Aku Akan Menjadi Dewasa — Bagian 1

Tahun ajaran baru selalu identik sama yang namanya libur. Tapi tidak bagi mereka yang baru saja lulus dan ingin meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Para pelajar ini, disibukan dengan yang namanya pendaftaran.

Hal itu dirasakan oleh Anin. Ia baru saja lulus SMP dan ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu SMA atau Sekolah Menengah Atas. Ia sudah tak sabar ingin menjadi siswi SMA.

Dari kejauhan, Anin melihat ada seseorang yang terlihat cukup mirip dengan orang yang ia kenal. Seakan ingin menyapa, tapi ia merasa ragu untuk menyapa orang tersebut. Perasaan ragu yang muncul disebabkan karena ia takut kalau ternyata salah orang. Seperti waktu itu. Dulu, sewaktu ingin mendaftar SMP, Anin pernah menyapa orang lain, yang ia kira adalah teman satu sekolahnya waktu di SD dulu.

“Maaf ya, aku kira kamu itu temen aku waktu SD dulu. Ternyata bukan, hehehe,” ucap Anin sambil menahan malu.

“Iya gapapa,” kata orang itu.

Karena tidak ingin kejadian itu terulang kembali ketika mendaftar SMA, Anin mengamati kembali sosok orang yang terlihat cukup familiar di matanya itu dengan lebih teliti lagi. Anin merasa yakin kalau orang itu memang sosok yang sangat ia kenal.

Anin perlahan mendekati orang tersebut. Dari jarak yang cukup dekat, Anin merasa yakin 98% bahwa orang itu memang sahabat lamanya di SMP dulu. Dan 2% nya adalah orang asing.

Menyapa, atau tidak menyapa? Menyapa tapi malu bila salah orang, atau tidak menyapa sama sekali tapi di kira sombong nantinya. Terjadi perdebatan dalam diri Anin karena bingung dalam menentukan pilihan.

Sebuah keputusan terpaksa Anin ambil, dan mempertaruhkan segalanya pada pilihan yang ia ambil.

“Michelle?” ucap Anin, dengan suara cukup pelan.

Orang itu tak menoleh sama sekali. Anin mulai takut kalau orang yang ia sapa adalah orang asing. Karena orang yang ia sapa tidak menoleh ke arahnya sama sekali. Serasa ingin menyerah. Tapi hati kecil berkata, “Sapa lah orang itu. Yakin dan percaya lah bahwa dia itu memang benar-benar orang yang sangat kau kenal”.

Anin menuruti kata hati itu dan menyapa kembali orang tersebut dengan menaikkan sedikit volume suaranya.

“Michelle?” sapa Anin kembali, dengan volume suara yang sedikit lebih besar dari sebelumnya.

“Iya?” lalu orang itu menoleh ke belakang. “Loh… Anin?” sedikit terkejut.

“Iya!” Anin senang, karena kata hatinya benar.

Mereka berdua saling berpelukan. Cukup erat. Mereka sudah cukup lama tidak berjumpa sejak lulus dari bangku SMP.

“Kamu ngapain di sini?” tanya Michelle, penasaran dengan kehadiran Anin.

“Aku mau daftar ulang.”

“Kamu diterima di sini juga Nin?” tanya Michelle, antusias.

“Iya!” jawab Anin. “Kalau Michelle?”

“Sama!” Jawab Michelle. “Aku diterima di sekolah ini juga!” Michelle melanjutkan dengan raut mukanya yang terlihat sangat gembira. Ada dua hal yang membuat Michelle sangat senang pada saat itu. Pertama karena dia diterima di sekolah favorit, kedua dia senang karena bisa satu sekolah dengan sahabat baiknya di SMP dulu.

“Hm… Itu artinya kita satu sekolah lagi dong?” tanya Anin. “Ah… senangnya!”

Anin memeluk Michelle kembali. Dengan sangat erat. Karena kalah tenaga, Michelle jadi sulit untuk bernafas karena Anin memeluknya dengan begitu erat.

“Nin, aku sesak.” kata Michelle, dengan suara putus-putus.

“Ehm, maaf ya,” kata Anin. Lalu memeluk Michelle kembali dengan erat namun tidak seerat pelukan sebelumnya.

“Iya gapapa kok Nin,” kata Michelle dengan nafas terengah-engah.

“Tapi lain kali kalau kamu mau meluk harus ingat satu hal. Jangan memeluk terlalu erat seperti tadi. Itu membuatku kesulitan bernafas karena badan kamu kan lebih gede dariku. Tentunya tenagamu jauh lebih kuat dari tenagaku.” Michelle menambahkan.

“Iya-iya, maaf deh Chelle…” kata Anin, dengan manyun-nya yang sangat khas.

“Hehehe, kalau gitu kan lucu.” Kata Michelle, mencubit pipi Anin yang offside.

Anin jadi ikut tertarik karena pipinya dicubit sama Michelle. Michelle memain-mainkan pipi Anin karena merasa gemes dengan pipinya itu. Di SMP dulu juga begitu. Michelle sering mencubit dan menusuk-nusuk pipi Anin dengan jarinya. Sehingga tak jarang di sekolah mereka berdua sering kejar-kejaran setiap jam istirahat.

“Aww, sakit tau!” kata Anin, sambil mengelus-elus pipinya yang memerah karena dicubit oleh tangan jail Michelle.

Michelle terlihat sangat senang setelah puas menjaili pipi Anin. Hal itu dia lakukan karena tangannya itu memang suka jail sama pipi Anin.

“Anin!!!” sorak Michelle dari kejauhan.

***

Langkah kaki Anin terhenti begitu mendengar namanya di panggil. Michelle dari kejauhan berlari menyusul Anin yang baru saja ingin menaiki anak tangga jalan menuju ke lantai 2 gedung sekolah.

Anin membalikan badannya.

“Michelle!!” sahut Anin kembali.

Hari ini adalah hari pertama mereka sekolah di sekolah barunya, resmi sebagai pelajar SMA. Meski sudah mendapat teman saat kegiatan MOS kemarin, Anin masih belum menaruh percaya pada teman-teman barunya. Dan lebih memilih main bersama Michelle.

“Kamu kenapa sih teriak-teriak gitu?” tanya Anin.

“Gak ada, pengen barengan aja, hehehe.”

“Huuh, dasar Michelle…”

“Hehehe, yuk kita naik!” ajak Michelle.

Mereka berdua sama-sama menaiki anak tangga menuju lantai 2. Tempat dimana mereka akan menuntut ilmu. Lantai dua gedung A merupakan gedung khusus yang terdiri dari kelas-kelas pelajar kelas 1 SMA. Sementara itu Gedung B dan C adalah tempat kelas 2 dan kelas 3 berada.

“Kayaknya jadi anak SMA memang asik seperti yang orang-orang lain katakan ya,” kata Michelle menirukan kata-kata Anin waktu jumpa pertama saat daftar ulang. Michelle memang sangat menyukai hal baru.

“Hmm… iya. Tapi…,” Anin berhenti berucap.

“Tapi apa Nin?” selidik Michelle, penasaran.

Anin masih diam.

“Ayo Nin, cerita dong…,” bujuk Michelle.

Anin menarik nafas cukup dalam dan perlahan menghembuskannya.

“Aku kangen sama Grace dan Stefi,” kata Anin.

B_Rf087UwAEdqDJ

Langkah kaki mereka terhenti. Mereka berdua saling diam tak mengucapkan sepatah kata apapun yang keluar dari Anin maupun Michelle. Anin dan Michelle terlihat sangat serius memikirkan sesuatu.

“Nin,” ucap Michelle, menengok ke arah Anin.

“Iya?” tanya Anin.

“Stefi sama Grace kira-kira masuk SMA mana ya?” kata Michelle. “Aku juga kangen sama mereka,” Michelle melanjutkan.

“Iya ya, Stefi sama Grace masuk SMA mana ya? Aku juga kangen sama mereka berdua,” Anin setuju dengan perkataan Michelle. “Kalau ada mereka berdua, suasananya jadi lebih ramai karena kerempongan mereka.”

“Kalau gak ada mereka rasanya sepi banget, ya?” Michelle menambahkan.

Mereka berdua kembali terdiam. Sementara itu, orang yang ingin naik ke lantai dua terganggu karena Anin dan Michelle berhenti di tengah jalan.

“HEH! Kalian pikir, jalan ini punya orang tua kalian?” ucap seorang anak laki-laki yang ingin naik ke lantai dua, yang berdiri di belakang Anin dan Michelle.

“Eh, maaf maaf…,” Anin dan Michelle langsung memberikan jalan dan meminta maaf sama orang-orang yang ingin naik ke lantai dua.

Di tengah lamunan tadi, Anin mendapatkan sebuah untuk mengobati rasa rindunya pada dua orang sahabat lamanya, Grace dan Stefi. Sudah cukup lama Anin tak berkomunikasi dengan Grace dan Stefi.

“Gimana kalau kita ajak mereka berdua kumpul-kumpul lagi? Seperti dulu gitu.” Ucap Anin, membicarakan ide yang baru saja ia dapatkan.

“Boleh juga tuh!” kata Michelle setuju. “Yaudah nanti sepulang sekolah kita ajak mereka kumpul lagi ya!”

“Iya!”

“Yaudah… sekarang baiknya kita mencari kelas dulu.” Kata Michelle. “Aku harap kita berdua bisa sekelas lagi seperti SMP dulu ya Nin!” Michelle melanjutkan.

Anin mengiyakan. Ia juga berharap bisa satu kelas lagi dengan Michelle.

Mereka bersama-sama mencari ruang kelas. Karena peraturannya kelas akan di acak kembali usai kegiatan MOS (Masa Orientasi Sekolah). Anin dan Michelle menyusuri setiap ruang kelas yang ada di lantai 2 gedung A. Setelah lelah mencari akhirnya mereka menemukan kelasnya masing-masing. Meski tak sekelas, tapi sebuah kebetulan kelas mereka saling bersebelahan.

Hari ini merupakan kali pertamanya seluruh pelajar bersekolah setelah menghabiskan libur panjang kenaikan kelas. Belum begitu banyak aktivitas yang berat. Di hari pertama itu kegiatannya tidak lain hanyalah saling berkenal antar satu sama lain.

Karena kegiatan belajar mengajar masih belum begitu efektif, Michelle memanfaatkannya untuk saling berkenalan dengan teman barunya. Meski baru berkenalan, dia bisa cukup akrab dengan teman-teman barunya. Nampaknya hal itu sedikit berbeda dengan Anin. Ia masih sedikit tertutup dari teman-teman barunya. Bahkan Anin terlihat lebih senang menyendiri.

Bell istirahat pun berbunyi. Anin masih terlihat diam di dalam kelasnya sambil memainkan gadget miliknya. Supaya jadi lebih akrab, beberapa teman barunya berusaha mengajak Anin untuk jajan bareng di kantin. Namun Anin menolak tawaran teman barunya itu, sambil beralasan, “Makasih, tapi aku tadi udah sarapan kok di rumah”.

Ada sebuah notifikasi yang masuk. Michelle langsung melihat hpnya yang berada di saku baju. Di situ tertulis “Satu pesan di terima”.

To be continue…

Aku Akan Menjadi Dewasa [2/3] >>>>



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.