Semester ini gue termasuk mahasiswa yang beruntung sekaligus sial. Beruntung karena terpilih untuk mendapat program mentoring gratis dari kampus. Sial karena rahasia gue terbongkar oleh sebuah kartu. Kartu pembawa sial.

Mentoring merupakan grup atau kelompok belajar yang terdiri dari beberapa mahasiswa terpilih dan akan di pandu oleh satu orang mentor yang ditunjuk langsung oleh Student Advisory Center dan School of Information System alias fakultas. Ya, awalnya gue bingung. Kenapa gue dapat program ini? Padahal, gue enggak daftar; apalagi minta sama kampus.

Lebih-lebih lagi gue enggak ada kesulitan dalam memahami pelajaran di kampus. Semua aman dan terkendali. Ada sih beberapa matakuliah yang menurut gue sulit, tapi gue masih bisa mengatasi persoalan tersebut dengan belajar lebih giat atau nanya sama teman yang udah ngerti.

Berhubung programnya gratis, gue menerima tawaran tersebut dengan harapan nilai gue bisa jauh lebih baik lagi setelah mengikuti program ini.

Kebetulan, gue dapat mentor cewek. Masih muda. Namanya Cika. Seumuran bahkan satu angkatan sama gue dan teman-teman. “Kok lu bisa terpilih jadi mentor, Cik?” tanya gue, penasaran.

“Kebetulan waktu itu SAC lagi buka pendaftaran untuk jadi mentor.” Jawabnya.

“Trus lu daftar?” gue memastikan.

“Yap. Aku daftar.”

Oke, pertanyaan gue terjawab. Tapi gue masih penasaran. Gitu-gitu pasti ada syarat dan tes masuk, dong? Enggak mungkin sekadar daftar, trus udah bisa jadi tenaga pengajar. Apalagi benefitnya betul-betul menguntungkan: potongan biaya sebanyak 16 SKS. Dalam satu semester ada 20an SKS. Kalau satu SKS aja harganya 500 ribu, berapa banyak yang bisa dia tabung? Ya, lebih kurang delapan juta!

Rasa penasaran gue kembali terjawab saat dia hendak login ke website mahasiswa. IPK-nya 3,80. Nyaris 4,00. Pantes, desis gue. Ternyata dia memang pintar. Menurut gue, dia pantas jadi mentor.

Siang itu gue bangun tidur dengan badan yang terasa panas; kepala yang sedikit pusing. Kondisi gue kurang fit akibat hujan yang belakangan ini mengguyur Jakarta. Sebuah panggilan masuk dari teman. “Hey, cuki.” Ujar seseorang di ujung sana.

Saat gue hendak membalas, panggilan terputus. Gue mengumpat. Waktu menunjukkan pukul dua siang. Gue baru ingat kalau siang ini ada janji untuk belajar bareng. Enggak, gue enggak serajin itu kok untuk ikut belajar bareng. Biasanya kami mengadakan kegiatan mentoring atau belajar bareng hanya pada waktu ujian.

Besok ada UAS untuk matakuliah Testing and System Implementation. Gue memaksa bangun. Cuci muka dan ganti baju. Lalu berangkat ke sebuah restoran fast food di daerah Cideng.

Sesampainya di restoran fast food, gue menemukan Cika, mentor gue, lagi duduk sendirian sambil membaca buku. Gue menghampiri lalu melempar satu pertanyaan, “yang lain belum pada nyampe, Cik?” tanya gue.

“Enggak tau nih pada ke mana. Katanya udah di jalan.”

“Oh, gitu,” respon gue. “Lu enggak pesen? Biar gue tungguin nih tempatnya.”

“Nanti aja tunggu mereka datang.”

Kami diam beberapa saat. Lalu gue mengomentari tempat yang di pilih oleh Cika. Karena tempatnya kurang nyaman dan agak terpisah antar satu sama lain, gue dan Cika memutuskan untuk pindah ke bagian outdoor yang lebih lapang dan sedikit tenang suasananya.

Kemudian pindah ke bagian dalam ruangan ketika salah satu meja yang paling besar telah ditinggal pergi oleh sekelompok karyawan berseragam rapih. Sepertinya mereka pegawai dari salah satu kantor di dekat sini.

Satu jam berlalu dan akhirnya mereka muncul dari arah pintu masuk. Gue dan Cika terlanjur haus; mungkin juga malu karena duduk selama satu jam tanpa memesan apa-apa. Hanya duduk dan membahas beberapa materi untuk ujian esok.

“Titip softdrink ukuran gede ya, Le?” kata gue memberi isyarat dengan jari telunjuk.

“Siap.” Balasnya, mengerti.

Ketika sedang asik mengobrol, dompet gue diambil oleh teman gue yang paling iseng di kelas sekaligus kelompok mentoring. “Pinjem uangmu dulu ya, Za. Gue tadi lupa narik sebelum ke sini,” katanya seperti minta izin.

“Oh, iya, pake aja.” jawab gue tanpa mempersoalkan aksinya itu. Gue yakin kalau dia bakal mengembalikan uang yang di pinjamnya tepat waktu. Tak lama kemudian teman gue datang membawa makanan dan minuman.

“Makasih, Le. Nanti uangnya gue transfer aja, ya.” Kata gue, malas mengeluarkan uang tunai. Dia mengangguk setuju. Kini semua makanan dan minuman sudah ada di meja. Tinggal satu yang kurang: kisi-kisi untuk UAS besok. Sambil menunggu kisi-kisi datang, kami menyantap kentang goreng yang dikumpulkan di satu wadah khusus.

Restoran Fast Food
Makan dan Minum
sumber: pexels.com

Setelah menghabiskan kentang goreng dan makanan, kegiatan belajar di mulai. Semua terlihat serius memerhatikan materi yang di sampaikan oleh Cika. Sampai salah satu teman gue yang paling iseng merebut dompet gue lalu membongkar isi di dalamnya. “Sekarang tanggal berapa?” tanyanya, memastikan.

Teman di sampingnya menyebut tanggal hari itu.

“Coba lu cek, deh. Jangan-jangan mata gue yang salah,” katanya.

Dompet gue berpindah tangan. Kali ini dompet gue di tangan teman gue satu lagi. “Eh, kelihatannya hari ini ada yang ulangtahun nih,” dia memancing.

“Siapa?” tanya Cika, penasaran.

“Lihat sendiri,” dia mengeluarkan KTP gue dari dalam dompet, memberinya ke tangan Cika.

“Selamat ulangtahun, Za!!!” kata Cika. Lalu disambung dengan lagu happy birthday yang dinyanyikan bersama-sama. Kini perhatian orang-orang terfokus di satu tempat: meja kami. Mungkin karena meja kami jadi yang paling heboh dan berisik. Gue menahan malu. Setelah lagu habis, satu persatu dari mereka menyalami tangan gue lalu memberi ucapan selamat dan doa.

“Pantes daritadi diem-diem aja. Ngopi apa ngopi?” komentar salah satu teman gue.

“Ngop—Ah! Enggak, kok. Tenggorokkan gue lagi sakit, makanya daritadi gue diem aja.”

“Kenapa lu enggak bilang sih kalau hari ini ulangtahun?” tanya Varrel.

“Gue aja enggak inget.” Jawab gue, pura-pura lupa

“Yaudah, habis mentoring kita langsung ke CP. Di traktir makan sama Reza!” pancing yang lain.

Gue tertawa. “Gue mau aja. Tapi masalahnya sekarang gue makan aja gue mikir-mikir dulu. Gimana mau traktir kalian? Maaf, ya. Kali ini gue enggak bisa.” Kata gue dengan nada menyesal. Untungnya mereka cepat mengerti. Masalahnya sekarang KTP gue terlanjur di sebar ke grup kelas. Akibatnya teman-teman di kelas jadi tau kalau hari itu gue lagi ulangtahun dan beberapa dari mereka menagih traktiran.

“Kampret!” kata gue.

Yang lainnya tertawa.

Pelajaran kembali dilanjutkan. Gue enggak ikutan nyatat seperti yang lainnya. Hari beranjak malam; Jakarta kembali diguyur hujan. Kami pulang tepat pukul enam sore dengan menumpang mobilnya Hansen.

Rencana gue berantakan. Niat ingin merahasiakan, justru terbongkar gara-gara sebuah kartu. Kartu pembawa sial bernama KTP. Sebetulnya sebelum berangkat gue mau ninggalin kartu itu di kosan. Takut terjadi apa-apa di jalan, gue bawa aja.

Satu-satunya alasan kenapa gue enggan memberitahu bahwa gue bertambah usia adalah karena usia gue yang udah bukan remaja lagi; yang menampakkan ekspresi bahagia dan senang ketika menerima hadiah dan kejutan ulang tahun. Bagaimana mungkin gue bisa senang saat pemikiran gue semakin kompleks setiap harinya? Ya, gue bukan lagi anak remaja yang hidup untuk bermain dan bersenang-senang karena belum mengemban tugas dan tanggung jawab yang berat.

Saat ini satu-satunya hadiah yang paling berkesan buat gue adalah doa dan ucapan. Sesederhana itu. Tidak kurang dan tidak lebih.

 

 

STAY CONNECTED

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

e-mail: [email protected]zaandrian.com

13 KOMENTAR

  1. Saya juga termasuk orang yang menjaga privasi tanggal lahir…

    1 alasan pasti yaitu gak mau di kerjai…

    Karena temen saya sendiri sangat jail dan paling rese… kalau ada yang ulang tahun..

    Maka dari itu, jaga dompet. Bukan karena takut hilang duitnya… tapi takut karena disalah gunakan identitas kita…

    Mantap postingan ceritanya, sama kaya saya bahas cerita di blog…

    Salam Kenal Mas broo

  2. Selamat bertambah tua dan semakin kompleks pikirannya kayak nanggung utang negara lagi bro,
    haha..
    gue paham kenapa lu gak mau orang lain tahu tanggal ulang tahun lu,
    pasti biar fans lu gak ngirimin kado kan wkwk

  3. Selamat ulang tahun, Za!

    Semoga yang baik akan terjadi kedepannya. Semoga besok-besok nggak ada yang ngerjain kalau lagi ulang tahun, apalagi dibikin nangis… err, keliatannya lu nggak secengeng itu juga.

    Sekali lagi, selamat ulang tahun ya!

  4. Gak papa loh mas, buat apa malu, kalau semua orang lain tau tanggal lahir. Bukankah itu hal yang luar biasa.

    Toh saat mereka mendengar kabar mas reza ultah makin seneng to (walaupun intinya makan2) tapi ya tetep aja, memberikan kebahagiaan. Dan itu sangat luar biasa..

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.