Sabtu, 3 Desember 2022
HomeStoryBukber SD

Bukber SD

on

Buka bersama atau bukber, merupakan event tahunan yang rutin diselegarakan setiap bulan Ramadan. Biasanya acara bukber ini dibagi ke dalam beberapa level. Mulai dari paling kecil di level SD, sampai paling tinggi di level kantor atau lingkungan kerja.

Pada tahun ini, gue menerima dua undangan acara berbuka puasa bersama. Yang pertama undangan buka puasa bersama teman-teman kantor. Lalu yang kedua, undangan buka puasa bersama teman SD. Pada postingan kali ini, gue ingin membagikan pengalaman gue menghadiri agenda buka puasa bersama teman SD. Begini ceritanya…

Semua bermula dari percakapan di grup alumni sebuah sekolah dasar negeri. “Bukber, yuk!” tulis Hendri.

Dari satu pesan, memunculkan pesan-pesan lainnya sebagai respon atas ajakan tersebut. Gue yang ada di dalam grup juga ikut merespon. “Yuk. Mumpung aku lagi di sini.”

 “Kamu lagi di Bengkulu, Za? Sampai kapan?” tanya Hendri selaku panitia.

“Iya, aku di sini sampai dua minggu sesudah lebaran.” Balas gue, menyanggupi ajakan buka puasa tersebut.

Buka puasa bersama sebenarnya bukan hal yang baru untuk gue. Tetapi ini pengalaman yang pertama bagi gue untuk hadir dalam acara buka puasa bersama teman semasa SD. Di mana pada acara bukber tahun sebelumnya gue selalu absen.

Yang membuat gue menyanggupi undangan tersebut sebenarnya bukan hanya karena gue kebetulan sedang berada di Bengkulu. Alasan lainnya karena gue sudah lama tidak jumpa mereka.

Terakhir gue bersua dengan teman-teman semasa SD itu tahun 2016 lalu. Percis beberapa bulan sebelum gue berangkat ke Jakarta untuk berkuliah. Pada agenda tersebut, kami mengadakan acara reuni sekaligus makan-makan bersama. Sebuah acara perpisahan karena setelahnya kami semua akan berpisah jalan.

Baca Juga: Reuni Kelas

Ada yang akan menempuh pendidikan di Padang, ada yang menempuh pendidikan di Palembang, Jakarta, dan juga Bandung. Ya, itu adalah acara makan-makan reuni sebelum kami berangkat ke kota tujuan masing-masing.

Itu adalah acara pertama dan terakhir yang gue ikuti. Pada agenda selanjutnya gue tidak pernah hadir karena waktunya tidak pernah tepat. Gue yang belum pulang ke Bengkulu, atau kondisi dompet kosong.

Untungnya, tahun ini tidak ada halangan yang berarti. Pekerjaan gue saat ini memungkinkan untuk dilakukan dari mana saja selama ada koneksi internet. Keuangan yang jauh lebih membaik, situasi pandemi yang mudah-mudahan jauh lebih terkendali dibanding tahun sebelumnya.

“Kalau boleh bukbernya di hari sabtu atau minggu aja. Kalau hari biasa aku nggak bisa join karena ada kerjaan.” Tambah gue.

Hendri selaku panitia mulai menawarkan beberapa opsi tanggal acara. Karena malas melihat perdebatan terkait tanggal, gue memutuskan untuk mengabaikan itu semua dan fokus kepada pekerjaan gue.

“Kalau tanggal 29 gimana?” tanya salah satu dari mereka.

Berhubung gue tidak yakin bisa ikut di tanggal tersebut, gue langsung mengutarakan keberatan sebab rencananya di tanggal tersebut gue akan berangkat ke Padang untuk merayakan lebaran di sana.

Satu minggu berlalu tanpa ada kejelasan mengenai tanggal acara dan siapa saja yang akan hadir. Gue menghubungi Hendri untuk menanyakan status acara tersebut apakah jadi atau dibatalkan.

“Jadi, Za. Kalau mau nunggu yang lainnya bisa, takutnya nanti bukbernya nggak jadi. Jadi, acaranya tetap dilanjutkan bagi yang bisa datang aja.” Ketik Hendri.

Setuju dengan gagasan tersebut, gue langsung menanyakan nama tempat dan lokasinya. Ya, dalam acara buka puasa kali ini, gue tidak mau terlibat dalam perencanaannya karena gue tidak mau repot dalam mencari tempat, menanyakan kesediaan kawan-kawan lainnya apakah bisa hadir atau tidak. Sehingga gue menyerahkan segala keputusan terkait acara ini kepada Hendri.

“Lokasinya masih belum tau di mana. Aku coba tanya yang lain dulu, kali aja mereka ada rekomendasi tempat.”

Beberapa hari kemudian, barulah didapati keputusan lokasinya. Tempat makan tersebut sepertinya menarik dan cukup baru. Karena gue tidak yakin dengan lokasi tersebut dan ada kekhawatiran nyasar, gue kembali menghubungi Hendri dan menanyakan kesediaannya untuk memberikan tumpangan kepada gue.

“Oh. Boleh, Za. Nanti biar sekalian kuajak jalan-jalan.” Tawar Hendri.

Hari yang dinanti pun tiba. Tak disangka, hari itu hujan deras disertai badan dan petir yang menggelegar. Gue merasa tidak yakin acara buka puasa ini akan dilanjutkan, sehingga gue menghubungi Hendri untuk menanyakan keputusan apakah mau dilanjut atau tidak. Jika tidak lanjut, gue bisa fokus untuk streaming series Loki. Tetapi jika tetap dilanjutkan, gue akan bersabar menunggu sampai hujannya reda.

Ketika mengirim pesan ke Hendri, gue sudah sangat siap untuk menerima pesan pembatalan acara ini. Lagipula, gue tidak mau memaksakan agar acara ini tetap lanjut mengingat di luar cuacanya sedang tidak bersahabat.

Waktu menunjukkan pukul 5 sore ketika gue menerima pesan dari Hendri. “Za, siap-siap sana. Kalau masih hujan, kita nanti berangkat pakai mobilnya Bang Rico.”

Membaca pesan tersebut, gue merasa cukup lega karena keputusannya sudah final: tetap dilanjutkan. Dengan keputusan yang sudah final, jauh lebih mudah bagi gue untuk mengambil sikap. Gue langsung merespon pesan Hendri dan memberitahu bahwa gue sudah siap sejak pukul 4 tadi.

30 menit berlalu, gue menerima panggilan dari Hendri. “Rumah kamu di mananya, Za?” tanya Hendri.

“Rumahku masih di tempat yang lama kok. Cuma geser dua rumah ke sebelah kanan aja. Ini, aku share live location ya.” Balas gue.

Selang 10 menit, sebuah mobil berwarna silver berhenti di depan rumah gue. Seseorang dari dalam mobil tersebut membuka pintu. “Cepat masuk, Za!” seru orang dari dalam mobil itu. Dari suaranya, gue bisa mengenali bahwa itu adalah kawan gue, Hendri.

Menumpang Mobil Teman untuk pergi Bukber
Menumpang mobil teman
sumber gambar: Apoorv Ishan from Pexels

Gue berusaha mengangkat celana dan berjalan ke mobil tersebut dengan berhati-hati. Ya, maklum saja, komplek gue saat itu sedang banjir sehingga gue perlu berhati-hati supaya celana gue tidak basah.

Mobil yang kami tumpangi kemudian melesat di jalanan. Sepanjang jalan, kami bertukar banyak cerita. Mulai dari pekerjaan, pasangan, dan sebagainya. Sampai tibalah giliran gue untuk ditanya.

“Kamu udah punya pacar, Za?” tanya mereka.

“Belum, nih. Lagi sibuk kerja dan posisinya WFA. Jadi nggak sempat buat cari kenalan.”

“Rencana mau nikah umur berapa?”

“Targetnya sih kira-kira umur 28 atau 29 lah. Tapi tergantung jodohnya juga. Yah, doain aja.” Jawab gue, yang belum ada keinginan untuk menikah dalam waktu dekat. Selain belum menemukan orang yang tepat, secara materi dan mental gue juga masih belum siap. Sehingga gue berusaha menyingkirkan pikiran untuk menikah dalam waktu dekat.

Baca Juga: Visit Gorontalo

Secara ajaib, hujan berhenti dengan sendirinya tatkala mobil yang kami tumpangi tiba di tujuan. Untungnya saat itu masih belum waktunya berbuka. Sehingga kami punya cukup waktu untuk mencari meja dan tempat duduk yang sudah ditulis dengan nama teman kami.

“Wah, apes banget tempat kita di sini.” Kata gue, ketika mengetahui meja kami berada di luar tenda.

“Ini kalau mendadak hujan, bisa basah kita. Coba ngomong sama masnya untuk ganti mejanya, Ndri.” omel teman kami Rara.

Hendri, selaku panitia dan penyelenggara acara berusaha menghampiri dan menyampaikan keberatannya kepada karyawan tempat makan tersebut. Sementara Hendri bicara dengan karyawan tempat makan, kami bertiga duduk menunggu di meja tersebut sambil menebak jawaban karyawan itu.

“Nggak bisa. Kata masnya tempat itu udah ada yang booking.” Kata Hendri sambil menunjuk meja kosong yang menjadi incaran kami.

“Terus kita gimana? Masa kita makannya sambil mandi hujan?”

Di tengah diskusi, satu peserta baru datang dan anggota kami sekarang menjadi 5 orang. “Kenapa tempat kita di sini? Ntar kalau turun hujan gimana?” tanya bang Rico saat baru sampai.

“Itu dia, bang. Tadi kami minta ganti tempat, tapi kata masnya udah ada yang nempatin.”

“Protes aja. Sini biar abang yang ngomong sama masnya.”

Bang Rico menghampiri salah satu karyawan warung makan sambil mengutarakan keberatannya. “Ini kalau boss turun tangan dan dikasih, artinya tadi masnya abaikan kamu karena ngiranya yang protes anak SMP.” Komentar Rara.

Benar saja. Ternyata setelah diprotes oleh Bang Rico selaku bos kami semasa SD dulu, karyawan warung makan itu langsung menyerahkan salah satu meja kosong yang menjadi incaran kami. “Nah, berarti tadi masnya nggak mau ngasih karena ngira kamu itu bocah SMP, Ndri.” Kata Rara.

Mendengar kalimat tersebut gue langsung tertawa karena teringat masa SD dulu di mana gue dan Hendri memiliki tinggi badan yang sama dan selalu dibarisan paling depan karena badan kami kecil. Sekarang pun masih sama. Yang berubah hanya perawakannya saja, menjadi lebih dewasa.

Setelah mendapatkan meja pengganti, permasalahan selanjutnya adalah minuman. Pada saat adzan maghrib berkumandang, minuman yang kami pesan belum juga diantar ke meja. Karena di meja kami tidak ada minuman apapun, kami berlima hanya bisa memandangi meja lainnya berbuka dengan minuman segar.

“Mas, minuman buat meja atas nama Hendrinya mana?” tanya Bang Rico, saat karyawan warung makan itu datang mengantarkan minuman ke meja sebelah.

“Atas nama Hendri ya? Tunggu sebentar, ya.” Jawabnya. “Cuy, tolong cek minuman atas nama Hendri!” ujar karyawan tersebut kepada kawannya.

Lima menit menunggu, pesanan kami mendarat di atas meja. Ada air mineral, es lidah buaya, es jeruk, jeruk hangat, dan es buah. Diantara minuman tersebut, gue memesan es lidah buaya karena penasaran. Ditambah, minuman tersebut masuk dalam jajaran menu paling direkomendasikan di warung tersebut. Sehingga bisa diasumsikan bahwa minuman ini paling banyak dipesan dan rasanya pasti enak.

Kami langsung membatalkan puasa saat minuman sudah tiba. Setelah dicicipi, ternyata rasa es lidah buaya yang gue pesan lumayan enak dan cukup menyegarkan. Gue pribadi cukup puas dengan es lidah buaya ini. Dengan modal tujuh belas ribu rupiah, gue bisa mendapatkan minuman sesegar itu.

Es Lidah Buaya
Es Lidah Buaya Segar
sumber gambar: Mariel Matute from Pexels

Selesai dengan urusan minuman, selanjutnya yang harus dipikirkan adalah bagaimana dengan makanannya? Untung saja, makanan yang kami pesan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk diantar ke meja. Makanan kami sudah terhidang di atas meja hanya beberapa menit setelah minuman sampai.

Ada ayam bakar, ayam goreng, dan cumi balado. Untuk makanannya, gue memesan ayam bakar. Setelah berdoa bersama, kami langsung menyantap makanan masing-masing. Dua hal yang ingin gue highlight dari makanan yang gue pesan kali ini. sambelnya enak banget! Tapi sayangnya, sambelnya terlalu sedikit.

Baru empat suapan, kami mendapat masalah baru lagi. Kali ini bukan makanan, bukan minuman, bukan juga tentang meja. Masalah yang harus kami hadapi adalah hujan badai!

Gue yang berada di paling pinggir tenda harus menggeser makanan dan juga minuman agar tidak basah terkena hujan dan badai. Sialnya, badai terlalu kuat sehingga geser sedikit saja tidak cukup untuk melindungi gue dan Rara dari hujan badai.

Untuk bisa selamat dari hujan badai tersebut, kami harus meminta izin dengan meja sebelah agar mau berbagi tempat dengan kami. Untungnya, mereka mau membagi tempatnya kepada kami, sehingga gue dan Rara tidak perlu basah-basahan.

Satu masalah terselesaikan. Akan tetapi, muncul masalah baru lagi. Masalah yang harus kami hadapi selanjutnya adalah tenda yang bocor tepat di tengah-tengah meja kami. Yang menjadi korban dari kebocoran tenda tersebut adalah es buah dan cumi balado pesanan teman gue. Keduanya terkena tetesan hujan.

Acara buka puasa tahun ini benar-benar penuh dengan ujian. Sebelum berangkat, kami sudah diuji dengan hujan deras dan petir yang sangat kencang. Setibanya di lokasi, kami diuji dengan meja makan yang berada di luar tenda, minuman yang terlambat sampai. Saat makan, kami harus geser supaya tidak terkena hujan badai, lalu setelah menggeser tempat duduk, ujian terakhir makanan dan minuman yang dipesan terkena tetesan hujan dari tenda yang bocor.

Selain itu, selama makan gue harus mengangkat piring gue supaya makanan gue tidak ikut terkena air hujan. Meski penuh dengan cobaan, acara buka puasa tahun ini cukup lucu dan juga sangat berkesan.

Yang membuatnya berkesan bukan karena orangnya yang sedikit. Bukan juga karena keapesan selama acara. Melainkan obrolan yang hadir sebelum, sesaat dan setelah berbuka bersama. Gue tidak akan lupa dengan acara buka puasa tahun ini, sebab gue bisa bertukar banyak cerita dengan teman-teman gue semasa SD dulu.

Makan Bersama
Makan bersama
sumber gambar: Nicole Michalou from Pexels

Demikian cerita tentang acara buka puasa bersama tahun ini. Semoga di tahun selanjutnya, gue bisa ikut lagi dalam event tahunan ini. Sampai jumpa, terima kasih!

Artikulli paraprakLevel Up Skill Memasak
Artikulli tjetërLebaran Beda

Hey, jangan pergi. Kamu perlu baca ini

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Enter the captcha *

Sebelum kamu pergi, tinggalin komentar dulu, ya!
Setiap komentar yang kamu tinggalkan selalu aku baca dan itu sangat berarti untukku agar terus semangat dalam menulis. Semoga harimu menyenangkan \o/
*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.

577FansSuka
688PengikutMengikuti
907PengikutMengikuti

Belum Gaul Kalau Belum Baca

Lebaran Beda

Lebaran Beda

Level Up Skill Memasak

Level Up Skill Memasak

Visit Gorontalo

Visit Gorontalo