Jadi beberapa bulan yang lalu gue habis dapat kiriman paket dari seseorang. Ukurannya lumayan besar dan seperti yang pernah gue singgung sebelumnya, paket tersebut berisi satu unit laptop gaming Asus ROG GL553VD yang merupakan hadiah untuk pemenang kompetisi blog yang diadakan oleh Chandraliow bersama Asus bulan September tahun lalu.

Sebagaimana mestinya seorang penerima, tentu saja gue sangat berterima kasih banget karena Asus sudah menepati janjinya yaitu memberikan satu unit laptop gaming kepada pemenang tanpa menambah apalagi mengubah persyaratan. Ya walaupun waktu itu sempat ada misscom dan gue baru dihubungi satu bulan setelah pengumuman, yang terpenting Asus sudah memenuhi janjinya saat itu.

Berikutnya gue ingin berterima kasih kepada petugas kurir yang sudah jujur mengantarkan barang ke alamat gue dalam kondisi selamat. Padahal di badan paket tersebut ditulis nominal dari harga barang yang ada di dalamnya.

Karena waktu itu gue enggak sempat bikin postingan tentang unboxing kayak Youtuber gitu, sebagai gantinya gue pengin mereview atau lebih tepatnya sharing soal pengalaman yang gue dapat selama memakai laptop gaming seharga 16,3 juta rupiah ini.

Ya, gue tau udah banyak kok yang mereview laptop ini. Tinggal cari aja di Google. Tapi di sini gue ingin mereview dengan cara atau gaya gue sendiri; yang tentunya berdasarkan pengalaman pribadi selaku pengguna. Oke sebelum lanjut gue pengin kasih tau info penting terlebih dahulu buat para pembaca.

Disclaimer: gue sama sekali enggak di minta apalagi di bayar oleh pihak ASUS. Ini murni adalah keinginan gue sendiri untuk menceritakan pengalaman yang gue dapatkan selama pemakaian.

Sebelum ngomongin lebih lanjut mari flashback sebentar. Pada hari di mana gue menerima dan mengunboxing laptop Asus ROG ini, gue enggak langsung memindahkan semua data dari laptop lama gue ke dalam harddisk. Saat itu yang gue lakukan cuman memastikan bahwa laptopnya berfungsi dengan baik, lalu memastikan bahwa pengisian dayanya berfungsi sebagaimana mestinya. Tahu kan gimana rasanya di tinggal pas lagi sayang-sayangnya? Enggak enak dan itulah alasannya kenapa gue tetap bertahan dengan laptop lama gue selama beberapa bulan.

Lagipula laptop gue masih berfungsi dengan baik dan kondisinya pun masih sangat terawat. Untuk spesifikasinya pun lumayan bagus dan kalau ngomongin minus, hmm… paling agak berat doang waktu menjalankan aplikasi desain kayak Illustrator atau Photoshop. Karena waktu itu gue belum mau pakai, hadiahnya gue letakkan di pojokan kamar dekat lemari pakaian.

Tepatnya di penghujung bulan Februari kemarin, gue mulai membuat list. Yang satu khusus untuk di pindahkan ke laptop dan satunya lagi khusus untuk di simpan di dalam harddisk sebagai kenang-kenagan atau untuk di pakai lagi saat dibutuhkan nanti. Selesai mengelompokkan data, langkah berikutnya adalah menginstall. Sebagaimana halnya laptop baru, gue perlu menginstall operating system, membagi besaran partisi (ukuran data C dan D yang ada di laptop), memindahkan data yang ada di harddisk dan menginstall beberapa aplikasi penting yang akan gue pakai nanti seperti Microsoft Word.

Dan bulan Maret kemarin menjadi awal dan kisah baru dari perjalanan gue selama menulis.

Sebagai seorang konten kreator tentu saja hal pertama yang gue kerjakan di laptop ini adalah membuat konten. Waktu itu belum ada tugas kuliah karena lagi libur pergantian semester. Hal kedua yang gue kerjakan adalah melatih insting dalam bidang desain. Sisanya gue pakai untuk nonton, bermain game dan mengerjakan tugas kuliah.

Setelah satu bulan pemakaian gue rasa ini adalah waktu yang tepat untuk mereview Asus ROG GL553VD: laptop pemenang kompetisi blog Chandraliow. Lalu pertanyaannya sekarang adalah: apakah kualitasnya sudah sesuai harga atau belum? Penasaran, ‘kan gimana kesan dan rasanya pakai laptop gaming dengan spesifikasinya yang sangat WAH? Berikut ini adalah ini kesan dan pengalaman yang gue dapatkan selama satu bulan ini:

1. Seperti rindu

“Jangan rindu. Berat. Kamu enggak akan kuat. Biar aku saja,” kata Dilan ke Milea lewat panggilan telepon. Kalau menurut Dilan rindu itu berat, kalau menurut gue laptop ini tuh lumayan berat. Eits, tapi gue kasih tau dulu. Berat dari laptop ini tuh cuman 2,5kg, kok. Tapi kenapa gue nyebutnya berat? Ya karena badan gue kecil. Sebetulnya berat dari laptop ini tuh enggak beda jauh dengan laptop gue yang dulu. Yah paling cuman selisih 200 – 300 gram doang. Kedengarannya memang kecil dan enggak ada artinya tapi buat gue yang badannya kecil gini, angka yang selisihnya enggak seberapa itu cukup berpengaruh.

Meskipun gue bilang laptop ini lumayan berat, tapi sebenernya bobot segitu udah paling pas bahkan tergolong ringan untuk ukuran laptop gaming yang ada di pasaran saat ini. Kebetulan aja guenya kecil dan suka ngebolang sambil bawa laptop ke mana-mana. Kalau gue berteman sama sosok Dilan, mungkin dia bakal kasih gue nasihat yang bunyinya begini: “jangan di bawa ke mana-mana. Berat. Kamu enggak akan kuat. Biar di kos saja.”

Hahaha enggak kok. Gue tetep bakal bawa laptop ini ke mana-mana karena sayang toh laptop dengan desain sekeren ini cuman di pakai di kos dan lingkungan kampus.

Dear Asus dan semua produsen laptop, untuk ke depannya nanti tolong semua seri dari laptop gaming keluaran terbaru dihadirkan dengan bobot yang enggak lebih dari 2,5kg biar orang-orang yang badannya kecil kayak gue gini dan kebetulan suka bawa laptop ke mana-mana enggak perlu mikir dua kali sebelum bepergian. *moga aja di baca*

2. Besar

“Laptopnya lebih besar ya, bang?” kata bokap waktu gue pulang kampung kemarin. Dan gue setuju sama bokap. Gue ngerasa ada yang sedikit berbeda. Dulu waktu masih pakai laptop lama, biasanya gue tinggal masukin gitu aja ke dalam tas dan enggak perlu  ngeluarin yang namanya tenaga. Tapi untuk yang ini gue perlu mengeluarkan tenaga—dalam hal ini mendorong dan perlu sedikit paksaan biar laptopnya bisa masuk dengan posisi yang benar.

Tentu gue dapat tas khususnya kok. Tapi gue males aja gitu karena udah banyak yang pake. Dan ini murni kesalahan gue sendiri karena pilih tas kuliah yang kapasitas penyimpanannya untuk laptop ukuran 14 inch. Padahal laptop gue yang sekarang itu ukurannya 15,6 inch. Hahaha.

3. Panas

Untuk point ini gue rasa hampir semua orang mengalaminya. Bahkan aptop lama gue dulu juga sering panas kok waktu menjalankan aplikasi berat macam Photoshop. Dan kalau udah panas, biasanya mulai tuh suka patah-patah dan yang paling parah: bluescreen.

Tapi di sini pengalamannya agak beda. Panasnya bukan waktu lagi menjalankan aplikasi, melainkan ketika main game berat dan menurut gue panasnya itu kadang enggak wajar. Kipasnya nyala, settingannya sengaja gue bikin auto biar menyesuaikan dengan kondisi. Untungnya sih cuman panas doang dan enggak ngaruh ke game yang sedang gue mainkan. Gamenya tetap lancar dan berjalan dengan mulus kok.

Karena gue takut panasnya bisa merusak perangkat yang ada di dalamnya, gue memutuskan untuk nambahin kipas eksternal. Dan setelah menambahkan kipas eksternal, akhirnya sekarang laptop gue udah enggak panas lagi kalau di pakai untuk main game berat.

Untuk teman-teman yang laptopnya suka panas, mungkin bisa praktekin cara ini juga biar. Hehe.

4. Not responding

Sebetulnya gue agak bingung mau masukin ini ke dalam point pembahasan atau enggak. Satu sisi gue memang menemukan yang namanya not responding. Entah aplikasinya yang agak “nganu” atau memang laptopnya lagi kurang optimal pada saat itu.

Bukan masalah besar juga sih karena not responding di sini tuh enggak parah banget kayak yang dulu gue alamin ketika masih menggunakan laptop lama. Dia ada, tapi kayak numpang lewat gitu. Kalau dalam kisah atau cerita horror, dia cuman sekelebat doang gitu. Menurut gue itu hal yang wajar dan kalau kata dosen gue, “enggak ada sistem/mesin yang bener-bener sempurna. Yang ada hanyalah sistem yang belum ketemu titik lemahnya.”

5. Layar

Di sini sih yang jelas banget perbedaannya. Kalau kalian pernah nobar di laptop pasti pernah ngomong gini ke temen yang duduknya di depan layar, “eh, itu layarnya agak di ke atasin dong. Gue yang di belakang enggak kelihatan!”

Nangkep enggak maksudnya? Nah yang kayak gitu tuh yang gue sering alami ketika lagi nonton film di laptop lama. Posisi gue betul-betul harus menghadap ke depan layar dan kalau gue mulai rebahan atau nonton dari posisi lain, biasanya suka ada area hitam atau kita sebut saja titik butanya gitu.

Sekarang udah enggak masalah lagi. Mau di lihat dari sudut atas, bawah, kiri dan kanan, tetap oke. Bahkan dengan tingkat kecerahan layar paling rendah sekali pun. Kok bisa gitu? Nah, rahasianya itu karena layarnya pakai IPS Screen dengan wide-view angle up to 178 derajat yang artinya mau di lihat dari sudut mana aja tetep enak dan hampir enggak ada titik butanya gitu.

6. Pengalaman Visual Terbaik

Habis ngomongin layar, rasanya belum afdol kalau belum ngebahas kualitas visual yang diberikan oleh Asus ROG. Kalau ini lebih ke praktik sih dan agak sulit memberikan gambaran atau contohnya. Dulu waktu gue main game di laptop dengan settingan medium, gue merasa kalau kualitas visual yang ada pada objek (karakter, benda, tanaman dan sebagainya) di dalam game yang gue mainkan dan gue lihat kayak ada yang kurang gitu. Dan kalau membandingkannya dengan yang sekarang, dengan settingan yang sama-sama medium, gue merasa kalau objeknya tuh super halus dan detail gambarnya lebih tajam dari yang sebelumnya.

Karena kualitas visualnya bagus banget, laptop ini jadi lebih multifungsi. Di pake nonton film dengan kualitas HD oke, di pakai mendesain boleh, apalagi di pake untuk main game. Detailnya tajem banget!

Pengalaman Visual yang super halus
Visualnya Halus Banget
sumber: doc. pribadi
7. Pengalaman bermain game yang tak terlupakan

Ini masih ada sangkut pautnya dengan visual. Dulu kalau main game biasanya gue pakai settingan antara low-medium level karena kartu grafis yang gue pake waktu itu adalah Nvidia 840 M 2 GB, RAM 4GB dan processor Intel core i5 4210U 2,7 GHz. Gue enggak berani pakai settingan tinggi karena takut patah-patah waktu lagi main.

Sekarang? Gue udah berani pasang settingan antara high-ultra level karena grafisnya di dukung oleh Nvidia 1050 GTX 4 GB, RAM 8GB dan processor Intel core i7-7700HQ 2.8GHz up to 3.8GHz (6MB Cache) yang artinya kuat banget kalau di pakai buat tempur. Mau ngedesign, mau ngedit video atau mau main game apapun dengan grafis tertinggi sekalipun, laptop ini selalu siap. Selain itu, masih ada SSD yang bakal bikin laptop ini kenceng dalam menyimpan dan menyalin data.

Meskipun settingan graphicnya tinggi (gue pakai graphic ultra), tapi FPS (frame per second) nya tuh enggak ngedrop dan setiap objek atau pergerakkannya pun semulus artis korea.

FPS Graphic Ultra
FPS dengan settingan graphic ultra
sumber: doc. pribadi
Main game CSGO
Counter Strike Global Offensive
sumber: doc. pribadi
8. Keyboardnya nyaman!

Hal berikutnya yang berubah adalah keyboard. Keyboard yang ada di laptop Asus ROG ini nyaman banget—bahkan lebih nyaman dibanding keyboard di laptop lama gue—waktu di pakai. Entah itu untuk nulis atau di pakai buat main game. Faktor laptop baru? Menurut gue engga juga, sih, karena waktu laptop lama gue dalam kondisi masih baru aja keyboardnya tuh memang biasa-biasanya aja waktu gue pakai.

Karena gue anaknya memang suka lasak atau agak rusuh kalau lagi main game, gue khawatir kalau keyboard yang ada di laptopnya jadi rusak. Sayang, kan, kalau keyboard seenak dan senyaman ini rusak karena masalah sepele: lasak waktu lagi main game. Untungnya sekarang gue punya keyboard eksternal yang bisa gue pakai untuk tempur dan ngerusuh waktu lagi main game.

Oya. kalian tau apa yang paling gue suka dari keyboard Asus ROG ini? Udah backlit, dong! Karena keyboardnya udah backlit, gue enggak perlu lagi pake “insting penulis” kalau lagi bekerja atau menulis dalam kondisi gelap-gelapan. Hahaha. Gue bersyukur banget karena akhirnya impian gue punya laptop dengan keyboard backlit berhasil terwujud. Apalagi tipe backlitnya model RGB. #TimRGB

9. Audio

Yang paling kentara berikutnya adalah audio. Dulu, di laptop lama gue, enggak ada pengaturan jenis atau tipe audionya. Mentok-mentok buat ngatur volume tinggi-rendahnya doang.

Nah, kalau di ROG, ada tools atau aplikasi bawaan yang khusus untuk mengatur jenis atau tipe audio yang ingin di pakai. Jenis pengaturan audionya pun ada lima macam. War Room, Battlefield, Multimedia, Action dan Soundscape. Jenis yang paling sering gue pakai biasanya mode Battlefield untuk main video game, Soundscape untuk nonton film, dan multimedia untuk mendengarkan lagu. Untuk kualitasnya audionya sendiri menurut gue jernih banget dan memenuhi ekspektasi gue selaku pengguna.

10. Lancar di pakai bermain game berat

Seperti yang sudah gue bilang sebelumnya, gue bukan gamers dan gue hanya main game kalau lagi libur menulis atau saat sedang butuh pelarian kalau lagi males menulis. Beda dengan beberapa teman gue yang memang latarbelakang mereka adalah gamers dan punya banyak game berat di dalam laptopnya.

Saat ini baru tiga jenis game yang sudah gue mainkan di laptop ini. Mulai dari yang biasa-biasa aja kayak Counter Strike Online sampai yang berat. Dan belakangan gue lagi suka main game ini. Barangkali teman-teman ada yang main game ini juga? Hehehe.

Lagi Senang Main Game
Mungkin ada yang main game ini juga?
doc. pribadi

Menurut gue laptop ini cukup mampu untuk di ajak tempur dalam hal main game berat lainnya kayak PUBG, GTA V dan Overwatch. Kalau kalian punya rekomendasi game yang asik buat di mainin, tolong kasih tahu gue, ya! Barangkali bisa main bareng gitu.

Itu lah review dari laptop gaming Asus ROG GL553 VD versi gue. Selain hal yang gue sebutin di atas, laptop ini juga berhasil meningkatkan rasa percaya diri gue berkat designnya yang super keren dan pada bagian permukaan terdapat logo yang merah menyala.

Logonya nyala. Btw warna aslinya merah.
doc. pribadi

Secara keseluruhan gue puas banget dan laptop ini berhasil menyajikan pengalaman bermain yang tak terlupakan. Balik lagi ke pertanyaan di atas. Apakah kualitasnya sudah sesuai harga? Menurut gue pribadi, laptop ini sudah memberikan kualitas yang baik bahkan melebihi harga laptopnya itu sendiri—dalam hal kepuasan pengguna.

Jadi kesimpulannya, dengan harga segitu laptop ini cukup worth it untuk di beli dan di pakai karena hadir dengan spesifikasi kelas atas tapi harganya cukup terjangkau. Dan yang pasti, kualitasnya sesuai dengan harga laptopnya sendiri.

 

 

Contact

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail: [email protected]

14 KOMENTAR

    • Kalau biasanya pake laptop ukuran 14an inch atau di bawahnya lagi memang kelihatan lebih besar (dan gue merasakannya). Tapi ya itu balik lagi pada kebutuhan si pengguna. Kalau terbiasa pakai buat “jalan” sambil mengerjakan sesuatu hal yang ringan misal kayak nulis atau ngedit tulisan doang, laptop yang biasa aja juga cukup, kok. Tapi kalau di pakai buat ngedesain, ngedit atau kasih visual effect ke video dan main game berat, gue pribadi merekomendasikan laptop ini karena bisa di pakai tempur dalam berbagai bidang di atas. Gue sendiri udah membuktikannya, kok. Soal ukurannya yang besar, gue rasa udah setimpal karena dia bisa di pakai dalam berbagai bidang :)

  1. Waduh nyesel saya nggak ikut kompetisi ini.Sebenarnya nggak tau sih kalau ada kompetisi chandraliow dengan asus,jadi kepingin punya laptopnya hehehe…

  2. “Mau di kos aja” wkwk laptopnya butuh dimengerti juga ya mas
    Anw saya pernah baca juga isi tulisanmu bisa sampe menang dari blog Chandra waktu itu. Gila sih. Keren.

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.