Postingan ini di tulis beberapa waktu lalu sebelum gue kembali ke Jakarta tanggal 17 Februari kemarin. Saat kalian membaca postingan ini, percayalah, bahwa gue udah mulai masuk kuliah seperti biasa. Libur telah usai, waktunya kembali menjalankan rutinitas sehari-hari. Kembali berkutat pada tugas-tugas kuliah dan project akhir semester.

Ngomong-ngomong ada hal menarik yang gue dapatkan beberapa waktu lalu saat hendak pulang ke Jakarta. Bukan, bukan hal menarik seperti memenangkan lotre, apalagi dapat kenalan gadis asal minang yang terkenal cantik. Hal menarik yang gue maksud di sini adalah nostalgia masa kecil. Ya, gue sempat mengalami yang namanya nostalgia saat hendak pulang beberapa waktu lalu. Gue jadi teringat masa kecil dulu.

Ngomongin masa kecil, rasanya masing-masing dari kita punya cerita tersendiri. Kalau gue, gue dulu paling suka mengigit punggung bokap saat berada di atas motor. Saat gigi-gigi gue yang runcing mulai menyentuh punggung, biasanya bokap akan otomatis memajukan punggungnya supaya enggak kena gigitan gue. Oke, sepertinya gue kebanyakan nonton film vampire.

Masih ada lagi. Namun bukan itu yang ingin gue bahas, pada postingan ini. Sebelum gue bahas, gue pengen nanya, apa yang paling kalian rindukan dari masa kecil? Kalau gue, jajanannya! Seperti halnya foto, jajanan juga memiliki cerita tersendiri. Dulu waktu kecil gue sering bangeeeeet ikut kedua orangtua gue pergi ke Padang. Ngapain? Ya, karena bokap sama nyokap gue orang Padang. Kalau bokap-nyokap gue orang Jepang, gue perginya ke Jepang, dong.

Baca Juga: Tantangan Libur Semester

Tiap kali pulang dari Padang, biasanya kami selalu membawa pulang oleh-oleh khas daerah untuk dibagiin ke tetangga, juga untuk camilan di rumah. Bermacam-macam jajanan dibeli. Mulai dari Kipang, sampai keripik kehidupan. Kalian tau keripik kehidupan? Itu, lho, yang warna kuning. Bentuknya seperti angka 8 (delapan).

Nama aslinya Karakkaliang. Lalu kenapa gue menamainya keripik kehidupan? Soal itu bisa gue jelaskan. Jadi, dulu waktu gue masih kecil. Kira-kira berumur enam tahun (ini kalau enggak salah ingat), ketika gigi susu masih tumbuh. Gue pernah makan keripik kehidupan. Gue meringis kesakitan karena gigi gue patah saat ingin mengunyah keripik yang menyerupai angka delapan tersebut.

Kini kalian sudah tau, kan, kenapa gue menamainya keripik kehidupan? Ya, karena tekstur dari keripik tersebut keras seperti kehidupan orang sumatera! Hidup orang sumatera\o/

Lalu apa yang membuat gue merasa nostalgia kembali? Tak lain adalah karena oleh-oleh dari Padang. Setelah sekian lama tak menyentuh jajanan dari Padang, kini yang gue incer selama ini ada di depan mata. Beragam rasanya. Bermacam-macam warnanya. Lalu yang paling membuat gue senang: ini bukan khayalan. Semuanya nyata dan dapat di sentuh.

Tapi tau enggak, sih, kalau makan keripik kehidupan tuh suka bikin gue teringat dengan kejadian waktu gue kecil dulu. Ngeri membayangkannya ketika gigi gue rontok pada usia sekarang ini. Sekali rontok, enggak ada kemungkinan untuk tumbuh lagi layaknya gigi anak-anak. Dokter gigi gue pernah bilang, kalau gigi manusia mengalami pertumbuhan ketika seorang anak sudah berusia 13 tahun.

Makanya, waktu itu gue menolak untuk cabut gigi. Biarin berlubang, deh. Toh masih bisa di tambal. Daripada cabut trus ompong? Kan kalau mau melamar jadi polisi atau tentara nanti bakal sulit kalau giginya kurang atau ompong. Ya, untungnya gue memilih untuk kuliah. Habis, kalau mau masuk polisi udah enggak mungkin. Tinggi badan gue enggak memenuhi syarat.

Singkat cerita semua barang di masukan ke dalam koper: baju, buku, celana, peralatan mandi dan camilan untuk di Jakarta. Gue berangkat pukul setengah empat sore dengan jadwal penerbangan pukul lima sore—karena di reschedule oleh pihak maskapai.

Pemandangan di dalam pesawat
Pemandangan di dalam pesawat. Sepi. Serasa naik pesawat pribadi.
Sumber: Dok. Pribadi

Gue tiba di Jakarta hampir jam enam sore. Mengambil bagasi lalu berhenti di salah satu kafe yang ada di terminal 3 bandara soekarno hatta. Sembari menunggu giliran, gue membalas satu-persatu pesan masuk. “Mau pesan apa, kak?” tanya pelayan wanita.

“Cold brew ukuran Grande,” gue membalas.

“Vanila atau black?” tanyanya lagi.

“Black.” Kata gue. “Pembayarannya cash, ya, mbak.” Gue menambahi sambil menyerahkan uang tunai dan kartu keanggotaan. Pelayan tersebut mengembalikan kartu member beserta uang kembaliannya.

“Tunggu ya, kak,” katanya.

Gue memberi senyum kepada pelayan wanita tersebut sebagai tanda mengerti. “Oke, gue ikut lu, Co.” kata gue di grup. Sayangnya, gue terpaksa menunggu sendirian di sini hingga mereka datang pukul delapan malam. Untungnya gue membawa laptop saat itu sehingga gue enggak mati gaya karena menunggu sendirian untuk waktu yang cukup lama.

Ngopi di terminal 3 Soekarno Hatta
Sambil ngopi di terminal 3 Soekarno Hatta
sumber: dok. pribadi

Jarum jam bergeser ke angka sembilan saat kawan-kawan gue yang berjanji akan menjemput tiba di Bandara Soekarno Hatta. Setelah sampai, gue memberikan satu kardus berisi oleh-oleh dari Padang untuk di simpan di sekre. Lalu di makan bersama-sama saat semuanya sudah pulang ke Jakarta.

Nah, kalau kalian sendiri kapan terakhir kali merasakan nostalgia masa kecil? Lalu apa yang kalian suka pas masih kecil dulu dan apa pemicunya? Yuk cerita di kolom komentar \o/

 

 

STAY CONNECTED

Facebook || Google+ || Instagram || Twitter ||

email: [email protected]

 

Punya pertanyaan? Silakan klik tautan ini

5 KOMENTAR

  1. Terakhir merasakan nostalgia masa kecil pas pulang kampung Februari kemarin.Masa kecil dulu paling senang kalo ikut ortu ke kebun panen buah. Happy nya itu kita bebas memilih buah yang paling bagus atau paling unik diantara buah-buah yang ada.

BERIKAN PENDAPAT ANDA

Please enter your comment!
Please enter your name here

Enter the captcha *

Setelah mampir jangan lupa tinggalin komentar, ya!\o/ Semoga harimu menyenangkan \o/

*komentar baru akan muncul apabila sudah di Approve terlebih dahulu oleh admin.