Selasa, 30 November 2021
HomeStoryIsolasi Mandiri di Kos

Isolasi Mandiri di Kos

on

Halo semuanya! Apa kabarnya hari ini? Semoga semuanya sehat-sehat aja, ya! Pada postingan sebelumnya, gue bercerita bahwa gue sempat dinyatakan positif pada bulan Juni kemarin.

Sesuai janji gue di postingan itu, kali ini gue ingin menceritakan pengalaman gue ketika menjalani masa isolasi mandiri di kos. Saat mengetahui hasil antigen gue positif, gue langsung melakukan isolasi mandiri. Membatasi segala macam kegiatan atau aktivitas sehari-hari yang berada di luar kamar kos.

Langsung saja, begini ceritanya….

Setelah memberitahu bos di kantor bahwa gue hasil antigen gue positif, atasan gue itu memperbolehkan gue untuk melakukan istirahat.

Dari sisi mbak kos, dia bersedia untuk membantu gue. Seperti mengambilkan makanan yang gue pesan secara online, membelikan air minum di warung ketika air galon gue sedang habis. Mbak kos pun bersedia membantu gue untuk mengambilkan paket dan meninggalkannya di depan pintu kamar.

Pesan Makan Online
Pesan Makan Online
Photo by: Mikhail Nilov from Pexels

Selain itu, gue juga memberitahu teman satu circle. “Sejak kapan, Za?” tanya mereka, setelah tahu.

“Kalau gejalanya sih dari hari Senin. Tapi kalau ketahuan positifnya, hari Selasa kemarin.” 

Untungnya, salah satu dari teman gue ini punya informasi yang berguna dan cukup penting. Karena penasaran, gue berinisiatif untuk bertanya.

“Lu tau kan kalau cewek gue sempat positif?” balas dia.

“Iya, tau.”

“Jadi, waktu dia positif, dia kan melapor ke puskesmas, tuh. Trus di puskesmas, ternyata dibolehkan PCR gratis. Caranya gampang kok, cukup lapor ke puskesmas tempat lu tinggal.”

Mendengar informasi PCR gratis di puskesmas, lantas gue langsung menanyakan persyaratan yang harus gue penuhi. Sebab saat itu biaya PCR masih sangat mahal, sedangkan gue juga harus memenuhi kebutuhan hidup selama isolasi mandiri yang biayanya entah berapa.

Setelah mendapatkan informasi yang cukup, gue langsung melapor ke puskesmas terdekat melalui pesan WhatsApp. Tak lama, gue langsung menerima balasan, “besok pagi, mas bisa langsung datang ke sini sambil membawa hasil antigen.”

“Hanya antigen saja kan, min?” tanya gue.

“Betul.”

Tugas pertama gue berhasil. Esok harinya, gue segera mengajukan izin sakit melalui aplikasi absensi kantor. Lalu bersiap untuk berangkat ke puskesmas. Ketika memesan ojek online, gue menambahkan catatan khusus yang menginformasikan kepada driver bahwa gue sedang positif dan perlu ke puskesmas untuk test PCR.

Tujuan gue menambahkan catatan itu supaya pengemudinya lebih waspada dan tau apa yang harus dilakukan setelah mengantar gue ke tujuan. Dan bisa memutuskan apakah ingin mengangkut gue atau tidak.

Untungnya ketika itu ada yang mau mengangkut gue. Sesampainya di tujuan, gue segera melapor ke petugas dan menunjukkan hasil antigen gue.

Petugas itu memberikan gue selembar formulir, meminta gue untuk melengkapi informasi yang ada di formulir itu. Sialnya, gue nggak bawa alat tulis. Mau nggak mau gue harus meminjam alat tulis milik orang lain, lalu menunggu sampai pemiliknya selesai mengisi formulir.

Setelah mengisi formulir, gue menyerahkannya lagi kepada petugas. Petugas itu meminta gue untuk menunggu, karena nanti akan ada giliran untuk dipanggil masuk ke dalam tenda.

Setelah menunggu selama lebih kurang 20 menit, nama gue pun dipanggil. Gue segera masuk dan petugas yang ada di dalam kembali mengonfirmasi data gue.

“Dengan mas Reza Andrian?” tanya petugasnya.

“Iya, dengan saya sendiri.”

“Sebelumnya mas pernah ada kontak dengan orang yang terkonfirmasi atau yang berisiko, nggak?”

“Kurang tau, mas. Tapi beberapa waktu lalu saya ada bepergian keluar untuk mengambil ijazah di kampus.”

“Oke, kalau gitu maskernya diturunin sedikit ya,” kata petugas itu.

Setelah melakukan swab, petugas tersebut memberitahu bahwa hasilnya akan keluar dalam 3 hari. Jika gue dinyatakan positif, maka gue akan dihubungi oleh puskesmas melalui pesan WhatsApp.

***

Esok harinya, gue kembali melanjutkan isolasi mandiri. Ada pun kegiatan yang gue lakukan selama isolasi mandiri di kamar yaitu scroll media sosial, membaca buku, melakukan sedikit olahraga agar badan tetap segar dan tidak kaku.

Aktivitas Saat Isolasi Mandiri
Aktivitas Saat Isolasi Mandiri
Photo by: Klaus Nielsen from Pexels

Tidak lupa juga untuk konsumsi vitamin. Selain itu, gue juga rutin minum wedang jahe setiap malam yang dipesan secara online.

Terkadang, ketika gue merasa bosan atau suntuk, gue memilih untuk menyelesaikan pekerjaan kantor. Dengan catatan badan gue harus lagi baik-baik saja. Jika sudah mulai letih atau pusing, gue harus stop bekerja.

Sebagai informasi, saat itu kerjanya masih full WFH, sehingga gue punya pilihan untuk bekerja (masuk kantor), atau pun istirahat. Jadi, kehadiran gue tidak akan membuat yang lainnya parno atau merasa waspada karena semuanya bekerja dari rumah.

Setelah empat hari dan tak kunjung menerima kabar terkait hasil testnya, gue memutuskan untuk menghubungi puskesmas melalui pesan whatsapp. Hanya untuk memastikan apakah hasil gue memang negatif sehingga tidak dihubungi.

“Atas nama siapa?” tanya petugasnya. Gue segera memberitahu nama lengkap, kelurahan, dan kecamatan tempat gue tinggal. “Mohon menunggu sebentar ya, mas,” balas petugasnya.

Tak lama, gue menerima pesan berbentuk gambar. Gue langsung buka dan men-zoom gambar tersebut. Rupanya hasil PCR gue dinyatakan negative. Senang? Tentu saja. Tapi gue tidak buru-buru merayakannya. Gue tetap melanjutkan isolasi mandiri. Karena hasil PCR gue bisa saja false negative.

Untuk memastikannya lagi, gue segera berkonsultasi dengan dokter melalui sebuah aplikasi. Setelah berkonsultasi dengan dokter dan menceritakan keseluruhannya, dokter menyarankan gue untuk tetap lanjut melakukan isolasi mandiri selama beberapa hari lagi.

Sebagai pasien yang baik, tentu saja gue mengikuti saran dokter. Demi kebaikan diri gue sendiri dan orang-orang sekitar.

Konsultasi dengan Dokter Online
Konsultasi dengan Dokter Online
Photo by: Anna Shvets from Pexels

Di hari ke delapan, indera perasa dan juga penciuman gue mulai kembali. Gue mulai bisa merasakan pelbagai makanan dan minuman yang masuk ke mulut. Meski rasanya masih samar-samar, itu jauh lebih baik daripada hambar.

Tentu saja gue merasa senang. Dalam rangka merayakan kembalinya indera penciuman dan juga indera perasa, gue sengaja memesan makanan yang memiliki citarasa yang pekat. Pilihan gue saat itu jatuh kepada nasi padang!

Ya, gue tahu bahwa gue membuat pilihan yang salah. Harusnya gue tidak memesan nasi padang. Akan tetapi, gue harus melakukannya karena gue ingin mengembalikan sensitivitas indera perasa.

Masih sama seperti sebelum-sebelumnya, jika makanan yang gue pesan sudah sampai, mbak kos akan membantu mengambilkan dan menaruhnya di depan kamar gue.

Di hari ke sepuluh, gue sudah tidak merasakan gejala seperti sebelumnya. Pernafasan gue juga sudah membaik. Ya, bisa dibilang, gue sudah seperti orang yang sehat.

Gue mengakhiri isolasi mandiri di hari ke-13. Yang gue lakukan pertama kali setelah mengakhiri isolasi mandiri adalah menghirup udara dari balkon kos. Ah, senang sekali bisa melakukannya lagi setelah dua minggu mengurung diri di kamar!

Sejak isolasi mandiri, setiap kali ke luar, gue selalu menggunakan masker double. Selain itu, gue juga mulai suka minum wedang jahe.

Demikian pengalaman gue selama masa isolasi mandiri di kos. Sampai jumpa di postingan selanjutnya!

Berita sebelumyaJadi Anak StartUp

Hey, jangan pergi. Kamu perlu baca ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Sebelum kamu pergi, tinggalin komentar dulu, ya!
Setiap komentar yang kamu tinggalkan selalu aku baca dan itu sangat berarti untukku agar terus semangat dalam menulis. Semoga harimu menyenangkan \o/
*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.

578FansSuka
664PengikutMengikuti
919PengikutMengikuti

Belum Gaul Kalau Belum Baca