gracee?!” kata Anin setengah kaget.

“Loh… Grace?!” kata Michelle, masih dengan nafas terengah-engah sehabis di peluk sama Grace.

“Iya…” Grace mengangguk.

“Hai.” Sapa seseorang yang berada di belakang Grace.

“Stefi juga?!” Anin seakan tak percaya bahwa mereka berempat bisa satu sekolah lagi.

Stefi mengangguk.

Akhirnya The Rempong berkumpul kembali.

CHZP0FDUMAA7PQG

“Duduk sini Grace, Stef.” kata Anin, memberikan ruang.

“Kalian sekolah disini juga?” tanya Anin masih tak percaya kalau ia dan sahabatnya bisa terdaftar dan masuk di sekolah yang sama.

“Iya…” jawab Grace, dengan raut muka senang.

“Kita memang tak terpisahkan ya. Buktinya kita satu sekolah lagi!” Ucap Stefi.

“Hahaha iya banget tuh!” Anin setuju. “Oya, kalian berdua kemana aja? Kok gak kelihatan waktu MOS? Jangan-jangan…”

“IH! Enggak, tau! Aku kemarin sakit!” ucap Stefi.

“Loh? Sakit apa kamu Stef?”

“Sakit hati. Ya kan Stef?” ledek Grace.

“IH! Enggak! Aku kemarin itu sakit malaria tipes.”

Setelah saling menanyakan kabar satu sama lain, mereka melakukan hal yang biasanya dilakukan cewek-cewek pada umunya ketika sedang berkumpul. Mulai dari: cerita-cerita, curhat, dan masih banyak hal lainnya.

***

Bel istirahat berbunyi. Pada umumnya orang-orang menggunakan jam istirahat untuk jajan ke kantin mengisi perut yang kosong atau sekedar membeli minum untuk menghilangkan haus. Nampaknya hari itu tidak dilakukan Michelle. Pada jam istirahat, Michelle mencari teman-temannya di sekitaran sekolah.

Michelle kembali melanjutkan pencarian. Saat melintas di depan kantor, samar-samar Michelle melihat Grace sedang duduk di taman sekolah sambil menikmati jajanan yang di beli dari kantin sekolah. Michelle sangat yakin yang sedang duduk di taman sekolah itu adalah Grace.

”Eh, Grace, ada sesuatu yang mau aku bicarakan nih,” kata Michelle. Lalu duduk disebelah Grace.

“Hm…, bentar-bentar,” kata Grace, menyuruh Michelle untuk tenang. Sambil mengunyah jajanannya.

Michelle mengaduk-aduk minumannya.

“uhuk… uhuk…” Grace batuk-batuk.

Secara spontan Michelle langsung memberikan minumannya pada Grace yang sedang batuk-batuk akibat keselek.

“Hahh…” Grace bernafas lega. “Tadi Michelle mau bilang apa?”

Sementara itu disisi lain, Stefi berlari sambil membawa bekal makan siangnya ke tempat Grace dan Michelle yang lagi duduk di taman sekolah.

“Hai semuanya.” Stefi langsung duduk di sebelah Michelle.

“Nah, pas banget nih.” Kata Michelle. “Oke, langsung aja ya.”

“Bentar Chelle,” Stefi masih mengatur posisi duduknya.

“Teruskan.” ujar Grace.

“Jadi begini.” Kata Michelle, mulai serius. “kalian merasa gak sih, kalau Anin itu sekarang mulai berubah?”

Grace dan Stefi saling menatap satu sama lain.

“Berubah? Maksud kamu?” tanya Grace. Tak mengerti maksud perkataan Michelle.

“Ya… Anin itu kayak berubah gitu. Gak kayak dulu lagi.”

“Anin berubah jadi rubah ekor sembilan ya?” Stefi memotong pembicaraan.

Gak nyambung.

Michelle mengambil jus jeruk yang sedari tadi dia letakan di sebelah hapenya sambil geleng-geleng kepala karena melihat sahabatnya Stefi, gak nyambung. Melanjutkan sambil meminum jus itu menggunakan sedotan. “Bagi dong Michelle!” kata Grace, lalu mengambil bekas sedotan minumnya yang sudah habis sejak tadi.

“Aku juga mau!” sahut Stefi, menunggu Grace selesai mencicipi minuman Michelle. Setelah mencicipi minuman itu, Stefi lalu berkata, “Aku bercandaa kali, hehehe.”

Grace mulai terlihat serius. Dia berusaha memahami maksud perkataan Michelle. Michelle dan Stefi bingung melihat Grace yang mendadak berubah jadi sangat serius dan tak berani menggangunya.

Grace masih terus berusaha fokus. Dan dia berkata, “Aku juga merasakannya, Chelle!” dengan sangat yakin.

Hal serupa juga dirasakan oleh Grace. Meski awalnya dia tak mengerti maksud perkataan Michelle, tapi setelah mengingat kembali kejadian yang baru saja dia alami, Grace merasa sangat yakin kalau sahabatnya itu benar-benar telah berubah. Lain halnya dengan Stefi. Stefi sama sekali tak merasakan perubahan apa pun dari Anin. Menurutnya Anin masih sama seperti yang dulu. Stefi tetap ngotot kalau Anin gak berubah seperti yang Grace dan Michelle pikirkan.

Mereka masih menganggap wajar perubahan sikap dari Anin. Karena orang yang pemalu seperti Anin memang harus lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang baru disekitarnya. Michelle teringat kembali waktu sekolah di hari pertama. Anin masih menutup diri dari teman-teman barunya dan enggan berkomunikasi dengan mereka.

Michelle sempat kewalahan waktu itu. Anin terus meminta kepada Michelle supaya menemaninya selama berada di sekolah. Anin juga berkata, “Aku gak percaya sama teman-teman baruku. Aku lebih percaya sama kamu, Michelle!”

Michelle merasa iba pada Anin yang dulu tak pandai berinteraksi dan lebih menutup diri dari orang lain.

Namun seiring berjalannya waktu, teman-teman Anin jadi semakin banyak Ia yang dulunya menutup diri, sekarang sudah bisa membuka diri. Orang-orang yang berada disekitarnya pun turut senang dengan kehadiran Anin.

Dari taman itu, Michelle bisa melihat Anin terlihat begitu bahagia bermain dengan teman-teman barunya. Michelle sangat jarak melihat Anin sebahagia itu. Anin seperti mendapat kebahagiaan baru ketika bersama teman-teman barunya. Michelle membiarkan Anin bahagia bersama dengan teman barunya. Dan lebih memaklumi hal itu sehingga menganggap perubahan dari dalam diri Anin bukanlah sebuah masalah yang besar. Karena setiap orang membutuhkan sebuah perubahan.

Namun, lama kelamaan kebahagiaan itu membuat Anin semakin jauh dari ketiga sahabatnya. Kini ia terlihat berubah total. Anin jadi lupa sama Grace, Michelle dan Stefi yang dulunya menjadi tempat ia untuk curhat dan bertukar cerita. Setiap ada sesuatu, mereka dengan senang hati mendengarkan curahan hati Anin. Mulai dari curahan hati yang gak penting, sampai yang sangat penting banget, yang seharusnya tak diceritakan pada orang lain.

Sekarang ia lebih banyak menyempatkan waktu buat sahabat barunya. Setiap kali sahabat lamanya mengajak Anin untuk kumpul bareng seperti dulu, Anin selalu saja beralasan. Berbagai alasan ia keluarkan. Padahal, tujuan Grace, Michelle dan Stefi mengajak Anin untuk kumpul bareng tak lain karena ingin menguatkan tali persahabatan mereka yang selama ini pernah terjalin.

Karena terus seperti itu, Grace, Michelle merencanakan sesuatu untuk membuktikan kepada Stefi bahwa Anin memang benar-benar telah berubah total. Memiliki sahabat baru membuat ia lupa pada sahabat lamanya.

***

Hari itu Anin ada janji sama seseorang. Ia sudah berias secantik mungkin karena ada janji ingin hangout bareng sahabat barunya. Setelah berias secantik mungkin, Anin menunggu di luar kost-an karena katanya tak lama lagi mereka akan sampai. Sementara itu, dari jarak yang tak begitu jauh, ada Grace, Michelle dan Stefi yang juga sudah stand by sejak tadi.

Tak berapa lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depan kost-an Anin. Grace, Michelle dan Stefi masih tetap pada posisinya, menunggu pergerakan dari Anin. Anin masuk ke dalam mobil itu. Mereka bertiga, di pimpin oleh Michelle, juga ikut bergerak.

Mereka mengikuti mobil itu dari belakang. Sambil menjaga jarak supaya tidak ketahuan. Sejauh ini, Anin sama sekali tak menyadari kalau ia dan teman barunya sedang dibuntuti.

Mobil yang tadinya menjemput Anin berhenti di depan sebuah cafe. Michelle meminta papanya untuk berhenti tak jauh dari cafe itu. Dari dalam mobil, Grace, Michelle dan Stefi memperhatikan Anin dan para sahabat barunya itu baru saja keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam cafe.

“Ohh… pantes aja Anin gak mau main sama kita lagi. Dia mainnya sama anak-anak Perfume.”

“Siapa itu Perfume?” tanya papanya Michelle.

“Itu lho om… sekumpulan anak-anak kelas satu yang sangat tenar di sekolah.” Stefi menjelaskan.

“Iya om! Mereka itu terkenal banget di sekolah!” Grace menambahkan.

“Betul banget om!” Stefi mengiyakan.

“Om bukan bermaksud membela Anin ya. Tapi membatasi seseorang untuk berteman itu gak baik. Biarkan aja dia mau main sama teman barunya. Kan gak mungkin juga kalau Anin main sama kalian terus. Kalian juga sudah bersahabat dari SD kan?”

“Iya, pa. Tapi…”

“Eiitss… papa belum selesai bicara.” Kata papa Michelle. “Kalau kalian terus mengengkang dia, nantinya dia jadi gak berkembang.” Papa Michelle menambahkan.

“Tapi pa, dia itu selalu saja banyak alasan!” ucap Michelle.

“Iya om. Betul kata Michelle.” Grace membenarkan.

“Hm… yasudah. Om gak tau permasalahan kalian sebenarnya apa. Tapi kalau memang begitu adanya, cobalah menegur dia dengan cara yang baik. Kalian tentunya gak mau kalau tali persahabatan yang selama ini kalian jalin putus begitu saja bukan?”

Mereka bertiga mengangguk.

“Nah, maka dari itu gunanya om disini. Om sebagai orang yang sudah banyak makan asam garam tentunya lebih banyak tau daripada kalian yang masih muda ini. Mengerti kan maksud om?”

“Mengerti!” kata mereka bertiga kompak.

“Bagus! Sekarang bagaimana?”

Mereka bertiga mulai berpikir.

“Telpon Anin!” Stefi memberikan saran.

“Oke.” Michelle mencari kontak Anin di hpnya.

Tuuut… Tuuut…

“Hallo?” Anin mengangkat telpon dari Michelle.

“Hallo. Nin, aku, Grace sama Stefi mau ke rumah kamu nih. Kamu ada di rumah gak?” tanya Michelle dari seberang.

“Hmm… aku lagi di Bandara Chelle. Mau ngantar Bunda pulang ke Palembang.”

“Oh gitu ya?” Michelle keluar dari dalam mobil. Perlahan-lahan berjalan menuju cafe.

“Iya. Nanti aja ya, kalau udah sampe rumah nanti aku kabarin.” Ucap Anin.

“Siapa Nin?” kata Jessica, ketua Perfume sekaligus sahabat barunya Anin.

“Ini…,” Anin berusaha mencari alasan. “Dari pembantuku. Katanya mau datang ke rumah untuk nyuci.”

To Be Continue…



1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.